selasar-loader

Apakah Ahok benar-benar menistakan agama Islam?

Last Updated Nov 23, 2016

5 answers

Sort by Date | Votes
Ma Isa Lombu
Pemerhati Indonesia

NBHA2dEv1GmSW583XZt8yIHnQLMQ6-oV.jpg

Ada jawaban menarik dari seorang kawan. Seorang econometrician lulusan perguruan tinggi ternama di Indonesia. Beliau berkata, 

"Jika demikian, maka kita sudah terjebak dengan kesalahan logika. Argumentum ad miserandum, appeal for misery.

Hal ini akan menjadi sangat tidak adil buat Ahok jika mereka terluka karena statement “dibohongi surat Al Maidah ayat 51” bukan karena statement “dibohongi pakai surat Al Maidah ayat 51”. Karena itu sama dengan fitnah.

Kita juga perlu dengan cermat menyikapi ceramah-ceramah Islam sekalipun itu disampaikan oleh ulama atau ustad yang terkenal. Kita tidak boleh terjebak dalam logika Argumentum pro Hominem tetapi bukan berarti setiap pernyataan yang disampaikan oleh mereka semuanya merupakan kebenaran.

Berbohong adalah menyampaikan ‘pernyataan salah’ agar penerima informasi memiliki persepsi yang menyimpang dari kenyataan. "Dibohongi pakai surat Al Maidah ayat 51" berarti ada oknum tertentu yang menipu persepsi umat menggunakan ayat ini.

Mengingat konteksnya, ayat ini tidak relevan dijadikan propaganda dalam Pemilu atau Pilkada. Relevansi larangan memilih Ahok adalah jika dia menjadi ancaman bagi umat Islam.

Ayat ini dibelokkan maknanya sehingga umat Islam menjadi takut dosa dan masuk neraka jika mereka memilih Ahok. Oleh sebab itu, sesungguhnya, oknum yang membelokkan makna ayat ini adalah pihak yang berbohong."

Selengkapnya lihat di sini: https://www.jurnal.selasar.com/politik/straw-man-fallacy-tersukses-di-negeri-kita-ahok

Answered Nov 23, 2016
Aldila Azam
Calon Penulis, guru kimia, sekaligus mahasiswa

Image result for ahok menistakan agama

Ada suatu ungkapan indah dalam hadis dari Umar bin Khattab, "Sesungguhnya setiap perbuatan manusia dilihat dari niatnya". Dengan membaca hadis ini, harusnya kita sadar akan sangat sulit menentukan apakah Ahok benar-benar menistakan agama. Karena niat itu adanya dalam hati, dan siapa pula yang mengetahui isi hati manusia, selain manusia itu sendiri dan Tuhannya.

Oke, kita kembali menilik perkataan Ahok, "Dibohongi pakai surah Al Maidah ayat 51." Kata ini termasuk agak ambigu, karena siapa pun bisa memakai Al Maidah ayat 51, bisa ustaz, bisa politikus, bahkan bisa jadi Rasulullah SAW sendiri dan para sahabatnya. Inilah blunder terbesar Ahok yang sangat mengganggu Ahok sendiri. Dia bilang jangan main isu SARA, tapi dia sendiri memainkan isu SARA tersebut demi mendongkrak pemilihnya dari kalangan Islam. Seandainya sedari awal ia menambahkan kata "oknum" di depan kata pakainya, mungkin kita bisa yakin Ahok tidak menistakan agama. Tapi, Ahok baru menambahkan kata "oknum" setelah pidatonya usai dan ia dipaksa minta maaf. Di sinilah kesulitan menentukan niat Ahok.

Ilustrasi via blogspot.com

Answered Jan 3, 2017
Habibi Yusuf
PNS di Kementerian Perindustrian

hXiNq7CJdqr2EQjnZd5rAB6QWZxJO3lU.jpg

Saya percaya Ahok tidak berniat menistakan agama Islam. Meski banyak ucapannya yang emosional, asal ceplos, offside karena menyinggung SARA, kasar, dan sebagainya, Ahok mestinya sadar bahwa dia sebagai pejabat publik tidak boleh mengusik persoalan sensitif masyarakat. Sekali salah bertindak, hal itu bisa menjadi bumerang yang menyerang balik. Sebagai politikus cerdas, tentu Ahok menyadari hal ini. 

