selasar-loader

Siapa itu Pepih Nugraha?

Last Updated Nov 24, 2016

7 answers

Sort by Date | Votes
Miftah Sabri
Pendiri dan CEO Selasar

    

p5m3B0Ioo_qxBgbZJ5PFeG0Pkf0SVUXF.jpg

Siapakah Pepih Nugraha?

Singkatnya, Pepih Nugraha adalah jurnalis 26 tahun dan kini menjadi techpreneur. Kini, beliau adalah Chief Operating Officer Selasar.

Panjangnya, begini.

Dari biografi singkat di beberapa buku yang ia tulis seperti “Menulis Sosok” (Penerbit Buku Kompas, 2012) dan “Ranjau Biografi” (Bentang Pustaka, 2013), Pepih Nugraha lahir di Tasikmalaya, 11 Desember 1964. Tetapi, bukan itu yang mengesankan dari sosok Pepih selain keputusannya yang tergolong “berani bin nekat”, yakni berhenti sebagai wartawan dari Harian Kompas setelah bekerja selama 26 tahun di media cetak terbesar di Tanah Air ini.

Setidak-tidaknya, itulah yang tergambar dari beberapa status media sosialnya yang terpantau publik dan ditelisik oleh para follower-nya. Orang bertanya-tanya, mengapa wartawan lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (1985-1990) yang tergolong senior itu berani mengambil keputusan yang tidak biasa untuk ukuran kemapanan seorang jurnalis di harian ternama dengan satu keputusan berani; mendirikan perusahaan rintisan digital bernama Selasar.com bersama beberapa rekan yang lebih junior.

Dunia digital, dalam hal ini media online, memang sudah lama ditekuninya. Ia banyak menulis tentang media baru seperti blog dan media sosial di Harian Kompas sejak 2004 atau saat ia mengenal dan membuat blog pribadi bertajuk “Beranda t4 Berbagi”. Sejak tahun 2007, ia menjadi wakil redaktur multimedia yang menjembatani media cetak dengan online. Penugasannya ini terpotong oleh “tugas sisipan” dan “dadakan” saat Harian Kompas menerbitkan edisi siang yang disebut Kompas Update pada kurun waktu Januari--April 2008.

Waktu itu, ia ditunjuk selaku editor tunggal, tanpa wakil, hanya ditemani sekitar 7 koleganya dalam bekerja mulai pukul 24.00 tengah malam sampai deadline pukul 07.00 pagi. Mereka terdiri dari empat orang jurnalis, dan masing-masing satu penyelaras bahasa, kurator, layouter. Tujuan diterbitkannya Kompas Update seharga Rp.1000 itu, sebagai pernah ditulis dalam blognya, tidak lain untuk mengejar ketertingggalan “readership” (keterbacaan) dari pesaing terdekatnya, yaitu koran daerah Jawa Pos yang sangat ekspansif.

Semula, Kompas Update hanya dicetak 80.000 eksemplar per hari, namun empat bulan kemudian membengkak menjadi 200.000 eksemplar per hari karena derasnya permintaan. Namun, akhirnya manajemen menghentikan peredaran Kompas Update karena selain “readership” sudah tercapai, ada potensi Kompas Update mengkanibal induknya sendiri, Harian Kompas pagi.

Selain belum siap dengan model bisnisnya, kehadiran Kompas Update juga ditentang sejumlah editor senior karena “menghabiskan” stok berita untuk Kompas edisi pagi yang sudah dimakan Kompas Update, khususnya berita-berita pertandingan sepak bola liga Eropa dan berita-berita internasional yang berlangsung selepas pukul 24.00, saat Harian Kompas pagi dicetak. Pepih kemudian ditarik kembali dan menjalankan pekerjaannya selaku wakil editor multimedia di Kompas.com. 

