selasar-loader

Siapakah cinta pertama Anda?

Last Updated Nov 24, 2016

13 answers

Sort by Date | Votes

Hasil gambar untuk ALVARO RECOBA

Sumber gambar via http://2.bp.blogspot.com/ (SUM)

Alvaro Recoba, pemain sepak bola asal Uruguai ini membuat saya jatuh cinta untuk pertama kali, jatuh cinta pada sepak bola. Selama beberapa tahun password semua email dll-ku adalah Recoba. 

Answered Nov 30, 2016
Amril Taufik Gobel
Pemuja Cinta Sejati

Hasil gambar untuk cinta pertama

Cinta pertama saya adalah seseorang yang saya juluki "Diajeng".

Kisahnya pernah saya ungkap di blog dan sekarang saya sampaikan kembali di sini.

Kau datang membawa
Sebuah cerita
Darimu itu pasti lagu ini tercipta
Darimu itu pasti lagu ini tercipta

Dari jendela kelas yang tak ada kacanya
Tembus pandang ke kantin bertalu rindu
Datang mengetuk pintu hatiku

(Iwan Fals, “Jendela Kelas Satu”)

Semesta seakan berhenti bergerak.

Waktu mendadak tak berdetak.

Hening. Sunyi. Beku.

Suara lantang wali kelas kami mengumumkan kedatangan siswi baru pindahan dari sebuah kota yang jauh menyentakkan sekaligus membuat takjub kami semua. Gadis itu, siswi pendatang baru menatap malu-malu ke arah kami sembari menunduk tersipu. Potongan rambut mirip Lady Di dengan beberapa helai rambut jatuh di keningnya membuat saya terpana dalam kekaguman.

Cantik sekali dia, saya membatin. Kemeja putih dan rok biru yang dikenakan gadis muda itu sungguh sangat kontras dengan pancaran keanggunan yang ia miliki. Dan pada matanya, ada rembulan mengapung teduh di sana.

Seketika, desir-desir aneh mulai merambati hati. Sesuatu yang tak saya pahami selain sebuah keinginan besar untuk selalu dekat dengannya. Menikmati segala keindahannya. Lalu, menjadi bagian dari segala kebahagiaan, juga kesedihannya. Perempuan itu telah berhasil merebut simpati dan perhatian saya pada kesempatan pertemuan pertama. Love at the first sight.

Ya, mengenang kembali cinta pertama bagi saya adalah membayangkan kembali di suatu masa, di mana saya menjelma menjadi sesosok pria remaja kurus ceking berseragam putih dan celana pendek biru yang berdiri tegak kaku dengan lutut bergetar di pinggir pintu kelas, menyaksikan dia, perempuan yang selalu menjadi bunga mimpi dari malam ke malam (selanjutnya kita panggil saja “Diajeng”) , berlalu anggun sembari melepas senyum riang yang membuat jantung saya berpacu kencang dengan desir aneh tak terkatakan.

“Suatu waktu, dia akan menemani saya tumbuh besar, dewasa, membangun keluarga bahagia, memiliki anak-anak, dan menjadi tua bersama”, begitulah tekad sederhana yang terpatri dalam batin saya. Sebuah tekad yang mungkin “muskil” tapi bukan mustahil untuk diwujudkan.

Saya mengenang bagaimana ketika saya dengan malu-malu mencuri pandang ke arah Diajeng yang duduk di bangku depan, mengagumi setiap helai rambutnya yang berpotongan ala Lady Di serta matanya yang berpendar lembut.

Saya bahkan tak pernah berani bertatapan langsung dengannya atau berbicara lebih lama, karena badan saya mendadak terasa jadi kaku tak bisa bergerak.

Setiap malam, tak pernah tak terlewatkan membayangkan sosok sang idaman hati menjelang tidur bahkan kerap berkunjung menghiasi mimpi-mimpi, menjelma bidadari berpakaian warna-warni dan bersayap cemerlang.

Betapa dashyat “gempuran” hati dari cinta pertama ini.

