selasar-loader

Apakah Syiah bukan Islam?

Last Updated Nov 16, 2016

23 answers

Sort by Date | Votes
Muhammad Husein Ali
Pelajar Serabutan

Hasil gambar untuk islam

Sumber gambar: http://s8.favim.com/610/150318/allah-art-islam-islamic-Favim.com-2573628.jpg (SUM)

Syiah adalah Islam.

Mari kita tilik sejarahnya.

Awal mula terjadinya dikotomi sunni-syiah adalah ketika Nabi Muhammad wafat. Umat islam terbagi menjadi dua, mereka yang percaya bahwa pewaris kekhalifahan pascawafatnya nabi seharusnya adalah menantunya dan mereka yang percaya bahwa pewaris kekhalifahan sebaiknya adalah sahabat melalui musyawarah. Pada dasarnya, sistem pemilihan kekhalifahan melalui musyawarah adalah contoh demokrasi representatif (bahkan pada sistem khilafah saja ada demokrasi).

Pendukung Ali Karamullahu Wajhah (selanjutnya disingkat KW) memiliki argumen historis yaitu peristiwa Ghadir Khum. Sebuah lembah ketika Rasulullah beristirahat lalu memanggil Ali KW di depan sahabat dan memujinya dengan hadis sahih yang terkenal dengan "Man kuntu mau lahu, wa Aliyyun maula". Barangsiapa menganggapku sebagai pemimpinnya, maka Ali juga adalah pemimpinnya. Meskipun secara konteks, Nabi Muhammad memang sering memuji sahabat-sahabatnya.

Puncak terjadinya polarisasi mazhab tersebut terjadi ketika Nabi Muhammad saw wafat yang terkenal dengan peristiwa Saqifah Bani Sa'idah. Pada saat itu, ketika keluarga nabi sedang mengurus jenazah nabi, para sahabat berkumpul dan bermusyawarah untuk membicarakan masa depan kepemimpinan Islam (khilafah). Dari segi sudut pandang, pendukung Ali KW beranggapan bahwa seharusnya mengurus jenazah nabi lebih utama daripada mengurus perpolitikan negara namun para pendukung sahabat nabi beranggapan bahwa mengurus masa depan kepemimpinan Islam lebih penting.

Di sinilah mulai terjadinya perbedaan. Ketika dahulu Nabi Muhammad saw masih hidup, orang bertanya segala hal tentang agama kepadanya langsung. Namun, setelah ia meninggal, maka pendukung Ali KW bertanya mengenai agama kepada Ali KW dan pendukung sahabat nabi bertanya mengenai agama kepada sahabat. Dengan demikianlah terjadi perbedaan mazhab.

Isu orang syiah Alqurannya beda adalah salah. Namun, isu bahwa orang syiah mencaci sahabat itu agaknya memang benar dengan catatan bahwa tidak semua orang syiah demikian. Bahwa, setiap mazhab bahkan setiap agama pasti memiliki golongan takfiri.

Tokoh syiah yang terkenal adalah Bapak Kedokteran Ibn Sina, Bapak Matematika Al-Khwarizmi, Al-Biruni dan banyak di antaranya adalah pemikir mutazilah.

Ramainya isu syiah mulai meledak pascarevolusi Iran. Tumbangnya pemerintahan sekuler Shah Pahlevi dan digantikan dengan Republik Islam di bawah Khomeini. Selain itu, ditemukannya minyak di negara Arab Saudi memperkaya Kerajaan Saud dan ulamanya. Mazhab wahabisme dengan ideologi ultrakonservatifnya semakin memiliki kekuatan dan dana untuk memperluas pengaruhnya. Dibangun sekolah, pesantren, dan kelas-kelas untuk menyebarkan ideologi tersebut menyebabkan ketegangan di antara perbedaan.

Secara fiqih, pendapat orang mengenai syiah Islam atau bukan, bisa berbeda-beda. Maka, saya menjawabnya secara historis. Kesimpulan saya adalah syiah adalah Islam. Jika Anda tidak sepakat, saya akan mendukung kebebasan opini Anda selama pendapat Anda tidak mengurangi hak orang-orang syiah untuk hidup, berorganisasi, dan menjalankan kewajibannya sebagai warga negara Indonesia. Saya juga berharap untuk tidak menggunakan standard ganda karena tokoh-tokoh Golden Age Islam juga banyak yang syiah. Kalo syiah bukan Islam, berarti mereka ini bukan tokoh pemikir Islam. Apalagi Golden Age Islam, yang dimulai dari hadis "Darah seorang pelajar lebih suci dari darah seorang suhada" di mana hadis tersebut berasal dari perawi syiah.

