selasar-loader

Siapa Dosen favorit Anda ketika menempuh studi di jenjang sarjana (S1)?

Last Updated Nov 23, 2016

7 answers

Sort by Date | Votes
x y
Tukang Nujum Cabul

Hasil gambar untuk BAPAK DOSEN

Sumber (SUM)

Saya mengenyam bangku jenjang sarjana beberapa kali, di berbagai tempat, namun yang paling berkesan adalah saat di Universitas Indonesia, di mana saya sibuk belajar bagaimana bergaul, berorganisasi, memenangkan teman dalam pemilihan ketua senat, dan yang paling penting, bagaimana nyepik.  Masa kuliah di UI adalah masa di mana saya belajar menjadi orang yang bisa bersosialisasi dan bisa dekat dengan perempuan.

Ketika masa ini, saya mengikuti kelas seorang dosen, sebut saja namanya Budi (bukan nama sebenarnya), yang entah kenapa seringkali pendapatnya sungguh menggiurkan untuk dibantah, didebat, dan ditelanjangi. Sebagai orang yang lebih sering nongkrong di kantin daripada belajar di kelas, kehadiran Pak Budi ini cukup menghibur.

Beliau adalah tipe dosen yang menganggap teori-teori ilmiah sebagai kebenaran sejati yang tidak perlu dipertanyakan lagi keberlakuannya. Ini tentunya bertentangan sekali dengan yang selama ini saya jalani, di mana teori ada untuk dipahami, dikritisi, (kalau bisa) dibantah, dan (kalau sudah cukup paham tentang segala esensinya) ditertawai.

Pak Budi dan segala pandangan konservatifnya mendorong saya untuk menghabiskan waktu, bermalam-malam, begadang di warnet untuk mencari papers terbaru yang menelanjangi teori-teori klasik yang diajarkan di kelas. Pada masa itu, mencari papers dan textbooks di internet jauh lebih sulit daripada sekarang tetapi saya bersyukur bahwa saya bisa mendapatkan buku-buku terbaru, paper-paper terbaru, dan menemukan batasan-batasan tentang teori-teori klasik dalam buku yang dijadikan acuan di kelas.

Berbekal berbagai pengetahuan ini, saya memberanikan diri mendebat semua yang diajarkan Pak Budi. Mulai dari asumsi-asumsi yang dipakai, batas-batas keberlakuan sebuah teori, sampai menabrakkan pandangan filosofis yang dimiliki penulis buku acuan dengan buku-buku lain yang saya dapatkan dari internet.

Pada awalnya, ini cuma sekedar keisengan, sebuah cara untuk mengatasi kebosanan akibat kelas yang amat monoton dan pengajaran yang ortodoks. Namun, dari kebiasaan untuk mencari pembanding yang bisa dipakai membantah Pak Budi, akhirnya saya terbiasa berpikir kritis untuk mampu membedah materi ajar yang disampaikannya. Tentunya, sikap kritis ini menjadikan saya mahasiswa yang sulit lulus, sampai harus mengulang beberapa kali. Namun, saya curiga kalau bukan karena keisengan yang lahir dari kebosanan dan pemberontakan atas pengajaran yang ortodoks ini, saya tidak akan bisa menikmati karier saya sekarang.

Kiranya pencapaian kita saat ini sungguh dibangun atas kerja keras semua orang yang hadir di masa lalu kita dan bagaimana kita bisa menyikapi kehadiran mereka. Mungkin kalau tidak bertemu orang-orang yang bisa mendorong saya untuk berpikir kritis dan tajam menganalisis masalah, saya sampai sekarang cuma tukang marketing di MNC, hidup dari bulan ke bulan, berpolitik mempertahankan anggaran program.

Terima kasih Pak Budi.