Sayang sekali, saya tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk melakukan pendekatan secara intens. Bukan apa-apa, saya merasa rendah diri setiap kali berhadapan dengannya. Secara status sosial, ia memiliki “derajat” lebih tinggi ketimbang saya yang hanyalah seorang putra pegawai negeri biasa yang tinggal di Perumteks.

Setiap hari, Diajeng di antar ke sekolah oleh mobil sang ayah sementara saya mengendarai sepeda atau kadang berjalan kaki ramai-ramai dengan teman-teman ke sekolah. Saya sungguh sungkan dan akhirnya menganggap saya bukanlah orang yang pantas mendampinginya . Saya mengalami inferioritas tahap akut dan parahnya itu justru saya alami pada perempuan yang sangat saya sukai (sesuatu yang kemudian saya sesali beberapa tahun ke depan).

Suatu hari, Diajeng datang menghampiri saya di dekat kelas kami. Kaki saya mendadak gemetar dan lidah terasa kelu.

“Tolong, ajari saya Matematika ya?”, katanya pelan sedikit tersipu.

Saya tak bisa berkata apa-apa. Hanya terpana (lebih tepatnya menganga).

Tak percaya rasanya mendapat anugerah sebesar ini. Saya seumpama tokoh Ikal di film Laskar Pelangi ketika pertama kali bertemu dengan A-Ling ketika membeli kapur tulis di Toko Sinar Harapan. Ada kupu-kupu beterbangan dan bunga-bunga indah bertebaran di hadapan saya dan dia. Indah sekali.

Sampai kemudian ia menyentakkan lamunan saya dengan tawa pelan, yang, amboi..sungguh mempesona. Bagai gempa bumi 9 skala richter berpotensi tsunami yang menggetarkan relung-relung hati paling dalam. Ini sebuah anugerah luar biasa yang sama sekali tak terduga dan sangat diharapkan.

Dan begitulah dengan segala keikhlasan dan kerelaan, saya pun menemani dan mengajari Diajeng belajar Matematika di teras rumahnya yang megah, setidaknya seminggu dua kali. Dengan gagah berani--bagai ksatria perkasa berbaju zirah menunggang kuda sembrani-- saya mengendarai sepeda jengki berwarna oranye saya ke rumahnya yang berjarak kurang lebih 1,5km dari rumah saya itu.

Sepeda butut saya tersebut selalu dipacu kencang menuju ke sana, tak sabar ingin segera bertemu. Kerap kali rantai sepeda lepas di pinggir jalan dan merepotkan saya untuk memasangnya kembali.

Saya sudah berdandan rapi memakai minyak rambut tancho hijau yang memiliki daya lengket luar biasa dan memberikan efek ala rambut Al Pacino dalam film Godfather itu serta menyemprotkan parfum murahan ayah saya dari rumah. Sebuah upaya sistematis romantis untuk (sedikit) meningkatkan derajat ketampanan.

Meskipun akhirnya penampilan itu menjadi sia-sia belaka ketika semuanya luntur saat tiba di sana oleh yang keringat mengucur deras karena letih mengayuh sepeda. Semua “penderitaan” itu terbayar tunai hanya dengan melihat senyum manisnya yang menyambut saya, bagai Naysila Mirdad menyongsong Dude Herlino-nya dalam sebuah episode sinetron masa kini. 

Saya ingat betul, dalam kondisi ngos-ngosan, Diajeng menyodorkan air putih dingin kepada saya. “Minum dulu, capek ya? Makanya jangan ngebut-ngebut naik sepedanya,” kata Diajeng sembari memamerkan senyumnya yang fenomenal itu. Terasa benar rasa letih saya mendadak menguap ke udara dan terganti dengan rasa bahagia menyeruak di dada. Dengan tangan yang masih ada sisa oli pelumas rantai...(more)

Answered Dec 5, 2016

Hasil gambar untuk CINTA PERTAMA

Cinta pertama saya adalah dia, lelaki yang sekarang menjadi suami saya, ayah dari dua bujang pamenan saya, yaitu RICKY MAFILINDO.

