selasar-loader

Siapa Jakob Oetama dalam dunia jurnalistik dan media Indonesia?

Last Updated Nov 24, 2016

4 answers

Sort by Date | Votes
Pepih Nugraha
Mendalami ilmu jurnalistik sekaligus praktisi dengan menjadi jurnalis

Hasil gambar untuk jakob oetama

Jakob Oetama bersama Ouw Jong Peng Koen (PK Ojong) adalah pendiri Harian Kompas yang terbit untuk pertama kalinya pada 28 Juni 1965. Boleh dibilang, mereka berdua adalah "dwi tunggal" pendiri dengan latar belakang yang berbeda. Jakob berlatar belakang guru, tepatnya guru sejarah, di mana sebelum mendirikan Kompas bersama PK Ojong membangun majalah Intisari dua tahun sebelumnya, yakni tahun 1963.

Majalah ini terinspirasi Rider's Digest yang terbit di Amerika Serikat dengan format dan ukuran yang hampir sama, juga berisi tulisan-tulisan yang sifatnya timeless atau tak lekang oleh waktu. Boleh dibilang, majalah Intisari akan selalu ada dan diupayakan penerbiatannya, meski sudah banyak kehilangan pelanggan, sebab majalah ini merupakan milestones bagi Jakob maupun Ojong.

Pada masa jayanya sekitar tahun 1995an, oplah Harian Kompas mencapai 550.000 eksemplar perhari. Tentu saja oplah yang besar berimbas pada perolehan iklan yang luar biasa besar. Namun demikian dari sisi redaksi, Kompas pernah dibekukan pemerintah Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto. Sejarah mencatat, Jakob-lah orang yang pasang badan untuk menandatangani persetujuan dengan pemerintah agar Harian Kompas bisa terbit kembali.

Alasan Jakob sangatlah pragmatis-taktis, sebab ada ribuan orang yang hidupnya tergantung kepada Kompas. Lagi pula, kalau melawan dan Kompas tidak bisa terbit lagi sebagai harian, upaya "mencerdaskan bangsa" dan "amanat hati nurani rakyat" sebagai kredo Kompas lenyap dengan sendirinya.

Itu sebabnya keputusan "sepihak" Jakob berimpak pada hubungan yang sempat tegang dengan Ojong yang lebih ingin menempuh  cara "heroik" dengan tidak perlu menandantangani persetujuan dengan perintah. Menandatangani persetujuan bisa dimaknakan sebagai ketertundukan Kompas di depan pemerintah Soeharto. Tetapi harus diakui, keputusan Jakob ini adalah yang benar dan paling masuk akal dibanding dengan sikap "patriotik" yang hanya dikenang sekelebatan saja sebagaimana yang terjadi pada koran Harian Indonesia Raya-nya Mochtar Lubis.

Jakob dengan Harian Kompas-nya sering diejek sebagai "jurnalisme kepiting". Diam saat ada bahaya, tetapi maju saat situasi aman-aman saja. Kepiting juga kerap berjalan miring yang menunjukkan sikap Kompas yang selalu "mlipir" dalam mengeritik pemerintahan Soeharto yang represif, khususnya dalam Tajuk Rencana sebagai arah Kompas dalam bersikap.

Selaku anak buahnya, karyawan dan kemudian jurnalis yang pernah bernaung di Harian Kompas selama 26 tahun, saya akan selalu mengingat ulang tahun Pak Jakob, demikian para karyawan memanggilnya, yakni 27 September 1931. Bagi karyawan yang bernaung di kelompok usaha yang dibangun Jakob-Ojong, Kompas Gramedia, ulangtahun kelipatan 5 adalah hari yang sangat dinantikan, sebab sudah dapat dipastikan ulangtahun ke-60, 65, 70, 75, dan 80, selalu ada gaji tambahan bagi karyawan-karyawannya.

Jakob dan Ojong berhasil membangun kerajaan bisnis media di Indonesia. KG berikibar tanpa saingan untuk urusan percetakan, penerbitan, majalah, koran, radio, online dan belakangan televisi. Saat KG berada di puncak kejayaannya, ia memiliki jaringan Toko Buku (Gramedia), Hotel Santika, perusahaan kertas tissue, sampai rotan. Selain punya naluri jurnalistik yang tinggi (terbukti dengan gelar Doctor Honoris Causa dari UGM yang diperolehnya), Jakob-Ojong juga punya naluri bisnis yang jempolan. Hampir semua unit usaha yang mereka dirikan berakhir sukses.