Answered Nov 23, 2016
Achmad Zaky
Pendiri dan CEO Bukalapak

Hasil gambar untuk dosen

Bu Inge (Dr. Inggriani Liem), dosen Pemrograman Teknik Informatika ITB

Yang kuliah di jurusan IF ITB dan pernah diajar beliau, pasti merasakan betul bagaimana beliau menekankan pentingnya karakter dan mental. Dari beliaulah, saya mendapatkan esensi pendidikan, yaitu membuat mental anak didik meningkat dan jadi lebih percaya diri bersaing di kancah global. 

Answered Dec 6, 2016
Maria Margaretha
I am a Primary School Teacher. I love to learn and enjoy the journey of learning

Namanya Pujiati Gultom. Dosen saya ini, adil dalam penilaian, punya dignity. Hadir di kelas lebih awal dari mahasiswa, menguasai materi yang dibawakan dengan memberikan ruang pada mahasiswa untuk mengeksplor lebih jauh mata kuliahnya. Penampilannya sopan, rapi dan beliau juga peduli pada mahasiswanya. Beliau dosen di Universitas Kristen Imanuel Yogyakarta. Saat saya kuliah Pendidikan Agama Kristen. 

Waktu kuliah di PGSD Universitas Atmajaya, saya suka Ibu Gracia, beliau mengajar IPS 2 dan 4. Pemahamannya tentang materi dilengkapi dengan pengalaman pribadi dan perasaan yang dalam, karena ketertarikan beliau hal sejarah. Beliau membuat saya menghargai Indonesia. 

Answered Jan 18, 2017
laila marni
Less talk do more and keep smile

Ismail Nasution. Dia merupakan dosen saya dalam menulis kreatif di FBSUNP. Ia selalu mereview pelajaran yang telah berlalu. Dosen ini tidak mengenal kasta antara mahasiswa yang berprestasi dan tidak.

Answered Jan 23, 2017
Shendy Adam
Birokrat, pemerhati politik, pencinta sepak bola.

v5b-RStzayhNb6fJcUYDbY3dPsQHEdP9.jpg

(Alm.) Profesor Riswandha Imawan. Beliau adalah dosen saya di Jurusan Ilmu Pemerintahan (JIP) UGM. Sejujurnya, Ilmu Pemerintahan adalah pilihan kedua saya saat mendaftar di UGM. Target utama adalah Ilmu Komunikasi lantaran cita-cita menjadi jurnalis. Kalau ditanya mengapa memilih Ilmu Pemerintahan di urutan kedua, saat itu saya juga tidak tahu jawabannya. Random saja. Hehe.

Gagal masuk komunikasi, ternyata saya lolos di JIP. Rasa-rasanya, bukan saya saja yang masuk JIP sebagai pilihan kedua.

Pak Riswandha saat itu menjabat sebagai Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan. Ia mencoba melakukan re-branding, di antaranya dengan merenovasi ruangan dosen sehingga terkesan elegan dan mempopulerkan akronim JIP. Beliau juga sering menekankan pentingnya dignity and quality. Ia tak sudi melihat mahasiswanya minder kalau berhadapan dengan teman-teman dari jurusan populer seperti Komunikasi dan Hubungan Internasional.

Mata kuliah yang diampu beliau baru saya dapatkan di semester 3 kalau tidak salah. Namun, karena beliau adalah dosen wali saya, maka setiap awal semester, saya menemuinya untuk bimbingan dan konsultasi pengisian KRS. Karena semester 1 dan 2 mata kuliahnya sudah dipaketkan, maka pertemuan di awal semester itu biasanya hanya formalitas saja. Baru saat menginjak semester 3, kami dibebaskan memilih mata kuliah dan menentukan jumlah SKS. 

Saat itu saya berencana mengambil 21 SKS saja, karena takut tidak sanggup menjalankan beban tugas-tugas yang menumpuk. Padahal, IP saya sangat cukup kalau mengacu syarat mengambil 24 SKS. Pak Ris marah betul dengan pilihan saya. "Kamu kenapa ambil 21 SKS, Mas? Saya mau kamu ambil 27 SKS semester ini," ucapnya kala itu.

"Memangnya bisa, Pak, ambil 27? Bukannya maksimal 24?" tanya saya polos. 

