selasar-loader

Menurut Anda, seperti apa profil kepemimpinan Indonesia di masa mendatang?

Last Updated Jul 17, 2017

Pergiliran kepemimpinan merupakan suatu hal yang niscaya dalam peradaban suatu Bangsa. Berbicara tentang Indonesia, Bangsa yang besar, Bangsa yang terdiri dari beragam suku dan budaya juga agama perlu pemimpin yang memiliki karakter, yang mampu merekatkan segala macam perbedaan demi lahirnya persatuan. Lantas, menghadapi masa depannya, bagaimana profil kepemimpinan Indonesia di masa mendatang, yang mampu membawa Indonesia digdaya di mata dunia.

7 answers

Sort by Date | Votes
Rizky Aditya Darmawan
Peserta Rumah Kepemimpinan reg. Bogor

xX7hAabKSTvqdb1cneZN0IMHAV_6vRf-.jpg

Kepemimpinan yang transformatif, yaitu yang mengajak kolaborasi, mengedepankan partisipasi, dan kesamaan visi.

gambar via kompasiana.com

Answered Jul 26, 2017
Muhammad Rinal Fahlevi
Food and Science Technologist | Rumah Kepemimpinan Regional 6 Medan

Gambar terkait

Indonesia sebagai bangsa yang besar tidak terlepas dari pemikiran dan peran para pemimpin bangsa ini, mengingat keberagaman yang Indonesia miliki tentu tidak mudah dalam menentukan kebijakan publik secara sederhana. Beragam warna kulit, bahasa, suku, dan agama tentu membutuhkan energi yang besar dalam memimpin bangsa ini. Kompleksitas kerap hadir mewarnai bumi nusantara ini. Tak jarang menimbukan kerugian dan perpecahan di bangsa ini.

Dalam hal ini, hadirnya pemimpin yang ideal di tengah problematika dan kompleksitas tersebut sangatlah dibutuhkan atau pun didambakan dalam mengurai rantai masalah di negeri ini. Tentu ini akan membawa kebaikan terhadap bangsa ini. Namun, perlu secara jelas kita mengetahui bagaimana pemimpin yang ideal tersebut sehingga tidak menimbulkan permasalahan baru yang justru akan memperkeruh keadaan bangsa ini. Pemimpin ideal itu identik dengan rasa adil yang berkearifan. 

Mengingat keberagaman yang ada di bumi nusantara ini tentu tidak mudah dalam menyikapi permasalahan yang ada. Harus benar-benar memposisikan diri "sejernih" mungkin agar kebijakan timbul memberikan efek kenyamanan di hati masyarakat (tidak ada yang tersakiti), menitikberatkan kemaslahatan ketimbang kepentingan, mengutamakan kedamaian daripada kekacauan. Untuk itu, dibutuhkan pemimpin yang adil dalam hal ini, sehingga efek sinergitas hadir pada pola kepemimpinan yang pada pemimpin yang memiliki rasa adil sebab jelas tak ada yang dirugikan. Selain itu, perlu suatu kebijaksanaan atau kearifan pada diri seorang pemimpin agar terbentuknya suatu tatanan masyarakat yang empowered secara baik karena mampu meng-arranger sumber daya secara bijak. Tentu, pemimpin dengan kebijaksaan ini mampu menghadirkan kesukarelaan terhadap suatu visi sebab kemampuan dalam berkomunikasi yang baik, pemahaman pemikiran yang proporsional serta kemapanan dalam mengayomi sehingga timbul pergerakan yang positif akibat kepemimpinan ini.

Secara jelas, pemimpin yang adil dan berkearifan akan memproyeksikan kekayaan, baik SDA maupun SDM untuk kepentingan bangsa ini, dan kemajuan Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat. Dan tentu potensi ini (baca: SDA dan SDM) ini akan teroptimalkan secara baik, sehingga Indonesia menjadi bangsa digdaya di dunia.