Allah bekerja dalam cara–cara yang indah dan tidak pernah diduga oleh manusia, begitu pun dengan kehidupan saya. Suami saya adalah cinta pertama saya pada pandangan pertama. Semua bermula ketika saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan SMA di SMA 1 Padang Panjang yang merupakan SMA unggulan di Sumatera Barat.

Saya datang ke Padang Panjang untuk mengikuti tes masuk SMA 1 Padang Panjang dengan diantar oleh ayah menggunakan sepeda motor "bebek" Yamaha yang sudah jadul. Saat memasuki gerbang sekolah pandangan saya melihat lurus ke arah jalan sebelah kiri dan dari dalam lingkungan sekolah berjalan sesosok anak lelaki semampai berkulit putih dan bermata elang memandang saya tajam. Kami bersirobok pandang, darah saya mendesir ada gelenyar aneh yang saya rasakan saat kami bertatapan. Beberapa lama, saya tertegun ketika tersadar saya merasakan panas di wajah dan pastilah saat itu wajah saya memerah. Terlambat sudah untuk membelokkan langkah mengambil jalan sisi kanan, ia sudah berada tepat di depan saya dan menyapa "Kamu mau ikut tes SMA unggul juga ya?" Saya hanya mampu menjawab dengan anggukan, lidah saya kelu seperti terkunci.

“Tesnya diundur nanti tanggal 20 Juni,” ujarnya lagi. Hanya ucapan terima kasih yang meluncur dari bibir saya, kemudian saya meneruskan perjalanan masuk ke lingkungan sekolah dan ternyata dia berbalik berjalan di samping saya sampai ke depan kantor tata usaha, untuk beberapa lama kami berdekatan. Badan saya bergetar, keringat mulai terasa mengalir dan debar di dada ini makin bergemuruh kencang, ada suatu perasaan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Semenjak pertemuan pertama itu, saya tidak pernah bisa melupakan wajahnya, tatapan matanya dan siluet tubuhnya.

Setelah pengumuman penerimaan, ternyata kami berada di kelas yang sama yakni kelas I1. Dan sejak hari pertama sekolah, perasaan itu semakin kuat, gejala fisiologis yang saya rasakan saat pertama kali bertemu di gerbang sekolah tak berkurang sedikit pun bahkan makin bertambah. Saya bukanlah gadis yang gaul atau sejenisnya, jadi perasaan ini saya simpan rapat-rapat. Di kelas, dia duduk di belakang saya. Hal ini membuat saya sulit berkonsentrasi. Setiap kali berpapasan, saya senantiasa menundukkan pandangan sambil menenangkan diri dan menyembunyikan wajah ini  yang pastilah memerah. Memandangnya dari kejauhan, mengamati setiap gerak-gerik dan bahasa tubuhnya menjadi rutinitas dan kebiasaan saya. Hal yang paling saya sukai adalah memandang siluet dirinya dari belakang, karena hal itu bisa membuat saya leluasa memandangnya tanpa khawatir tertangkap basah. Kami tidak pernah bercakap-cakap panjang lebar, pernah beberapa kali dia berusaha untuk mengajak bicara, pergi ke kantin atau ke perpustakaan namun secara halus saya tolak.

Setiap malam ketika imtaq, saya berusaha salat di saf kedua dari depan berusaha untuk bisa melihatnya. Setiap sore, saya menghabiskan waktu belajar dikelas C1 yang berada di sayap kiri sekolah, duduk di dekat jendela menantikan kedatangannya lewat  tersiksa. Ya, sungguh tersiksa saat itu tapi saya menikmatinya, memandangnya dalam diam menghadirkan perasaan bahagia.

Namun, semua itu hanya satu catur wulan bisa saya nikmati, karena setelah penerimaan rapor ia pindah ke SMU1 Batusangkar. Memandangnya untuk terakhir kali ketika ia berjalan meninggalkan sekolah, membuat saya meneteskan air mata. Ada yang hilang dan ada rasa sakit setiap kali mengingatnya. Saya pernah mengiriminya surat sekali waktu namun tak berbalas. Apakah perasaan saya hilang seiring dengan kepindahannya? Ternyata tidak karena ada saja hal-hal yang menghubungkan ingatan saya kepadanya yakni melalui teman saya Putri dan Dolla yang dulu satu SMP dengannya.

