selasar-loader

Mengapa Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail sendirian di Mekah?

Last Updated Nov 16, 2016

Apa yang bisa kita pelajari dari hal tersebut?

7 answers

Sort by Date | Votes

Gambar terkait

Berdasarkan cerita nabi yang dulu pernah saya dengar waktu kecil bahwa Siti Hajar adalah istri kedua Nabi Ibrahim. Karena pada saat itu, Siti Sarah tidak bisa punya anak. Karena takut ada kecemburuan, maka Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk membawa hijrah Siti Hajar dan Ismail ke Mekkah. Pada saat itu, Siti Hajar berkata mau dibawa ke mana kita, namun Nabi Ibrahim tetap terus melangkah sampai tibalah di Mekkah.

Siti hajar terus bertanya dan berkata apabila ini perintah Allah, maka saya ikhlas dan akhirnya Siti Hajar dan Ismail ditinggal di Mekkah. Nabi Ibrahim pun selalu berdoa untuk mereka hingga pada suatu saat, Ismail kehausan dan daerah tersebut tidak ada air sama sekali. Siti Hajar pergi mendaki ke bukit Shafa tapi masih belum menemukan air dan melanjutkan ke Marwah hingga tujuh kali terus-menerus mencari air dan akhirnya muncul bantuan Allah yaitu air zam-zam di bawah kaki Ismail pada saat menangis kehausan.

 

Ilustrasi via cdn.cakranews.com

Answered Jan 5, 2017

karna pada saat nabi ibrahim meninggalkan sayyidah hajar pda saat itu nabi ibrahim mendapatkan wahyu dari allah. pada saat itu juga allah ingin menguji nabi ibrahim dengan memberika nya wahyu untuk meninggalkan sayyidah hajar dan pada saat itu allah ingin menguji siapakan yg akan didahulukan oleh nabi ibrahim ? sang penciptanya atau istrinya sayyidah hajar dan pada saat itu nabi ibrahim mnjalankan wahyu dari allah dan mendahulukan sang pencipta diatas segalanya.

Answered Aug 19, 2017
Btari Aktrisa Yara Sukmaraja
Mahasiswi Psikologi Universitas Gadjah Mada

Kita ketahui bersama bahwa Nabi Ibrahim adalah Bapaknya para Nabi dalam artian dibawah keturunannya lahirlah Nabi-nabi setelah beliau. Nabi Ibrahim dibesarkan dalam lingkungan penyembah berhala, dan ayah kandungnya sendiri bahkan pemahat patung berhala. Nabi Ibrahim pernah berada di titik, ia menanyakan siapakah sesungguhnya pencipta alam semesta ini. Sempat ia mengira bintang, bulan, matahari, namun mengapa kesemuanya itu hilang saat berganti gelap dan terang. Apalagi pada berhala yang tidak bisa berbicara, tidak memberikan manfaat atau apapun itu.

Hingga akhirnya Allah memberikan derajat kenabian kepada Nabi Ibrahim dan saat itu ia dibakar oleh rakyatnya karena menghancurkan berhala-berhala dan menyebutkan bahwa dirinya utusan Allah. Saat itu juga Allah memberikannya mukjizat berupa tidak terbakar dan Sarah yang beriman yaitu mengakui keesaan Allah setelah Nabi Ibrahim pun menjadi istrinya.

Bertahun-tahun lamanya, Nabi Ibrahim dan Sarah tak memiliki anak. Hingga mereka bertemu dengan Hajar seorang hamba sahaya oleh Raja yang sangat kejam. Sarah pun menebusnya dan menjadikannya teman sejati yang menemani perjalanan Nabi Ibrahim dan Sarah. Hingga pada suatu hari Nabi Ibrahim menikahi Hajar. Tak lain tak bukan atas persetujuan Sarah agar dapat memiliki keturunan dan meneruskan Nabi Ibrahim.

Saking taatnya Nabi Ibrahim kepada Allah, bertahun-tahun tak memiliki anak, doa-doa yang dikabulkan cukup lama, hingga akhirnya memiliki anak yaitu Ismail. Ujian Allah tak berhenti, karena semakin beriman seseorang maka ujiannya pun semakin berat. Saat itu Allah memberikan mimpi kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih Ismail. Bayangkan, hati ayah mana yang tidak teriris saat bertahun-tahun lamanya menantikan seorang anak dan Allah memntanya untuk menyembelihnya? Namun sebelum itu semua, Hajar dan Ismail telah diasingkan cukup lama.

Kita bisa bayangkan betapa sangat taqwanya keluarga Ibrahim pada Allah dengan diberikan ujian yang bertubi-tubi namun mereka mampu melewatinya.

