selasar-loader

Apa menu yang paling Anda suka ketika berbuka puasa?

Last Updated May 20, 2017

5 answers

Sort by Date | Votes
Zenia Zn
Mahasiswa Manajemen Komunikasi di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta

Es Buah.

Es buah di buat dari bahan dasar campuran buah-buahan kemudian di campur dengan sirup, susu, dan bahan lainnya sehingga menghasilkan rasa yang segar sekali untuk menjadi pelepas dahaga setelah satu hari berpuasa.

Jadi tak heran jika es buah menjadi minuman favorit orang Indonesia saat berbuka puasa.

Answered May 22, 2017
Annisa Sri Aulia Mutiara
Pecinta sepakbola. Penikmat sastra.

9SOJsP43Pu35_tUMaX3vxRaK7E_yZNsF.jpg

Es kelapa!

Karena saya tipe orang yang mudah haus ketika berpuasa, maka ketika waktu berbuka puasa tiba, saya langsung menyerbu minuman-minuman yang dihidangkan. Uniknya, keluarga saya memiliki menu andalan yang pasti ada di setiap harinya ketika bulan Ramadhan, yaitu es kelapa. Meskipun ada minuman-minuman lain yang dihidangkan, tetapi es kelapa menjadi menu wajib yang pasti ada.

Rasanya yang segar dan manis membuat rasa haus selama seharian berpuasa pun hilang. Maka, rasanya ketika meminum es kelapa saat buka puasa adalah..... Alhamdulillah, ya Allah. Hehehe.

 

sumber gambar: kedaikayumanis.com

Answered May 26, 2017
Venusgazer E P
A man who loves reading, writing, and sharing

8KCETkqrKcOjW5CiN4EzFSjxBD2ZIU6M.jpg

Semasa di Brunei saya selalu ikut berpuasa dan tentu saja menikmati menu buka puasa. Minuman favorit adalah Air Kausar. Minuman ini belum pernah saya temui di Indonesia.

Air Kausar biasanya dijual dalam botol-botol di pasar rakyat atau bazar yang menggelar jajanan untuk berbuka puasa. Warna Air Kausar putih dengan rasa susu yang ringan.  Saya kurang paham bahannya susu sapi biasa atau susu kedelai. Di dalamnya terdapat butiran biji selasih. Ada aroma pandan atau pisang yang menggugah selera.

Paling nikmat diminum dingin tanpa campuran es. Pokoknya mankyusss...

Gambar via imgrum.net

Answered May 27, 2017

        yyJft2wiHud1dEPqfRdCxVdXHQQHiOVC.jpg

        Credit image : tumblr.com

 

     Terdapat banyak menu yang saya sangat sukai ketika berbuka puasa. Dari sekian menu tersebut, dapat dibagi menjadi beberapa menu seperti menu ringan, sampai menu berat sekalipun. Tetapi jika ditanya apa menu yang paling saya sukai ketika berbukai puasa jawabannya adalah gorengan.

     Di hari-hari biasa saya memang penggemar berat gorengan. Mulai dari risolis, pisang goreng, tempe goreng, bakwan goreng, tahu goreng, combro, sampai ke cireng goreng, saya menyukai semuanya. Di bulan puasa ini, gorengan menjadi menu wajib yang harus tersaji di meja makan ketika saya berbuka puasa. Meskipun makanan ini tergolong makanan berminyak yang tidak baik untuk kesehatan, namun sulit untuk saya menghindari pesona si gorengan ini. Selain karena bahannya mudah didapatkan—saya juga suka membelinya jika tidak sempat—gorengan pun cemilan yang enak dan membuat saya kenyang. Apalagi ketika disajikan selagi hangat, dengan cabe rawit, kelezatan si gorengan ini semakin menjadi-jadi.

    Walaupun begitu, saya sebenarnya tidak menganjurkan siapapun untuk mengonsumsi gorengan ini secara terus menerus. Saya pun akan berusaha untuk mengurangi konsumsi gorengan dengan mengantinya dengan menu yang lebih sehat lainnya.

 

Selasar Taria Ayu Lestari Macbook

Answered May 28, 2017
Amril Taufik Gobel
Smiling Blogger (www.daengbattala.com) , lovely husband, restless father

Su_ZLgw-WR8tS-4uDrD16DD53nR4MQfP.jpg

sumber foto: imgrum.net

Inilah salah satu jenis makanan khas Gorontalo yang senantiasa saya rindukan saat bulan Puasa tiba.

Kerapkali ibu saya tercinta membuatkan makanan khas Gorontalo ini di Bulan Ramadhan, khususnya pada waktu Sahur. Konon kabarnya, cita rasa manis yang ditawarkannya memberikan efek “daya tahan” lebih baik dalam berpuasa. Pada saat berbuka, saya juga menyantap Tiliaya, setelah sebelumnya disimpan didalam lemari es. Rasanya begitu segar dan segera melerai dahaga. Biasanya hidangan ini disajikan didalam wadah aluminium. Acapkali pula menjadi “pasangan” nasi kuning bila ada perhelatan acara ulang tahun atau Selamatan keluarga.

Tiliaya senantiasa menjadi favorit utama keluarga kami dalam melaksanakan sahur maupun berbuka. Sebagai hidangan penutup Tiliaya (biasa disebut juga Sarikaya) menjadi pamungkas yang manis dan lezat setelah mengunyah “makanan berat”. Biasanya hidangan Tiliaya ibu saya habis setelah dua hari, dan “diproduksi” kembali untuk menjadi santapan andalan keluarga. 

Konon kata ibu saya, asal kata Tili Aya itu berasal dari kalimat bahasa Gorontalo “To Tili Li Aya” atau Setiap Bulan Puasa Berada Selalu di Dekat Ayah. Entah benar atau tidak maknanya yang jelas, Tiliaya menjadi santapan spesial ayah saya dan tentu saja saya (apalagi saat ini sudah menjadi ayah  Pada grup WA Keluarga Gorontalo, minggu lalu, seorang anggotanya memasang posting “Rindu Tiliaya” seraya memamerkan foto sebagaimana tertera diatas. Mendadak kerinduan saya pada Tiliaya datang membuncah. Istri saya dengan senang hati membuatkan saya Tiliaya dengan resep yang diambil dari sini.

Sebagaimana tertera di panduan pembuatannya, meracik Tiliaya ternyata sangat mudah. Berikut kutipannya:

Bahan:

Kelapa                        1 butir diambil santan kanilnya 1 gelas

Gula merah                500 gr diparut

Telur ayam                 5 butir

Cara Membuat:

Telur dikocok dengan gula merah hingga seluruh gula merah larut, masukkan santan kanil dan aduk hingga merata. Pada waktu mengaduk santan dengan adonan telur tidak disarankan mempergunakan mixer, kemudian masukkan dalam cetakan dan dikukus selama 30 menit

Pada saat sahur tadi pagi, saya menyantap Tili Aya buatan istri saya. Rasanya tak kalah dengan buatan ibunda saya di Makassar. Akhirnya, Rindu saya pada Tiliaya, terlampiaskan juga …

Answered May 28, 2017