selasar-loader

Mungkinkah hanya karena Pilkada DKI Jakarta 2017, PPP terbelah tiga? Mengapa?

Last Updated Nov 24, 2016

PPP awal terpecah belah setelah Pilpres 2014, tarik menarik kepentingan terjadi di lingkaran elite PPP yang berbeda pendapat--tetap berada menjadi koalisi atau oposisi. Pilkada DKI Jakarta 2017 tidak memberikan angin persatuan kepada PPP, partai berlambang ka'bah ini malah terbelah tiga. Mungkinkah hanya karena Pilkada DKI Jakarta 2017, PPP terbelah tiga? 

 

Vk1jFSmppFLgQGCPgekXOcOf8KxBaG0Q.png

1 answer

Sort by Date | Votes
Arifki Chaniago
Political Commentator

Hasil gambar untuk pilkada

Sumber gambar: http://krjogja.com/kr-admin//files/news/image/17135/PArpol%20ok.jpg (SUM)

Momentum Pilkada DKI Jakarta tidak menyatukan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menjadi satu (kompak) setelah PPP versi Romi mendukung Agus-Sylvi. PPP versi Djan Faridz memiliki pilihan berbeda dibandingkan Romi Cs—ia mendukung Ahok-Djarot—sedangkan kubu lain yang jarang muncul dalam dinamika dualisme PPP, Ahmad Yani Cs memilih mendukung Anies-Sandi.

Terbelah tiganya PPP menandakan partai yang dianggap representatif umat Muslim Indonesia, sama halnya dengan PKS, PBB, PAN dan PKB, saat ini mengalami kondisi terpuruk melalui politik konsolidasi Presiden Jokowi untuk memecah Koalisi Merah Putih (KMP),seperti Golkar, PAN, Gerindra, PPP, dan PKS. Jokowi berhasil menarik Golkar, PAN, dan PPP untuk bergabung dengan pemerintah.

Politik konsolidasi yang awalnya membelah Golkar menjadi dua, yaitu Ancol dan Bali—perebutan posisi ketua Umum antara Aburizal Bakrie dan Agung Laksono, malah membuat Setya Novanto, kader Golkar yang disukai Jokowi menjadi ketua. Terpilihnya Novanto, dualisme antara Golkar Ancol dan Bali selesai, walaupun di sisi lain, Golkar diguncang dengan isu keinginan Novanto kembali menjadi ketua DPR dan dukungan Golkar terhadap Ahok yang masih menjadi perdebatan di internal "partai beringin".

Sementara itu, PPP masih sibuk dengan konflik internal yang belum terselesaikan. Perbedaan Golkar dengan PPP adalah soal kekuatan politik. Presiden Jokowi memang melirik Golkar sejak awal sebagai parpol pemenang pemilu nomor dua tahun 2014 setelah PDIP berada di urutan pertama. Pengaruh Golkar menjadi penting untuk mendongrak kekuatan politik Jokowi. Hal ini disebabkan karena Gerindra sebagai pemenang pemilu nomor tiga tidak memiliki pengaruh yang kuat setelah ditinggalan Golkar. Harapan Gerindra hanya kepada PKS, sebab PPP dan PAN juga menyebrang ke istana.

Dukungan politik PPP versi Djan Faridz kepada Ahok-Djarot menurut saya semata-semata lebih mengandalkan efek pragmatis yang didapatkan pascadukungan. Bukan nilai-nilai ideologis yang diperjuangkan PPP. Dukungan PPP tentu bergantung kepada basis pemilih (konstituen). Dukungan Romi Cs kepada Agus-Sylvi masih wajar karena di sana pun juga ada PAN dan PKB.  Dukungan Ahmad Yani kepada Anies-Sandi juga wajar karena PKS juga telah memantapkan posisi sebagai pengusung.

Ini bukanlah soal Ahok-Djarot didukung PDIP, Golkar, Hanura, dan Nasdem. Jelasnya, PPP punya pemilih sendiri sehingga wajar kalau saya mengantarkan pilihan politik PPP versi Djan Faridz lebih kepada pragmatis sesaat untuk mendapatkan posisi di masa depan. Lebih jauh lagi, politik balas dendam kepada kubu Romi bertujuan untuk mengambil kekuasaannya. Perputaran kepentingan tetap dikendalikan istana jika Djan Faridz mendukung Ahok yang jelas istana merestuinya. Secara tidak langsung, Romi telah memilih Agus-Sylvi dibandingkan Ahok-Djarot padahal PPP versinya sudah mendapatkan jatah menteri, yaitu Lukman Hakim Syaifudin sebagai Menteri Agama.

Pembangkangan ini bisa juga berdampak kepada PAN dan PKB yang juga mendapatkan jatah menteri. Meskipun ini merupakan Pilkada, rasanya jelas seperti Pilpres. Jokowi cukup berkeringat menghadapi dinamika ini—selain pertaruhan posisinya pada 2019. Ini juga menjadi langkah baginya untuk menyiapkan calon wakil yang bisa bertarung dengan kondisi Pileg dan Pilpres yang dilakukan secara serentak.

