selasar-loader

Jika Islam cinta damai, mengapa Islam menghalalkan perang untuk ekspansi?

Last Updated Nov 16, 2016

11 answers

Sort by Date | Votes
Alek Karci Kurniawan
Internasional Law Students

U_d7XxdiXbwMQoLXKT_reyxi2zrGKxaw.jpg

Itu tidak benar. Saya belajar hukum internasional. Salah satu subjeknya adalah hukum perang. Dalam Islam tidak yang mengajarkan ekspansi. Malahan prinsip humaniter dalam perang banyak diadopsi dari ajaran Islam.

Dasar prinsip kemanusiaan dijabarkan dalam Islam sebagai penghormatan terhadap manusia yang terkandung dalam ayat-ayat Alquran. Salah satunya surah Al-Baqarah ayat 90 yang berbunyi, “Berperanglah di jalan Allah menghadapi mereka yang memerangi kalian, tapi jangan melampui batas karena Allah tidak menyukai orang-orang yang melampui batas.”

Ayat tersebut memberikan pengertian perang hanya diperkenankan apabila kita diperangi. Jadi tidak untuk ekspansi. Itupun dilarang untuk melampaui batas. Jadi prinsip perang dalam harus proporsional.

 

@alek_kaka

 

sumber gambar: wp.com

Answered Jan 1, 2017
Agil (Ragile) Abdullah
orang NU dan belajar Sufi

Hasil gambar untuk islam perang ekspansi

Perang dibolehkan bila bertujuan untuk menumbangkan penguasa zalim agar rakyatnya hidup sejahtera, bukan untuk ekspansi maupun aneksasi. Untuk zaman sekarang, perlu kerja sama dengan PBB.

 

Ilustrasi via wordpress.com

Answered Jan 5, 2017
Habibi Yusuf
Pembelajar agama Islam

booc7iaU7LMjPSr-PMG_A7UxS_PqcH68.jpg

Pertanyaannya bisa misleading, seolah-olah keseluruhan ajaran Islam adalah "cinta damai", sementara dalam praktiknya menghalalkan perang untuk kepentingan ekspansi.

Pertama, kita harus membedah terminologi "Islam cinta damai". Apakah cinta damai itu berarti tidak boleh perang sama sekali? Lalu, apakah keseluruhan ajaran Islam yang bersumber dari Alquran dan hadis Nabi Muhammad juga melarang berperang? Tentu tidak. Ada banyak ayat Alquran yang mengatur tentang perang dan damai, yang secara substansi berkaitan dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang melatarbelakanginya.

Contohnya ada dalam peristiwa Perang Badar. Pada awalnya, kaum muslimin hanya ingin mencegat rombongan dagang kaum kafir Quraisy untuk menakut-nakuti. Namun, kejadiannya kemudian berkembang menjadi peperangan yang bersifat eksistensial. Karena kaum muslimin yang saat itu sangat sedikit (kurang lebih 300 orang) berhadapan dengan pasukan kafir Quraisy yang kurang lebih sejumlah 1.000 orang, maka peperangan ini tak terelakkan menjadi pertaruhan eksistensi Islam dan kaum muslimin.

Begitu pula dalam episode lain. Ada peperangan yang diawali dengan serangan dari pasukan kafir Quraisy atau dari pengkhianatan kaum Yahudi yang sebelumnya terikat perjanjian dengan umat Islam.

Perang-perang yang mungkin dikenal sebagai "perang ekspansi" (bersifat penaklukan) kebanyakan dilatarbelakangi oleh kesewenangan para penguasa kafir, baik terhadap umat Islam maupun terhadap rakyatnya sendiri. Sedangkan sifat dasar ajaran Islam adalah menegakkan keadilan dan melawan kesewenangan sehingga kemudian penguasa Islam melakukan peperangan dengan penguasa kerajaan/negara lain. Dan peperangan ini tentunya tidak bisa digeneralisir karena pastinya setiap peperangan memiliki latar belakang peristiwa masing-masing.

Bahwa kemudian setelah peperangan usai, lalu kerajaan/negara tersebut dikuasai oleh penguasa (kesultanan) Islam dan penguasa baru ini menyebarkan agama Islam. Ini tentu adalah konsekuensi logis dalam hukum perang klasik. Jangankan perang yang dilakukan oleh penguasa Islam, oleh kerajaan/negara-negara lain pun demikian halnya.