NB: Biasakan perbanyak membaca dan crosscheck fakta sebab terlalu banyak fitnah di google.

Referensi lebih lanjut bisa baca buku Recitement Of Islam - Sayyid Akhtar Rizvi

Answered Nov 24, 2016
Nauval El-Hessan
Quranic disciple

pHDuIcinKMBRUE7NofvxEhHlujfpU0AB.jpg

Syiah adalah Islam. Kita harus melihat kembali sejarahnya. Awal perpecahan Sunni dan Syiah bukan terjadi karena perbedaan tauhidnya, melainkan terjadi karena perbedaan tafsir atas tauhid. Sunni percaya bahwa tauhid terputus pada nubuwwah. Setelah nubuwwah selesai, dipegang oleh para ulama. Akan tetapi, tidak dengan Syiah. Syiah percaya bahwa tauhid selalu menyambung. Setiap zaman ada imam (12 bagi Ja'fari dan 5 bagi Zaidi). Setelah ghaibnya Muhammad al-Mahdi bin Hasan al-Askari, hak penyebaran tauhid beralih ke ulama atau dalam istilah Syiah, naib-nya Imam Mahdi. Sekarang, naib tersebut banyak yang menilai seperti Musavi Khomeini (Imam Khomeini) dan Ali Khamenei.

Kedua, perbedaan terjadi atas hak kepemimpinan setelah Nabi Muhammad, bukan kenabian Muhammad itu sendiri. Oleh karena tauhid dalam Syiah menyambung, maka sudah tentu Allah telah menyuruh Nabi menunjuk khalifahnya. Bagi Syiah, Muhammad telah menunjuk Imam 'Ali pada peristiwa Ghadir Khum.

Ketiga, perbedaan hanya terjadi pada status sahabat. Bagi Sunni, sahabat itu bisa lepas dari kritik walaupun itu sebejat Mu'awiyyah bin Abu Sufyan. Bagi Syiah, status para sahabat harus dilihat secara objektif. Tidak semuanya memiliki derajat yang tinggi. Bahkan istri nabi pun demikian. Mengapa Syiah tidak terlalu menghormati Aisyah? Karena Aisyah pernah membelot kekhalifahan yang sah, yaitu kekhalifahan Imam 'Ali. Mengapa Syiah tidak terlalu menyukai Abu Bakr, Umar dan Utsman? Karena Abu Bakr telah melakukan pemilihan tanpa melibatkan banyak sahabat terutama Imam 'Ali. Abu Bakr juga meriwayatkan hadits ahad dalam mengambil putusan hukum ketika Sayyidah Fathimah meminta hak waris dari nabi. Tidak terlalu menyukai Umar karena ijtihad Umar banyak yang memansukh ketetapan nabi seperti shalat tarawih berjamaah, nikah mut'ah dan lain sebagainya. Tidak menyukai Utsman karena Utsman berbau nepotisme. Hampir semua gubernurnya adalah kerabatnya sendiri. Sekali lagi, penilaian atas sahabat karena objektif ilmiah, bukan karena sentimen subjektif semata. Justru Sunni yang menilai para sahabat karena sentimen subjektif.

Keempat, perbedaan hanya terletak pada fiqih dan itu tidak terlalu signifikan. Misalkan, salat tanpa sedekap. Maliki juga salat tanpa sedekap. Tidak membaca "amin" setelah imam shalat selesai membaca al-Fatihah. Qunut setelah membaca surah pendek di rakaat kedua. Saat salam, tidak menengok ke kanan dan ke kiri. Masih banyak lagi yang mana pada hakikatnya, Syiah masih salat lima waktu. Hanya saja, Syiah cenderung menjamak salat sehingga mereka dinilai hanya tiga waktu. Salat jamak walaupun tidak dalam perjalanan jauh didasarkan pada hadits shahih yang juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

 

sumber gambar via youtube

Answered Dec 31, 2016
Agil (Ragile) Abdullah
orang NU dan belajar Sufi

Hasil gambar untuk risalah amman

Menurut Risalah Amman (terbitan 2004 di Yordania) yang ditandatangani oleh seluruh pemuka Islam di dunia, syiah tergolong aliran dalam Islam. Namun, yang diakui adalah Syiah Zafari dan Syiah Zaydi.