Suatu ketika, Putri mengajak saya main ke rumahnya di Batusangkar, di sanalah untuk pertama kali saya ngobrol dengannya lewat telepon dengan antusias dia bercerita kalau ia membaca puisi-puisi saya yang dimuat di koran Haluan dan ia menyimpannya. Putri dan Dolla adalah dua teman yang selalu menghubungkan ingatan saya tentang seorang Ricky Mafilindo, meski kami tak pernah berkomunikasi.

Pertemuan berikutnya terjadi sewaktu saya mengikuti bimbel untuk persapan UMPTN, suatu sore kala hujan lebat di halaman Gramedia Padang. Kami bertegur sapa, ngobrol basa-basi sedikit kemudian tenggelam dalam diam, menunggu hujan reda. Saya sibuk menenangkan diri dari debaran dan perasaan yang menghentak-hentak seperti mau meledak, namun saya bahagia bisa berjumpa dan berdiri di sampingnya.

Ternyata Tuhan memang telah mengatur segalanya, saya mengira kuliah di Psikologi USU akan membuat saya jauh dari segala sesuatu yang berhubungan dengan Ricky Mafilindo, ternyata tidak. Teman satu angkatan yang saya panggil dengan panggilan kesayangan "Taripa" adalah teman sekaligus seseorang yang pernah menjadi teman dekatnya di SMA Batusangkar. Sang Taripa menyapa saya ketika ospek di hari pertama, ia mengenal nama saya melalui surat yang dulu pernah saya kirim pada Ricky yang tak pernah berbalas. Saya dan Taripa semenjak itu menjadi teman akrab  karena sama-sama orang Padang. Kos-kosan Taripa berada di SO7 ( Sipirok 07) menjadi tempat saya memupuk perasaan dan khayalan saya tentang seorang Ricky karena setiap berkunjung ke sana saya selalu membuka album–album foto milik Taripa hanya untuk sekadar melepaskan rindu pada sosoknya.

Melalui Taripa juga akhirnya saya bisa berkomunikasi lewat email, friendster, dan hp karena kami sama-sama suka membaca dan menulis kami sering berdiskusi mengenai banyak hal. Perasaan saya makin kuat padanya, bedanya sekarang saya sudah mulai bisa mengendalikan diri dan berdamai dengan debaran-debaran di dada. Namun, setelah dua tahun berkomunikasi saya merasa tidak sanggup lagi menahan gejolak perasaan dan memutuskan untuk tidak lagi berkomunikasi dengannya selama satu tahun. Namun, saya salah lagi, ternyata perasaan itu bukannya berkurang...(more)

Answered Dec 6, 2016
Anonymous

Hasil gambar untuk cinta pertama

Cinta pertama saya sebut saja Bunga. Ini demi menjaga beliau tetap bahagia dengan pasangannya sekarang. Suaminya, kekasih sejatiny, takdirnya, sebut saja Budi. Mereka semoga menjadi pasangan yang bahagia hingga maut menutup mata mereka masing masing.

Budi dan Bunga adalah pasangan dokter muda. Dari stalking-stalking-an saya di media sosial, alhamdulillah mereka bahagia dengan keluarga kecilnya dan memiliki seorang puteri yang cantik jelita, seperti ibunya dan gagah seperti ayahnya .

Jika ia menikah dengan saya, mungkin tidak akan seperti itu kejelitaan sang puteri. Karena terus terang, menurut perbandingan yang saya lakukan antara saya dan Budi, dia lebih ganteng dari saya. Dari stalkingi-an saya di akun media sosial Budi, dia dan saudara-saudaranya ganteng-ganteng semua. Ayahnya juga.

