selasar-loader

Bagaimana ceritamu/kesan berinteraksi dengan anak-anak ID (intellectual disabilities)?

Last Updated May 17, 2017

1 answer

Sort by Date | Votes
Ahmad Taufik
Interventionist

R1anpdYrlaqo3mGRUGjXSQkklOUtO75Q.jpg

8 April 2013

"Bagaimana? Kamu happy ama kerjaanmu?," tanya Mbak Stella memulai percakapan kami sore itu. Pertanyaan pembuka cerita yang jawabannya pasti selalu berubah seiring waktu dan perkembanganku.

"Sejauh ini happy si Mbak, aku diberi kesempatan kerja di desa, mencoba membantu mengembangkan potensi potensi mereka, tapi yah gitu sampai saat ini aku belum merasa berbuat apa apa. Harapan masyarakat terlalu tinggi terhadap kami Mbak, namun di sisi lain mereka sangat susah memegang komitmen yang mereka buat sendiri," jawabku menumpahkan kegelisahan hati terhadap tantangan kerja.

"Eits, mungkin kamu harus banyak belajar mengenal mereka, kamu pasti menyadari bahwa faktor budaya sangat berpengaruh, dan kamu dituntut untuk bersabar." Yak, jawaban Mbak Stella ini cukup membuat pikiran ini menerawang mengevaluasi diri terhadap tindakan yang pernah kulakukan.

Percakapan berlanjut membahas tentang karakter-karakter masyarakat Mandailing Natal dan program-program ComDev yang telah kujalani. Mulai dari tantangan, harapan, dan evaluasi program. Karena merasa semua topik sudah dibahas, perut pun kenyang, haus pun hilang, pertemuan kali ini ditutup dengan suatu janji pertemuan. Kunjungan ke SLB-C PLK Swakarya pada esok harinya.

10 April 2013,

Dear Mbak Stella, 

Sedikit ku bercerita tentang pengalaman interaksiku dengan anak-anak yang ID (intellectual disabilities). Sewaktu aku mendengar ID, pikiranku melayang pada suatu wajah yang sangat melekat dalam ingatan masa kecilku. Dia ialah B, dia ini sangat dekat dengan keluargaku, sangat dekat malah. Menurut ibu dan nenekku, sewaktu ia berusia balita, B terjatuh dari tempat tidur dan sayangnya kepala belakangnya membentur lantai. Untung tak dapat diraih, malang pun tak dapat ditolak. Ia tumbuh dengan keterbatasan.

B, ia ini senang sekali bercerita. Setiap kali ku mendengar ceritanya, aku menilai ia ini punya pengetahuan yang sangat luas, ceritanya seakan nyata. Bahkan, orang-orang selalu memberinya sebatang rokok agar ia mau bercerita.

Suatu titik, seiring dengan perkembanganku, aku sudah tidak tertarik dengan ceritanya. Aku menilainya seorang pembual, bermulut besar, dan berbau tembakau. Aku pun ikut-ikutan meniru teman-temanku memperolok-olok dirinya. Entah apa yang ada dalam pikiranku saat itu, entah kebencian, rasa malu, entahlah.

Saat bulan Ramadan tahun pertama kuliah.

"Dek, maafin si B ya, beberapa hari sebelum dia meninggal, dia pernah bilang taragak jo ang”, suatu kalimat pembuka dari ibu di seberang pulau sana.

Seketika berkelebat muka B, ceritanya di tengah-tengah riuh gelak tawa teman-teman kampus dalam acara Bukber. Kusadari bola mataku panas saat itu, dan pada saat itulah timbul rasa penyesalan yang sangat mendalam. Keinginan kuat untuk mengulurkan tangan dan berucap ,"Maafkan aku Mak, ku doakan kau mencium tanah Mekah seperti yang sering kau ceritakan."

Dear Mbak Stella,

Setiba di sekolah Swakarya, jujur Mbak, ada sedikit ketakutan dalam diriku, takut memposiskan diri, bersikap untuk berinteraksi dengan mereka. Namun, ketakutan itu tidak bertahan lama, aku sangat terhibur dengan semangat mereka yang menenun kain, ocehan lucu A*n dan K*m*l, polosnya N*nd* mengulek-ulek tepung dan khususnya semangat Fitrah menaburi klepon dengan kelapa.

Hallo anak bangsa Swakarya
Selamat pagi calon penghuni Surga
Kalian adalah guru
Tolong ajarkan kami cara berkenalan dengan sikap tulus hilangkan semua kepentingan
Kalian adalah sempurna Mahakarya
Tolong ajarkan kami tersenyum manis melihat tatapan tatapan aneh dan bringasnya dunia
Kalian adalah penutur kata yang hebat
Tolong ajarkan kami berkata benar, jujur, apa adanya demi menghapus semua kebohongan yang mengaburkan kenikmatan dan kebahagian hidup serta topeng topeng actor dunia
Kalian adalah suritauladan yang sederhana
Tolong ajarkan kami semangat hidup untuk bisa menjadi pribadi yang bermakna
Terimakasihku
Salam rindu untuk kembali
Cerita disadur dari:  Note FB Pribadi
Pic via : https://www.nmdhb.govt.nz/hospitals-and-community-services/

Answered May 17, 2017