selasar-loader

Bagaimana peluang politik generasi milenial dalam perpolitikan Indonesia masa depan?

Last Updated Nov 24, 2016

LlG_jbhao4KWewZnHdAEX_Zbxwr5K7rM.jpg

 

Kelas menengah yang dekat dengan teknologi, inovasi, dan kreativitas mulai menunjukkan pengaruhnya dalam politik Indonesia. Berkaca kepada Pilpres tahun 2014 dan menjelang Pilkada DKI Jakarta 2017, generasi milenial mulai terlibat dengan menjadi relawan dan tim media pasangan calon. 

1 answer

Sort by Date | Votes
Arifki Chaniago
Pengamat Politik/Political Commentator

Hasil gambar untuk generasi milenial

Masyarakat postmodern pascareformasi mengalami lonjakan mental yang cukup drastis. Sebagai bagian dari masyarakat kelas menengah, yang saat ini berada di posisi tersebut, saya tentu sah-sah saja memberikan kritik diri dan lingkungan kepada generasi saya yang bisa dikatakan salah arah memosisikan diri sebagai generasi harapan.

Tesis ini bukan berarti sebagai upaya saya membuka aib sendiri sebagai generasi modern. Generasi yang suka mencaci masa lalu, anti ketertinggalan sehingga dengan melawan secara bersama, bagi mereka yang melawan kemajuan yang digalangkan. Apakah kemajuan itu kita yang mengingkannya? Atau ada pihak lain yang menikmati kemajuan yang sedang kita wacanakan sebagai sebuah gaya hidup, sebagai prinsip yang tak bisa lagi dikompromikan.

Banyak contoh yang bisa kita lihat, seperti generasi saya yang menggunakan media digital sebagai wadah berkumpul dan menyatakan kekeluargaan. Belum pernah ketemu, cukup dengan “Kopi Darat”, silaturahmi  bisa dipersatukan. Positifnya, keberadaan media digital telah mengajarkan kita tentang kekeluargaan jarak jauh sehingga kita sering merasa jauh dengan keluarga kita yang terdekat. Negatifnya, generasi  yang memainkan peran gedget dan sejenisnya telah menjadikan kita generasi yang peduli sosial jarak jauh tetapi antipati dengan lingkungan sendiri. Misalnya saja, kepedulian yang kita tunjukan terhadap LGBT, Palestina, Turki, Jokowi dan Ahok. Cukup dengan memainkan media digital, kita bisa mengklaim dan menyatakan kepada banyak orang bahwa kita peduli.

Bahkan, dalam Digital Culture and Relegion and Asia, Sam Han dan Kemaluden Muhamad Natsir menyebutkan generasi milenal adalah generasi yang dilahirkan pada era 1980--1990an atau "generasi Y", yaitu generasi yang melek terhadap informasi segala hal yang dibutuhkannya lebih mudah diakses. Generasi ini lebih liberal dari generasi yang sebelumnya, "generasi X" yang lahir pada era 1965--1989 dan tingkah lakunya yang sama dengan generasi Baby Boomers (generasi yang lahir pascaperang dunia kedua) yang merupakan generasi yang stagnan memandang gaya hidup.

"Generasi Y" memainkan peran dengan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan lain-lain. Generasi yang cepat tangkap dengan informasi yang pergerakannya masif jika digerakan secara positif. Masih segar dalam ingatan kita tentang upaya Polri menangkap Novel Baswedan di KPK. Hanya dengan membuat Twitter, Abraham Samad, Demisioner Pimipinan KPK, dan massa dapat berkumpul dari segala sudut untuk mendatangi KPK. 

Generasi milinal merupakan kelas menengah yang bisa dikumpulkan dengan cepat tanpa ada komando yang terstruktur—gerakan media sosial—bahkan banyak yang menyebutkan gerakan pagar. Kelas menengah yang terdidik bisa dikumpulkan dengan mudahnya, yang hanya cukup dengan dimainkan isu yang menjadi trending topic di media sosial. Mereka akan memburu dan membicarakan secepat mungkin isu tersebut tanpa ada kompromi dan dialog informasi yang cerdas. Jika informasi ini digunakan secara baik, ia menghasilkan kelas menengah yang “cerdas” berinformasi, tetapi jika ada pihak-pihak yang memanfaatkan, “kelas menengah mabuk” akan masif beredar di media sosial.