Answered Nov 2, 2017
Lutfiningtyas Maharani
Mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM l Rumah Kepemimpinan Region 3 Yogyakarta

Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di Mekah karena mematuhi seruan dari Allah SWT
 

yang bisa dipelajari dari peristiwa ditinggalkan Hajar dan Ismail oleh Nabi Ibrahim adalah:

1. Kecintaan kepada Allah SWT harus selalu nomor satu, seberapapun cintanya kita kepada keluarga kita, bila Allah memerintahkan untuk meniggalkan keluarga, tidak perlu khawatir akan keselamatan keluarga, karena yang akan menjaga keluarga kita adalah Allah SWT

2. Allah tidak akan memberikan ujian kepada hambaNya melainkan hambaNya mampu untuk memikulnya

3. Bahwa kita perlu berusaha untuk menghadapi ujian yang diberikan Allah SWT, maka Allah SWT akan menolong kita

Answered Jan 7, 2018
Ramadhany Ayu Purnama
Peserta Rumah Kepemimpinan Regional 3 DIY

Dikisahkan bahwa hal tersebut merupakan perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim, demi meredam kecemburuan yang dirasakan oleh Sarah (Istri pertama Nabi Ibrahim)

Pelajaran yang bisa kita ambil adalah

1. Sami'na wa atho'na milik Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah SWT perlu kita contoh

2.  Allah pasti punya rencana baik untuk setiap hambaNya

3. Menjaga perasaan sesama insan manusia merupakan akhlak yang baik

Answered Mar 2, 2018
Reni Anggraini
Pelayan Ummat

Allah memerintahkan Ibrahim untuk meninggalkan Hajar dan Ismail  di Mekah. Pelajaran yang bisa didapat ialah, kepatuhan pada apa-apa yang diperintahkan Allah. Selain itu, ini adalah kisah Nabi Ibrahim yang mengajarkan kerja keras dan tawakkal.

Answered Mar 31, 2018
Roihan Munajih
Medical Student UGM - Chemistry Olympiad Trainer - Learning and Teaching Quran

Di dalam surat Ibrahim (14):37, terdapat perkataan dan doa Nabi Ibrahim a.s. "Ya Rabb, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."

Itu adalah doa Nabi Ibrahim a.s. setelah meninggalkan istri keduanya (Ibu Ismail) dan anaknya, Ismail a.s. Mereka ditempatkan di dekat Baitullah, di dekat sebuah pohon besar, yang mana tempatnya tidak dihuni oleh seorang pun, dan juga tidak ada air sama sekali. Mereka hanya dibekali beberapa kurma dan geriba air saja. Itu adalah ujian yang berat bagi Ibrahim a.s. dan istri keduanya, karena baru saja dikaruniai anak (Ismail) yang masih disusui. Namun karena keimanan yang kuat dari Ibrahim a.s. dan istrinya tersebut, mereka mau melaksanakan perintah Allah SWT itu, sebagai bukti cinta hanya kepada Allah SWT semata.

Itulah bukti kuatnya tauhid yang dicontohkan oleh teladan kita dan menjadi Bapak Para Nabi, yaitu Ibrahim a.s. Kisah itu hanya salah satu dari sekian banyak kisahnya yang menunjukkan ketaatan dan keimanan yang luar biasa. Bahkan jika diringkas, syari'at Islam yang ada dalam rukun Islam sekarang berkaitan dengan Nabi Ibrahim a.s., seperti syahadat sebagai pernyataan tauhid, sholat sebagai bentuk ibadah yang agung, puasa yang Ibrahim a.s. dilemparkan ke dalam api oleh Raja Namruz, puasa Arafah, ibadah qurban, dan juga haji di Baitullah yang pondasinya dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s., Maka, di Al Quran pun sudah jelas bahwa, "Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaumnya: 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian serta telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian beriman kepada Allah saja,' kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, 'Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.' (Ibrahim berkata), 'Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakkal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau yang Mahaperkasa, Mahabijaksana." (Al-Mumtahanah [60]:4-5)

Salah satu hal yang bisa kita teladani dari Nabi Ibrahim a.s. adalah sifat beliau yang pemikir, bahkan untuk urusan agama/diin. Seringkali kita hanya menerima ajaran-ajaran Islam yang diberikan oleh guru, tanpa kemudian memikirkan atau menghayati tentang perintah itu. Pada jaman Nabi Ibrahim a.s. pun juga begitu, kebanyakan orang hanya menerima ajaran dari nenek moyangnya yang menyembah berhala, tanpa tau dasarnya. Maka, kemudian Nabi Ibrahim a.s yang merupakan pemikir ini mencari Tuhan yang patut disembah, seperti yang diceritakan dalam surat Al-An'am (6):76-79, "Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, 'Inilah Tuhanku.' Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, 'Aku tidak suka kepada yang terbenam.' Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, 'Inilah Tuhanku.' Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, 'Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.' Kemudian dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Tuhanku, ini lebih besar.' Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, 'Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.' Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.'

Kita dapat mengambil pelajaran bahwa agama Islam adalah agama yang benar, yang didasarkan pada ilmu yang benar dari Al Quran, dan kewajiban kitalah mempelajari dan mendalami ilmu ini sehingga dapat menjalankan dan memperjuangkan Islam secara kaffah.

Semoga kita semua menjadi orang yang selalu merasa miskin akan ilmu sehingga terus bersemangat dalam menuntut ilmu Allah SWT. Kita mohon petunjuk, hidayah, taufik, dan ilmu dari Allah SWT, untuk lebih mencintai Allah SWT dan mengagungkan-Nya, dan semoga kita dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa. Aamiin.

Answered Aug 2, 2018