 

Ilustrasi via rumaysho.com

Answered Aug 2, 2017
Romli Amrullah
RK7 Makassar | Founder ODTePs Community | Interested in Sharia Banking

oIvGWnzIz8RGk18lybCTTAkBLrdGEvNH.jpg

Berbicara tentang kepemimpinan memang menarik. Kepemimpinan tidak hanya berbicara tentang posisi seseorang yang lebih tinggi dalam sebuah organisasi, namun berbicara tentang bagaimana ia mampu mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya demi mewujudkan cita-cita bersama, dan bukan orang yang dengan kedudukannya meraup manfaat untuk dirinya sendiri dan kelompoknya. Polemik kepemimpinan di negeri ini memberikan banyak pengajaran kepada kita bagaimana sulitnya menyatukan masyarakat Indonesia yang majemuk, berbeda suku, bahasa, budaya, bahkan warna kulit. Keberpihakan kepada satu golongan atau kelompok tertentu dan mengabaikan tujuan bersama menjadikan seorang pemimpin gagal dalam memimpin. Mungkin ia akan menjadi pahlawan dalam kelompoknya, namun menjadi benalu yang dengan perlahan tapi pasti mematikan dan menghancurkan mereka yang tidak sepaham dan sejalan.

Perbedaan tidak bisa terlepas dari negeri ini. Indonesia dengan ragam budaya dan pemahaman membutuhkan sosok pemimpin yang dapat menyatukan, setidaknya mencegah perpecahan di negeri ini. Sosok pemimpin yang moderat dibutuhkan di negeri ini. Sosok pemimpin yang tidak ekstrem dalam mengambil sikap dan kebijakan, sehingga setiap tindakan yang diambil tidak menimbulkan benturan-benturan kepentingan di masyarakat.

 Selanjutnya seorang pemimpin haruslah memiliki sikap open minded atau berpikir terbuka. Seorang pemimpin yang tidak hanya mendengar satu sumber suara dalam proses penentuan kebijakan. Namun, pemimpin yang dengan ketegasan, pemikiran dan wawasannya yang luas mampu menerima saran dan kritik dari berbagai sumber, menyaringnya dan melahirkannya dalam sebuah keputusan untuk kepentingan bersama.

Objektif menjadi sikap dan keyakinan yang juga harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Pemimpin harus tetap fokus pada tujuan bersama kenapa ia diberi amanah untuk menjadi seorang pemimpin. Setiap keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan fakta yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadinya, apalagi demi kepentingan kelompoknya.

Terakhir yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yakni religiositas. Seorang pemimpin harus memiliki iman yang kuat, menjadi pegangan yang akan menjaga setiap langkah dan sikap yang diambilnya. Jika seorang pemimpin yang dengan kekuatan iman ia melangkahkan kakinya, maka setiap keputusan yang ia ambil akan selalu dilandaskan pada hati nurani, pikiran yang jernih, dan tujuan yang mulia demi Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Sumber gambar: businessnewsdaily.com

Answered Aug 6, 2017
Ramdayanu Muzakki
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada

K5ZeT-xy8j4RXJXYkzbsPB1JzXeqfIYN.jpg

Seperti yang telah kita ketahui, regenerasi kepemimpinan suatu bangsa merupakan keniscayaan yang tidak terelakkan. Generasi muda suatu bangsa, pada saatnya akan matang dan siap untuk mengambil alih estafet kepemimpinan bangsa. Jika ingin mengetahui seperti apa profil kepemimpinan Indonesia di masa mendatang, maka kita bisa melihat pemuda Indonesia di masa sekarang. Pepatah Arab menyebutkan, “Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.”

Guru saya pernah berkata, “Setiap generasi memiliki jiwa zamannya masing-masing.” Maksudnya, setiap generasi menghadapi tantangan zaman yang berbeda. Hal ini menyebabkan setiap generasi memiliki karakteristik yang berbeda-beda pula.