Ibunya cantik. Ayahnya ganteng. Maka, menurut hukum persilangan sederhana ala Mendel maka sang puteri akan cantik sempurna. Itu hasil stalking-an terakhir, kira-kira beberapa bulan yang lalu. Sekarang, sudah tidak bisa lagi saya lakukan entah kenapa saya tidak bisa lagi masuk. Menurut medsos tersebut, saya bukan orang yang bisa lagi masuk ke laman tersebut. Tim teknologi dari media sosial tersebut sangat luar biasa juga mengembangkan fitur tersebut. Tetap berteman tapi tak bisa lagi menyelami linimasanya.

Jika saya jadi menikah dengan Bunga, mungkin puteri kami akan manis. Karena apa? Saya tidak ganteng tapi karismatik. Kombinasi antara cantik dan karismatik biasanya berbuah manis.

Untung juga sebenarnya. Jika ia menikah dengan saya yang hidup dari menulis puisi mungkin Bunga tidak akan sebahagia sekarang. Hidupnya akan banyak diayun-ayun ombak dikarenakan bersuami penyair urakan. Agak susah membayangkan jika seorang dokter dari kampus ternama bersuamikan penyair amatiran. Whats a tragedy.

Baik. Begini ceritanya.

Saya dan Bunga tinggal dalam satu komplek yang sama. Komplek tempat kami tinggal sangat luas. Saking luasnya, di komplek tersebut terdapat tiga Sekolah Dasar untuk sekolah bocah-bocah di komplek tersebut, satu SMP dan satu SMA untuk melayani anak-anak warga komplek bersekolah. Seluruh sekolah itu bernaung di satu yayasan yang sama.

Sekitar 99 persen warga komplek bekerja di satu tempat yang sama. Jadi, pada umumnya orang tua kami saling mengenal satu sama lain lebih dari sekadar perkenalan satu masyarakat warga tetapi juga karena alasan pekerjaan, hierarki, dan sistem organisasi perusahaan.

SD 1, SD 2, dan SD 3, masing-masing SD memiliki rata-rata 4 atau 5 kelas, A, B, C, D, dan E. Setiap kelas rata-rata terdiri dari 25 sampai 30 siswa. Setiap SD itu memiliki lapangan bola yang sangat luas, hampir-hampir mengikuti standar ukuran lapangan sepakbola ukuran orang dewasa. Setiap SD memiliki perpustakaan dengan koleksi buku yang lumayan update dan tak lupa lapangan lompat jauh yang memiliki pasir kualitas nomor satu.

Di SD 1 ada aula pertemuan yang representatif dengan panggung dan tata suaranya. Di SD 2 ada halaman badminton dengan lantai parket dan tata lampu teknologi terkini yang memungkinkan kita bermain badminton di sana hingga malam hari. Di SD 3 ada UKS lengkap dengan dokter jaga dan dokter gigi jaga.

Jadi, ada kira-kira per angkatan itu ada 120 sampai dengan 150 orang siswa per SD. Kita ambil saja rata-rata terkecil satu SD itu memiliki 120 orang siswa per angkatan. Berarti setiap tahun SD 1, 2, atau 3 akan meluluskan siswa sejumlah orang itu. Jika ada perpisahan SD ketiga SD akan melakukan acara Balai Sidang besar dan pengumuman NEM dan STTB-nya dilakukan bersama sama.

Menariknya, hanya ada 1 buah SMP untuk melanjutkan ke sekolah menengah, pada umumnya 90 persen siswa masing-masing SD di komplek akan melanjutkan ke SMP komplek juga. Bisa dibayangkan betapa besarnya jumlah siswa di SMP komplek tersebut. Jika kelas di SD cuma sampai D atau E, di SMP kelas satu itu bisa sampai G atau H. Jadi, akan ada kira-kira 360 orang siswa per angkatan di SMP hasil gabungan SD 1, 2, dan 3 tersebut. Jika di total siswa kelas satu dua dan tiga SMP itu bisa sampai seribuan siswa lebih. Bunga dan saya mengikat tali kasih saat kami duduk di bangku SMP. Cinta remaja dan sangat platonik.

