selasar-loader

8 answers

Sort by Date | Votes
Nur Fadhilah
Mahasiswa dan Skripsi

m0iucFkgKy_9Sp3kXxJwUA-WZvFT_h5X.jpg

Salah satu harapan mahasiswa adalah lulus tepat waktu. Cara yang mungkin tepat untuk diterapkan adalah manajemen waktu. Mahasiswa akan disibukkan dengan serangkaian kegiatan kampus. Tentunya tidak semua mahasiswa senang mengikuti kegiatan kampus, tetapi bagi mereka yang aktif menjadi aktivis kampus muncul pula keinginan untuk lulus tepat waktu. Di dunia perkuliahan, sebenarnya mahasiswa dituntut untuk mampu mengatur waktu sebaik mungkin, tidak hanya menjalankan kewajibannya (belajar) tetapi juga sebisa mungkin mengatur waktu untuk kegiatan lainnya, seperti organisasi dan kepanitiaan. 

Bagi mahasiswa yang tidak menyukai atau aktif di kampus, mungkin akan lebih mudah untuk mewujudkan keinginannya agar lulus tepat waktu. Tetapi akan berbeda permasalahannya dengan mahasiswa yang aktif di kampus. Manajemen waktu menjadi satu hal yang harus dipegang oleh mahasiswa, bahkan akan menjadi prinsip bagi mereka yang benar-benar ingin lulus tepat waktu. Bagi mahasiswa yang aktif di kampus, tentu akan mendapat nilai plus iika dia berhasil menyelesaikan perkuliahannya tepat waktu. Bahkan, mahasiswa yang mampu mengatur waktu dengan baik kemungkinan besar akan menjadi panutan bagi mahasiswa lainnya untuk dapat melakukan hal yang sama.

Ilustrasi via kompasiana.com

Answered Jul 6, 2017
Abdullah Azzam
Sarjana Manajemen Universitas Sebelas Maret/ Alumni Baktinusa Ank. 6

OZpV0gPcAdX426XWmMn1QUpnV77Yq2P8.jpg

Lulus tepat waktu.

Ini jelas bukan ungkapan yang cocok buat ane. Ane udah semester delapan dan masih KKN (meskipun kuliah udah kelar semua sih), dan meskipun ane telat karena kecelakaan yang menyebabkan cedera berkepanjangan itu tidak membuat ane lepas dari gelar "aduh masbuk".

Tapi, dari pengalaman dan segala macam hal, ane belajar banyak hal, banyak hal yang menegaskan kalau kita tidak lebih dari manusia biasa.

Pertama, kehendak Allah swt itu mutlak (bagi yang percaya) dan kita sebagai manusia hanya berusaha merayu agar segalanya sesuai keinginan kita. Tapi, Allah swt Maha Adil dan Maha Bijaksana, maka Allah swt juga mempersiapkan rencana yang atas kehendak Allah, akan selalu indah dan indah.

Maka, Allah swt-lah yang pertama kali kita tuju. Tuhanlah yang pertama kali kita tuju (sekali lagi, bagi yang percaya). Ini karena ane sempat "melakukan" kesalahan dan bersombong ria dalam aspek ini. Ane sudah merencanakan segala sesuatunya dengan sangat yakin, tapi ane betul-betul melupakan aspek satu ini pada waktu itu. Belum ada bukti empirik tentang hal ini, tetapi selama ane sakit, pada akhirnya hanya Allah swt-lah yang bisa ane mintai tolong. Bahkan berkali-kali, nasihat selalu datang dan mengatakan, "Kesembuhanmu itu tergantung pada dirimu sendiri dan Allah swt (Tuhan, kata dokter yang lain)."

Maka, ya, bolehlah kita punya rencana, punya cita-cita, tapi tidak ada salahnya melibatkan unsur-unsur Allah swt di sana. Tidak salahnya juga rencana kita diniatkan sebagai sarana jual beli dengan Allah swt, dalam lingkup niat ibadah dan dalam nuansa kebaikan.