Pada Mei tahun 2008, Pepih mendirikan Kompasiana, social blog yang semula diperuntukkan bagi wartawan Kompas. Dia berprinsip, tulisan dan curhat wartawan Kompas akan menarik pembaca online kalau bukan tulisan untuk Harian Kompas, sebab blog dikenal karena kemerdekaan penulisannya. Semula jurnalis Kompas, sebagaimana tergambar dalam buku yang ditulisnya, Kompasiana Etalase Warga Biasa (Gramedia Pustaka Utama, 2014) menyambut antusias kehadiran Kompasiana dan beberapa wartawan senior bahkan mulai menulis. Tetapi lama kelamaan karena kesibukan koleganya, jumlah tulisan wartawan Kompas di Kompasiana jauh menyusut.

Agar Kompasiana tidak layu sebelum berkembang, Pepih kemudian memutuskan membuka keran menulis di Kompasiana untuk publik. Di luar dugaan, antusiasme warga biasa yang menulis di Kompasiana ala “Citizen Journalism” itu sangat besar, yang pada puncaknya melambungkan Kompasiana ke peringkat 22 Alexa di Indonesia dengan tulisan warga rata-rata pernah mencapai 1.000 per hari.

Sebagaimana terbaca dalam blog yang ditulisnya, sampai Pepih memutuskan meninggalkan Kompasiana selaku COO, Kompasiana sudah menjadi entitas bisnis sendiri di lingkungan Kompas Gramedia dengan 35 karyawan dan revenue yang meningkat setiap tahunnya, meski, menurut kabar, Kompasiana “tidak diakui” oleh sejumlah wartawan dan petinggi di Harian Kompas karena konten warga yang mereka anggap sering kebablasan sehingga “mengotori kesucian” Harian Kompas itu sendiri.

Dari karya tulis blogger di Kompasiana, Pepih pernah menjadi editor untuk buku sukses yang ditulis Wisnu Nugroho, yakni Pentalogi SBY (5 buku tentang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) di mana salah satunya, “Pak Beye dan Istananya”, masuk ke jajaran buku “mega best seller” dengan penjualan di atas 300.000.

Buku dan jurnalistik bukan hal asing baginya, Pepih tercatat menjadi editor belasan dan puluhan buku yang pernah diberinya kata pengantar. Sosok penulis yang dikaguminya adalah Ahmad Tohari, Eddy Suhendro, Pramoedya Ananta Toer, Sydney Sheldon, Dan Brown, serta penulis Sunda Ahmad Bakri dan Aam Amalia.

Pepih menamatkan sekolah dasar sampai menengahnya di kampung halamannya, Ciawi-Tasikmalaya, Jawa Barat. Sekolah Dasar di SD Ciawi I, lanjut ke SMPN I Tasikmalaya setelah tidak betah bersekolah di SMPN Ciawi karena saat itu gurunya sering membolos, kemudian melanjutkan ke SMAN II Tasikmalaya. Pepih pernah belajar dasar-dasar gitar klasik semasa SMA dan menyukai pelajaran bahasa asing.

Gagal di Sipenmaru 1984 bersamaan dengan diputuskannya dia oleh pacarnya, sebagaimana Pepih ceritakan di Selasar , ia bersekolah setahun di Institut Manajemen Koperasi jurusan Manajemen yang memberinya pemahaman soal ilmu ekonomi dasar, statistika, manajemen, finansial, dan akuntasi. Setahun kemudian, ia mengikuti testing Sipenmaru lagi dan berhasil masuk Universitas Padjadjaran. Pada saat bekerja di Kompas, Pepih mengambil program MMDP di sekolah bisnis Prasetya Mulya selama 1,5 tahun mengerjakan proyek Kompasiana...(more)

Answered Dec 9, 2016

saya mah taunya, kang Pepih mah orang "Nu Nyunda" pisan laaaaah.....hebriiiiiing kitulaaaaaaah.....

Answered Jan 13, 2017
Hera Wati
Saya.. Ya, saya. Tak perlu menjadi oranglain, tak perlu meniru siapapun.