Jika kita amati, pemuda di era sekarang memiliki karakteristik yang jauh berbeda dari generasi pendahulunya. Pemuda sekarang dikenal akrab dengan teknologi, senang mencoba hal baru, multi-tasking, dan lain-lain. Hal ini akan berpengaruh kepada karakteristik kepemimpinan bangsa di masa mendatang. Kelak, kepemimpinan Indonesia akan memiliki profil yang unik dan berbeda dari generasi-generasi sebelumnya.

Para akademisi memiliki berbagai macam istilah untuk mendefinisikan generasi muda di zaman sekarang. Ada yang menyebutnya generasi milenial, digital natives, net-generation, dan lain-lain. Generasi ini memiliki karakteristik yang jauh berbeda dari generasi-generasi pendahulunya. Hal ini disebabkan oleh lompatan besar di bidang teknologi, diawali dengan membuminya internet di kalangan masyarakat, sampai kini kita akrab dengan teknologi digital.

Don Tapscott (2008) berpendapat bahwa net-generation atau para pemuda era sekarang memiliki delapan norma yang menjadikan mereka berbeda dari generasi sebelumnya. Saya akan ambil tiga norma atau nilai yang menurut saya paling penting dan relevan untuk dimiliki oleh pemimpin bangsa masa depan.

Yang pertama adalah kolaborator. Teknologi internet yang ada saat ini memungkinkan orang-orang untuk tetap berhubungan satu sama lain tanpa mementingkan jarak waktu dan ruang. Hal ini menjadikan para net-generation terbiasa untuk berkolaborasi dan menghasilkan karya bersama. Nilai kolaboratif ini sangatlah penting, mengingat Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai macam suku, ras, dan agama. Pemimpin masa depan harus mampu merumuskan serta mempelopori kolaborasi dan persatuan.

Kedua, net-generation terbiasa berpacu dengan kecepatan. Teknologi dewasa ini menjadikan hampir seluruh lini kegiatan manusia menjadi mudah dan serba instan. Pemuda era sekarang sudah paham betul bagaimana menggunakan teknologi untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Hal ini dibutuhkan oleh pemimpin bangsa untuk menghadapi tantangan zaman di masa mendatang. Pemimpin masa depan mampu memaksimalkan penggunaan teknologi untuk menyelesaikan amanahnya secara cepat dan multi-tasking.

Nilai yang ketiga yakni inovatif. Tapscott menyebutkan bahwa inovasi sudah menjadi bagian dari kehidupan net-generation. Teknologi digital telah membuka gerbang baru bagi perkembangan teknologi yang nyaris tiada habisnya. Hal tersebut mendorong para pemuda di era sekarang untuk terus berpikir inovatif. Dalam menghadapi situasi seperti itu, bangsa Indonesia harus memiliki pemimpin yang berjiwa inovatif.

Selain ketiga norma tersebut, pemimpin masa depan harus menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa ini. Kepemimpinan masa depan haruslah mampu mengimplementasikan kejujuran, keadilan, gotong royong, dan persatuan dalam setiap dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara. Semua itu harus dipupuk sejak dini, ditumbuhkan dalam jiwa masing-masing pemuda sejak hari ini. Dengan begitu, Indonesia bisa optimis menghadapi tantangan di masa yang akan datang.

 

Referensi: Tapscott, Don. 2008. Grown Up Digital. New York: McGraw Hill

Sumber gambar: www.business2community.com

Answered Aug 16, 2017
Yusup Ridwansyah
Calon Peneliti, Peserta Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta

 

ATZDn3cT8KP9m47Dn3svG_IVXyMBM_hj.jpg

Adaptif, Moderat, dan Integritas untuk Pemimpin Masa Depan

Kesempurnaan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW mustahil untuk bisa diimitasi layaknya penyerupaan produk-produk Tiongkok  yang menjadi komoditas saat ini. Namun bukan berarti juga, kita sebagai umatnya tidak bisa mencontoh seni kepemimpinan Rasulullah s.a.w. dan para pemimpin terdahulu. Di era saat ini, kepemimpinan bukan lagi secara saklek yang dimiliki pasti karena faktor status sosial atau secara ascribed status. Kepemimpinan merupakan seni yang tentunya dapat dipelajari dan dibentuk. Pemimpin seperti apa yang tepat untuk memimpin Indonesia di masa depan?

