selasar-loader

Bagaimana rasanya mengunjungi pulau-pulau terluar di Indonesia?

Last Updated Nov 27, 2016

2 answers

Sort by Date | Votes
Anonymous

Gambar terkait

Tansportasi, pasar, pendidikan, listrik, dan internet. 

Ketika saya berada di Sebatik, hal-hal itulah yang pertama terpikirkan. 

Transportasi, jangankan untuk menjangkau ke ibu kota provinsi atau negara, untuk mengunjungi satu tempat ke tempat lain kurang adanya transportasi umum yg memadai. 

Pasar, beberapa warga di sana sempat menyampaikan bahwa kebutuhan mereka kebanyakan dipasok dari negara tetangga. 

Pendidikan, hal ini sangat menjadi perhatian karena pendidikan adalah salah satu media untuk menambah pengalaman, wawasan, dan ilmu pengetahuan. Kesenjangan pendidikan di Jawa dan di pulau ini sangat terasa. 

Listrik dan internet sudah merupakan satu kesatuan yang akhir-akhir ini menjadi tidak dapat terpisahkan. Dengan internet, masyarakat akan lebih terbuka wawasan dan pengetahuannya akan dunia luar. 

Kesimpulannya, mulai dari titik awal dari ibu kota negara sampai ke ujung-ujung perbatasan negara itu harus ada pemerataan, khususnya dalam hal pendidikan, infrastruktur, informasi dan teknologi serta transportasi. 

Sebenarnya, ini bukan hanya PR pemerintah namun kita semua, berdasarkan kemampuan dan kesanggupannya. Namun, akanlah sangat malu rasanya jika pemerintahan tidak memperhatikan daerah-daerah terluar NKRI ini.

 Dengan berada di daerah terluar tersebut kita akan merasakan sekali bahwa kita itu NKRI. 

Ilustrasi via i2.wp.com

Answered Dec 21, 2016
Nuradia Puspawati
Part-Time Traveler

jh5gljvXhQdXYeShktRisF3VuYl6x9ZG.jpg

Salah satu pulau terluar paling mengesankan yang pernah saya kunjungi adalah Pulau Matakus. Ketika mendengar ini, pasti akan banyak yang bertanya. Matakus? Di mana itu? Ada di Indonesia? 

Yup. Pulau Matakus adalah pulau kecil di Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB), menjadi salah satu pulau terluar di Lautan Arafuru yang membatasi Indonesia dengan Australia. Gugusan kecil pulau-pulau di MTB memang jarang diketahui dan dikunjungi turis, bahkan lokasinya masih belum bisa terdeteksi google maps.Tak heran jika ia memiliki julukan "The Forgotten Island".

Untuk menuju Pulau Matakus, Anda bisa menggunakan pesawat dari Ambon menuju Saumlaki, Ibu kota Kabupaten MTB. Setelahnya, Anda bisa menumpang kapal yang menuju Pulau Matakus dari Pelabuhan Saumlaki. Jangan lupa siapkan pelampung jika Anda terpaksa menggunakan kapal kecil karena Anda akan mendapati ombak mahadahsyat yang mengajak Anda untuk arung jeram di laut lepas.

Pulau Matakus dihuni oleh penduduk Desa Matakus yang hanya berjumlah 400 orang. Mata pencaharian sebagian besar penduduknya adalah sebagai nelayan. Pelaut Matakus terkenal sebagai nelayan yang ulung. Bagaimana tidak, Lautan Arafuru adalah termasuk lautan yang 'ganas'. Aliran listrik hanya tersedia pada jam-jam tertentu saja. Selebihnya mereka mengandalkan lilin dan lampu minyak. 

Hal yang membuat saya sangat terkesan dengan Matakus, pertama adalah karena pulau ini memiliki pasir putih dan halus seperti tepung. Indah sekali! Bahkan warga di sana tidak jarang yang tidur santai di Pantai siang ataupun malam hari. Kedua, mereka memang tertinggal jauh dari kemajuan masyarakat Indonesia lainnya yang tinggal di ibukota. Akses pendidikan, listrik, teknologi masih sangat terbatas. Namun mereka adalah manusia-manusia yang bersahaja. 

Saya merasa sangat nyaman bertemu dengan mereka, meskipun baru mengenal, mereka tak pernah luput untuk menyapa saya saat berpapasan di jalan. Saya selalu dihidangkan masakan yang enak; ikan bakar lengkap dengan sambal colo-colo. Meskipun saya berkerudung (seratus persen penduduk adalah penganut Katolik), saya selalu dipersilakan untuk melakukan ibadah di rumah warga. 

Perjalanan ke Matakus menjadi satu pengalaman yang tak akan bisa saya lupakan. Mereka mengajari saya banyak hal: syukur dan kebahagiaan dalam menjalani hidup yang penuh kesederhanaan. Oiya, satu lagi. Saya sama sekali tidak diperlakukan sebagai asing, keramahan mereka adalah benar-benar keramahan Indonesia. Akhirnya, Matakus membuat saya makin cinta pada negeri ini!

 

Answered Jan 30, 2017

Question Overview


3 Followers
1036 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Bagaimana rasanya menjadi orang yang dekat dengan presiden, ketua parpol, atau menteri?

Bagaimana rasanya dekat/berteman dengan selebriti?

Bagaimana rasanya pindah agama?

Bagaimana rasanya melakukan hubungan seks di luar pernikahan?

Bagaimana rasanya menjalani kehidupan malam (underground) Jakarta?

Bagaimana rasanya memiliki kekayaan di atas 10 miliar?

Bagaimana rasanya memimpin perusahaan dengan karyawan berjumlah ribuan?

Bagaimana rasanya menjadi atlet nasional yang mewakili Indonesia di ajang internasional?

Bagaimana rasanya berkelahi/duel dengan orang lain?

Bagaimana rasanya mengalami kecelakaan parah?

Apa destinasi wisata yang menurut Anda paling keren di Indonesia?

Apa saja tempat wisata yang belum terkenal di Indonesia, tetapi memiliki potensi yang luar biasa?

Apa tempat wisata paling menarik di Indonesia yang pernah Anda kunjungi?

Seperti apa rasanya pergi ke luar negeri untuk pertama kali?

Bagaimana cara traveling dengan biaya murah?

Apa alasan terbesar Anda melakukan travelling budaya?

Pengalaman traveling apa yang paling berkesan dalam hidup Anda? Mengapa?

Dari semua negara yang pernah Anda kunjungi, mana yang terbaik (Selain Indonesia)? Mengapa?

Dari semua makanan dari negara lain yang pernah Anda konsumsi, mana yang terbaik? Mengapa?

Pulau mana yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia?

Adakah keterlibatan Indonesia pada Perang Dunia II?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Hal-hal apa sajakah yang harus dipenuhi agar Indonesia menjadi pemimpin budaya populer dunia?

Foto apa saja yang bisa mengubah cara pandang kita tentang Indonesia?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Masakan/makanan Indonesia apa yang menurut Anda paling mungkin go international?

Mengapa bangsa Indonesia dapat sebegitu lamanya dijajah oleh Belanda?

Makanan/masakan Indonesia apa yang paling memiliki nilai sejarah tinggi?

Apa yang membuat beberapa suku di Indonesia masih tetap bertahan dengan gaya hidup tradisionalnya, misalnya Suku Badui?