WWt8VlE735uJeWYbe9eoQR3OVS9KkYvd.jpg

Owh.. Kang Pepih. Buat saya, beliau adalah guru menulis. Saya belajar banyak darinya, tapi tetap saja gak bisa-bisa nulis bagus. Kang Pepih senior di Kompasiana juga. Meski sudah tidak di Kompasiana, siapa yang bakal lupa dengan namanya? Tapi, kenapa minggat, ya, dari sana? Hehehe.

Answered Mar 16, 2017
Gregorius Reynaldo
selasares garis keras

iTZ8sg4zAo8_zqvHClNEuJG3vEI9tqDt.jpg

Perjumpaan pertama kali saya dengan beliau terjadi ketika beliau masih aktif sebagai pimpinan Kompasiana dan masih aktif sebagai jurnalis di Harian Kompas. saya masih ingat waktunya, tanggal 25 Februari 2015, saat beliau pertama kali menginjakkan kaki di Kota Ruteng, Flores. tujuan beliau ketika berkunjung ke Ruteng saat itu adalah memberi pelatihan pembuatan dan pengelolaan blog kepada siswa SMP dan SMA di Kota Ruteng.

Nama Pepih Nugraha sebelumnya pernah saya dengar kala tulisan beliau dimuat di beberapa di Surat Kabar Nasional. ketertarikan saya untuk mengenal beliau semakin besar saat terkesiam dengan cara beliau menyampaikan materinya. saya juga berkesempatan berbincang dengan beliau dan kesannya tentang Kota Ruteng yang baru pertama kali dikunjunginya.

Setelah perkenalan itu, dengan ilmu dan teknik "Stalking" yang saya pelajari secara Otodidak, ter-ketahuilah bahwa Pepih Nugraha yang akrab dipanggil dengan gelar Sundanese-nya itu sudah 26 tahun berkiprah di dunia berburu dan mewarta berita. ketertarikan beliau dengan dunia politik dan komunikasi tampak pada tulisan beliau yang sekarang kita nikmati di PepNews dan tentu saja Selasar.

Pemikiran nyeleneh yang "nggak penting tapi perlu" mengajarkan saya tentang sebuah konsep baru dalam menulis, yaitu mengambil sudut pandang yang berbeda dan sekreatif menulisnya tanpa mengurangi atau melebih-lebihkan konten berita itu. Selain itu buku-buku seperti "Ranjau Biografi" juga sudah saya baca (walau tidak semua) demi menggali teknik menulis berita ala Kang Pepih. Kini setelah, 26 tahun bersama Kompas, 8 tahun memimpin Kompasiana, ternyata panggilan beliau belum habis. Malah kini beralih menjadi Techpreneur dengan selasarnya.

Beliau menurut saya memang sosok jurnalis yang pantas menjadi contoh, bahkan beliau menjadi salah satu alasan kenapa saya akhirnya memutuskan melanjutkan kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi. dan hingga saat ini, tulisan-tulisan nyeleneh beliau tetap menjadi referensi yang keren dan menghibur kala bahsa politik makin rumit..

Itu Kang pepih Nugraha yang saya tahu.

salam

Answered Apr 4, 2017

-ULdG155WaNmFYmCAwbk3WjiPUzvlHlK.jpg

Saya ketemu Kang Pepih tiga atau empat tahun lalu sewaktu dia masih di Kompasiana. Waktu itu saya butuh seorang praktisi jurnalisme warga yang bisa memberi kami bekal bagaimana menulis dan meliput hal ihwal reformasi birokrasi dalam format jurnalisme online. Jadilah kami dan puluhan pegiat program reformasi birokrasi dari tujuh provinsi ketemu Kang Pepih di sebuah hotel di Tangerang dalam sebuah workshop yang renyah. 

mpq0Wf-gvFrM34XU-IUFCOJaIMV2kDtB.jpg

Answered Apr 5, 2017
Yudha Pratomo
former journalist | content writer & editor | experienced

hABjnKyq2JMfGmTo71eK4Y-uEeQRN8NH.jpg

foto: Dokumentasi Kompasiana

Saya pertama kali bertemu Kang Pepih ketika saya bergabung & bekerja di Kompasiana. Tapi saya mengetahui reputasi Kang Pepih sebagai jurnalis bukan dari lingkungan dalam Kompasiana, melainkan dari cerita rekan-rekan wartawan, termasuk atasan saya di kantor lama yang cukup kenal baik dengan Kang Pepih. 