Dalam sejarah kepemimpinannya, Rasulullah s.a.w. tidak pernah mengalami perubahan kualitas kepemimpinannya. Seharusnya pun begitu dengan pemimpin saat ini dan di masa yang akan datang. Lantas timbul pertanyaan yang sering dilontarkan banyak orang, apakah pada zaman dahulu kondisinya sama dengan saat ini?

Sesaat kita berpikir bahwa saat ini dunia dihuni oleh berbagai jenis generasi, setidaknya ada 4 generasi. Generasi yang paling muda kita sebut sebagai generasi millennial atau juga populer dengan sebutan generasi digital native, sedangkan generasi yang mayoritas saat ini mengisi posisi strategis fungsional dan struktural adalah para generasi baby boomers dan generasi X yang usianya sudah hampir menjelang pensiun untuk ukuran maksimal usia PNS. Hal ini pula yang dapat mempengaruhi gaya kepemimpinan yang seharusnya diterapkan untuk masa sekarang dan dampaknya untuk masa mendatang.

Pasalnya, evolusi politik dan sendi kehidupan lainnya ternyata juga dipengaruhi atau mengikuti gaya sesuai generasinya sehingga tipe pemimpin saat ini yang kurang melek dengan teknologi sebagai ciri khas dari generasi sekarang menjadi kategori yang kurang ideal. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Simpelnya bahwa teknologi menjadi indikator rasionalitas mayoritas. Hampir semua layanan publik, motor perekonomian, dan kebutuhan hidup sudah terintegrasi dengan teknologi. Jika demikian, apakah seni kepemimpinan Rasulullah SAW atau para pemimpin terdahulu sudah tidak sesuai lagi dengan gaya kepemimpinan saat ini dan untuk di masa mendatang?

Kita tidak tahu yang di masa mendatang itu akan seperti apa pada kenyataannya. Banyak yang memprediksikan kemajuan teknologi akan semakin pesat dan kehidupan manusia benar-benar dikendalikan oleh teknologi. Peran dan fungsi manusia sedikit demi sedikit akan tergantikan oleh teknologi. Ada pula yang membayangkan bahwa di masa mendatang akan kembali pada gaya di mana manusia lebih dekat dengan alam. Pastinya bahwa kita bukan ahli nujum yang mengetahui secara pasti esok akan seperti apa. Namun, sebagai pemimpin masa depan sangat penting bagi kita untuk dapat mempersiapkan diri sesuai dengan segala bentuk generasi.

Karakter kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan Indonesia di masa mendatang?

Adaptif terhadap perubahan merupakan salah satu kunci kesuksesan kepemimpinan. Dalam hal ini, seorang pemimpin terutama untuk di masa yang akan datang diharapkan mampu menjadi individu yang fleksibel, tidak kaku. Dengan kata lain, pemimpin Indonesia harus mudah menerima segala perubahan dan memilahnya untuk kemudian dijadikan sebagai gaya kepemimpinannya. Problematika kepemimpinan saat ini, banyak pemimpin yang tidak memiliki itu. Karakter adaptif juga seharusnya dibarengi dengan kemampuan analisis yang tajam untuk membantu memberikan respons. Pemimpin harus mampu memberikan respons secara cepat dan tepat serta tidak fanatik terhadap setiap perubahan yang terjadi sehingga dapat memaksimalkan setiap keuntungan dari perubahan tersebut.