Kedua, nilai lagi usaha orang tua untuk menyekolahkan kita...

..fixed kayaknya jawaban ini isinya bikin ane gundah dan baper, tapi ya, semoga ini bernilai kebaikan.

Pernahkah kita mengira bahwa kita kuliah terutama strata satu untuk diri kita sendiri? Kayaknya nggak. Kuliah strata satu 100% nilainya jatuh ke orang tua kita, bukan ke diri kita sendiri. Sederhana, tambahan gelar "S" apa di belakang nama kita menjadi monumen abadi bahwa orang tua kita berusaha memberikan pendidikan yang nggenah dan berusaha membukakan jalan penghidupan layak kepada anaknya yang tentu diharapkan lebih baik dari kehidupan orang tua tersebut.

Maka, kalau kamu bilang, "Duh, males banget skripsian," Men, lu nggak tau orang tua lu melakukan apa buat lu...."

Ditambah, kita semua tahu umur manusia itu terbatas, kan? Selama orang tua kita masih hidup, baik keduanya atau pun salah satunya, hadiahkanlah dirimu dengan memakai toga itu kepada mereka. Ane sendiri nggak taHu, mungkin orang tua Ente akan mencibir karena Ente lulus dari jurusan yang tidak beliau kehendaki atau hal-hal sinetron lainnya, tapi wallahu 'alam, entah kenapa ane yakin sebercak rasa bangga itu akan selalu ada, ada dan terkenang, bahkan meskipun beliau berdua atau salah satu dari mereka sudah tiada.

Karena akhirnya, darah dan air mata pengorbanan mereka diapresiasi langsung oleh anaknya di dunia. Ya, tinggal satu lagi sih, sebagai anaknya yang berpendidikan, yaitu memberikan sebaik-baik tempat untuk kedua orang tua di akhirat dengan menjadi anak saleh dan baik. Karena itulah sebaik-baik apresiasi dan hal itu akan abadi.

Duh, sudah dulu deh. Kayaknya begitu aja. Wallahu 'alam.

 

Sumber gambar via graduatefog.co.uk

Answered Jul 14, 2017
Ma Isa Lombu
Alumni Salah Satu Universitas Negeri di Depok

rDbEpyI89Yfkm32NQ0upgZGf-XrQtp8C.jpg

Untuk kuliah tepat waktu, saya hanya memiliki dua jawaban:

1. Berada di jurusan/fakultas yang tepat

"Jangan pernah mengajarkan ikan untuk memanjat pohon". 

Itulah ungkapan yang sangat relevan untuk menjawab pertanyaan di atas. Berdasarkan interaksi saya dengan banyak mahasiswa ketika kuliah dahulu, telat lulusnya seseorang paling umum diakibatkan karena si mahasiswa merasa berada dalam jurusan yang tidak tepat. 

Seperti yang (sepertinya) pernah diuangkapkan oleh Einstein berikut ini:

"Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid."

Tidak dapat dipungkiri bahwa jurusan yang diambil oleh seorang mahasiswa bisa jadi tidak sesuai dengan passion, tujuan hidup, atau bakat si mahasiswa itu sendiri. Setidaknya, terdapat dua hal yang menyebabkan hal itu terjadi: 1) Tekanan faktor eksternal (dipilihkan oleh orang tua atau karena tekanan lingkungan), dan 2) Mahasiswa tersebut berkuliah di fakultas/jurusan yang tidak sesuai dengan pilihan utamanya (ia kuliah di jurusan/fakultas pilihan kedua/ketiga ketika ujian masuk perguruan tinggi).