Di lingkungan Harian Kompas, Jakob adalah icon, sosok dan legenda hidup dengan filosofis kemanusiaan transenden-nya dan tafsir ora et labora sebagai "bersyukur tiada akhir" yang ditanamkan kepada semua karyawannya. Jakob tidak menerapkan gaji yang sangat tinggi bagi karyawannya, khususnya wartawannya, namun dia bersama Ojong lebih menekankan kepada aspek non materi (besaran gaji), tetapi lebih menekankan kepada kesejahteraan dan kesehatan. Pada masa jayanya, karyawan bisa menerima gaji lebih dari 18 kali dalam sebulan dengan unsur-unsur gratifikasi-bonus-THR dan bonus prestasi lainnya.

Sebagai jurnalis, sekitar pertengahan tahun 1990-an, saya pernah merasakan masa-masa di mana pada malam hari salah seorang pemegang saham Harian Kompas memanggil jurnalis-jurnalis yang dianggap telah bekerja lebih ke ruangannya. Di ruangan inilah disodorkan selembar cek yang jumlahnya bisa berkali-kali lipat gaji pokok yang diterima setiap bulannya!

Namun ketika manajemen dibenahi oleh CEO Agung Adiprasetyo di tahun 2000an, "panggilan menyenangkan" pada malam hari itu sudah tidak ada lagi. Semua terukur dengan menggunakan "rezim" KPI (key performance index) di mana kinerja karyawan/wartawan dinilai dua kali dalam setahun dengan ukuran yang telah ditentukan. Jadi sebenarnya lebih "fair" dan bisa lebih "predictable".

Sebagai gantinya, penilaian persemester itu dikonversi kepada bonus. Sedangkan unsur gratfikasi-bonus dan jenis-jenis tunjangan lainnya dilebur ke unsur gaji pokok yang tentu saja menguntungkan karyawan/jurnalis. Kenapa? Sebab gaji pokok akan menjadi besar padahal gaji pokok ini dipakai ukuran untuk meminjam dana perumahan dan kendaraan.

Bagi saya, Jakob dan juga Ojong (yang saya dengar karena saya tidak mengalaminya), adalah boss, big boss yang sangat memperhatikan kesejahteraan wartawan/karyawannya. Kalau saya kerja shit malam, selalu dapat jatah dua butir telur ayam negeri plus susu hangat setiap malam. Itu sebabnya karyawan/wartawannya betah bekerja di lingkungan Kompas-Gramedia karena kesejahteraannya terjamin sampai hari tua (pensiun) meski dengan haji pokok yang relatif kecil dibanding perusahaan besar lainnya, tetapi lebih besar dibanding perusahaan media lainnya berbasis cetak.

Pada hari tuanya, sekarang sudah jalan 85 tahun, Jakob sesekali masih ke kantor Harian Kompas di Palmerah Selatan, berkantor di lantai 6 di mana anak buahnya sekarang lebih banyak berkunjung dan sesekali ke lantai 3 ke ruangan rapat redaksi. Jelang usia 85, atau saat memasuki usia 81-83 tahunan, sesekali Jakob hadir di ruang rapat, lebih banyak bertanya tentang berbagai...(more)

Answered Dec 7, 2016
Dadi Krismatono
Former chief editor of Bloomberg Businessweek Indonesia.

oXH2hB4y25Y5t5JUVdss8KrcxWqU40oM.jpg

Pendiri, Pemimpin Redaksi, dan kini Pemimpin Umum Surat Kabar Harian Kompas yang telah berkembang menjadi Kompas Group yang merambah ke bidang properti, pabrik kertas, dll.

 

sumber gambar: allianz.co.id

Answered Dec 17, 2016

Pendiri dan Pemimpin Umum Kompas Group

Answered Jan 17, 2017

Sejumput kisah Pak Jakob yang saya ambil dari buku Syukur Tiada Akhir (2011):

 

Cita-citanya saat itu muncul bersamaan, antara menjadi guru atau pastor. Maklum, ia lahir dari keluarga guru. Di sisi lain, ia hidup dan besar di lingkungan Katolik. Ayahnya, Raymundus Josef Sandiyo Brotosoesiswo (1911-1975), adalah guru sekolah rakyat (sekarang setingkat sekolah dasar, Red), yang berpindah-pindah mengajar. Mulai dari Jowahan, 500 meter sebelah timur Candi Borobudur, kemudian ke Magelang, Semarang, Boro, Wates, dan terakhir di Sleman, DI Yogyakarta.