Apakah dengan adaptif saja sudah cukup? Indonesia adalah negara kepulauan yang di dalamnya terdiri dari beragam budaya, bahasa, adat istiadat, kepercayaan, dan ragam lainnya. Keragaman ini yang sampai sekarang masih melekat dan tidak lekang oleh pergantian generasi. Sangat sulit untuk memprediksikan bahwa di masa yang akan datang, keragaman Indonesia akan mudah lenyap mengingat berbagai pertimbangan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Lantas dengan begitu berarti ada gaya kepemimpinan yang seharusnya dari dulu sampai sekarang tetap ada.

Moderat, seni kepemimpinan yang harus dimiliki oleh calon-calon pemimpin di masa mendatang. Dinamika perubahan sosial dari generasi ke generasi memerlukan penentuan sikap yang harus diambil oleh pemimpin Indonesia. Secara sudut pandang sosiologis, Indonesia sangat membutuhkan jiwa kepemimpinan yang memiliki master status (status diri atau identitas diri) tunggal. Dengan keragaman yang ada, pengkultusan diri seorang pemimpin sebagai orang yang tidak hanya mewakili golongan atau kepercayaan tertentu sangat diperlukan. Pemimpin Indonesia harus berani mengatakan bahwa, “Aku orang Indonesia, pemimpin Indonesia”, tetapi juga tidak keluar dari koridor yang menjadi pedoman hidup.

Profil kepemimpinan di masa datang lainnya yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin Indonesia adalah pemimpin yang berintegritas. Jujur, komitmen, dan konsisten adalah tiga kunci karakter yang dapat menggambarkan seseorang yang memiliki jiwa integritas tinggi. Pemimpin yang berintegritas memiliki keteguhan atas prinsip yang kuat dan menjadi landasan dari setiap sikapnya. Melihat profil dari beberapa pemimpin Indonesia sampai saat ini, karakter ini tergolong masih lemah di diri pemimpin Indonesia. Hanya segelintir orang saja yang melalui sikapnya menggambarkan dirinya memiliki integritas.

Ketiga karakter di atas bukan yang menjadikan kepemimpinan yang sempurna layaknya Rasulluloh s.a.w. atau para pendahulu. Namun, karakter tersebut dapat menjadi modal yang harus dipersipakan sebagai seni kepemimpinan di masa mendatang di samping karakter-karakter lainnya. Saya akan menjadi orang pertama yang percaya bahwa kepemimpinan ideal di masa depan merupakan hasil proses pembentukan dan salah bagian unsur pembentuknya adalah ketiga karakter itu!

 

Sumber gambar: northcountybands.com 

Answered Aug 16, 2017
Ja'far Taqiyuddin
Mahasiswa Muslim

wtqr5NL2OXfy26C0IOewZCXJlhze4eK_.png

Sejatinya setiap dari kita adalah pemimpin, sehingga profil kepemimpinan Indonesia, ya terlihat dari masing-masing kita.

Dalam sebuah Riwayat Hadits, dijelaskan tentang amanah dan tanggung jawab bagi pemimpin.
Ibnu 'Umar Radiyallahu 'Anhu berkata, "Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:
"Tiap-Tiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai petanggungjawaban tentang rakyatnya. Pemerintah adalaha pemimpin dan bertanggungjawab terhadap rakyatnya. Lalaki itu adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap keluarganya. Wanita itu adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya (suami dan anak). Pembantu itu adalah pemimpin dalam menjaga harta majikannya dan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya". (Mutafaq 'alaih)

Kemudian profil kepemimpinan Indonesia di masa mendatang tak terlepas dari pengalaman dan pola pendidikan dari yang kini masih sebagai pemuda hingga kanak-kanak. Sehingga beberapa perangai teladan yang didapat sedari dini menjadi bekal utama. Karakter yang didapat dari lingkungan dan penyesuaian kekuatan dari kondisi zaman menjadi kunci.

Profil merupakan grafik atau ikhtisar yang memberikan fakta. Dalam hal ini, profil tentang kepemimpinan Indonesia di masa mendatang. Sehingga kami perlu berbicara fakta mengenai kepemimpinan Indonesia untuk membahas ini, jadi izinkan saya membahas beberapa fakta yang cukup panjang.