Kegagalan Partai Islam

Kelemahan Partai Islam termasuk PPP sejak dulunya memang soal mengkonsolidasikan internal. Banyak-banyak "kue" konstituen yang dibagi-bagi ke pelbagai partai, seperti PPP, PAN,  PKS, PKB, PBB, dan PAN. Besarnya pemilih Muslim di Indonesia tidak menjamin partai Islam berada di puncak, setidaknya berada di tiga besar setiap pileg. Kegagalan itu jelas menunjukkan bahwa partai Islam bukan merebut suara pemilih partai lain yang alirannya berbeda tetapi sesama partai Islam melakukan “kanibalisasi”. Jika suara PAN meningkat berati suara PKS atau PPP turun, begitu pun sebaliknya. Kanibalisasi sesama partai Islam menyebabkan “partai Islam” hanya berjalan di tempat tanpa bisa merebut pemilih partai lain atau pun “pemilih mengambang”.

Partai aliran lain sudah berada pada titik “modernisasi” kelembagaan dengan target pemilih yang akan mereka gaet untuk 2019. Target itu seperti "pemilih-pemilih mengambang" yang pada umumnya disebut generasi milineal. Partai-partai Islam menjaga pemilih tradisional yang umumnya "ideologis” masih ngos-ngosan. Jadi, wajar jumlah pemilih muslim secara demografi penduduk Indonesia yang paling dominan tidak menjamin mereka akan memilih partai Islam.

Pemilih muslim saat ini lebih menyukai partai yang bisa memberikan solusi dari kebutuhan yang diinginkannya. Jika partai Islam masih sibuk dengan dinamika internal dan saling memperebutkan SK kepengurusan, mereka perlu bersiap-siap ditinggalkan pemilih muslim. Persatuan menyikapi persoalan inilah yang dibutuhkan pemilih, jika tidak ingin ditinggalkan, partai Islam harus melakukan langkah ini sebagai obat penyembuh kerinduan pemilih terhadap kejayaan partai Islam. Sekian.

 

 

Answered Nov 24, 2016

Question Overview


1 Followers
1005 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?

Tim kreatif pasangan calon Gubernur DKI Jakarta mana yang paling keren? Mengapa?

Apa saja tahapan dalam mempersiapkan suatu kampanye agar dapat mencapai target?

Mengapa isu yang dibawa calon presiden ketika kampanye sering kali menekankan pada bidang ekonomi?

Mengapa SBY begitu ngotot membangun dinasti partainya melalui pencalonan Agus Yudhoyono?

Apakah Ahok benar-benar menistakan agama Islam?

Apa analisis Agus Yudhoyono hingga enggan ikuti debat di televisi?

Siapa yang akan memenangkan Pilkada Jakarta 15 Februari 2017?

Menurut Anda berpeluangkah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi Presiden RI tahun 2019?

Apa alasan utama banyak orang mencintai Ahok?

Mengapa Pasangan Anies - Sandi pantas memimpin Jakarta?

Mengapa Pasangan AHY-Sylviana pantas memimpin Jakarta?

Mengapa Pasangan Ahok - Djarot pantas memimpin Jakarta?

Mengapa Nasdem jadi partai pertama yang dukung Ahok di Pilkada DKI Jakarta?

Apa yang bakal terjadi jika partai politik dihapuskan dalam sistem demokrasi?

Jika Anda menganggap Golkar adalah partai terbuka dan modern, apa alasan logis yang bisa diterima nalar?

Jika Anda menganggap PDI Perjuangan adalah partai terbuka dan modern, apa alasan logis yang bisa diterima nalar?

Jika Anda menganggap Partai Demokrat adalah partai terbuka dan modern, apa alasan logis yang bisa diterima nalar?

Jika Anda menganggap Nasional Demokrat adalah partai terbuka dan modern, apa alasan logis yang bisa diterima nalar?

Jika Anda menganggap Hanura adalah partai terbuka dan modern, apa alasan logis yang bisa diterima nalar?

Jika Anda menganggap PPP adalah partai terbuka dan modern, apa alasan logis yang bisa diterima nalar?

Jika Anda menganggap Partai Keadilan Sejahtera adalah partai terbuka dan modern, apa alasan logis yang bisa diterima nalar?

Jika Anda menganggap Gerindra adalah partai terbuka dan modern, apa alasan logis yang bisa diterima nalar?

Jika Anda menganggap Partai Amanat Nasional adalah partai terbuka dan modern, apa alasan logis yang bisa diterima nalar?

Siapa Suryadharma Ali?

Siapa Suharso Monoarfa?

Siapa Djan Faridz?

Siapa Bachtiar Chamsyah?

Ke manakah kiblat politik PPP Versi Romi pada Pilkada Jakarta putaran dua?

Berubahkah rencana SBY di Pilkada DKI Jakarta jika PPP versi Romi dianggap tidak sah?

Siapa Abraham "Haji Lulung" Lunggana, mengapa ia dipecat dari Partai Persatuan Pembangunan dan apa kesalahannya?