Ya cinta platonik. Anda bisa googling apa itu "platonic love" banyak sumber yang bisa menjelaskan dengan rinci. Di sini saya buat saja simpulannya.

Semua berawal dari Plato, filsuf besar Yunani yang kita semua tahu. Dalam karyanya "symposium", pada bab "eros". Pada bab itu, Plato menjelaskan bagaimana cinta itu muncul, tumbuh, berkembang, dan mencapai puncaknya.

Plato membagi cinta menjadi dua jenis eros, Vulgar Eros dan Divine Eros. Cinta yang vulgar adalah daya tarik materi semata menuju tubuh yang indah dan kesenangan fisik demi tujuan reproduksi. Divine Eros, cinta suci. Cinta suci melampaui ketertarikan fisik, dia melintas menuju cinta yang agung. Pada keindahan yang tak terdefinisikan akal dan hanya bisa dirasa. Cinta yang tak memerlukan sentuhan, supreme beauty, begitu Plato menyebutnya. Divine Eros inilah yang kemudian berkembang melintasi abad demi abad dan diistilahkan para teoritis dengan cinta menjadi "cinta platonik.*

Saya kelas tiga, Bunga kelas dua. Kami berselisih usia setahun. Namun, kisahnya tidak dimulai dari sini. Dia berawal nun jauh ke belakang saat saya masih kelas 4 atau 5 SD. Saat pertama kali saya mendengar nama Bunga, Bunga Cahaya Wibawa, putri pertama Ir. Wibawa, insinyur manajer bagian produksi yang cukup terpandang. Kepala Bagian demikian dulu jabatan itu disebut jika saya tak salah mengingat.

Awalnya dari perlombaan antar sekolah yang selalu diadakan setiap akhir catur wulan ketiga atau hari-hari besar nasional. Biasanya ada lomba-lomba, baik lomba olahraga (kami menyebutnya class meeting), seni (baca puisi, lomba menyanyi, membawakan lagu-lagu daerah atau perjuangan), atau lomba pengetahuan yang biasanya berbentuk cerdas cermat antar sekolah.

Bersambung

Gambar via 2.bp.blogspot.com 

 

Answered Dec 8, 2016
Yusran Mansyui
Menghancurkan sendi-sendi setiap ketakutan dalam Diri & membuatnya lebih berani

Hasil gambar untuk cinta ayah dan ibu

 Ibu dan ayahlah My First Love, karena merekalah yang mengajarkan kata ayah dan ibu untuk pertama kali kepada saya dan kata itu sampai mata akan saya ingat.

*maaf agak lebay But it's true.

Gambar via blogspot.com

Answered Dec 19, 2016
Ainuen Nadhifah
Wanita oh wanita

Hasil gambar untuk cinta Seohyun SNSD

Cinta paling pertama saya adalah lelaki itu. Yang saat itu baru saja ditinggal ayahnya pergi untuk selama-lamanya. Tapi saat itu, umur saya masih sangat kecil. Jadi rasa cintanya cuma "main-main". Gak beneran.

Sementara cinta yang benar-benar itu kepada Seohyun SNSD. Ini cinta seorang fans kepada idolanya. Saya bukan lesbi loh ya. Sampai saat ini, cinta itu masih ada. Dan sangat kuat kian harinya.

Ilustrasi via wowkeren.com

Answered Dec 24, 2016
Florensius Marsudi
Lelaki, satu istri, satu putri. Masih belajar menulis....

Related image

Cinta pertamaku namanya T. Ia adik kelas sewaktu di Sekolah Pendidikan Guru (SPG).

Sayangnya aku pemalu, hingga aku selesai sekolah, bahkan sampai aku selesai kuliah, tak pernah aku ungkapkan rasa cintaku itu.

Ilustrasi via archives.portalsatu.com

Answered Jan 3, 2017
Anonymous

Cinta pertama saya baru nikah baru2 ini. Sedih sih, tapi gak apa apa asal dia bahagia.

Answered Jan 15, 2017
'Youly Chang'
Wanita biasa yang tertarik pada hal-hal yang tidak biasa.