Kalau mau dikaji lebih mendalam, yang harus diteliti adalah apakah selama "penguasaan" wilayah oleh penguasa Islam tersebut terjadi kezaliman, kesewenang-wenangan, dan penindasan atau tidak. Karena kalau terjadi, itu berarti penguasa Islam di wilayah tersebut telah melanggar ajaran Islam yang mengharuskan para pemimpin untuk berlaku adil dan melindungi rakyatnya.

Jadi, terminologi "menghalalkan perang untuk ekspansi" hendaknya perlu dielaborasi dengan meneliti satu persatu kasus peperangan yang terjadi yang melibatkan penguasa Islam dengan kerajaan/negara lain, baik dari segi peristiwa sejarah yang melatarbelakangi peperangan tersebut hingga bagaimana perlakuan penguasa Islam setelah memenangi peperangan lalu menjadi penguasa atas wilayah yang dimenangkannya.

 

Ilustrasi via knowmuhammad.org

Answered Jan 5, 2017
Muhammad Zulifan
Peneliti, Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam-UI

KUZK9EaVvfM-YD13NJDC-7lfBshJvrT3.jpg

Untuk menjawab pertanyaan ini, terlebih dahulu kita kembali ke kondisi zaman di era awal Islam berkembang. Waktu itu, di dunia ini terdapat 3 kekuatan besar, yaitu Romawi, Persia, Islam. Mengapa Islam berperang? Karena eksistensi mereka terancam oleh sebuah imperium yang ingin menghilangkannya dari muka bumi (Romawi).

Pada konteks zaman itu, perang dan penaklukan adalah common sense, mereka yang diam akan kalah dan terjajah. Berbeda dengan era pasca-Perang Dunia II setelah adanya PBB dan ditandatanganinya DUHAM. 

Namun, perlu diingat bahwa penaklukan dalam Islam amat berbeda dengan konsep penjajahan ala Barat.

  • Tidak ada egoisme ekonomi dan egoisme nasional
  • Tidak ada keinginan menambah kesejahteraan masyarakat muslim di atas penderitaan masyarakat yang nonmuslim
  • Tidak ada pemaksaan terhadap nonmuslim untuk menjadi muslim

     

Oleh karena itu, pasca sebuah negeri ditaklukkan oleh Islam, terdapat fakta penerimaan penduduk setempat akan sistem Islam. Artinya, penduduk di wilayah yang ditaklukkan oleh Islam secara suka rela menerima sistem Islam  menjadi way of life mereka, bahkan hingga kini (ingat, wilayah Iran, Irak, Suriah, Mesir, Libya, Maroko dst. semuanya adalah jajahan Romawi waktu itu dan tidak berbahasa Arab). Setelah ditaklukkan oleh Islam, masyarakatnya berubah total dan gigih memegang nilai-nilai Islam meski kemudian kembali mengalami penjajahan era kolonial.   

Pada saat sebuah wilayah ditaklukkan Islam, terjadi pula perubahan bahasa, budaya, dan strata sosial masyarakat. Bahkan, ahlu dhimmah (nonmuslim)  berbondong-bondong masuk Islam tanpa sedikit pun dipaksa.

Tatanan Sosial

Phlips K. Hitti, sejarawan dari Princetton University, menyatakan bahwa penaklukan orang-orang Islam ke Spanyol telah memberikan keuntungan bagi penduduknya. Penaklukan tersebut juga menghancurkan hegemoni kelas atas, termasuk para bangsawan dan pendeta, yang sebelumnya memiliki hak-hak istimewa, memperbaiki kondisi kelas bawah dan mengembalikan hak properti tuan tanah Kristen yang sebelumnya tidak diakui ketika bangsa Gotik Barat berkuasa.

Hubungan Daerah-Pusat

Islam tidak mengenal istilah negara periphery, koloni atau pun protektorat yang diposisikan secara marginal oleh negara pusat.

Dari sisi pemerintahan, hak dan kewajiban wilayah-wilayah penaklukan yang telah dikuasai Islam sama dengan wilayah-wilayah Islam lainnya. Hal ini karena wilayah tersebut telah menjadi bagian integral dari negara Islam yang sistem pemerintahannya berbentuk kesatuan.

