selasar-loader

Mengapa Nabi Muhammad tidak mengizinkan Ali mempoligami Fatimah?

Last Updated Nov 16, 2016

8 answers

Sort by Date | Votes
Anonymous

Hasil gambar untuk istri bercadar

Karena:
1. Yang mau dipoligami Ali itu anaknya abu Jahal. Jadi secara politis akan memperburuk suasana
2. Berdasarkan literatur yang saya baca, Muhammad ingin menjaga "perasaan" Fatimah. Ia tidak ingin fatimah bersedih.

فاطمة بضعة مني يريبني ما أرابها ويؤذيني ما آذاها
“Fatimah adalah bagian dari diriku, menggoncangkan aku apa saja yang menggoncangkan dia, dan menyakitiku apa saja yang menyakitinya.” (Bukhori dan Muslim)

Keterangan: Fatimah mati muda. Setelah meninggalnya Fatimah (dan Muhammad), Ali memperistri banyak istri. Karena kuota istri dalam islam hanya 4 orang. Ali tetap hanya memperistri 4 orang dalam satu waktu. Siapa istri-istri Ali, kita bisa tanyakan di Selasar.

Gambar via myfitriblog.files.wordpress.com

Answered Dec 13, 2016
Pramudya Oktavinanda
A devoted disciple of Law and Economics, UChicago Style!

Hasil gambar untuk ali tidak mempoligami fatimah

Terlepas boleh poligami atau tidak, faktanya, Ali berhubungan seksual dengan wanita hasil rampasan perang (yang memang halal hukumnya dalam hukum Islam, walaupun tentunya ini bisa masuk kategori pemerkosaan dan sangat dilarang dalam konteks masa kini). Fakta ini direkam dalam Shahih Bukhari Hadis No. 4350. Mudahnya, saya salinkan saja di bawah ini bunyi hadisnya dalam bahasa Inggris:

"Narrated Buraida: The Prophet sent 'Ali to Khãlid to bring the Khumus (of the booty) and I hated 'Ali, and 'Ali had taken a bath (after a sexual act with a slave-girl from the Khumus). I said to Khalld, "Don't you see this (i.e., 'Ali)?" When we reached the Prophet, I mentioned that to him. He said, "O Buraida! Do you hate 'Ali?" I said, "Yes." He said, "Don't hate him, for he deserves more than that from the Khumus."

Khumus adalah bagian 1/5 dari rampasan perang yang wajib diberikan kepada negara. Dalam kasus ini, Buraida tidak menyukai Ali karena dianggap sudah mengambil duluan salah satu wanita dari hasil rampasan perang tersebut di mana Nabi kemudian menyampaikan bahwa itu tidak apa-apa bagi Ali. Dalam kisah ini Khalid bin Walid sudah bergabung dengan Islam dan dengan demikian Ali juga sudah dalam pernikahan dengan Fatimah. Bahwa kemudian poligaminya dilarang tidak menyebabkan budaknya tidak bisa dinikmati. Masalah tafsirannya bagaimana dari sudut pandang cinta dan sebagainya saya serahkan kepada pembaca.  

Ilustrasi via wordpress-static.prelo.co.id

Answered Dec 26, 2016
Agil (Ragile) Abdullah
orang NU dan belajar Sufi

Hasil gambar untuk ali dan fatimah

Mungkin beliau tidak rela anaknya dimadu dan itu tanda-tanda poligami lebih baik dihindari.

 

Ilustrasi via hipwee.com

Answered Jan 5, 2017
Ricky Jenihansen
Adventurer, Journalist, Student and Researcher

Hanya Nabi Muhammad yang tahu, tapi mungkin Ali dinilai belum mampu berlaku adil.

Answered Jan 16, 2017

Afwan..... Jawabanya tidak ada yg tahu.. Kecuali nabi Muhammad saw

Answered Aug 15, 2017

Yeni wulan sari

11171040000027 

Fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan 

Ilmu keperawatan

Poligami itu dibolehkan dalam Islam. Seseorang yang tidak mau berpoligami atau wanita yang tidak mau dipoligami, itu tidak mengapa namun jangan sampai ia menolak syariat poligami atau menganggap poligami itu tidak disyariatkan. Sebagian orang yang menolak syariat poligami seringkali berdalih dengan Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu yang tidak melakukan poligami. Bahkan mereka mengatakan bahwa dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sebenarnya melarang poligami sebagaimana beliau melarang Ali bin Abi Thalib berpoligami.