Setidaknya karena dua faktor itulah sang mahasiswa akhirnya menyadari bahwa ia berada di jalan yang salah (secara akademis), tetapi ia sudah terlanjut nyaman berada di fakultas/jurusan tersebut. Hal ini makin diperparah manakala si mahasiswa sudah merasa terlalu malas untuk belajar lagi dan mengikuti test masuk perguruan tinggi di tahun berikutnya. Jadilah si mahasiswa menjalani kehidupan akademis kemahasiswaannya dengan penuh keterpaksaan dan lebih aktif melakukan kegiatan di luar kegiatan nonakademisnya, seperti menjalankan organisasi kampus, berbisnis, atau melakukan kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan mata kuliah. Kegiatan ekstrakampus inilah yang akhirnya membuat distraksi konsentrasi belajar yang umumnya menyebabkan mahasiswa tidak lulus tepat waktu.

Jadi, jika kamu merasa "salah jurusan" (umumnya dikatahui di tahun pertama perkuliahan), jangan ragu untuk pindah jurusan dan siapkanlah perpindahan itu sedini mungkin.

2. Memiliki orientasi akademis yang baik

Orientasi itu bahan bakar konsistensi. Saya percaya itu. Seseorang yang tidak memiliki orientasi yang jelas akan mudah "patah" di tengah jalan, termasuk dalam urusan akademis.

Perlu diketahui, kuliah adalah salah satu cara yang ditempuh oleh seseorang untuk melajutkan ke jenjang kehidupan yang selanjutnya. Sebagian orang yang lain, memutuskan untuk tidak kuliah dan langsung masuk ke dunia kerja. Sebagian yang lain, memutuskan untuk kuliah di universitas/institut yang berorientasi akan skill (sekolah vokasi/kejuruan). 

Nah, apapun metode dan jalan yang ditempuh, yang pasti adalah apa yang kita pilih hari ini merupakan langkah untuk menuju tahap selanjutnya.

Pertanyaannya, apakah kita memiliki impian/harapan/tujuan yang jelas tentang tahapan selanjutnya yang ingin kita capai? Jangan-jangan kita tidak tau dengan pasti apa yang mau kita capai di masa depan!

Tidak dimilikinya impian/harapan/tujuan yang jelas tentang masa depan adalah kesalahan selanjutnya yang dimiliki oleh mahasiswa. "Jalanin aja lah, yang penting kuliah, kuliah untuk menyenangkan orang tua, dll" adalah ungkapan yang menggambarkan sang mahasiswa tersebut tidak memiliki objective yang solid mengapa ia harus kuliah. Disorientasi inilah yang menurut saya menyebabkan sang mahasiswa kehilangan semangat dalam belajar, dan akhirnya lulus tidak tepat waktu.

Disorientasi dalam belajar akan berpengaruh kepada besaran konsentrasi yang ia keluarkan dalam menempuh perkuliahan. Disorientasi inilah yang juga pada akhirnya menyebabkan seorang mahasiswa mendapatkan nilai jelek yang menyebabkan ia harus mencuci/mengulang mata kuliah yang pernah ia ambil sebelumnya. Pengulangan atau pencucian nilai (dari C menuju nilai yang lebih tinggi) jelas butuh waktu dan tenaga. Lulus tidak tepat waktu menjadi konsekuensi yang harus ditanggung.

Jadi, penting bagi kita semua untuk menentukan tujuan mengapa kita hidup!

Dari sana, kita dapat turunkan ultimate objective tersebut dalam sesuatu yang lebih rinci dalam bentuk targetan per tahapan berdasarkan urutan waktu/umur tertentu. Semakin detail objectives yang kita buat, semakin jelas pula cara (how to) kita mencapai tujuan tersebut. 

Contoh: Ultimate objective saya adalah ingin menjadi ahli di bidang computer engineering yang memfokuskan diri di bidang artificial intelligence yang pada akhirnya dapat menciptakan sebuah teknologi robotic yang dapat bahu-membahu bersama ras manusia dalam menciptakan sebuah peradaban baru yang lebih modern.