Lengkapnya baca di sini.

Ilustrasi via wordpress.com

Answered Jan 4, 2017
Eka Prasetya
Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia

Jika dilihat dari sejarahnya saya sepakat dengan jawaban sebelumnya yang menyatakan Syiah pada mulanya adalah Islam. Tapi paham Syiah yang menyatakan bahwa nubuwah itu masih berlanjut menyebabkan syariat Islam kemudian tercemar dengan syariat yang di bawa oleh para imam, dan menurut saya ini merupakan suatu penyimpangan.

Answered Jan 15, 2017
Aviardhansyah Sakrie
Muslim Pembelajar | http://aviardhansyah.wordpress.com

mPu9n-T_y2NOmnicy7f_zukioJfCGx17.jpg

Pertanyaan-pertanyaan khusus keagamaan yang paling tepat dijawab oleh orang yang ahli dalam bidang tersebut sehingga tidak menimbulkan arah/pemahaman yang baru karena dijawab oleh orang yang tidak berkompeten di bidangnya. Saya sendiri lebih menyukai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat personil dibandingkan teoritis.

Namun, izinkan saya untuk menilik balik jawaban dari para ulama dan mereka yang berkompeten di bidang ini yaitu MUI. MUI Indonesia menyatakan Syiah bukan Islam dan sesat. Silakan baca Fatwa MUI Pusat dalam Rapat Kerja Nasional Maret 1984 M dan MUI Jawa Timur No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012.

Maka ini bisa menjadi pegangan bagi umat muslim di Indonesia.

 

sumber gambar: dakwatuna.com

Answered May 3, 2017

TX_fUtTNWlwR1q9ptTRFmZZ0eXSH64SC.jpg

Syiah adalah bagian dari islam, Syiah secara defenisi kata bermakna pengikut, di mana pascakematian Rasulullah Muhammad SAW. Para pengikut dan sahabat Ali bin Abi Thalib meyakini bahwa pemimpin setelah Rasul adalah Imam yang telah ditunjuk atau diangkat oleh Rasul.

Pemeluk Islam Syiah yang mayoritas di Iran, setiap tahun mengikuti ibadah haji di Mekkah dan Madinah.

ilustrasi via dakwatuna.com

Answered Jul 10, 2017
Fahmi Ali Rajab
Kehutanan USU 2014 | Rumah Kepemimpinan R6 Medan | Kadept Kadri Asyjaar

Jelas sekali bahwa syiah bukanlah bagian dari Islam, dikarenakan banyak sekali terjadi penyimpangan-penyimpangan di dalam suatu ajaran syiah tersebut, mulai dari dilegalkannya mencaci maki para sahabat, Abu bakar, Umar, dan Utsman, dan mancaci maki Aisyah. Lebih dari itu, syahadat syiah juga dipertanyakan karena ada suatu penambahan. Hukum di syiah juga sangat bertentangan dengan Alquran dan sunah.

#jawabanku Agustus 2018
#RK Regional6 Medan

Answered Aug 2, 2017

9uSbNB4gcJkoSDqlQ7q-c7ulJoSFko3L.jpg

Nabi bersabda : di akhir zaman nanti umat ku akan terpecah menjadi 73 golongan akan tetapi hanya ada satu golongan yg akan masuk surga. Lalu sahabat bertanya: siapakah golongan itu ya rasul? Nabi pun menjawab nya : itulah kelompok ahlussunnah waljamaah. 

Dari sedikit penjelasan diatas, berdasarkan sabda rasulullah saw bahwa islam akan terbagi menjadi beberapa aliran (golongan) tetapi hanya ahlussunnah yg benar. 

Jadi jelas lah bahwa syiah termasuk kedalam salah satu dari 72 golongan atau aliran dari pecah nya islam di akhir zaman.

Sumber gambar: atjeh cyber warrior

Answered Aug 12, 2017
Ahmad Mawadi
Thank goodness all that has been given to us

Syiah itu sebenarnya Islam....tetapi mereka salah pemahaman tentang Islam yg haqiqi atau menyimpang dr Islam karena mereka menganggap bahwa Ali adalah nabi terakhir...