Poligami disyariatkan dalam Islam

Dalam suatu kesempatan Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman ditanya, “apakah benar Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam melarang Ali untuk menikah lagi setelah memiliki istri yaitu Fathimah (putri Rasulullah). Dan apakah itu berarti Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam melarang poligami?”.

Beliau menjawab,

Kisah yang dimaksud oleh penanya tersebut adalah kisah yang shahih diriwayatkan dalam Shahihain. Dari Miswar bin Makhramah, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berkhutbah di atas mimbar:

“Sesungguhnya Hisyam bin Al Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Namun aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya. Kecuali jika ia menginginkan Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku baru menikahi putri mereka. Karena putriku adalah bagian dariku. Apa yang meragukannya, itu membuatku ragu. Apa yang mengganggunya, itu membuatku terganggu“

Dalam riwayat lain:

“Sungguh aku tidak mengharamkan yang halal, tapi demi Allah, tidak akan bersatu putri Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan putri dari musuh Allah dalam satu tempat, selama-lamanya“

Maka poligami itu dibolehkan, bahkan dianjurkan. Bagaimana tidak? Sedangkan Rabb kita berfirman:

“Nikahilah yang baik bagi kalian dari para wanita, dua atau tiga atau empat” (QS. An Nisa: 3).

Dan firman Allah Ta’ala “Nikahilah yang baik bagi kalian dari para wanita, dua atau tiga atau empat” ini mengisyaratkan bahwa poligami itu wajib, namun lafadz “Nikahilah yang baik bagi kalian” menunjukkan bahwa menikahi istri kedua itu terkadang baik dan terkadang tidak.

Dan hukum asal dari pernikahan adalah poligami, karena Allah Ta’ala memulainya dengan al matsna (dua). Dan terdapat hadits shahih dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, bahwa beliau bersabda:

“sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak istrinya“

Yang dimaksud oleh Ibnu Abbas di sini adalah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Karena beliau menikahi 13 wanita namun yang pernah berjimak dengannya hanya 11 orang. Dan beliau ketika wafat meninggalkan 9 orang istri. Maka poligami itu disyariatkan dalam agama kita. Adapun klaim bahwa hadits ini menghilangkan syariat poligami, maka ini adalah kedustaan kepalsuan dan kebatilan. Dan hadits ini perlu dipahami dengan benar.

Syaikh Masyhur juga mengatakan,

Sungguh disesalkan, di sebagian negeri kaum Muslimin saat ini, mereka melarang poligami. Ini adalah kejahatan yang dibuat oleh undang-undang (buatan manusia)! Sebagian dari mereka mengatakan bahwa poligami ini perkara mubah dan waliyul amr boleh membuat undang-undang yang mengatur perkara mubah! Ini adalah sebuah kedustaan! Dan tidak boleh bagi waliyul amr untuk berbuat melebihi batas terhadap perkara yang Allah halalkan dalam syariat. Padahal berselingkuh mereka anggap boleh dalam undang-undang! Sedangkan “selingkuhan” yang berupa istri (selain istri pertama), justru dilarang dan beri hukuman dalam undang-undang! Laa haula walaa quwwata illa billaah! Dan ini merupakan bentuk pemerkosaan dan perlawanan terhadap moral, kemanusiaan dan agama.

Penjelasan kisah Ali bin Abi Thalib

Syaikh Masyhur Hasan menjelaskan kerancuan pendalilan dengan kisah Ali bin Abi Thalib tersebut. Beliau mengatakan,

Adapun kisah Ali dan Fathimah radhiallahu’anhuma, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tidak melarangnya untuk berpoligami. Keputusan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam melarang poligami bagi Ali tersebut adalah karena beliau sebagai wali bagi Ali, bukan karena hal tersebut disyariatkan. Oleh karena itu Nabi bersabda, “Sungguh aku tidak mengharamkan yang halal, tapi demi Allah, tidak akan bersatu putri Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan putri dari musuh Allah dalam satu tempat, selama-lamanya“”.