 

Memasuki masa pensiun, bersama ayah dan ibunya, Margaretha Kartonah Brotosoesiswo (1914-1999), Jakob, anak pertama dari 13 bersaudara, menetap di Dukuh, Tridadi, Sleman, DI Yogyakarta, di pinggir Jalan Raya DI Yogyakarta-Magelang. Pendidikan menengahnya ia habiskan di Seminari Menengah Mertoyudan, dan berlanjut ke Seminari Tinggi, meski akhirnya mundur.

 

“Oleh bapak, saya kemudian disuruh menemui Pak Patmo (Yosep Yohanes Supatmo, Red), pendiri Yayasan Pendidikan Budaya, beralamat di Jakarta. Justru, cita-cita saya menjadi guru tidak terwujud di sana, tapi di SMP Mardiyuwana, Cipanas, Jawa Barat, tahun 1952-1953,” tutur Jakob, yang lahir di Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, 27 September, 1931.

 

Sekolah Guru Bagian B (SGB) di Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, menjadi peraduan selanjutnya, dari 1953-1954. Ia berpindah lagi ke SMP Van Lith, Jalan Gunung Sahari, Jakarta, selama dua tahun (1954-1956).

 

“Mungkin karena kemudian bekerja sebagai sekretaris redaksi majalah sekaligus Pemimpin Redaksi Penabur sejak 1956, saya kemudian semakin tertarik dalam bidang jurnalistik. April 1961, Petrus Kanisius (PK) Ojong menemui saya di Yogyakarta,” ulas Jakob.

 

Sebuah terobosan diwacanakan, menembus barikade pengekangan informasi dari luar oleh pemerintah. Dan pada Agustus 1963, lahirlah sebuah majalah dengan prototipe Reader’s Digest, media keluaran luar negeri. Intisari, demikian nama majalah karya Jakob dan Ojong tersebut, yang merupakan sari pati persoalan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia.

 

Hingga seiring perjalanan, diterbitkanlah Kompas. Mengutamakan sisi pengetahuan dan pemahaman masalah humaniora, koran tersebut diterbitkan pada 28 Juni 1965. Sebelum menggunakan nama Kompas, muncul gagasan memberi nama koran tersebut Bentara, diilhami dari sebuah mingguan yang terbit di Ende, Flores, NTT.

 

Jakob, Ojong, dan Frans Seda kemudian menambahi nama Bentara dengan kata “Rakyat”, sehingga menjadi Bentara Rakyat. Keputusan tersebut untuk menunjukkan bahwa tidak hanya orang komunis yang bisa mengklaim kata “Rakyat”.

 

Namun, oleh Bung Karno, nama Bentara Rakyat diminta untuk diubah menjadi Kompas, yang artinya penunjuk arah. Agar lebih menonjol, penerbit koran diganti nama menjadi PT, bukan yayasan. Dan sejak 1982, Penerbit Kompas akhirnya berganti nama menjadi PT Kompas Media Nusantara.

 

Perusahaan tersebut kemudian menjadi besar. Bahkan, kemudian muncul nama Kelompok Kompas Gramedia (KKG), yang melebarkan usaha bisnisnya tak hanya di media, tapi juga bidang usaha lain. Tentunya, keberhasilan ini tak lepas dari buah usaha keras yang dilakukan oleh Jakob, Ojong, dan orang-orang pendukungnya.

 

“Sikapnya yang bijaksana dan sosoknya yang rendah hati, serta masih aktif dalam berbagai kegiatan, itu tidak mudah dilakukan,” mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, di sela perayaan ulang tahun Jakob di Bentara Budaya Jakarta, 27 September 2011.

 

Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Ahmad Syafi'i Ma'arif, menganggap, sebagai manusia, Jakob sangatlah otentik. Apa yang diucapkan, dipikirkan Jakob, papar Syafi’i Ma’arif, semua datang dari dalam, dari lubuk manusia. “Saya senang,” katanya.