Namun, MUI sebagai representasi para pemuka agama Islam di Indonesia telah menafsirkan ucapan Ahok itu sebagai bentuk penistaan. Karena dengan dia berucap "dibohongi pakai surat Al-Maidah 51", berarti yang menyampaikan ayat itu kepada umat Islam telah berbohong. Barang kali maksud Ahok adalah para politikus dan lawan-lawan politiknya. Namun, jangan lupa, karena Al-Maidah adalah bagian dari Alquran kitab suci umat Islam, tentu ayat tersebut juga disampaikan oleh para pendakwah, imam, dan ulama. Dan itu berarti, Ahok juga menuduh para ulama berbohong, padahal mereka hanya berkewajiban menyampaikan ayat suci kepada umat Islam. Kalau penyampai pesan ayat suci agama Islam adalah pembohong, tentu konsekuensinya bisa panjang, termasuk kebohongan isi dari ayat suci itu sendiri.

Di sini beratnya kasus Ahok ini.

Tidak berniat membunuh juga bisa membunuh. Demikian analogi yang tepat menurut saya. Meski saya tidak berniat membunuh, namun kalau saya memegang pistol berisi peluru dan diarahkan kepada seseorang, sekali tarik pelatuk, orang tersebut bisa terbunuh oleh (pistol) saya.

Ahok memang tidak berniat menistakan agama. Namun, tindakannya telah dinilai menistakan agama Islam oleh lembaga yang secara berpuluh-puluh tahun dipercaya kredibilitasnya sebagai perwakilan para pemuka agama Islam.

Tafsiran ajaran Islam tentu berbeda dengan tafsiran hukum positif yang berlaku di negara kita. Tinggal kita lihat saja nanti, apakah para hakim dengan jam terbang dan kearifannya juga akan menilai perbuatan Ahok itu sebagai bentuk penistaan agama Islam atau tidak. Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Yang penting, masyarakat kita jangan sampai terpecah dan jadi konflik horizontal ataupun vertikal gara-gara hal ini. Kita serahkan hal ini pada proses hukum yang berjalan. Jangan terpancing isu SARA yang dapat merusak suasana kebersamaan bangsa Indonesia yang serba majemuk ini.

Ilustrasi via redaksiislam.com

Answered Jan 3, 2017
Muhammad Zulifan
Peneliti, Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam-UI

HyvBzcRzftRN2rVSnN1c1lNSPCNzaTG2.jpg

Izinkan saya mengomentari pernyataan penulis di atas berikut.

"Ayat ini dibelokkan maknanya sehingga umat Islam menjadi takut dosa dan masuk neraka jika mereka memilih Ahok. Maka sesungguhnya, oknum yang membelokkan makna ayat ini adalah pihak yang berbohong."

Yang perlu diketahui penulis adalah  bahwa ijmak (telah sepakat) ulama ahlus sunnah akan keharaman memilih pemimpin nonmuslim yang zalim, lebih-lebih saat ada pemimpin muslim yang salih. 

Secara garis besar, makna kata aulia dalam Al-Maidah 51 adalah 'tempat bergantung' atau 'pelindung'. Pemimpin tercakup dalam makna tersebut karena ia sangat mempengaruhi kebijakan terhadap hajat hidup umat.

Dalam konteks pernikahan, secara syariat Islam (dan ini adalah ijmak ulama ahlus sunnah), seorang wanita muslimah haram hukumnya dinikahkan dengan lelaki nonmuslim. Dalam konteks ini, jawabannya adalah karena saat seorang muslimah dinikahkan, maka tidak boleh yang memimpin keluarganya nanti adalah nonmusim yang beda akan visi kehidupan. Hal tersebut akan menimbulkan banyak masalah di kemudian hari. Yang memimpin wanita muslimah wajib lelaki muslim.

Alasan larangan memilih pemimpin nonmuslim sebagaimana termaktub dalam Al-Maidah 51-nonmuslim tidak boleh memimpin meski satu muslimah di rumah saja- hal tersebut karena akan muncul masalah yang lebih besar sebab ideologinya berbeda. Ia tidak akan risau jika istrinya tidak salat, ia tidak akan risau jika istrinya tidak baca Quran, wudunya tidak benar, tidak shaum Ramadan, hingga jika istrinya terbuka auratnya, karena memang ia tidak mengimaninya.