Rasulullah Muhammad Salallahu 'Alaihi Wassalam tentu merupakan sebaik-baik pemimpin yang perlu kita teladani. Profil kepemimpinan beliau dapat kita rangkum dalam empat sifat, yakni jujur (shidiq), amanah, cerdas (fathonah), dan penyampai yang baik (tabligh). Profil beliau sangatlah jauh bila dibandingkan dengan kita saat ini, karena empat sifat tersebut telah terinternalisasi dengan baik. Beliau sebagai Uswatun Hasanah, telah memberi keteladanan berbagai fase mulai dari sebagai penggembala domba, pedagang, hingga sebagai pemimpin negara.

Mengikuti Rasulullah tentu tak mudah, untuk menyesuaikan kita dapat melihat profil para sahabat terdekat. Ada Abu Bakar dan Umar yang bagai dua kutub berlawanan namun tetap mengacu pada baginda Rasul. Abu Bakar RA. yang lembut, penuh perhatian dan mudah tersentuh hingga menangis, namun ketika memimpin dia sosok yang sangat tegas terhadap pembangkang dan pengkhianat. Sementara 'Umar yang tegas dan terlihat sangar ditambah bebadan besar dan tegap seringkali dianggap keras dengan kalimat khas "biar kupenggal lehernya", ketika memimpin ummat menjadi terlihat kepedulian dan lemah lembutnya hingga terdapat jalur linangan air mata di pipi.
Ada pula profil dua khalifah setelahnya. Utsman sebagai saudagar kaya yang pemalu juga sangat mengutamakan kerabatnya sehingga terkadang kurang adil dalam keputusannya. Sedangkan Ali yang di barisan Umar dengan bekal ilmu kepandaian meski masih muda dan merasakan pengalaman bergejolak memimpin pada masa penuh fitnah. Ada pula profil kepemimpinan lain seperti Sa'ad, Khalid hingga Umar bin Abdul Aziz.


Bagaimana profil kepemimpinan di Indonesia?

Setelah Sukarno mampu mengantar Indonesia menjadi negara merdeka, beliau memimpin masa transisi hingga 20 tahun lebih dengan percaya diri menghadapi berbagai gejolak masa transisi. Kemudian kepemimpinan negara dipergilirkan kepada seorang jenderal militer, Suharto. Suharto yang dengan tenang dan sederhana, mampu merencanakan dengan baik pembangunan lima tahunan. Namun di akhir jabatan, beliau yang cenderung otoriter dituntut masyarakat yang membutuhkan hak bersuara. 

Melewati 30 tahun masa kepemimpinan, melalui reformasi, Suharto dipaksa mundur dan kepemimpinan negara dipergilirkan kepada B.J. Habibie. Pak Habibie sebagai perwajahan cendekiawan dan kaum intelektual cukup lihai dari pembuatan pesawat terbang hingga mengatur perumusan pemerintahan yang singkat pada masa transisi. Lanjut lagi, kepemimpinan Indonesia dipergilirkan kepada Gus Dur, sosok kiai yang liberal dalam pemikirannya kuat dalam semangat persatuan dan menyederhanakan dengan kutipan khas "gitu aja kok repot".

Kembali posisi pemimpin negara dipergilirkan, kali ini wanita yang maju. Ibu Megawati, putri sang proklamator melanjutkan masa jabatan hingga pemilu presiden berikutnya. Megawati cukup tenang dalam menghadapi masalah, bergerak berdasarkan intuisi namun secara pribadi cukup emosional.
Hadir kemudian Susilo Bambang Yudhoyono, latar belakang dari militer yang tegas dan tanggap dipercaya dua periode memimpin. Cukup demokratis namun beberapa kali tidak konsisten dalam memberi keputusan.
Lanjut Bapak Joko Widodo yang dirasa populis, cukup sederhana dan demokratis. Namun keberpihakannya dalam mengambil keputusan sempat membuat gejolak.