Beliau juga melanjutkan, “dan dalam kisah ini juga Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menjelaskan bahwa yang halal adalah apa yang Allah halalkan dan yang haram adalah apa yang Allah haramkan. Dan bahwasanya poligami itu halal. Namun beliau melarang Ali memilih putrinya Abu Jahal (sebagai istri keduanya).

Sebagaimana diketahui, Abu Jahal Amr bin Hisyam adalah tokoh Quraisy yang sangat keras dan keji perlawanannya terhadap Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.

Syaikh Masyhur menambahkan,

Jawaban lainnya, sebagian ulama mengatakan bahwa hal tersebut khusus bagi putri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Namun pendapat ini kurang tepat, pendapat pertama lebih kuat. Para ulama yang berpendapat demikian berdalil dengan sabda Nabi: “Karena putriku adalah bagian dariku. Apa yang meragukannya, itu membuatku ragu. Apa yang mengganggunya, itu membuatku terganggu“. Dan kata mereka, ini dijadikan oleh Nabi oleh melarang Ali berpoligami. Selain itu dikuatkan lagi dengan fakta bahwa Ali tidak pernah menikah lagi semasa hidupnya setelah menikah dengan Fathimah. Namun sekali lagi, pendapat yang pertama lebih rajih, karena syariat itu berlaku umum. Wallahu a’lam. 

#pbakuinjkt2017

Answered Aug 18, 2017
Anonymous

Kisah yang dimaksud oleh penanya tersebut adalah kisah yang shahih diriwayatkan dalam Shahihain. Dari Miswar bin Makhramah, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berkhutbah di atas mimbar:

Sesungguhnya Hisyam bin Al Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Namun aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya. Kecuali jika ia menginginkan Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku baru menikahi putri mereka. Karena putriku adalah bagian dariku. Apa yang meragukannya, itu membuatku ragu. Apa yang mengganggunya, itu membuatku terganggu

Answered Dec 2, 2017
Hilmy Maulana
memperbaiki diri tanpa henti. Serving you exceed your expectations

Tersebutlah seorang putri bernama Juwairiyah binti Amr bin Hisyam. Ia sudah lama mempunyai ketertarikan pada Islam, namun terhalang oleh ijin keluarganya. Keluarganya merupakan salahsatu yang membenci islam,dan melakukan perlawanan pada Islam dengan terang-terangan. Padalah, ayahandanya, merupakan paman dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Hingga, suatu ketika, selepas ayahnya terbunuh di Perang Padar dari barisan Kafir Quraisy, Allâh memberikan kesempatan padanya untuk masuk Islam.

Perawakannya yang cantik, muda, dan statusnya sebagai muslimah, membuat Juwairiyah menjadi incaran banyak dari banyak pemuda. Beberapa lelaki ingin meminangnya, termasuk Ali bin Abi Thalib, yang kala itu (dan hingga nanti) adalah suami dari Fathimah Az-Zahra, Putri Nabi Muhammad Rasulullah. 

Terhadap keadaan itu, Rasulullah selaku mertua Ali bin Abi Thalib, tidak memberikan ijin dengan sabdanya,
"Sungguh aku tidak mengharamkan yang halal, tapi demi Allah, tidak akan bersatu putri Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan putri dari musuh Allah dalam satu tempat, selama-lamanya“

Ya, Juwairiyah merupakan putri dari Amr bin Hisyam yang juga dikenal dengan nama Abu Jahl, yang merupakan satu di antara orang paling berpengaruh dalam permusuhan terhadap risalah yang Rasulullah sampaikan. Memusuhi Rasulullah, adalah sama halnya dengan memusuhi Allâh swt.

Terhadap hadits tersebut di atas, memang terdapat banyak perbedaan pendapat, akan tetapi, barangkali, berkumpulnya Fatimah dan Juwairiyah dalam satu rumah tangga dengan status yang sama sebagai istri dari Ali bin Abi Thalib yang sekaligus merupakan sepupu dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, akan menyakiti hati ummat Islam secara keseluruhan.

Wallahu'alam bishshowwab

Answered Dec 13, 2017