Jika memimpin diri yang satu saja tidak boleh nonmuslim, apalagi memimpin orang serumah. Jika memimpin orang serumah saja tidak boleh apalagi memimpin orang sekampung. Jika orang sekampung saja tidak boleh apalagi memimpin satu negara.

Dalam konteks yang lebih besar (masyarakat), maka hal ini akan berpengaruh besar pada penetapan anggaran pendidikan Islam, pembangunan rumah ibadah, penempatan jabatan strategis hingga syiar Islam.

Terbukti, sebelumnya ia tidak peduli jika miras dijual bebas di minimarket, prostitusi ingin dilegalkan, pelarangan takbir keliling, dan hal lainnya yang sebenarnya amat sensitif bagi umat Islam tapi dianggap remeh-temeh oleh pemimpin tersebut.

Inilah tafsir yang kredibel sesuai pemahaman ulama dari masa ke masa dan sesuai metodologi yang sahih. Ulama Indonesia kini menyampaikan hal itu tidak dalam konteks membelokkan ayat apalagi berbohong. Ini perlu dicatat.

Berikut tafsir surat Al-Maidah 51 terkait makna aulia menurut mufasir yang kredibel (bukan politisi).

a). Tafsir Ibnu Katsīr : Larangan menjadikannya penolong, pegawai.

ينهى تعالى عباده المؤمنين عن موالاة اليهود والنصارى، الذين هم أعداء الإسلام وأهله، قاتلهم الله،……….(إلى أن قال)……….. عن عِياض: أن عمر أمر أبا موسى الأشعري أن يرفع إليه ما أخذ وما أعطى في أديم واحد، وكان له كاتب نصراني، فرفع إليه ذلك، فعجب عمر [رضي الله عنه] قال: إن هذا لحفيظ، هل أنت قارئ لنا كتابًا في المسجد جاء من الشام؟ فقال: إنه لا يستطيع [أن يدخل المسجد] فقال عمر: أجُنُبٌ هو؟ قال: لا بل نصراني. قال: فانتهرني وضرب فخذي، ثم قال: أخرجوه، ثم قرأ: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ [بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ}

“Allah melarang hambanya orang-orang beriman menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai penolong, teman dekat, yang mana mereka adalah musuh Islam………….Dari ‘Iyadh diceritakan bahwa Umar memerintahkan Abu Musā al-Asy’ariy untuk menghadap melaporkan apa yang ia lakukan dalam satu waktu, sedangkan ia memiliki seorang sekretaris Nasrani, kemudian ketika ia melapor kepada beliau, Umar heran seraya berkata, "Sungguh ini terpelihara, apakah engkau pembaca kitab di masjid yang datang dari Syam?" Abu Musa menjawab, "Ia tidak bisa masuk masjid", Umar bertanya lagi, "Apakah ia junub?", Abu Musa menjawab, "Tidak, ia seorang Nasrani". Umar lalu menghardikku dan memukul pundakku, kemudian berkata, "Keluarkan ia! Lalu ia membaca ayat QS al-Māidah : 51”.

b). Tafsir al-Khāzin : Larangan menjadikannya pemimpin dan penolong.

فنهى الله المؤمنين جميعاً أن يتخذوا اليهود والنصارى أنصاراً وأعواناً على أهل الإيمان بالله ورسوله وأخبر أنه من اتخذهم أنصاراً وأعواناً وخلفاء من دون الله ورسوله والمؤمنين فإنه منهم وإن الله ورسوله والمؤمنين منه براء

“Allah melarang semua orang-orang mukmin menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai penolong atas ahli iman kepada Allah dan Rasulnya, Allah juga mengabarkan bahwasannya siapa yang menjadikan mereka sebagai penolong dan pemimpin selain Allah, Rasulnya dan orang-orang beriman, maka ia telah menjadi bagian dari mereka. Sesungguhnya Allah, Rasulnya, dan orang-orang beriman terbebas darinya. ”

c). Tafsir ar-Raziy

ومعنى لا تتخذوهم أولياء : أي لا تعتمدوا على الاستنصار بهم ، ولا تتوددوا إليهم

“Jangan bersandar kalian terhadap pertolongan mereka dan jangan kalian saling berkasih sayang kepada mereka”

d). Tafsir al-Baiḍāwiy

{ ياأيها الذين ءَامَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ اليهود والنصارى أَوْلِيَاء } فلا تعتمدوا عليهم ولا تعاشروهم معاشرة الأحباب

“Jangan bersandar kalian...(more)

Answered Jan 3, 2017
Pramudya Oktavinanda
A devoted disciple of Law and Economics, UChicago Style!