Answered Aug 12, 2017
Anonymous

Syiah bukanlah termasuk ke dalam agama Islam karena banyak sekali perilaku yang menyimpang dari ajaran Islam yg sesungguhnya. Menurut syiah, hanya Ali yang berhak menjadi khalifah, bukanlah Abu Bakar, Umar bin Khattab ataupun Utsman bin Affan.

Syiah juga mempercayai bahwa Ali adalah nabi terakhir. Sedangkan dalam Islam sudah tertulis jelas sekali dalam alquran bahwa Nabi Muhammadlah yg menjadi nabi terakhir. Contoh lainnya adalah dalam Syiah, kawin kontrak atau yang disebut mut'ah itu diperbolehkan. Hadist yang diterima oleh mereka hanyalah hadist yg diriwayatkan oleh ahlul bait. Jadi mereka belum faham akan hukum yang sesungguhnya untuk kawin kontrak. 

Answered Aug 15, 2017

Syiah terdiri dari berbagai aliran/sekte di bawahnya. Maka, apapun aliran itu selagi tidak keluar dari ajaran Alquran dan sunah dengan pemahaman yang benar, maka tidak bisa dikatakan keluar dari Islam/ kafir. Imam Al-Gazali berkata, "Membiarkan hidup seribu orang kafir lebih ringan daripada mengkafirkan satu orang muslim". ( kitab Muraqil Ubudiyah)

Answered Aug 16, 2017

Syiah itu bukan Islam pada masa sekarang ini, karena setelah meninggalnya Sayyidina Ali. Para pengikut Ali ini berlebihan di dalam mengingat dan memuji Ali, sampai menuhankan Sayyifina Ali bin Abi Tholib. Namun, pada waktu Sayyidina 'Ali bin Abi Tholib masih hidup, itu merupakan pengikut Ali bin Abi Tholib, dan syiah ini masih lurus jalannya tidak menyeleweng dari syariat Islam.

Answered Aug 16, 2017
Fiqih Hafiz.A
انا طلب

Syi'ah bukan lah termasuk agama islam lagi,karena sudah banyak rukun2 islam yang sudah jauh melenceng dan bahkan dasar bagi agama islam itu sendiri sudah banyak yang melenceng bahkan di rubah oleh mereka,jika ingin di jabar kan lagi masih banyak hal2 yang terlselubung di dalam hal ini

Answered Aug 19, 2017
Anonymous

terdapat dalam penegasan dalam berbagai buku dan sumber yg terpercaya bahwa syi'ah merupakan bukan bagian dari islam dan syi'ah pun bukan merupakan agama, secara fisik memang sulit di bedakan di antara islam dengan syi'ah tpi kalo kita meneliti lebih dalam lagi terutama dari sisi aqidah dan manhaj mereka memiliki perbedaan yg sangat signifikan dr segi ibadah dan aqidah yg mereka anut. syi'ah pun merupakan sekte atau aliran yg dari dahulu sampai sekarang masih berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghancurkan islam, seperti syi'ah yg paling menonjol adalah syi'ah imamiyyah dan rafidhoh. kalaupun ada orang ataupun lembaga ataupun sekte yg punya berencana dengan sekuat tenaga untuk menghancurkan islam, lantas apakah mereka di sebut islam? tentu sangatlah tidak objektif, karna islam adalah agama yg damai, agama samawi yg Allah Ridhoi. syi'ah pun merupakan agen dari yahudi yg penuh makar lagi buruk dan siapapun yg merusak islam maka dia bkn bagian dari islam.

Answered Aug 19, 2017

Menurut saya, syiah zaidiyah adalah syiah yang lurus. Namun di era sekarang, syiah sudah makin parah, mungkin bisa dikategorikan bukan islam.

Answered Aug 20, 2017

Menurut saya syiah itu islam yang tidak tahu ajarannya kemana soalnya syiah itu mengagungkan manusia yaitu saidina ALI r.a dengan membuat seolah olah syiah itu ajaran yang paling benar padahal jenis ibadahnya hanya di buat buat oleh manusia

Answered Aug 20, 2017

Bukan, karna setau saya ada salah satu aqidah syiah yang  menjadi asas bagi mereka yaitu mengadakan penyembahan terhadap manusia. Mereka bersikap berlebihan terhadap imam-imam mereka sampai derajat ketuhanan. yaitu mereka terlalu meninggikan Ali bin Abi thalib mereka mengagunggkan Ali RA seakan2 Ali bin Abi thalib adalah tuhan. jadi jelas syiah bukan lah islam 

 

Answered Aug 20, 2017
Bakhtiar Yusuf
Member of Sunan Kalijaga University

Sebenarnya ini permasalahan kontroversial. Stigma negatif tentang Syiah ini sudah telanjur menyebar. Tetapi perlu ditekankan di sini bahwa, Syiah masih masuk ke dalam golongan Islam. Memang benar, dalam perjalanan sejarahnya ada beberapa golongan Syiah yang ajarannya menyimpang dari Islam, inilah yang oleh para ulama sebut Syiah Rafidlah.