Lalu untuk masa mendatang?

Kepemimpinan masa mendatang tercermin dari pengalaman dan karakter anak-anak dan pemuda masa kini atau disebut juga Generasi Z. Menghadapi masa depan, tentu kembali bagaimana pemimpin perlu memanfaatkan kearifan zaman dengan kemajuan teknologi. Bagaimana integritas tetap menjadi yang utama.

Ya, generasi Z yang tumbuh dan berkembang seiring kemajuan teknologi. Namun profil kepemimpinan masa mendatang oleh generasi ini justru lebih sederhana. Karena generasi ini berorientasi pada target, sementara tantangan masa mendatang akan terus menginginkan kenyamanan dan kemudahan. 

Di Indonesia, pemimpin juga terkadang perlu memainkan perasaan seperti drama dalam mengambil hati rakyat. Selain itu, penguasaan wacana melalui media juga dibutuhkan. Sehingga kemampuan menyampaikan gagasan secara terstruktur baik secara tertulis maupun lisan akan membantu.

Tetapi, ditekankan kembali integritas yang akan mengantarkan mereka mendapatkan panggung kepemimpinannya. Selain kemapanan pengetahuan dan pengalaman, mereka membutuhkan kesetiaan pada prinsipnya. Bila level kepemimpinan Maxwell ada 5, maka masa mendatang membutuhkan mereka yang mampu mencapai level 5 atau tertinggi, yakni respects.

5 Level Kepemimpinan Maxwell:
1. Rights (Karena posisi atau jabatan strukural)
2. Relation (alasan emosional, karena mampu menyentuh...(more)

Answered Aug 18, 2017
Fachruqi Waris
Universitas Hasanuddin l Rumah Kepemimpinan Ang.8 Regional 7 Makassar

k_FqNOmH0xYw8dv5fj-Qinof8DFn8alK.jpg

Kepemimpinan merupakan suatu proses dimana seseorang berupaya mempengaruhi sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. Dalam rangka mempengaruhi sekolompok orang, biasanya seorang pemimpin akan menggunakan "pengetahuan" dan "keterampilannya" untuk mendapatkan good impression dari subject yang dituju. Bahkan seringkali pengetahuan dan keterampilan ini dibangun dan dibentuk jauh sebelum seseorang memutuskan untuk menjadi orang yang lebih berpengaruh dari sebelumnya (menjadi seorang pemimpin).

lalu bagaimana jika definisi umum kepemimpinan yang diuraikan diatas dibawa secara khusus yaitu Indonesia, apa masih relevankah modal pengetahuan dan keterampilan dalam memimpin negara ini? melihat realita sekarang dan tantangan kedepan dimana masyarakat Indonesia yang sedari awal memiliki kemajemukan yang sangat kental ditambah dengan gempuran era modernisasi yang semakin memperjelas status keberagaman di Indonesia sangat berpotensi untuk terjadi perbedaan-perbedaan baik dari segi pemikiran hingga tindakan. hal ini jika tidak disikapi secara bijak akan menimbulkan masalah baru. kita lihat beberapa kurun waktu terakhir ini, hal yang dikhawatirkan benar-benar terjadi. Masyarakat Indonesia disibukkan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan pluralisme yang justru akar permasalahannya muncul secara vertikal, yakni dari linkungan politik pemerintahan hingga ke lapisan bawah masyarakat.