Saya turunkanlah ultimate goal tersebut dalam sebuah perencanaan yang lebih detail berdasarkan tahapan umur. Misal, 15-25 tahun, 25-35 tahun, dan seterusnya. Dari rentang umur tersebut, kita jabarkan lagi dalam objectives yang lebih kecil, misal: Umur 25 tahun saya menjadi seorang engineer di Space-X milik Elon Musk. Nah untuk menjadi seorang engineer di perusahaan bergengsi kontroversial macam Space-X, tentu saya harus berkuliah di tempat yang juga luar biasa dengan nilai yang juga harus luar biasa. Pilihannya adalah MIT, Caltech, atau Stanford. Bagaimana bisa kuliah di sana? Pilihannya adalah dengan S1 di fakultas teknik terbaik di Indonesia dengan nilai yang sangat mengagumkan (mungkin summa cumlaude) dan pada akhirnya dapat beasiswa untuk melanjutkan ke tiga universitas yang saya sebutkan sebelumnya. Terus seperti itu, dari tahapan umur ke tahapan umur yang lain. Semakin detail semakin baik.

Intinya, dengan orientasi hidup yang ajeg/solid, rasio seseorang untuk mengalami disorientasi dan kegagalan dalam hidup akan dapat diminimalisasi.

Answered Jul 17, 2017
Suhar Diman
Mahasiswa Psikologi UNAIR

3F2fqW0GJUpazUGv1MztyV7T5CtMKQuW.jpg

Kenali prioritas hidup Anda, jika yg menjadi keinginan adalah lulus tepat waktu maka jadikan itu tujuan Anda. Katakan ini pada diri Anda "saya ingin lulus tepat waktu", ulang itu terus agar menjadi keinginan yg benar-benar kuat, tapi tidak hanya sampai di situ, keinginan harus diwujudkan. Bagaimana caranya?

Dengan membuat langkah kecil (memang tampak mudah, tapi justru hal ini yang banyak orang-orang abaikan, motivasi diri) untuk mencapai tujuan yg anda inginkan.

Jika Anda ingin lulus tepat waktu, langkah pertama adalah mengetahui kelebihan dan kekurangan yg Anda dapat jika lulus tepat waktu. Misalnya, jika saya lulus tepat waktu, maka saya akan lebih memiliki banyak kesempatan untuk melanjutkan studi saya, entah itu S2, S3, dst. Benefit lain, saya akan bisa lebih cepat menikah. Atau dengan lulus tepat waktu saya jadi bisa cepat dapat pekerjaan sehingga tidak menyusahkan orang tua saya, apapun itu.

Cari semacam alasan untuk membangkitkan semangat Anda untuk lulus kuliah tepat waktu. Sebaliknya, cari juga kerugian yg Anda dapat jika tidak lulus tepat waktu, saya tidak akan menyebutkannya karena saya yakin anda sudah paham dengan apa yang saya maksud.

So, keep your spirit. Jangan jadikan keinginan baikmu hanya sebatas mimpi, bangun dari mimpi itu, dan wujudkan lewat tindakan.

Salam..

- Shr.di-

gambar via wp.com

Answered Jul 19, 2017
Muhammad Faizurrahman
Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Sebelas maret

tjM80SpYRtQaV7vu-QK2_mYNFWuLqO8q.jpg

Lulus tepat waktu bagi saya adalah hal yang tidak terlalu dirisaukan. Bagi saya lebih baik lulus diwaktu yang tepat. Artinya bagi saya, kenali diri Kita di kampus. Mau seperti apa jalan dan cara yang akan kita ambil, kemudian totalitas. Karena ketika kita mengambil pilihan dengan totalitas, semua akan memberikan manfaat bagi diri kita. Pengen cepet lulus terkadang bisa meruntuhkan idealisme mahasiswa, dan ini yang lebih parah. 

Saya tidak menyalahkan untuk lulus tepat waktu misal 4 tahun, tetapi intinya ketika emang kita udah mengambil pilihan untuk lulus 4 tahun dengan totalitas tanpa meruntuhkan idealisme dan dengan kualitas yang bisa dipertanggung jawabkan, itulah waktu yang tepat untuk lulus. 