Ekonomi

Perhatian dan pelayanan negara terhadap wilayah-wilayah tersebut juga sama dengan wilayah lainnya tanpa mempertimbangkan besar-kecilnya pendapatan mereka. Jika belanja pemerintahannya melebihi pemasukannya maka subsidi anggaran mengucur dari Baitul Mal (Kas Negara). Sebaliknya, jika berlebih maka ditarik ke Baitul Maal dan didistribusikan ke wilayah yang kekurangan.

Non-Muslim (Ahludz-dzimmah)

Setiap tahunnya mereka diwajibkan membayar jizyah. Hanya berlaku bagi mereka yang mampu. Orang fakir, orang tua jompo, orang buta, dan orang sakit tidak dikenakan jizyah. Salah satu alasan dikenakannya jizyah pada nonmuslim adalah karena mereka tidak berkewajiban ikut saat panggilan jihad dikumandangkan. Bagi muslim, mereka wajib membayar zakat dan juga jihad.

Mereka juga tidak dibebani apa pun kecuali tunduk dan patuh pada hukum-hukum Islam yang bersifat publik. Adapun aturan mengenai ibadah, pernikahan, makanan, dan minuman dikembalikan pada agama mereka.

Diriwayatkan oleh at-Thabrani bahwa Khalifah Umar ra. pernah bertanya kepada seorang delegasi, “Apakah orang-orang muslim telah melakukan tindakan yang menyakiti ahludz-dzimmah atau hal-hal yang dapat membuat mereka melepaskan diri dari kalian?” Mereka menjawab, “Kami tidak mengetahui kecuali kaum muslim bersikap baik kepada mereka.”

Afrika Sejahtera Saat Era Penaklukan Islam

Benua Afrika menjadi benua miskin pasca-kolonialisme Barat. Padahal dahulu, sulit mencari orang miskin di Afrika. Jika angka penerima zakat dijadikan sebagai indikator kemiskinan, maka diwilayah Afrika yang dikuasai Islam pada masa itu justru kemiskinan tidak ada. Yahya bin Said menuturkan,

"Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah mengutus saya untuk mengumpulkan zakat di Afrika. Saya lalu mencari orang-orang miskin, namun saya tidak menemukannya; juga tidak seorang pun yang datang kepada saya untuk mengambil zakat. Ini karena Umar bin Abdul Aziz telah membuat mereka berkecukupan. Akhirnya, (atas permintaan Umar) saya menggunakan harta zakat tersebut untuk membeli budak. Lalu saya merdekakan budak itu dan menjadikan mereka sebagai maula kaum Muslim.”

 

Ilustrasi via blogspot.com

Answered Jan 5, 2017
Syifa Annisa
Mahasiswi Sosiologi ¦ Penyuka Puisi ¦ Blogger ¦ Penulis Lepas dan Pecinta Buku.

Perang dalam islam hanya dilakukan dalam keadaan terdesak, tapi Tuhan menciptakan manusia dengan karakter, pola pikir dan peta 'hati' yang unik sehingga untuk 1 tafsiran hadis saja pemikiran sesama orang islam bisa saja berbeda.

IMO, beda pemikiran ini yang bikin perang, termasuj dalam hal berebut daerah kuasa. :)

Answered Jan 14, 2017
Aviaska Azizah
I like sastra , aku suka seni apapun ... hidup itu simple

Assalamualaikum

Nama Aviaska azizah

Fakultas FITK 

Jurusan Pendidikan Biologi

Islam memang damai,perang bukan berarti kita kasar atau kita itu tidak damai , kalau kita digertak duluan dengan orng kafir kita punya hak untuk membela , krn allah memperboleh kan kita untuk membela diri kita . orng kafir dizaman rasullulah sangat sangar dan kasar, satu" cara untuk membuktikan bahwa islam itu kuat yaitu dengan berperang, pun yang memulai peperangan pertama kali ialah kaum kafir . Dan peperangan membuktikan kita mencintai islam bukan sekedar lisan dan bukan sekedar hanya keyakinan tapi juga kita rela bertumpah darah kita rela kehilangan nyawa krn hanya Allah lah tempat kita kembali , itu pertanda bahwa muslim itu tidak terbuai dan terlalu mengurusi hal" yang bersifat duniawi maupun yang sifatnya sementara, kita berani membela, krn islam itu ditakdirakan untuk menang seberapa besar dan kuatnya peperangan itu islam tetap berjaya pada akhirnya.

