selasar-loader

Inovasi apa yang perlu dilakukan oleh transportasi umum seperti angkot agar masyarakat tetap menggunakannya?

Last Updated Jul 11, 2017

3 answers

Sort by Date | Votes
Rininta Ariastyanti
Dreamer, Explorer, Kepoer

Hasil gambar untuk angkot

Akhirnya, pertanyaan yang saya tunggu-tunggu.

Ketika di luar sana angkot dikecam dan banyak orang lebih memilih angkot dibubarkan dan diganti ojek online, saya lebih setuju jika angkot diperbaiki. Angkot adalah transportasi massal, di mana satu kendaraan bisa memuat maksimum 13 orang. Sementara ojek hanya bisa bawa satu orang. Bayangkan jika angkot diganti ojek online. Satu angkot harus digantikan 13 ojek online. Alih-alih mengurai kemacetan, jalanan malah semakin padat. Angkot juga punya nilai pariwisata tersendiri. Bagi turis mancanegara, naik angkot adalah experience tersendiri. Sama seperti kita naik tuktuk, shinkansen, rickshaw, dan city tram.

Untuk memperbaiki angkot, berikut inovasi yang terpikir oleh saya.

1. Monitoring

Kenapa angkot ngetem lama sembarangan? Atau sebaliknya, kenapa angkot ngebut-ngebut? Kenapa angkot suka putar balik di sebelum sampai tujuan?

Jawabannya sederhana, tidak ada yang mengatur.

Supir angkot kini mengatur dirinya sendiri. Kapan mau jalan, terserah dia. Kapan mau berhenti, terserah dia. Sampai mana mau mengantar orang juga terserah dia. Yang dipikirkan cuma dapat uang, kasih sebagian ke pengelola, beres. Padahal kita ingin fasilitas transportasi yang profesional. Hal ini yang membuat angkot tidak disukai.

Pengelolaan angkot harus lebih serius. Misalnya, dengan memberi sistem monitor pada angkot dan memantau angkot yang melanggar aturan. Sistem tersebut dapat dibuat menggunakan GPS dan internet. Setelah sistem dibuat, regulasi yang ketat juga harus dibuat. Misalnya, apabila angkot terlalu berhenti di suatu titik, akan keluar surat peringatan bagi angkot tersebut. Tiga kali surat peringatan bisa denda misalnya.

2. Fare

Kemarin naik angkot dari toko A ke toko B 5 ribu rupiah. Tapi hari ini 6 ribu rupiah. Kok bisa? Setelah ditanya ke supirnya, dia cuma bilang, "Kalo sama saya mah emang segini. Kalo ga punya uang, naik taksi aja sana." Hmm, ini juga yang bikin orang malas naik angkot.

Tarif tiap mobil beda-beda. Hari ini sedia ongkos sekian, besok bisa lebih mahal atau lebih murah. Serba untung-untungan, padahal fixed price seperti ojek online yang lebih disukai orang.

Saya punya ide untuk bikin fare calculation mirip KRL atau busway, tapi langsung di dalam angkotnya. Tap in kartu ketika masuk angkot, tap out ketika keluar. Tap in akan mengaktifkan GPS, sementara tap out akan mematikan GPS dan menghitung jarak tempuh perjalanan. Mirip sistemnya Uber. Tinggal bikin regulasi saja jarak sekian harganya sekian. Mungkin nantinya bikin noncash, supaya tidak ada oknum nakal.

Untuk menghindari oknum nakal (nakal minta uang dan nakal putar balik), lebih baik jangan gunakan sistem setoran. Gunakan sistem mirip busway supaya sama-sama enak.

3. Scheduling

Jika sistem monitor sudah ada, langkah yang perlu ada berikutnya adalah scheduling. Sistem scheduling memungkinkan pengguna merencanakan perjalanannya. Sistem scheduling juga membuat supir angkot tidak rugi karena penumpangnya pasti ada.

Bila ingin lebih canggih lagi, bisa dibuat aplikasi untuk angkot dan untuk pengguna angkot, di mana pengguna angkot tinggal pencet tombol jika mau naik angkot. Supir angkot yang melihat adanya pelanggan yang seolah sudah "booking" tinggal berhenti di tempat tombol dipencet.