Saya punya kakak tingkat yang masih mengurus skripsi padahal durasi kuliah nya udah 6 tahun. Tapi hal yang berbeda adalah dia udah punya satu karya buku sejarah dan pengalaman di luar kampus yang melimpah. Bagi saya ini tidak berarti buruk, karena itu pilihan dan dia bisa mempertanggungjawabkan kualitasnya. 

Intinya, lulus di waktu yang tepat dengan pilihan yang ditekuni, totalitas, dan dapat dipertanggung jawabkan kualitasnya.

Terimakasih. My opinion

foto via tandapagar.com

Answered Jul 19, 2017
Novi Inayatun Nadziroh
Mahasiswa Hukum UGM

ihLrtl_IsfitXbkK6d4RSmOhtWbF9IJk.jpg

Untuk dapat lulus tepat waktu kita harus mempunyai management waktu dengan baik, kemudian harus rajin belajar agar setiap semester tidak ada mata kuliah yang perlu diulang karena memiliki nilai yang jelek.

gambar via vebma.com

Answered Jul 19, 2017
Hilwa Taqiyyah Hanan
Mahasiswa FKM UI| est 1996| Peserta RK Angkatan 8

Hasil gambar untuk mahasiswa lulus

Fokus, tapi bawa santai aja. Ikutin apa yang sudah diarahin sama fakultas misal.

Lulus tepat waktu setiap orang mungkin bisa berbeda waktunya.

Everyone has their own methode.

 

Ilustrasi via cdn.brilio.net

Answered Jul 20, 2017
Dian Fhaatma Thaib
Core Lead Team Psychological First Aid (PFA) F. Psikologi Universitas Indonesia

n5cBjwVYTJl2NFbjISIzGL1epjUkPA4L.jpg

Let's Find : Gue sih kuliah buat ... 

Sebelum menjawab pertanyaan yang sebenarnya juga ingin saya tanyakan pada orang lain ini, menurut saya, yang sesungguhnya pun belum dapat dikatakan berkapasitas mengingat saya pun belum sampai pada status "lulus" tersebut, ada baiknya jika kita menanyakan nenek moyang dari pertanyaan tersebut, yap "Untuk apa kita kuliah?" Kenapa pertanyaan itu lebih leluhur, karena jika kita tidak memutuskan kuliah, maka tidak akan pernah ada kelulusan yang dimaksud, setidaknya itu yang dipahami mahasiswi yang juga masih tertatih-tatih menyelesaikan hari-hari studinya yang penuh dengan drama ini.

Kita mungkin tidak akan kaget dengan jawaban super semangat dan menjanjikan yang keluar dari mulut seorang mahasiswa baru atau setidaknya anak SMA tahun akhir yang tengah berangan-angan tentang di mana kelak studinya akan dilanjutkan. Tapi, jika pertanyaan itu dilabuhkan pada sesepuh-sesepuh mahasiswa tahun ke-3, ke-4, ke-5, bahkan ke-6 mungkin kita sama tahu, akan seperti apa nasib jawaban pertanyaan itu nantinya.

Kuliah dengan alasan ingin bekerja di perusahaan bergengsi, mengikuti keinginan orang tua yang tidak ingin ketinggalan membanggakan anaknya dalam acara arisan keluarga, sekadar menuntaskan rasa penasaran menduduki posisi teratas dari menjadi seorang siswa, atau mungkin menjadikannya agenda kuliah untuk mengejar si dia yang lama sudah jadi incaran. Alasan apa pun itu, tetap sah, selama yang bersangkutan rela menjalani masa perkuliahan dengan lapang dada.