Gak ada... yg ada cuma cinta monyet doank... hahahaha...

Answered Jan 18, 2017
Anonymous

NLl6CHgzuvQ86ZpGG2b_WJ0qRDDV9i8L.jpg

Cinta Pertama.

Cinta pertama ku adalah Tunanganku saat ini, aku dan dia terlahir di tahun yang sama, tahun 2000. hanya berselang 2 bulan setelahku, saya kenal dia sejak kecil, saya tumbuh bersama dia, melihat dia dari kecil hingga sekarang, mengenal luar dalam dia, mengetahui segala hal dia, dan jatuh cinta kepadanya;

dia merupakan cucu dari sahabat kakekku, aku dan dia bertemu di ulang tahun dia ke 5, saat ini dia menempuh pendidikan dengan homeschooling, karena keadaan kesehatannya yang memang tidak baik sejak dulu, tidak baik untuknya pergi kesekolah seperti anak-anak normal lainnya, kecapean dapat membuat penyakitnya kambuh kembali.

dia, dia merupakan salah satu motivasi dalam hidup, dia juga orang yang membuatku menjadi lebih baik, aku sangat bersukur dapat bertemu dengannya.

dia adalah teman terdekatku, berbagi kesenangan bersama dan juga kesedihan.

dia selalu ada untukku, dan aku selalu ada untuknya, aku bersyukur kita sudah saling mengenal sejak kecil.

dia adalah salah satu hal terbaik di kehidupanku, dia sabar dalam menghadapiku, tidak pernah marah jika terjadi perselisihan, dia salah satu orang yang paling mengertiku.

aku berharap, aku dan dia akan terus bersama, kita lahir hanya berpautan 2 bulan, tumbuh besar bersama, menghadapi kehidupan bersama, dan berbahagia bersama.

beberapa orang bilang, bahwa dalam kehidupan kita akan jatuh cinta beberapa kali hingga akhirnya bertemu dengan jodoh, didalam kehidupanku tidak begitu, aku bersyukur hanya perlu jatuh cinta satu kali, dan itu kepada dia. semoga hubungan kita sampai hingga saat yang paling berbahagia!

Answered Apr 1, 2017

y6kWyACLCOJzq2--vkD39O6Opa95wIDf.jpg

via icrp-online.org (FR)

Apa itu cinta? Siapa yang paling pertama? Haha

Answered Apr 14, 2017

Hasil gambar untuk sayang ibu

Cinta pertama dan akan selalu menjadi cinta pertama hingga akhir hayat saya adalah ibu. Ibuku adalah cinta pertamaku dan akan selalu menjadi cinta pertamaku hingga akhir hayatku. Ada orang yang mengatakan bahwa mencintai seseorang tidak perlu alasan. Begitulah cinta saya terhadap ibu saya. Saya mencintai ibu saya pun bukan karena ada alasan. Saya mencintai ibu saya karena tulus muncul dari hati saya. 

Ibu. Ibu adalah orang yang selalu ada untuk saya. Selalu ada walaupun saat ini saya dan ibu saya terpisah karena jarak. Namun, jarak itu bukanlah halangan bagi cinta saya terhadap ibu saya. Meskipun tidak setiap hari saya berkomunikasi dengan ibu saya, ibu adalah sosok yang selalu ada dan selalu saya cintai selama hidup saya. Meskipun ibu terkadang memarahi saya, namun sebenarnya itulah rasa cinta yang ia tunjukkan kepada saya. 

Itulah cinta pertama saya. Cinta yang tidak perlu adanya alasan mengapa mencintainya. Cinta yang tidak perlu balasan. Cinta yang abadi. Cinta yang sejati. Dan cinta yang akan selalu ada dalam hati saya dan akan selalu ada walaupun jiwa sudah tidak lagi bernyawa. 

Answered Apr 17, 2017
dr Dito Anurogo
Dokter digital/online, penulis 19 buku, S2 IKD Biomedis FK UGM, CEO SLI dan SFI

Hasil gambar untuk cinta kepada allah

Cinta pertama dan utama saya adalah Allah SWT.