Di antara teman-teman media, image Kang Pepih ini memang sudah tidak bisa dipisahkan dengan Kompasiana (hehe... maaf ya, Selasar). Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang mengatakan Kang Pepih dan Kompasiana sudah menjadi satu nafas. 

Tapi jika ditanya "siapa itu Pepih Nugraha?" saya pribadi akan menjawab: beliau adalah sosok yang bisa dan layak dijadikan sebagai panutan. Bukan bermaksud menjilat atau apapun itu, tapi demikianlah kenyataannya. Saya tidak ingin bercerita panjang lebar soal apa yang saya dapatkan dari beliau. Tapi jujur, selama saya bekerja di media, hanya ada dua orang yang membuat saya kagum. Pertama adalah mantan atasan saya, namanya Adit. Dan kedua adalah Kang Pepih. 

Sukses terus, Kang Pepih!

 

Answered Apr 6, 2017
Mukti Ali
saya praktisi perhotelan, saat ini nyangkut di Novotel Dubai.

X9f77F4o8dJZa7HbLNt6Ug7opgwYb5At.jpg

Saya kenal kang Pepih hanya lewat Kompasiana, saya enggak pernah bertemu tubuh dengan orang yang gemar catur dan hobi menyemangati para penulis pemula seperti saya.

Pernah dalam bincang-bincang bersama kompasianer, saya mendapat info Kalo kang Pepih begini begitu.

Answered Apr 7, 2017

Question Overview


10 Followers
4758 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Bagaimana menjaga objektivitas seorang Jurnalis?

Apa perbedaan antara jurnalisme televisi dan jurnalisme cetak?

Benarkah peran media mainstream semakin terdesak oleh media sosial yang kontennya diisi para netizen?

Benarkah peran media arus utama atau media mainstream semakin terdesak oleh media sosial yang kontennya diisi para netizen?

Kenapa pemberitaan setiap media nasional memiliki perspektif berbeda?

Siapa Itu Sukarni Ilyas yang dikenal dengan nama "Karni Ilyas"?

Apa yang dimaksud dengan 5W 1H dalam menulis berita?

Apa yang disebut "Nilai Berita" atau news value?

Siapa Jakob Oetama dalam dunia jurnalistik dan media Indonesia?

Apa yang membuat Larry Page (pendiri Google) berbeda dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Sergey Brin (pendiri Google) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Steve Jobs (pendiri Apple) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Steve Wozniak (pendiri Apple) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Elon Musk (pendiri Tesla Motors dan SpaceX) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Mengapa menteri ekonomi di Indonesia banyak yang berasal dari FE Universitas Indonesia?

Siapa lebih baik: Karen Agustiawan (Mantan CEO Pertamina) atau Sri Mulyani (Menteri Keuangan)?

Bagaimana peran orang-orang terdekat di balik kesuksesan seorang tokoh?

Siapakah orang yang paling berpengaruh dalam hidup Anda?

Apa yang harus saya lakukan apabila terdapat "bugs" atau fitur yang tidak bekerja pada Selasar?

Apakah Selasar mengikuti Quora?

Bagaimana cara mendaftar masuk Selasar?

Mengapa Selasar menggunakan pertanyaan dan jawaban berbahasa Indonesia?

Jenis pertanyaan dan jawaban seperti apa sajakah yang dilarang di Selasar?

Bagaimana cara mengganti profil dan memunculkan short bio di Selasar?

Mengapa Selasar bisa sangat berpengaruh positif untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban?

Jawaban dan pertanyaan seperti apa yang pantas tampil di Selasar?

Apakah Selasar dapat mengakomodasi keinginan seorang ahli untuk meningkatkan personal branding?

Apa yang paling membedakan Selasar dengan media sosial/platform lainnya?