Tahun pertama sebagai tahun euforia, semangat membara dan apa saja rela dilakukan demi almamater tercinta. Masuk tahun kedua, habis euforia terbitlah jenuh yang melelahkan. Berlanjut tahun ketiga, mulai muak bosan dan kuliah tak lebih seperti mayat berjalan. Puncaknya tahun ke-4, tahun di mana idealnya toga dan gelar sajana hanya tinggal sekedipan mata lagi saja, tapi tidak, bahkan ini masa di mana rasanya udahan aja, itu tahapannya menurut pemaparan beberapa kakak tingkat yang pastinya tidak berlaku pada seluruh mahasiswa. Ya, desas-desus inilah agaknya yang memunculkan pertanyaan di atas "Bagaimana caranya agar dapat lulus tepat waktu?", sebagai bentuk, entah cemas atau sarana siaga, jika kelak benar masa kejenuhan itu tiba, sementara telepon orang tua jelas adanya minta kita segera jadi sarjana.

Menurut saya, sekali lagi dengan ketidakadaapa-apaannya ini, hal yang lebih penting dijawab lebih dulu adalah tujuan dari kuliah itu sendiri sebelum kemudian dapat lulus dengan tepat waktu. Karena, ketika kita tahu tujuan tersebut, maka jabarannya mungkin akan mudah saja. Anggaplah kita kuliah untuk dapat segera lulus dan mendapat pekerjaan bagus, maka agaknya tenaga maksimal perlu kita kerahkan untuk sesegera mungkin menyelesaikan 144 SKS tersebut. Lain hal  jika tujuan itu adalah untuk memenuhi rasa ingin tahu tentang ilmu yang sedang kita geluti, menemukan konsep diri di masa dewasa awal, atau mencari sebanyak-banyaknya kenalan dan pengalaman berorganisasi atau mugkin juga semuanya. Masing-masing tujuan tentu memiliki jawabannya masing-masing dan jalan pemenuhannya sendiri-sendiri. Hal inilah yang kemudian akan memberikan variasi tentang kapan seseorang sebaiknya lulus. Misalkan di UI, jika ingin melanjutkan karier organisasi, maka waktu 4 tahun biasanya tidak cukup untuk mendapatkan hal itu, maka bagi yang menggeluti dunia perorganisasian waktu yang tepat untuk lulus mungkin bukan 4 tahun, namun sedikit lebih dari itu. Dan begitulah, mengapa pada akhirnya, lulus tepat waktu tidak dapat disamakan antar tiap mahasiswanya. Ya, dengan alasan itulah saya masih senang berpihak pada semboyan "lulus pada waktunya" ketimbang "lulus tepat waktu" (yang idealnya disepakati di tahun ke-4).

Menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait apa esensi dari kuliah itu, apakah pada titik ini tujuan kuliah itu telah tercapai atau belum, sepertinya jadi hal yang perlu lebih kita utamakan ketimbang keinginan untuk lulus sama seperti yang lainnya (tepat waktu). Apakah ketika masuk ke dunia pascakampus nanti bekal yang kita bawa cukup untuk memenuhi harapan dan ekspektasi publik, sebagai salah satu yang beruntung menjadi 10% masyarakat Indonesia yang menikmati megahnya bangku perguruan tinggi, juga hal yang harus kita perhitungkan. Sebabnya ialah karena dunia pascakampus kabarnya tidak lebih toleran terhadap keteledoran atau alasan ketidaksiapan yang nanti kita rasakan. Maka dari itu, menurut saya, sebelum menemukan rumusan bagaimana caranya agar lulus tepat waktu, bagaimana jika kita menjawab pertanyaan ini dulu, "Untuk apa kita kuliah?" Meskipun menunda kelulusan karena alasan malas dan ingin menghabiskan jatah 6 tahun maksimal yang diperbolehkan otoritas kampus, juga adalah hal yang kiranya tidak bijak untuk dilakukan.

Mari temukan, tuntaskan, dan lulus dengan kebanggan (plus kesiapan)!