4. Modification

Ini yang terakhir, peremajaan mobil angkot. Angkot bagus, ber-AC, dan bebas asap rokok? Pasti jadi idaman.

Maintenance angkot paling sering dilewatkan, padahal sangat penting. Kira-kira 13 nyawa dibawa satu mobil yang selalu bunyi kriet-kriet meninggalkan rasa tidak aman pada tiap penumpang. Jika ada sistem monitoring, pengelola dapat memantau mobil mana yang sudah lama aktif dan menahannya untuk melakukan maintenance.

Masalah rokok, sebenarnya bisa dibuat smoking room di angkot. Caranya? Tutup saja area yang membatasi kursi penumpang dengan kursi supir. Buat "area smoking" di tempat supir dan di bangku depan. Jadi, untuk penumpang dan supir yang mau merokok, silakan saja merokok di depan. Jangan merokok di belakang. Tapi regulasi dilarang merokok pasti jauh lebih baik.

Mungkin itu saja inovasi yang terpikir oleh saya selama bertahun-tahun naik angkot. Menurut saya, tidak impossible, hanya butuh riset yang panjang untuk merealisasikannya. Semoga bisa menginspirasi.

 

Ilustrasi via risnawatiririn.files.wordpress.com

Answered Jul 14, 2017
Bening Tirta Muhammad
PhD Researcher on New Generation Solar Cell, Proofreader, Blogger.

3Y_vGtwQAH-nBqyiZV31hztsFnUP2_F2.jpg

Pertama, soal komunikasi antarsopir yang berdampak pada waktu tunggu yang unpredictable. Di Malang, angkot yang berangkat dari pool diatur kurang-lebih per 5 menit, jadi tidak ada istilah ngetem. Untuk di sepanjang trayek pun ada checkpoint, sehingga angkot tidak menumpuk (penumpang tidak perlu menunggu lama). Simple scheduling system, isn't it

Kenyaman juga bisa jadi salah satu alasan mengapa angkot ditinggalkan. Musik yang tidak jedag-jedug seperti di kota Padang dan interior botol miras tiruan seperti oplet di Pekanbaru (saya pernah lihat) bisa membuat penumpang bete

Ketiga, subsidi buat operasional sopir angkot sampai angkot kembali menjadi primadona (setelah mulai ditinggalkan beberapa tahun ke belakang). Sehingga ada gairah buat kelesuan dunia perangkotan.

Answered Jul 14, 2017
Willya Hendra
Futsal Enthusiast

ObqyTD8H-5saKmtvvFwk_AWgU3XDMeDt.jpg

Jika pertanyaannya diubah, kenapa masyarakat naik angkot? Karena murah. Kalau misalnya cari nyaman, taksi lebih nyaman, kalau misalnya cari cepat, ojek lebih cepat. Kalau masalah trayek, toh taksi dan ojek bisa menjangkau lebih jauh daripada trayek angkot. Jadi, bagaimana pun bobroknya angkot, selama tidak ada pilihan lain yang murah, masyarakat masih naik angkot. 

Jika ada pilihan lain, tentu masyrakat pilih yang lebih baik, lebih murah, lebih cepat, ojek online misalnya. Memang moda trasnportasi online sukses mengusik zona nyaman moda trasnportasi konvensional dengan harga yang murah.

Lalu, bagaimana angkot agar tetap jadi pilihan masyarakat? Yang pertama, angkot harus tetap murah supaya jadi pilihan. Yang kedua, angkot harus jadi nyaman, misalnya dipasang AC, sopirnya harus ramah dan necis dan ngga bau, ada musik di angkot, misalnya musik jazz atau pop. Untuk para wisasatawan, angkot menyediakan informasi lokasi wisata, brosur, direktori hotel, restoran, dan lain-lain. Armada angkot diremajakan dan dibuat dengan karoseri menarik. Yang ketiga adalah membuat angkot menjadi transportasi umum tepat waktu dan tertib. Berhenti hanya di halte dan tidak ngetem di jalan raya. Mungkin dengan penyesuaian sana sini angkot bisa jadi tidak yang termurah lagi, namun setidaknya tambahan uang yang diberikan "dibalas" dengan imbalan kendaraan umum yang nyaman dan tepat waktu.

 

gambar via sindonews.net

Answered Aug 15, 2017