"Generasi Y", generasi yang mabuk tanpa arah jika pulsa internet habis untuk mengomentari situasi. Generasi yang masih menyibukkan diri dengan mode terbaru, diskon akhir bulan, pagar gigi edition limited. Generasi status dan bagikan (baca: prilaku generasi Y). Generasi yang hobinya mencaci-maki kalangan yang tak sepaham dengannya. Generasi yang tertinggal dengan era digital. Generasi yang harus dijauhi karena mereka belum menyepakati modernisasi sehingga kebablasan dalam memahami modernisasi sebagai sebuah kemajuan atau ketertinggalan. Terkadang, "generasi X" dan Baby Boomers bukan tidak menyepakati kemajuan tetapi mereka sedang tidak sepakat menyelesaikan ketertinggalan dengan menghilangkan secara paksa. Oleh sebab itu, kita bisa mengklaim diri sebagai generasi “modern” setelah melihat gedung-gedung yang indah dapat menghapuskan perkampungan kumuh.

Merujuk Soejadmoko, pergantian kerbau dengan traktor untuk membajak sawah bukanlah persoalan peralihan tenaga manual ke teknologi tetapi peralihan tersebut telah menghilangkan kebudayaan yang telah dibangun sejak lama. "Generasi Y" niscaya mengabaikan persoalan ini sebagai masalah yang menginvasi kebudayan dari tubuh leluhur yang seharusnya dijaga. Belajar kepada Jepang, modernisasi yang masuk kepada negaranya, tanah tetap di Jepang tetapi bisa tumbuhan di pelbagai negara sehingga apa pun tanaman yang ditanam di tanah Jepang, buahnya tetap tidak menghilangkan kebudayaan asli Jepang.

Peralihan besar terjadi di Indonesia, yaitu ketika "generasi Y" yang saat ini berkuasa memainkan era digital sebagai instrumen organisasi nonstruktural dan prosedural. "Generasi Y" berhasil menjadikan media sosial sebagai alat-alat “peruntuh” kelembagaan sosial dan politik yang telah dibangun begitu lama. Mabuknya, institusi-instusi agama, moral, dan lain-lain menjadi bahan-bahan cacian mereka. Generasi yang menolak membicarakan banyak hal tanpa membawa agama, moral, dan lain-lain dijadikan alasan agar kita harus “bebas” sehingga tidak ada yang menyatakan tendensi yang mendalam terhadap kajian yang sedang dibicarakan jika agama dan moral menjadi bahan pertimbangan.

Yang menjadi pertanyaannya, "Ideologi yang bebas tanpa mempertimbangkan itu membuat generasi Y sedang menjalankan ideologi siapa? Menguntungkan rakyat secara masif atau lagi-lagi kelompok yang bermain untuk ekonomi dalam “pergolakan generasi Y dengan X bahkan Baby Boomers”. Dampaknya, rakyat bermusuhan sesama rakyat (baca: rakyat versus rakyat).

Menanggapi persoalan itu, pergolakan supir taksi dengan pengemudi Go-Jek merupakan pergolakan bisnis konvensional dengan bisnis aplikasi berbasis daring. Mereka menyatakan pergolakan ini dengan menyerang taksi sebagai musuh bersama—wacana itu tak tepat tanpa ada analisis sehingga lebih stigmatis. Yang...(more)

Answered Nov 24, 2016

Question Overview


2 Followers
1150 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?

Apa sepatah kata/nasihat yang Anda berikan kepada generasi muda berusia 15-20 tahun?

Mengapa banyak masyarakat Indonesia terutama generasi muda menyukai film, musisi, dan drama Korea?

Apa itu perbedaan perang generasi 1, 2, dan 3?

Gen X, Gen Y, hingga Generasi Millenial, apakah ilmiah atau terminologi ekonomi semata ?

Apa motivasi anda bergabung dalam Forum Indonesia Muda?

Eksistensi Perusahaan Rokok Indonesia. Anda Pro atau Kontra?

Mengapa generasi milenial sangat menjadi sorotan di masa ini?

Apa pekerjaan favorit generasi milenial?

Bagaimana tipe bos yang dibutuhkan para generasi milenial?

Generasi seperti apa yang Indonesia butuhkan sekarang?

Apakah yang dimaksud dengan Aesthethic?

Apa yang seharusnya dilakukan pemuda dalam mengisi kemerdekaan pada masa kini?

Apa yang dimaksud dengan Generasi X, Y, dan Z?

Sejauh manakah teknologi akan mengubah dunia dalam 5 tahun ke depan?

Jika berusia tua nanti, kota mana yang kamu pilih untuk ditinggali? Mengapa?

Jika sudah lulus kuliah, Anda ingin jadi apa?

Apa rencana Anda selama satu tahun ke depan?

Jika ada kesempatan mengulang masa lalu, bagian mana yang ingin Anda ulang?

Apa harapan terbesar Anda jika sudah suskes?

Apa hal yang Anda percaya akan terjadi tetapi belum dapat dibuktikan dengan sains saat ini?

Siapa tokoh muda Indonesia yang menurut Anda berpotensi menjadi tokoh nasional masa depan?

Menurut Anda, seperti apa profil kepemimpinan Indonesia di masa mendatang?

Pekerjaan apa yang paling Anda idamkan setelah kelulusan?