selasar-loader

Apa pengalaman menarik Anda ketika mudik menggunakan kereta?

Last Updated Jun 21, 2017

1 answer

Sort by Date | Votes
Hilmy Maulana
memperbaiki diri tanpa henti. Serving you exceed your expectations

Mudik seolah menjadi suaytu keharusan bai para perantau. Mereka yang pergi jauh ratusan kilometer harus kembali lagi ke rumah yang menjadi awal dari kisah rantau mereka. Bukan apa-apa, namun mudik rasanya perlu untuk mengingatkan kita akan perjuangan orang tua dan keluarga, yang setiap saat selalu mendoakan kita Juga kita berharap restu, dukungan doa dan penguat jiwa. Ada semangat baru yang dibawa kembali ke perantauan setelah bertolak dari rumah. Namun, karena pembahasan kali ini adalah terkait dengan mudik-nya, makan akan dibahas terkait perjalananannya disini. 

Saya adalah seorang perantu yang berangka dari Kota Pahlawan, Surabaya sebagai kota perantauan saya. Studi Sarjana saya tempuh di kota ini, dan sudah berlangsung seitar hampir satu tahun kala itu. Saya ingat bahwa saat itu adalah jadwal mudik di pergantian tahun. Sehingga, kereta tambahan diluncurkan olrh PT KAI (persero) dikarenakan okupansi enumpang yang naik membludak. Saya mendapat tiket kereta tambahan, yang diberangkatkan sekitar satu jam lebih awal dari jadual kereta reguler. Kala itu, kereta sudah dipenuhi oleh penumpang berikut barang bawaannya. Tak ketinggalan, kardus-kardus yang menjadi ciri khas masyarakat indonesia. Saya mudik dengan Kereta Api Pasundan dengan nomor Kereta 7035 dengan tujuan akhir stasiun kiaracondong. Tepat pukul tujuh, kereta  diberangkatkan. Dari sekitar 800 penumpang yang dibawa, ada sebuah keluarga, beranggotakan seorang ayah, ibu dan bayinya dalam gendongannya, serta dua orang anaknya balitanya. Mereka duduk terpaut sekitar lima kursi dariku. namun, baru kereta berjalan sekitar seratus meter, anak bayi tersebut menangis tersedu-sedu.

Sang ibu berusaha menenangkan anaknya, menimangnya, membuatnya tertidur, dengan segala cara. Kadang ia berjalan ke gerbong lain, sekedar mencoba untuk membuat anaknya diam dan tenang. Memasuki Kota Mojokerto, hingga Madiun, anak tersebut masih menangis juga. Bahkan, sang Kondektur (pemimpin perjalanan) sudah kehabisan akal untuk menenangkan anak tersebut. Anak tersebut sempat tertidur beberapa menit di daerah yogyakarta, namun kemudian ia kembali menangis sepanjang perjalanan. Kebumen, Kutoarjo, Banjar, masihh juga ia menangis Lebam sudah dan memerah matanya, bahkan hingga kering airmatanya, karena tak henti menangis. Hingga sampai di stasiun Tasikmalaya, dimana disana keluarga itu turun. Anehnya, seteah turun dari kereta, tangisan anak tersebut berhenti. Seolah tidak ada apa-apa. Keluarga itupun nampak senang, tersenyum walau tak mengerti juga apa yang terjadi. akupun hanya terheran, merenung, dan berusaha memahami, hingga tiba di stasiun kiaracondong, bandung. sekian.

Answered Apr 2, 2018