selasar-loader

Menurut ajaran agama Islam, lebih penting mana, puasa syawal atau bayar utang Ramadhan?

Last Updated Jul 4, 2017

3 answers

Sort by Date | Votes
Anonymous

Hasil gambar untuk puasa hutang

Bismillah..

Saya coba jawab boleh ya, gpp kalau gak diterima. :)
Menurut saya, yang lebih penting itu bayar utang Ramadan dulu. Alasannya, pertama, puasa Ramadan itu wajib sedangkan puasa Syawal itu sunah. Kemudian, syarat agar puasa Syawal kita diterima atau mendapat ganjaran dari Allah SWT adalah dengan mengerjakan puasa Ramadan secara penuh. Baik kita simak hadis berikut.

"Barang siapa yang berpuasa (di bulan) Ramadan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunah) enam hari di bulan Syawal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh."

Sumber dari https://muslim.or.id/1382-keutamaan-puasa-sunnah-6-hari-di-bulan-syawwal.html

Jadi intinya, menurut hemat saya, ya, disempurnakan dulu Ramadannya selama sebulan penuh. :)
Jazakallahu khairan
Wallahualam

Ilustrasi via blogspot.com

Answered Jul 6, 2017
wahyu sutejo
Success enthusiast, Psikologi interest, Omni Channel Enthusiast

 

5MyHFHFmTpcsdQ7-D9dXRG-cCPDeUDmi.jpg

Menurut hemat saya, sebaiknya hal seperti ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Karena sudah jelas terang benderang antara hukum wajib dan hukum sunah itu jauh lebih utama yang wajib, apa pun kondisi dan situasinya.

Ketika banyak muncul pertanyaan seperti ini, maka kemungkinan besar akan lebih banyak mudhorot-nya dibanding manfaatnya, yang pada akhirnya akan menyebabkan perdebatan yang tidak pada tempatnya.

Ilustrasi via ldiisurabaya.org

Answered Jul 6, 2017
Helman Taofani
Pendengar, pemirsa, dan mencoba menjadi yang digariskan Tuhan.

qGm85pQ3-DFLIumW0GgRH0F2lDTZEjvQ.jpg

Sebelum menjawab pertanyaan ini, izinkan saya untuk bercerita mengenai kesan saya sewaktu mengkuti rangkaian ibadah haji tahun 2014. Di Mekah, ada buku panduan gratis mengenai tata cara ibadah. Salah satunya menjelaskan resiko ibadah bisa menjadi haram atau batal dengan logika sederhana. Contohnya, tawaf akan menjadi batal bila kita memaksakan jalan sehingga menyakiti orang lain. Logikanya, tawaf itu ibadah sunah, sementara menyakiti sesama muslim hukumnya haram.

Hal itu membuka mata saya mengenai "grading" prioritas yang bisa kita lakukan. Mendahulukan yang wajib, dan menghindarkan yang haram. Ini kekuatannya sama besar. Grade selanjutnya adalah melaksanakan yang sunah, menghindarkan yang makruh. Contoh lain di logika tersebut adalah apa yang kita lakukan ketika masuk masjid untuk salat Jumat dalam kondisi khatib sudah berkhutbah? Apakah kita tetap boleh melaksanakan salat sunah (rawatib atau tahiyatul masjid)?

Ini ada perbedaan pendapat, tetapi saya pribadi suka dengan logika di atas. Mengikuti khutbah hukumnya wajib, sementara rawatib dan tahiyatul masjid adalah sunah. Saya akan langsung duduk mendengarkan khutbah, dan mungkin baru menjalankan salat sunat ketika salat wajib (salat Jumat) selesai (rawatib bakdiyah).

Dengan analogi itu, menjawab pertanyaan puasa Syawal dan membayar hutang puasa Ramadan, menurut saya lebih baik mendahulukan yang belakangan.

Wallahua'lam.

gambar via cloudinary.com

Answered Jul 6, 2017