selasar-loader

Mengapa Anda memilih untuk pindah menulis ke Selasar?

Last Updated May 16, 2017

Khususnya untuk para penulis blog di Indonesia, apa alasan penting yang membuat Anda pindah dari platform menulis sebelumnya ke selasar?

2 answers

Sort by Date | Votes
Hilman Fajrian
Founder Arkademi.com

ztbQ4I-n9djatckgFNPt-jOwRpD0ljys.png

Untuk menemukan jawaban yang benar, Anda harus mengajukan pertanyaan yang tepat. Selasar adalah ground zero-nya.

Selasar menurut saya adalah the next big thing di Indonesia dan salah satu startup paling hot 2017. Popularitasnya sebagai platform literasi memang tidak sepopuler e-commerce dan on-demand service misalnya, plus mengingat tingkat literasi di Indonesia masih rendah. Namun, berbagai indikator menunjukkan bahwa social learning di Indonesia terus tumbuh dan punya masa depan yang sangat baik. Selasar juga memilih sebuah niche yang belum digarap secara serius di Indonesia tapi sudah proven di dunia: A2A platform sebagai search cost business. A2A menjadikan social learning menjadi lebih mudah dilaksanakan.

Pengetahuan, wawasan, dan pengalaman perlu dipertukarkan secara lebih luas dengan cara-cara baru agar peradaban kita bisa lebih maju. Salah satu cara terpentingnya adalah menekan biaya informasi -- dan itulah yang dilakukan Google. Pengetahuan punya 6 komponen dasar: what, who, when, why, where, dan how. Itu sebabnya platform social learning seperti Wikipedia, Wikihow, dan Quora mengeksploitasi dan mendominasi kata-kata kunci ini. Hal yang sama juga dilakukan oleh selasar khusus pada kata kunci Bahasa Indonesia.

Saya juga melihat selasar tumbuh di jalan yang benar sebagai sebuah startup; memiliki SDM grade A dan menerapkan strategi yang memastikan mereka akan menjadi pemain besar di masa depan. Dengan demikian, menjadi early adopter pada sesuatu yang akan menjadi besar di masa depan adalah sebuah kesenangan atau kebanggaan tersendiri --- bila bukan sebuah taktik.

Di masa-masa awal ini, selasar berhasil mengakuisisi para tokoh, profesional, dan akademisi high profile untuk menulis, yang kemudian menjadi center of gravity untuk mencapai pertumbuhan akuisisi user. Hal paling kontras yang membedakan antara selasar dengan social blog adalah bagaimana cara informasi itu dipertukarkan. Soal "cara" ini menyangkut berbagai aspek, mulai dari platform, teknologi, metode, kurasi, moderasi, akuntabilitas, hingga code of conduct.

Akuntabilitas dan kredibilitas yang ditawarkan melalui subjective wisdom para first hand akan menjadi preposisi dan kekuatan brand selasar yang sangat sulit diduplikasi oleh pihak lain. Jadi, bila Anda ingin bergabung ke dalam komunitas pengetahuan yang memiliki akuntabilitas dan kredibilitas yang akan terus membesar dan jadi platform social learning nomor 1 di Indonesia di masa depan, selasar adalah ground zero untuk itu.

Yang tak kalah penting adalah siapa orang yang berada di balik selasar. Yang saya tahu, mereka adalah orang-orang yang memiliki segala potensi yang dibutuhkan untuk menciptakan (perusahaan) masa depan. Beberapa adalah kawan lama saya yang rela meninggalkan kenyamanan di korporasi besar tempat mereka dulu bekerja demi bergabung ke selasar --- sebuah startup yang hendak menciptakan masa depan sekaligus memiliki ketidakpastian tinggi. Di tangan orang-orang ini, saya yakin selasar akan besar dan menjadi early adopter tidak akan menjadi upaya sia-sia.

Saya adalah salah satu penulis di social blog terbesar Kompasiana bersama 300.000 lebih penulis lainnya. Dari 89 tulisan dalam 2 tahun, 70% di antaranya menjadi headline. Saya berteman baik dengan para pengelolanya dan pernah melakukan pekerjaan bersama. Mereka adalah orang-orang yang hebat yang berada di antara penulis-penulis hebat Kompasiana. Saya juga tak punya rencana pindah menulis dari Kompasiana ke Selasar. Namun sejak kemunculan Selasar, saya lebih produktif di Selasar ketimbang Kompasiana. Karena ada lebih banyak kebutuhan saya yang terpenuhi di Selasar.

Memang ada beberapa hal yang masih belum bisa dipecahkan oleh selasar -- dan mungkin sebagian memang tidak harus mereka pecahkan -- tapi terpecahkan melalui social blog. Misalnya bagaimana para penulis yang selama ini terbiasa dengan pengungkapan gagasan lewat artikel yang panjang lebar, bisa mengadopsi dan beradaptasi pada format tanya-jawab (untuk artikel panjang, selasar punya jurnal). Atau masih kurangnya program-program insentif seperti lomba menulis. Bahkan, saya juga tidak melihat ada rencana di selasar agar user bisa melakukan monetization lewat traffic seperti halnya social blog lain --- dan menurut saya, selasar memang tidak perlu melakukannya.