Oleh karena itu saat ini dan masa-masa yang akan datang kepemimpinan yang diharapkan adalah kepemimpinan yang tidak hanya mengandalkan pengetahuan dan keterampilan dalam menjalankan roda pemerintahan akan tetapi jauh dari itu seorang pemimpin harus memiliki karakter dan sifat yang berorientasi pada kesadaran tugas dia sebagai wakil Tuhan di bumi ini. Tidak menghambakan manusia, sehingga ia bekerja tulus memimpin sebuah negara semata-mata mengharapkan ridho dari-Nya. Manusia diperlakukan sama dalam hal mengatur dan melayani masyarakat sehingga tidak timbul sekat-sekat antara pemerintah dengan pemerintah, pemerintah dengan masyarakat, dan masyarakat dengan masyarakat. Semua saling bersinergi dalam hal memakmurkan bumi (negara) dan memperbaiki diri atas kepercayaan yang dianut masing-masing dan menjalankan adat dan istiadat masing-masing yang mampu membuat Indonesia semakin berbudaya dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip nusantara yang sejalan dengan misi mengatur hidup masyarakat menjadi lebih baik.

Oleh karena itu kepemimpinan di masa depan haruslah dibarengi dengan sikap, sifat/karakter yang baik yang dibangun sejak dini, seperti rendah hati, objectif, open mind, moderat, prestatif dan Kontributif.

#Jawabanku Oktober 2017 #Rumah Kepemimpinan #Rk Regional Makassar

Answered Nov 1, 2017

Question Overview


12 Followers
1468 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Menurut Anda, bagaimana cara yang paling ampuh dan komprehensif untuk memberantas korupsi di Indonesia?

Siapa Drs. Musholli, pendiri Nurul Fikri?

Apakah pemimpin itu dibentuk atau dilahirkan?

Seberapa besar pengaruh olahraga terhadap kemampuan memimpin seseorang?

Apa saja cara seorang pemimpin memotivasi tim yang sedang demotivasi karena performa organisasi yang buruk?

Apa saja karakteristik dari pemimpin/CEO yang buruk?

Apa kesalahan terbesar yang pernah dilakukan oleh seorang pemimpin negara?

Siapa CEO terbaik Indonesia saat ini?

Kenapa CEO sekelas Emirsyah Satar yang bergaji besar masih tergoda melakukan korupsi?

Bagaimana kinerja KPK di bawah Abraham Samad dan apa prestasi yang menonjol di bawah kepemimpinannya?

Bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik?

Adakah keterlibatan Indonesia pada Perang Dunia II?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Hal-hal apa sajakah yang harus dipenuhi agar Indonesia menjadi pemimpin budaya populer dunia?

Foto apa saja yang bisa mengubah cara pandang kita tentang Indonesia?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Masakan/makanan Indonesia apa yang menurut Anda paling mungkin go international?

Mengapa bangsa Indonesia dapat sebegitu lamanya dijajah oleh Belanda?

Makanan/masakan Indonesia apa yang paling memiliki nilai sejarah tinggi?

Apa yang membuat beberapa suku di Indonesia masih tetap bertahan dengan gaya hidup tradisionalnya, misalnya Suku Badui?

Sejauh manakah teknologi akan mengubah dunia dalam 5 tahun ke depan?

Jika berusia tua nanti, kota mana yang kamu pilih untuk ditinggali? Mengapa?

Jika sudah lulus kuliah, Anda ingin jadi apa?

Apa rencana Anda selama satu tahun ke depan?

Jika ada kesempatan mengulang masa lalu, bagian mana yang ingin Anda ulang?

Apa harapan terbesar Anda jika sudah suskes?

Apa hal yang Anda percaya akan terjadi tetapi belum dapat dibuktikan dengan sains saat ini?

Siapa tokoh muda Indonesia yang menurut Anda berpotensi menjadi tokoh nasional masa depan?

Pekerjaan apa yang paling Anda idamkan setelah kelulusan?

Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?

Apakah skill yang paling utama yang harus dimiliki CEO?

Apakah perbedaan pemimpin dengan bos?

Dari segi leadership, apakah Jokowi lebih baik dari Donald Trump?

Apakah seorang CEO haruslah seorang Extrovert dan pandai menjual?

Di manakah kita bisa menemukan tim yang sevisi untuk membangun sebuah bisnis/ start-up?

Apakah ditetapkannya Setya Novanto sebagai tersangka menjadi bukti krisis kepemimpinan nasional?