(Ditik ulang dengan sedikit berbeda, karena jawaban sebelumnya terhapus dan hilang entah ke mana hehe, semoga tulisan ini ada gunanya.)

 

Ilustrasi via cloudfront.net

Answered Aug 2, 2017

Question Overview


10 Followers
694 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Apakah warna jaket almamater Universitas Gadjah Mada (UGM)?

Lebih penting mana, IPK atau organisasi?

Mengapa kita harus kuliah?

Bisakah kesuksesan diraih tanpa harus kuliah?

Apa motivasi terbaik Anda untuk seseorang yang mulai jenuh kuliah?

Apa strategi terbaik untuk mendapatkan IPK tinggi tapi tetap santai dalam kuliah?

Bolehkah ikut BEM meskipun sebenarnya tidak tertarik dengan dunia pergerakan mahasiswa?

Ketika menyadari bahwa Anda salah jurusan, apa yang Anda lakukan?

Pernahkah Anda di-drop out (DO) ketika kuliah?

Apa peristiwa paling menyebalkan ketika sedang mengerjakan skripsi?

Bagaimana Anda mendapatkan IPK tertinggi sewaktu kuliah?

Apa manfaat aktif organisasi selama masa kuliah yang Anda rasakan?

Apa nasihat Anda untuk remaja kuliahan sebagai bekal menghadapi masa depannya?

Bagaimana cara masuk UI (Universitas Indonesia)?

Bagaimana cara kuliah tanpa merepotkan orang tua?

Keisengan apa yang paling kamu ingat sebagai mahasiswa?

Apa yang paling kamu sesali dari masa-masa kuliah?

Bila kamu diberikan kehidupan kedua sebagai mahasiswa, apa yang akan kamu lakukan?

Bagaimana cara mendapatkan keringanan biaya kuliah?

Bila kamu ditakdirkan bebas finansial sebelum lulus kuliah, masihkah kamu kuliah?

Bagaimana sistem pendidikan di Jerman berlangsung selama Perang Dunia II?

Adakah kajian ilmiah tentang parfum?

Bagaimanakah cara yang tepat untuk menanggulangi kenakalan remaja?

Bagaimana cara yang tepat untuk menanggulangi kenakalan remaja, khususnya seks bebas?

Apa saja faktor yang menginspirasi bagi remaja untuk melakukan kenakalannya?

Apakah rehabilitasi sudah cukup untuk menghentikan pengguna narkoba yang sudah terjerumus?

Apa yang mempengaruhi kaum remaja untuk melakukan seks bebas?

Apakah bisa kita menghilangkan seks bebas di kalangan remaja?

Apa itu sistem pendidikan anak Montessori?

Pada usia berapakah anak akan mampu menyerap pendidikan seks usia dini dengan baik?

Menurut Anda, apa pentingnya ikut berorganisasi?

Apa tugas dari USAID (United States Agency for International Development)?

Apa kelebihan kuliah di jurusan Psikologi?

Bagaimana Anda memaknai tujuan kehidupan?

Siapa orang yang selalu menyemangati hidup Anda?

Bagaimana cara kamu mengatasi kesedihan?

Apakah mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang lebih baik dengan memakan makanan 4 sehat 5 sempurna?

Apa yang kurang dari dunia kesehatan di Indonesia?

Apa yang membuat Steve Jobs sukses membangun Apple?

Apa rahasia kehebatan pasangan bulutangkis Tontowi Ahmad - Liliyana Natsir?

Apakah Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) penting untuk memperoleh pekerjaan?

Apakah pendidikan anti korupsi sejak dini itu penting? Mengapa?

Apakah Anda tahu bahaya dari korupsi?

Siapa Drs. Musholli, pendiri Nurul Fikri?

Apa yang membuat seseorang kurang disukai?

Apakah seseorang yang mempunyai kepribadian introvert bisa berubah menjadi seseorang yang berkepribadian ekstrovert?

Peristiwa besar apa yang dimulai dari kehidupan di kampus?