"Bisa, kalau saya yang merekomendasikan, benar kamu mau?" jawabnya sekaligus tanya balik.

Seperti sedang negosiasi, akhirnya disepakati saya ambil 24 SKS. Sejak itu, saya selalu ambil SKS maksimal sampai lulus.

Kepakaran Pak Riswandha ialah dalam bidang pemilu, kepartaian, dan parlemen. Dia adalah dosen yang amat disukai semua mahasiswa. Tampangnya memang agak sangar, tapi pembawaannya santai. Celana jeans dan kemeja flanel menjadi pakaian andalannya saat mengajar.

Pria kelahiran Bangkalan itu juga sangat lucu. Seberat apapun materi kuliah, ia bisa membawakannya seperti orang yang sedang stand up comedy. Kadang perut kita sampai sakit karena terpingkal-pingkal mendengar candaannya yang suka menyerempet saru. Kenangan lain yang tidak saya lupakan adalah kalimat Eagles Flies Alone, yang sering ia gunakan di bagian akhir tulisan-tulisannya.

Dari kuliah-kuliah beliau juga saya akhirnya menemukan minat saya terhadap kajian partai politik dan perilaku memilih (voting behaviour). 

Kabar mengejutkan datang pada 4 Agustus 2006. Saat itu, saya sedang di Jakarta karena libur panjang semester. Pak Riswandha Imawan yang kami cintai dipanggil pulang oleh Allah SWT dalam usianya yang baru 51 tahun. Beliau wafat ketika ingin berangkat ke Kupang. Sempat pingsan di Bandar Udara Adi Sutjipto, namun nyawanya tidak tertolong.

Sulit menggambarkan bagaimana sedihnya saya saat itu. Tiga semester berikutnya yang saya jalani di JIP UGM sudah tidak sama lagi seperti ketika ada Pak Riswandha. Tidak bisa mengantar hingga ke peristirahatan terakhirnya, saya hanya mengirim doa untuk beliau. Semoga ilmu yang ia berikan menjadi amal jariah yang mengantarkannya ke surga.

Al fatihah...

Answered Mar 15, 2017
Reza Firmansyah
Mathematician. Writer. Futurist. Trying to leave good marks as my legacy.

q1Po0GqOH-Lf4M_hCy5tHTxUZuBgj060.jpg

Hampir semua dosen yang pernah mengajar saya memiliki kelebihan masing-masing.

Saya akan mencoba menyebutkan beberapa di antaranya:

1. Bu Kiki Ariyanti Sugeng (dosen Aljabar Abstrak): cara mengajarnya yang mumpuni dan cerita-ceritanya mengenai dunia matematika membuat saya bersemangat dalam mengikuti kuliahnya.

2. Bu Rianti Setiadi (dosen Statistika dan penulis buku Hadiah untuk Mama): pada awalnya, saya agak jengkel dengan mata kuliah yang berbau Statistika karena saya ingin fokus terhadap matematika murni. Namun ketika belajar Statistika di bawah ajaran beliau, saya menjadi sangat respect terhadap dunia statistika dan kontribusinya terhadap kehidupan. Salah satu hal favorit saya adalah ketika beliau mengutarakan dalam beberapa kuliahnya, "Jangan bingung dengan konsep abstraknya, intinya sebenarnya adalah.." kemudian dilanjutkan dengan analogi sederhana terhadap materi tersebut.

3. Bu Suarsih Utama (dosen Kalkulis dan Analisis): beliau mampu menghapal hampir semua mahasiswa di kelas-kelasnya dalam waktu cepat. Ditambah lagi semangatnya yang menggebu-gebu dalam mengajar membuat kita jadi ikut semangat dalam belajar.

 

sumber gambar: static6.com

Answered Jun 20, 2017

Belum menjalani

Answered Aug 11, 2017

Question Overview


9 Followers
1502 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Apa beasiswa yang terbaik di Indonesia saat ini?

Apakah ranking perguruan tinggi berpengaruh pada karier alumninya?

