selasar-loader

Apa suka duka puasa bagi anak rantau yang tinggal sendiri?

Last Updated May 27, 2017

2 answers

Sort by Date | Votes
Pepih Nugraha
Selalu merindukan saat puasa Ramadan tiba

84dyiQJ078aB-eW1zL4BAI30xE5CHVhw.jpg

Ini pengalaman saya sebagai anak rantau. Tepatnya saat menjadi mahasiswa di Bandung pertengahan tahun 1980-an. Konteksnya tentu saja saat Ramadan tiba, bulan penuh rahmah, bahkan bagi saya, bulan yang penuh berkah dan gairah. Jujur, saya jatuh cinta (meski bukan yang pertama), saat Ramadan tiba, tepatnya saat sholat tarawih bersama.

Jadi, ada semacam perbedaan antara masa-masa SD, SMP, SMA saat bersama orangtua dengan saat harus merantau di Bandung karena kuliah. Jarak kampung halaman sebenarnya tidak terpaut jauh, hanya sekitar 80 kilometer. Tetapi, jarak itu tidak mungkin ditempuh pulang-pergi menggunakan kendaraan umum "Elf" yang bisa memakan waktu 3-4 jam sekali jalan. Jadi ngekos-lah saya.

Nah, saat Ramadan tiba, saya perlu berjuang untuk sekadar makan sahur. Saya tidak memasak dan hanya membeli makanan dari warung. Persoalannya, hanya beberapa warung saja yang buka untuk makan sahur. Belum lagi karena kunci pagar masih digembok, saya sering memanjat pagar besi untuk bisa makan sahur di warung. Ibu kost dan anak-anaknya makan di dalam rumah, sementara saya menempati paviliun di lantai dua. Ibu dan bapak kost baik sih, sering menawari saya makan, khususnya saat berbuka. Tetapi tidak saat sahur.

Kalau berbuka puasa, saya bisa di mana saja. Sepanjang jalan Dipati Ukur banyak orang menjual makanan untuk ta'jil. Dari ribuan mahasiswa dan penduduk yang memadati jalan itu, boleh jadi salah satunya saya. Uniknya, paling yang saya beli kolak ubi dan kolang-kaling yang kuahnya pakai gula merah, tetapi tidak seenak bikinan Ibu di rumah. Biasanya saya sholat maghrib terlebih dahulu, baru kemudian berburu untuk makan. Tentu saja makan ala mahasiswa. Warung "Sumedang" menjadi langganan saya. Menu favorit saya limpa goreng atau hati sapi semur. Serba jeroan!

Oh ya, saya jarang ngumpul sama mahasiswa-mahasiswa. Saya cenderung "penyendiri" saat kuliah. Kalau pun ada yang menemani, ya..... you know me so well lah... Saya lebih suka membenamkan diri dalam bacaan. Apa saja saya baca, kemudian saya mengetik, membuat tulisan, menggunakan mesin tik Brother yang berisik, tak tik tak tik.... Tetapi, suara itulah sumber rezeki saya. Saya biasa menghidupi diri sendiri dengan cara menulis di berbagai media massa.

Alhamdulillah. Ada saja naskah yang dimuat. Jadi honor yang saya terima salah satunya untuk makan-makan dan membeli buku atau buat langganan Kompas, Majalah Tempo dan Prisma. Bagi saya, ketiga media itu wajib saya baca. Karena ingin mendapatkan suasana bulan Ramadan ala kampung di mana tersedia berbagai hidangan yang dibuat Ibu (sekarang sudah almarhumah), maka jika tidak ada kuliah, saya pasti pulang kampung. 

Itu sebabnya saya tidak mengikuti ekstra kurikuler atau kegiatan mahasiswa yang menggunakan hari libur, kecuali ikut paduan suara mahasiswa di fakultas. Nah, baru "ngeuh", gini-gini juga saya bekas penyanyi, paling tidak penyanyi paduan suara. Biar suara jelek dan sering fals, toh ketutup sama suara-suara keren temen-temen anggota paduan suara lainnya.

Selamat berpuasa!

Answered May 28, 2017
Shendy Adam
Birokrat, pemerhati politik, pencinta sepak bola.

WLo8wfqPl43Hav0_OxItFJBCbzslHmao.jpg

Menjalani empat kali ramadan selama merantau di Jogja ada banyak memori tertinggal. Yang paling saya sukai dari ramadan di perantauan adalah berkurangnya pengeluaran untuk makan. Hampir setiap hari saya dan beberapa teman berbuka puasa bersama di masjid. Kami rela datang lebih awal ke masjid, selain mengincar pahala dan tambahan ilmu, sajian makan gratis sulit untuk dilewatkan begitu saja. 

Kebetulan kos saya di kawasan Pandega Siwi, Jalan Kaliurang, tidak terlalu jauh dari Masjid Nurul Islam. Menu buka puasa gratisan di sana terbilang istimewa. Tidak jarang saya mendapat jatah nasi bungkus dari rumah makan padang Sederhana ataupun Gudeg Yu Djum. Dua rumah makan itu terbilang mewah untuk ukuran kantong mahasiswa.

Pengeluaran untuk makan berkurang drastis hanya tinggal untuk satu kali (sahur). Dari penghematan ini biasanya saya sisihkan untuk ongkos pulang ke Jakarta, dari yang biasanya naik kereta jadi bisa naik pesawat.

Kalau soal cerita duka di saat ramadan, saya pernah sakit typhus hingga harus dirawat di Rumah Sakit. Sebetulnya saya tidak betul-betul sendiri di Jogja, tapi ada saudara sepupu dari Kalimantan yang juga sedang studi di Kota Pendidikan itu. Tapi pada saat saya sakit itu pas dia sudah pulang ke Balikpapan, karena memang sudah mendekati Iedul Fitri. Untungnya ada teman-teman yang sangat baik. Mereka bergantian datang ke RS dan menemani saya.

Ibu saya tadinya mau menyusul untuk menunggui/menemani di RS, tetapi saya larang karena akan sangat merepotkan di saat periode mudik sudah mulai berlangsung. Syukur Alhamdulillah saya cepat pulih dan bisa keluar dari RS, beberapa hari sebelum lebaran. Di hari yang sama saya langsung meluncur ke bandara untuk mudik ke Jakarta.

 

sumber gambar: cdninstagram.com

Answered May 30, 2017