 

27 September 2016, Pak Jakob berulangtahun ke-85. Ia telah menorehkan catatan, tak hanya bagi KKG, namun juga bangsa ini. Usia 85 tahun tentu tak lagi muda, bahkan bisa dibilang senja. Namun, Pak Jakob masih ingin memberikan sumbangsih bagi negeri ini melalui pers dan bisnis usaha yang lain.

 

Syukur Tiada Akhir, buku yang diterbitkan sebagai kado ulang tahunnya. Dipersembahkan oleh Penerbit Buku Kompas, ditulis oleh St Sularto, Wakil pemimpin Umum Kompas. Setebal 658 halaman, buku tersebut sebagai catatan perjalanan Pak Jakob, dari manusia biasa menjadi manusia luar biasa yang tetap biasa.

Answered May 31, 2017
Sponsored

Question Overview


6 Followers
1964 Views
Last Asked 1 year ago

Related Questions


Bagaimana menjaga objektivitas seorang Jurnalis?

Apa perbedaan antara jurnalisme televisi dan jurnalisme cetak?

Benarkah peran media mainstream semakin terdesak oleh media sosial yang kontennya diisi para netizen?

Benarkah peran media arus utama atau media mainstream semakin terdesak oleh media sosial yang kontennya diisi para netizen?

Kenapa pemberitaan setiap media nasional memiliki perspektif berbeda?

Siapa Itu Sukarni Ilyas yang dikenal dengan nama "Karni Ilyas"?

Siapa itu Pepih Nugraha?

Apa yang dimaksud dengan 5W 1H dalam menulis berita?

Apa yang disebut "Nilai Berita" atau news value?

Apa yang membuat Larry Page (pendiri Google) berbeda dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Sergey Brin (pendiri Google) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Steve Jobs (pendiri Apple) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Steve Wozniak (pendiri Apple) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Elon Musk (pendiri Tesla Motors dan SpaceX) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Mengapa menteri ekonomi di Indonesia banyak yang berasal dari FE Universitas Indonesia?

Siapa lebih baik: Karen Agustiawan (Mantan CEO Pertamina) atau Sri Mulyani (Menteri Keuangan)?

Bagaimana peran orang-orang terdekat di balik kesuksesan seorang tokoh?

Siapakah orang yang paling berpengaruh dalam hidup Anda?

Adakah keterlibatan Indonesia pada Perang Dunia II?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Hal-hal apa sajakah yang harus dipenuhi agar Indonesia menjadi pemimpin budaya populer dunia?

Foto apa saja yang bisa mengubah cara pandang kita tentang Indonesia?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Masakan/makanan Indonesia apa yang menurut Anda paling mungkin go international?

Mengapa bangsa Indonesia dapat sebegitu lamanya dijajah oleh Belanda?

Makanan/masakan Indonesia apa yang paling memiliki nilai sejarah tinggi?

Apa yang membuat beberapa suku di Indonesia masih tetap bertahan dengan gaya hidup tradisionalnya, misalnya Suku Badui?

Apa yang membuat Anda kecanduan media sosial seperti Facebook, Twitter, atau Instagram?

Mengapa media disebut "Pilar Keempat" dalam demokrasi?

Apa yang dimaksud "fact is sacred" dalam menulis berita?

Apa yang dimaksud "Cub Reporter"?

Apa yang disebut "Hook" dalam menulis berita?

Apa yang dimaksud "Firsthand Account" dalam meliput peristiwa?

Bagaimana membedakan antara "Firsthand Account" dan "Secondhand Account" dalam menulis berita?

Siapakah Trias Kuncahyono?

Efektifkah aksi boikot Metro TV melalui Petisi?

Model bisnis apa saja yang biasa dilakukan oleh media online?

Apa pendapatmu tentang isu-isu yang berkembang di media mainstream belakangan ini?

Apa pendapatmu tentang media cetak sekarang?

Siapakah yang mempopulerkan "Om Telolet Om"? Mengapa bisa populer di kalangan netizen?

Apakah skill atau keahlian paling utama yang harus dimiliki seorang pemimpin redaksi?

Apa yang membuat Harian Kompas sebagai media cetak lebih unggul dan bernilai dibanding media cetak lain?

Apa yang membuat Harian Republika sebagai media cetak lebih unggul dan bernilai dibanding media cetak lain?

Apa yang membuat Harian Media Indonesia sebagai media cetak lebih unggul dan bernilai dibanding media cetak lain?