Bagi Anda yang ingin meningkatkan reputasi lewat penyebaran konten-konten pengetahuan yang akuntabel dan kredibel, di masa-masa awal ini bahkan selasar sudah tumbuh melampaui ekspektasi. Saya pernah melakukan eksperimen AB testing secara sederhana. Saya menulis sebuah artikel dan mempublikasikannya ke selasar dan dua social blog besar. Hasilnya, jumlah pembaca artikel saya di selasar jauh lebih banyak dibanding dua yang lain. Padahal, selasar tidak melakukan boost pada artikel saya melalui social ads agar mendapatkan view yang unorganic. Seluruhnya organik. Apalagi, belakangan ini saya pantau selasar sering melakukan boost pada konten-konten unggulan melalui social ads (ssshhhttt... kayaknya duit selasar untuk marketing juga lebih banyak dibanding yang lain).

Sampai hari ini, saya mendapat banyak tawaran menjadi penulis di berbagai social blog, mulai dari yang masih tahap validasi sampai yang sudah populer, mulai dari yang buatan Indonesia sampai buatan orang asing. Tapi, saya juga tetap belum bergabung. Karena saya mesti memperhitungkan masa depan mereka agar yang saya lakukan tidak sia-sia, dan apakah yang mereka sediakan sesuai dengan apa yang saya butuhkan. Tapi kepada selasar, tak perah terbetikpun sedikit ragu.

(foto via dribble.com)

Answered May 16, 2017

5y_t6PgWjN1VEFZiCrBGcOEYjIYyMwGp.jpg

Saya pikir, pindah atau nggak itu sepertinya hal yang cenderung abu-abu bagi saya. Beberapa platform lain dan Selasar mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri. Saya pikir, suatu saat, selasar akan mencapai titik jenuh jika telah "berumur", terlepas dari status selasar ini yang merupakan sebuah platform baru. Beberapa blogger yang gemar menulis diketahui memang suka menulis di manapun mereka mau atau bahasa jeleknya: 'kutu loncat'. Jadi, agaknya, situs selasar ini merupakan satu "alternatif" ketimbang "tujuan akhir".

Tapi terkadang, ada blogger yang memutuskan berhenti (menulis) pada platform tertentu dan pindah ke platform lain dikarenakan beberapa pertimbangan.

  • Keinginan mencoba platform baru
  • Merasa terbatasnya lingkup tulisan dan penulis di sana
  • Platform sering error karena harus mengakomodasi banyak hal (seperti selasar yang bisa login menggunakan akun FB atau Google) jadi ketika ada perubahan sistem akan berimbas pada hal lainnya
  • Pertimbangan monetisasi (imbalan) tulisan; dan
  • Ingin mengenal orang baru, dsb.

Saya sendiri belum merasa perlu menulis di selasar, kecuali menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Hehehe.

(sumber gambar: typingvidya.com)

Answered May 16, 2017

Question Overview


4 Followers
697 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Apa yang harus saya lakukan apabila terdapat "bugs" atau fitur yang tidak bekerja pada Selasar?

Apakah Selasar mengikuti Quora?

Bagaimana cara mendaftar masuk Selasar?

Mengapa Selasar menggunakan pertanyaan dan jawaban berbahasa Indonesia?

Jenis pertanyaan dan jawaban seperti apa sajakah yang dilarang di Selasar?

Bagaimana cara mengganti profil dan memunculkan short bio di Selasar?

Mengapa Selasar bisa sangat berpengaruh positif untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban?

Jawaban dan pertanyaan seperti apa yang pantas tampil di Selasar?

Apakah Selasar dapat mengakomodasi keinginan seorang ahli untuk meningkatkan personal branding?

Apa yang paling membedakan Selasar dengan media sosial/platform lainnya?

Apa yang disebut "Nilai Berita" atau news value?

Bagaimana cara agar hits suatu web bisa tinggi?

Apa yang membuat orang betah berlama-lama di suatu situs/web?

Bagaimana cara meningkatkan jumlah pengunjung di blog?

Apa Content Management System (CMS) populer untuk Blog?

Bagaimana perkembangan Wordpress kini dan apakah Wordpress sebagai platform blogging masih relevan saat ini?

Seberapa kenal Anda dengan Matt Mullenweg pendiri Wordpress dan apa kesan Anda mengenai orang ini?

Apa yang harus dilakukan untuk menjadi seorang Blogger?

Mengapa saya harus membuat akun Selasar?

Apa yang anda ketahui tentang Multiply.com?

Apa manfaat menuangkan pikiran/isi hati ke dalam tulisan bagi Anda?

Bagaimana aturan dalam menulis ulang konten dari bahasa asing ke Bahasa Indonesia?

Apa yang dimaksud dengan growth hacker?

Apakah kehadiran seorang growth hacker penting dalam sebuah startup digital?

Apa fungsi utama seorang growth hacker?

Apa yang dimaksud dengan growth hacking?

Siapakah menurut Anda yang akan memenangkan kompetisi di Indonesia; Go-Jek, Uber, atau Grab?

Bagaimana cara melakukan usability testing untuk sebuah produk digital?

Seberapa penting usability testing dalam proses pembuatan sebuah produk digital?

Apa yang dimaksud dengan usability testing?

Apa perusahaan teknologi terbaik di Indonesia?

Mengapa banyak orang India menjadi CEO perusahaan digital internasional?