Ulama-ulama al-Azhar sendiri mengakui bahwa Syiah adalah salah satu mazhab yang sah dan boleh diikuti. Hal ini bisa dilihat pada saat Syekh Mahmud Syaltut mendirikan lembaga yang bertujuan untuk mendamaikan mazhab Sunni dan Syiah. Maka dari itu, memberikan stigma bahwa Syiah bukan bagian dari Islam adalah keliru.

Answered Aug 28, 2017
D.s. Ardyanto
A notorius "bakso urat" hunter.

tRKXuA73sobQMhWqbJWjbnWKjnT7ZtJy.jpg

Syi'ah adalah Islam, sebagaimana sunni merupakan Islam.

Mengapa demikian?

  1. Adalah fakta bahwa komunitas Syi'ah ada di seluruh dunia Islam dan tak ada satu pun negara Islam yang memfatwakan Syi'ah sebagai mazhab sesat apalagi kafir dan di luar Islam.
  2. Kerajaan-kerajaan Islam seperti Dinasti Fathimiyyah, Idrisiyyah, Buwahyi, bahkan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara seperti Perlak dan sebagainya turut menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah peradaban Islam.
  3. Para penganut mazhab Syi'ah telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tubuh umat Islam sebagaimana terlihat dari pelaksanaan ibadah haji dan umroh, keikutsertaan dalam Organisasi Konferensi Islam, Rabithah Al-‘Alam Al-Islami, Organisasi Parlemen-parlemen Dunia Islam (PUIC), Majma’ Taqrib, Tajammu’ Ulama’ Al-Muslimin, dan lain sebagainya.
  4. Mazhab Islam Syi'ah telah dipertegas sebagai bagian tak terpisahkan dari tubuh umat Islam dalam berbagai deklarasi ulama Muslim dunia seperti Deklarasi Amman, Deklarasi Makkah, fatwa Al-Azhar Al-Syarif dan lain sebagainya. Syaikh-syaikh Al Azhar yaitu Syaikh Mahmud Saltut, Syaikh Muhammad Al Ghazali, Syaikh Abu Zahrah, dan tak terhitung ulama-ulama besar Ahlussunah lainnya jelas-jelas menyatakan bahwa Syi'ah itu Islam dan saudara Ahlussunnah.
  5. Kaum Syi'ah tak pernah dianggap sebagai bukan bagian kaum Muslim sebagaimana terbukti dari keleluasaan mereka untuk melakukan ibadah Haji dan Umrah ke Tanah Suci, Makkah dan Madinah.
  6. Dinasti Syi'ah Fatimiyah adalah pendiri Al-Azhar sebagai universitas Islam tertua dan terkemuka di dunia Islam hingga kini.
  7. Adalah fakta bahwa Syi'ah telah ada sejak awal masuknya Islam di Indonesia. Hal ini telah diakui para sejarawan nasional dalam berbagai kitab sejarah nasional Indonesia. Sejumlah tradisi Syi'ah seperti tabut, tari saman, suro, dan sebagainya merupakan bagian integral dari budaya dan jatidiri bangsa Indonesia.
  8. Ada banyak rijal hadis Syi'ah yang dirujuk oleh muhaddits Ahlussunnah dan sebaliknya. Demikian pula banyak ulama tafsir, fiqh, kalam, nahwu dan sharaf yang dirujuk oleh ulama Ahlussunah dan sebaliknya. Dalam Syi'ah, hadis-hadis yang diriwayatkan oleh non-Syiah, termasuk Ahlussunnah, disebut muwatstsaqah, sebagaimana yang disebutkan antara lain dalam kitab al-Mizan fi al-Tafsir al-Qur’an  karya Allamah Thabathaba’i.
  9. Ada sejumlah pemikir Islam utama yang merupakan penganut mazhab Syi'ah dan diakui kredibilitas dan otoritas mereka di bidang masing-masing, seperti Al-Farabi, Ibn Sina, Abu Zakariya Al-Razi, Ikhwan Shafa, Al-Khawarizmi (astronom), Jabir bin Hayyan (penemu Aljabar), Ath-Thusi (penggagas observatorium) dan sebagainya.
  10. Di pesantren-pesantren Indonesia, beberapa buku ulama Syi'ah seperti Naylul Awthar karya Al-Syaukani, Subulus Salam karya Al-Syaukani dan Al-Shan’ani, dan sebagainya juga diajarkan.
Untuk mengetahui tentang Syi'ah, pertama, kita wajib membersihkan kebencian dan prasangka dari dalam hati. Kedua, ambil sumber bukan dari mereka yang membenci Syi'ah, tapi belajarlah dari sumber-sumber Syi'ah langsung. Bukankah Anda akan mereferensikan orang asing nonmuslim untuk belajar langsung Quran dan hadits serta tulisan-tulisan ulama alih-alih belajar dari pembenci Islam seperti Robert Spencer, Pamela Geller, dan Dworkin?
 