Gambar via blogspot.com

Answered May 17, 2017

Question Overview


and 1 more
19 Followers
3072 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Apa dan bagaimana cinta itu?

Kepada siapa kecenderungan waria memilih pasangannya?

Bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintai?

Lagu apa yang membuat Anda teringat pada mantan kekasih?

Siapa nama mantan pacar pertama kamu? Bagaimana kabar dia saat ini?

Bagaimana cara mendekati/PDKT dengan wanita yang benar?

Gejala apakah yang biasanya dialami oleh orang yang sedang jatuh cinta?

Seperti apa patah hati (broken heart) terhebat yang pernah Anda alami?

Apakah menyukai pria mapan lantas membuat perempuan menjadi materialistis (matre)?

Apa nasihat terbaik yang pernah Anda dapatkan?

Bagaimana menjelaskan bahwa ada kemungkinan kehidupan lain selain di Bumi ini?

Apa motto hidup paling keren?

Apakah seseorang mempunyai karakter bawaan yang tidak bisa diubah?

Apa ketakutan terbesar dalam hidupmu? Mengapa?

Seberapa pentingkah olahraga bagi Anda ?

Apa yang Anda lakukan ketika mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan?

Apa pengalaman paling bermakna dalam kehidupan Anda?

Siapakah orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan Anda?

Siapa orang yang sangat berpengaruh dalam hidup Anda?

Apa fenomena alam yang menakjubkan menurut Anda?

Apa video penyelamatan menakjubkan yang pernah anda lihat?

Apa prinsip atau motto hidup yang kamu pegang?

Kenapa kamu percaya bumi itu datar?

Apa rahasiamu yang tidak diberitahukan kepada siapapun di dunia nyata tapi diberitahukan di selasar dengan fitur anonim?

Bagaimana agar tetap termotivasi?

Pekerjaan apa yang paling menyenangkan di dunia?

Apakah merek parfum yang paling cocok untuk wanita?

Apakah perbedaan antara parfum dan cologne?

Apa yang membuat harga parfum begitu mahal?

Apakah wanita mengenakan parfum untuk menarik perhatian pria atau ada alasan lainnya?

Apa tujuan laki-laki memakai parfum?

Bagaimana cara memakai parfum yang benar?

Bagaimana cara memakai cologne yang benar?

Apakah parfum yang aromanya paling maskulin?

Apakah parfum yang aromanya paling feminin?

Parfum pria apa yang aromanya bisa diterima oleh semua orang?

Apa yang membuatmu merasa bermakna dalam hidup?

Menurut Anda, bagaimana kualitas seorang artis atau selebritis di Indonesia dari segi moral?

Siapakah diri Anda?

Apa arti nama Anda?

Siapa kamu?

Apa hasil Myers-Briggs Type Indicator-mu ?

Bagaimana kepribadian mu pada hasil tes Myers-Birggs Type Indicator?

Apa kenangan terindah yang Anda miliki selama hidup yang tak mungkin Anda lupakan?

Apakah Anda mempunyai kenangan khusus dengan musik atau lirik lagu tertentu sehingga sulit melupakannya?

Apa lirik lagu, jenis musik atau suara penyanyi yang mampu menghadirkan kenangan masa lalu?

Apa lagumu hari ini yang mengembalikan kenangan masa indah lalumu dan ceritakan sebabnya?

Apa cerita tak terlupakan dan mengesankan yang Anda alami dengan teman sekelas?

Apa cerita tak terlupakan dan mengesankan yang Anda alami dengan teman sepermainan?

Jika di tempatmu berada kini sedang hujan, apa kenangan terindahmu tentang hujan dan mengapa kamu suka hujan?

Jika di tempatmu berada kini sedang hujan, apa kenangan terburukmu tentang hujan dan mengapa kamu trauma hujan?

Momen masa kecil di usia berapa yang masih Anda ingat sampai sekarang?

Apa saja musik anak-anak yang Anda ketahui?