Jawaban singkatnya: tidak. 

Jawaban panjangnya bisa dibaca dalam 3 artikel berikut ini: di sini, di sini dan di sini

Inilah buah dari keberadaan pasal karet. Kalimat multitafsir dibaca dengan ragam tafsir yang berbeda-beda pula, ujungnya kemudian gampang disalahgunakan. Tapi ini Indonesia, dengan begitu banyak isu tiap harinya, memori manusianya tidaklah luar biasa (malah sebenarnya memang secara umum pun memori manusia memang seringkali bias dan terdistorsi). Orang gampang lupa dan oleh karenanya harus terus diingatkan. Demikian pula dengan kasus ini. Seberapa kuat mereka yang merasa bahwa Ahok telah menista agama dapat terus berkampanye soal ini dan menggerakkan massa terus menerus pula dalam jumlah besar? 

Dalam kasus yang sudah dipolitisir seperti ini, perang akan dimenangkan oleh mereka yang berstamina baja, dan bukan lagi soal argumentasi. Tes paling gampang dalam mengukur kekuatan suatu gerakan adalah konsistensi dari gerakan itu sendiri. Seberapa kuat jiwa militansinya sehingga siap berjuang untuk ide tersebut sampai tercapai? Saya belum pernah melihat sikap demikian dalam jumlah yang besar di Indonesia dan saya ragu bahwa hal tersebut akan muncul kali ini.     

Answered Jan 25, 2017

Question Overview


5 Followers
2179 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?

Apa alasan utama banyak orang membenci Ahok?

Bagaimana sebenarnya pengaturan dan pengerahan massa aksi 411?

Siapa pemenangnya seandainya Ahok duel langsung dengan Anies Baswedan?

Apa perbedaan mendasar gaya berpolitik Ahok dan Jokowi?

Apa alasan utama banyak orang mencintai Ahok?

Mengapa Nasdem jadi partai pertama yang dukung Ahok di Pilkada DKI Jakarta?

Bagaimana Ahok ketika waktu SMA?

Mengapa SBY begitu ngotot membangun dinasti partainya melalui pencalonan Agus Yudhoyono?

Apa analisis Agus Yudhoyono hingga enggan ikuti debat di televisi?

Siapa yang akan memenangkan Pilkada Jakarta 15 Februari 2017?

Menurut Anda berpeluangkah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi Presiden RI tahun 2019?

Mengapa Pasangan Anies - Sandi pantas memimpin Jakarta?

Mengapa Pasangan AHY-Sylviana pantas memimpin Jakarta?

Mengapa Pasangan Ahok - Djarot pantas memimpin Jakarta?

Mengapa Tuhan membuat surga, padahal insentif tertinggi umat Islam adalah ridha Allah?

Apabila poligami adalah ibadah, mengapa banyak perempuan muslim yang tidak mau melakukannya?

Bagaimana cara mengakhiri konflik antara Sunni dan Syiah?

Apakah Syiah bukan Islam?

Mengapa Nabi Muhammad tidak mengizinkan Ali mempoligami Fatimah?

Apa yang dimaksud dengan bid'ah?

Apa yang dimaksud dengan munafik?

Apa yang dimaksud dengan halal?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Apa yang dimaksud dengan mubah?

Apakah Tuhan perlu dibela?

Mengapa Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail sendirian di Mekah?

Jika Anda PNS di DKI Jakarta, apa pendapat Anda tentang sikap Ahok yang galak?

Apa perbedaan KJP Plus yang ditawarkan pasangan Anies-Sandi dengan KJP yang sudah dijalankan Pemprov DKI Jakarta?

Mengapa Gubernur DKI, Djarot Syaiful Hidayat, belum yakin terhadap pemindahan ibu kota dari Jakarta?

Berapa gaji yang pantas untuk PNS DKI Jakarta?

Apakah Anda setuju gaji/tunjangan PNS DKI Jakarta diturunkan?

Sebentar lagi pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, apa harapanmu untuk mereka?

Apa harapan Anda (yang harus diperbaiki/dilanjutkan dari masa kepemimpinan Ahok-Djarot) terkait kepemimpinan Anies-Sandi di DKI Jakarta?