Dari sisi ilmu pengetahuan Islam, semua ilmuwan membagi Islam menjadi dua mainstream, yaitu ahlus sunnah (sunni) dan ahlul bait (syi'ah).
 
 
Sumber utama: bahan uji materi kasus syi'ah Sampang di Mahkamah Konstitusi
Ilustrasi: Arrahmah News

Answered Sep 7, 2017
Ramadhany Ayu Purnama
Peserta Rumah Kepemimpinan Regional 3 DIY

Terima kasih atas pertanyaannya,

wahai penanya yang terhormat,

pada kehidupan ini terdapat beberapa jenis agama:

1. Majushi

2. Yahudi

3. Nasrani

4. Islam

pada zaman Nabi-Nabi, kaum yang bernama kaum Majushi ini memiliki kurang lebih 3 macam karakter, ada kaum yang terlalu cinta, kaum yang terlalu takut, dan kaum yang terlalu penuh harap.

kaum yang terlalu cinta selanjutnya direpresentasikan sebagai kaum Syiah, mereka sangat mengagungkan Ali dan menganggap bahwa seharusnya Ali lah yang menjadi nabi dan bukannya Nabi Muhammad saw, Kaum ini begitu mencintai Ali namun membenci Rasulullah, keluarganya dan sahabatnya. Jadi sudah jelas bahwa Syiah bukanlah Islam

Answered Nov 2, 2017

Question Overview


and 20 more
38 Followers
6741 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Mengapa Tuhan membuat surga, padahal insentif tertinggi umat Islam adalah ridha Allah?

Apabila poligami adalah ibadah, mengapa banyak perempuan muslim yang tidak mau melakukannya?

Bagaimana cara mengakhiri konflik antara Sunni dan Syiah?

Mengapa Nabi Muhammad tidak mengizinkan Ali mempoligami Fatimah?

Apa yang dimaksud dengan bid'ah?

Apa yang dimaksud dengan munafik?

Apa yang dimaksud dengan halal?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Apa yang dimaksud dengan mubah?

Apakah Tuhan perlu dibela?

Mengapa Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail sendirian di Mekah?

Apakah imam dalam ajaran Syiah sama kedudukannya dengan khalifah?

Apakah yang menyebabkan berkembangnya golongan Syiah di Timur Tengah pasca meninggalnya Rasulullah?

Mengapa ajaran Syi'ah lebih berkembang di Iran dibandingkan dengan daerah lain di Timur Tengah?

Siapakah aktor utama di balik munculnya ajaran Syiah dan terjadinya fitnah besar dalam umat Islam (Perang Jamal salah satunya)?

Kenapa sahabat dan menantu Nabi Muhammad SAW, Ali RA, tewas dibunuh?

Apa yang Anda ketahui dari kota Mashhad?

Apakah Syiah menghalalkan nikah mut'ah?

Siapakah Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan dalam pandangan syiah? Serta apakah peristiwa pembunuhan Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan menjadi perhatian serius bagi syiah selain pembunuhan terhadap Ali bin Abi Thalib dan Husain bin Ali? Lalu, bagaimanakah juga dengan pembunuhan yang dilakukan terhadap Hasan bin Ali?