Mana yang lebih baik, perguruan tinggi swasta atau perguruan tinggi negeri?

Apa keuntungannya mengambil sekolah lanjutan di luar negeri dibanding di dalam negeri?

Pentingkah pemilihan jurusan yang spesifik untuk strata 1?

Bagaimana cara memutuskan antara bekerja, berbisnis, dan melanjutkan S2?

Apa hal fundamental yang diajarkan di perguruan tinggi strata 1?

Selain menjadi akademisi, karier apakah yang menuntut seseorang meraih pendidikan formal setinggi-tingginya?

Siapa Dosen favorit Anda ketika menempuh studi di jenjang pasca sarjana (S2 dan S3)?

Siapa Panji Anugerah Dosen Ilmu Politik UI?

Seberapa pentingnya mahasiswa berdiskusi dengan dosen di luar kelas dan seberapa sering kenyataannya diskusi itu terjadi?

Apakah skill atau keahlian paling utama yang harus dimiliki seorang dosen?

Apa cerita tak terlupakan dan mengesankan yang Anda alami dengan dosen Anda?

Bagaimana cara terbaik menjadi dosen perguruan tinggi dan apa syarat-syaratnya?

Apa yang unik, menarik dan menyenangkan dari gurumu atau dosenmu?

Kriteria-kriteria apa saja yang harus dimiliki seorang dosen agar cara mengajarnya disukai oleh mahasiswanya?

Siapakah pembimbing skripsi Anda?

Bagaimana sistem pendidikan di Jerman berlangsung selama Perang Dunia II?

Adakah kajian ilmiah tentang parfum?

Bagaimanakah cara yang tepat untuk menanggulangi kenakalan remaja?

Bagaimana cara yang tepat untuk menanggulangi kenakalan remaja, khususnya seks bebas?

Apa saja faktor yang menginspirasi bagi remaja untuk melakukan kenakalannya?

Apakah rehabilitasi sudah cukup untuk menghentikan pengguna narkoba yang sudah terjerumus?

Apa yang mempengaruhi kaum remaja untuk melakukan seks bebas?

Apakah bisa kita menghilangkan seks bebas di kalangan remaja?

Apa itu sistem pendidikan anak Montessori?

Pada usia berapakah anak akan mampu menyerap pendidikan seks usia dini dengan baik?

Apa itu gaudeamus igitur?

Perangkat apa saja yang diperlukan untuk membuat video perkuliahan di YouTube?

Mengapa Selasar bisa sangat berpengaruh positif untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban?

Hal apa yang paling membedakan research university dengan vocational university? Mengapa?

Mengapa jumlah jurnal ilmiah yang dilahirkan di Indonesia kalah jauh bila dibandingkan dengan negara lain?

Bidang keilmuan apa yang sampai sekarang kamu masih tidak pahami bahkan sedikitpun?

Apa penyebab ilmu biologi tidak menonjol di Indonesia?

Apa universitas di Indonesia dengan produktivitas jurnal ilmiah yang tinggi?

Apakah Anda mengetahui MOOC?

Manakah jenis tugas akhir favorit Anda sebelum memperoleh gelar sarjana?

Bagaimana sistem perkuliahan para mahasiswa sarjana Ekstensi?

Bagaimana Anda mendapatkan IPK tertinggi sewaktu kuliah?

Apa manfaat aktif organisasi selama masa kuliah yang Anda rasakan?

Apa nasihat Anda untuk remaja kuliahan sebagai bekal menghadapi masa depannya?

Bagaimana cara masuk UI (Universitas Indonesia)?

Bagaimana cara kuliah tanpa merepotkan orang tua?

Keisengan apa yang paling kamu ingat sebagai mahasiswa?

Apa yang paling kamu sesali dari masa-masa kuliah?

Bila kamu diberikan kehidupan kedua sebagai mahasiswa, apa yang akan kamu lakukan?

Bagaimana cara mendapatkan keringanan biaya kuliah?

Bila kamu ditakdirkan bebas finansial sebelum lulus kuliah, masihkah kamu kuliah?