selasar-loader

Apakah layak sebuah tulisan dengan subjektivitas (seperti tulisan feature) dipublikasikan dalam media mainstream?

Last Updated May 1, 2017

Feature adalah karya jurnalistik yang sering kita jumpai, namun ada beragam pendapat mengenai tulisan ini. Dalam beberapa buku jurnalistik, feature dideskripsikan sebagai tulisan yang sarat akan subjektivitas. Bagaimana pandanganmu tentang hal tersebut? Apakah layak sebuah tulisan dengan subjektivitas dipublikasikan dalam media mainstream?

2 answers

Sort by Date | Votes
Agaton Kenshanahan
Pemimpin Redaksi Pers Mahasiswa Unpad

Gambar terkait

TENTUNYA sah-sah saja bagi media arus utama untuk menerbitkan karya feature (karangan khas). Feature adalah bagian dari produk jurnalistik. Kadang ia dipisahkan secara tersendiri di luar produk berita (news) secara umum atau masuk ke dalam bagian dari golongan berita yang disebut news feature. Feature bagaikan angin segar agar suatu bacaan tidak terlalu kaku ditulis sehingga dapat menarik minat pembaca.

Media besar seperti Kompas misalnya pun selalu menempatkan feature halaman pertama di bawah berita utama. Kadang dalam hari-hari khusus, feature tersebut bisa bertukar posisi sehingga menjadi berita utama yang menjadi sorotan. Misalnya dalam hari pendidikan nasional tahun ini, Kompas mengangkat feature tentang dua anak di pedalaman Maluku yang berjalan kaki jauh setiap hari ke sekolah. 

Baca: Berjalan Kaki Menjemput Masa Depan

Mulanya saya heran dengan penempatan feature ini sehingga menjadi berita utama. Namun setelah dibaca, ternyata relevansi dengan momen publikasi jauh lebih didapat. Kemudian feature juga tidak melulu sarat subjektivitas, melainkan lebih condong kepada deskripsi dan mengocok emosi pembaca. Artinya, bisa saja feature tidak subjektif karena ia berusaha menggambarkan realita-realita mikro yang biasanya tidak dianggap penting dan tidak dimunculkan dalam straight news.

Terkait dengan subjektivitas, itu bergantung pada tiap-tiap jurnalis yang menulisnya. Bila memang jurnalis tersebut bisa mengesampingkan nilai-nilai agar tidak termuat dalam karya feature maka akan lebih bagus. Namun karena feature memang biasanya diperuntukkan untuk karya-karya luwes dan topik-topik yang ringan, tak ayal bilamana ia cenderung kepada pewartaan yang subjektif.

Meskipun demikian, feature pun bisa digunakan untuk menulis berita yang sifatnya hardnews seperti politik, ekonomi, hukum, dan sejumlah berita yang harus ditulis dengan presisi tingkat tinggi. Hal itulah yang dipraktikkan pada semua produk pewartaan majalah mingguan atau bulanan. Feature dalam majalah sudah dianggap sebagai sebuah gaya menulis standar. Ini dimaksudkan agar tiap pewartaan tidak cepat basi dan tidak terikat waktu (timeless) sebagaimana surat kabar yang diterbitkan harian. Oleh karenanya, sampai saat ini feature dapat berfungsi sebagai penyelamat eksistensi majalah yang menyajikan informasi dengan rentang waktu yang cukup lama. Tentu saja. Tidak mungkin, kan, majalah mingguan akan menyampaikan informasi yang sama dengan cara yang sama selama seminggu padahal ia sudah terliput setiap hari oleh surat kabar harian?

Ilustrasi: flickr.com

Answered Jul 25, 2017
Mutsla Qanitah
Jurnalis Amatir

Menurut saya subjektivitas bukanlah kata yang tepat untuk mewakili produk jurnalistik yang bernama feature. Meski begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa kesan seperti itulah yang didapatkan seseorang saat membaca sebuah feature. Hal ini karena karakteristiknya yang memang jauh berbeda dengan produk jurnalistik lain seperti hardnews dan softnews. Feature seringkali mengangkat sisi human interest, tentunya tetap harus dilengkapi dengan data, meskipun data yang dihasilkan seringkali berupa data kualitatif.

Jadi, jawaban dari pertanyaan ini: tentu saja boleh dan layak. Feature justru memberi warna bagi sebuah media.

Answered Dec 2, 2017

Question Overview


3 Followers
584 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Bagaimana menjaga objektivitas seorang Jurnalis?

Apa perbedaan antara jurnalisme televisi dan jurnalisme cetak?

Benarkah peran media mainstream semakin terdesak oleh media sosial yang kontennya diisi para netizen?

Benarkah peran media arus utama atau media mainstream semakin terdesak oleh media sosial yang kontennya diisi para netizen?

Kenapa pemberitaan setiap media nasional memiliki perspektif berbeda?

Siapa Itu Sukarni Ilyas yang dikenal dengan nama "Karni Ilyas"?

Siapa itu Pepih Nugraha?

Apa yang dimaksud dengan 5W 1H dalam menulis berita?

Apa yang disebut "Nilai Berita" atau news value?

Siapa Jakob Oetama dalam dunia jurnalistik dan media Indonesia?

Siapa Eko 'Item' Maryadi?

Siapa Suwarjono?

Siapa Nezar Patria?

Apa itu Aliansi Jurnalis Independen (AJI)?

Siapa Ahmad Taufik Jufry?

Bagaimana cara blogger untuk menjadi anggota AJI?

Apa saja permasalahan yang dihadapi oleh wartawan di Indonesia?

Apakah ada program semacam KALABAHU di AJI?

Apa yang Anda ketahui tentang World Press Freedom Day?

Seberapa efektif aturan 1 orang 1 akun medsos untuk memberantas keberadaan hoax?

Apa yang ada di pikiran Anda ketika mengetahui bahwa Mojok.co akan ditutup?

Apa pendapat Anda tentang netizen journalism?

Apa arti "via istimewa" di sumber gambar pada beberapa artikel?

Mengapa penggunaan istilah Islamic State lebih populer daripada ISIS?

Apa bedanya wartawan dengan blogger?

Apa pendapat Anda tentang transkrip pertengkaran pegawai BNN yang beredar?

Apa yang paling Anda sukai dari Catatan Pinggir?

Kenapa Hari Pers di Indonesia diperingati setiap tahunnya?

Apakah jurnalis saat ini masih menggunakan tape recorder dalam peliputan di lapangan?