Answered Aug 18, 2017

Untuk tidak menunjukkan islam itu lemah

Answered Aug 19, 2017
Abdul Mapakhir
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Manajemen Dakwah #PBAKUINJKT2017

NAMA            :  Abdul Mapakhir

NIM                : 11170530000091

FAKULTAS     : FIDIKOM

JURUSAN      : Manajemen Dakwah

Bismiilaahirrohmaannirohiim,

Islam menghalalkan perang sangat benar dalam garis besar perang untuk mempertahankan diri, dan tidak memulai perang terlebih dahulu. Untuk perang eskpansi lebih tepatnya adalah mengambil alih kembali tanah-tanah peribumi muslimin yang telah dijajah oleh kaum kafir pada masa Rosulallah, jadi perang ini pun dikatakan halal untuk dilakukan di amalkan kaum muslimin.

 

#PBAKUINJKT2017 

Answered Aug 19, 2017
Muhamad Iman Abdurahman
Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian Universitas Gadjah Mada / RK 8 Yogyakarta

Segala sesuatu yang dilakukan pasti ada sebabnya dan pasti ada tujuannya. Begitu juga dengan islam yang melakukan ekspansi wilayah kekuasaan baik pada jaman Rasulullah maupun jalan Khulafaur Rasyidin dan setelahnya. Baik Rasulullah maupun khalifah setelahnya, ekspansi wilayah dilakukan dengan tujuan agar islam bisa tegak dan mampu mengatasi segala permasalahan dan kemudharatan yang terjadi di daerah yang akan diekspansi. Bukan atas dasar kekuasaan semata , melainkan ekspansi dilakukan atas dasar menyebarkan risalah dan melakukan perbaikan pada kemudharatan yang terjadi. Proses ekspansi yang dilakukan tidak hanya dengan perang, tetapi juga dengan cara politik dan diplomasi. Proses ekspansi pun dilakukan ketika daerah tersebut banyak melakukan pelanggaran terhadap syariat dan merebaknya kejahiliyahan. Memerangi kaum yang tidak taat pada syariat dan malah melakukan keburukan di daerah tersebut adalah hal yang harus dilakukan agar kehidupan masyarakatnya bisa sesuai dengan kaidah dan norma. Hal tersebutlah yang kemudian akan menciptakan kedamaian dari perjuangan menegakan kebaikkan. 

Answered Jan 2, 2018

Walaupun perang dihalalkan, perang digunakan sebaga cara terakhir, jika cara yang lain sudah tidak dapat digunakan lagi. Selain itu, terdapat batasan-batasan dalam berperang yang diatur dalam agama Islam, dan batasan ini ditujukan agar tidak terjadi kekerasan yang berlebihan, seperti dilarang melukai warga sipil, orang tua, anak-anak, dan wanita; dilarang melawan orang yang sudah mengaku menyerah; dilarang merusak bangunan-bangunan dan pohon, dan lain-lain. Sehingga dalam sebuah riwayat ketika Muhammad Al Fatih menaklukkan konstantinopel, warga konstantinopel, yang semula ketakutan karena sebelumnya ketika penakluk baru memasuki konstatinopel maka akan berakhir dengan banjir darah, terharu karena suasana damai saat Al Fatih memasuki kota. Begitu pun saat Fathu Mekah.

Answered Jan 4, 2018
Muhammad Akbar Buana Tafsili
Mahasiswa Berprestasi Kepemimpinan FTUI 2018 | Awardee Rumah Kepemimpinan

Islam bukan agama yang 'damai', tapi agama yang 'mengajak pada perdamaian'. Karena bila diartikan agama yang damai, hal seperti "dipukul pipi kanan, malah ngasih pipi kiri". Dalam Islam dikenal 'Ghirah' yaitu perasaan cemburu untuk membela agamanya.

Perang dalam islam adalah perang suci. Untuk membebaskan manusia dari penghambaan selain pada Allah, Penghambaan pada manusia, pada harta, pada tahta, dsb. Maka perang dalam Islam sering disebut 'pembebasan'. membebaskan masyarakat dari pemimpin yang zalim dan yang mencegah masyarakatnya untuk memeluk agama Islam. Agar syiar Islam dapat menjangkau seluruh penjuru bumi.

Terbukti, setelah pembebasan, masyarakat lebih nyaman dibawah naungan daulah Islam karena Islam memakmurkan dan menjamin kebebasan beragama rakyatnya.

Answered Jan 30, 2018