selasar-loader

Apakah Al Quran dapat ditafsirkan oleh siapa saja?

Last Updated Nov 16, 2016

55 answers

Sort by Date | Votes
Muhammad Husein Ali
Pelajar Serabutan

Hasil gambar untuk alquran

Sumber gambar: https://lh3.googleusercontent.com/k85gJUfdrQH7rxwNMx38c0OLF9T6a1Pqxtp1SKqzT_kCTshPwVdVvYoodvs90QmN=h900 (SUM)

Pada dasarnya, setiap orang berhak menginterpretasi apa yang ia baca. Ketika kita membaca suatu novel Harry Potter misalnya, kita tak bisa memaksakan jika teman kita berkata Harry itu jelek sementara kita memiliki anggapan bahwa Harry itu tampan.

Masalahnya, agama adalah suatu hal dogmatis. Oleh sebab itu, setiap interpretasi dapat dianggap sebagai sebuah aturan yang mutlak.

Bagi saya, setiap orang berhak menafsirkan Alquran namun hanya orang yang berkompetensi saja yang berhak menyebarkan tafsirannya.

Answered Nov 24, 2016
El Hakim Law
Founder Lingkar Studi Islam & Kepemimpinan (@larsik.id)

Semua orang bisa menafsirkan Al-Quran, tetapi tidak semua orang berwenang menafsirkan Al-Quran.

Tahu bedanya, tong?

Answered Dec 31, 2016
Nauval El-Hessan
Humble servant of God

ocTI-6sv5vpaz9VCDjLw2LTudLrfDgcu.jpg

Setiap orang berwenang untuk menafsirkan Al-Qur'an. Akan tetapi, para ulama sepakat ada beberapa tingkatan tafsir. Tafsir yang hanya bisa dipercaya oleh pribadi dan tafsir untuk kepentingan publik. Tafsir untuk kepercayaan pribadi bisa dilakukan oleh orang awam sekalipun. Akan tetapi, tafsir itu tidak boleh dijadikan landasan dalam mengambil putusan hukum, hanya mungkin bisa menjadi pertimbangan.

Tafsir untuk publik harus dilakukan oleh ahlinya. Sama seperti menjadi hakim atau notaris, apakah bisa dilakukan oleh orang yang bukan dari jalur pendidikan hukum? Tentu saja tidak bisa karena harus ada ilmu khusus. Begitu pula tafsir untuk kepentingan publik. Banyak yang harus dipelajari, mulai dari nahwu, sharaf, balaghah, sanad, dan lain sebagainya.

 

sumber gambar via frontpagemag.com

Answered Dec 31, 2016

iN1LnqhSCn5vJMq8YaX7O2VoCJVfH9yh.jpg

Tidak dapat, karena bisa berbeda-beda tafsir nantinya kalau siapa saja bebas menafsirkan Al-Quran, sehingga menimbulkan perselisihan, dan itulah sepertinya yang terjadi saat ini, dimana antara satu golongan dengan golongan yang lain saling klaim kebenaran.

Sepanjang pengetahuan saya Al-Quran itu bisa menjelaskan dirinya sendiri. Maksudnya begini, dalam Al-Quran terdapat dua macam pembagian ayat, yaitu muhkamat dan mutasyabihat, muhkamat adalah ayat-ayat tentang hukum yang tidak perlu ditafsirkan lagi karena sudah jelas, misal berzina hukumnya rajam, mencuri potong tangan, nah ayat-ayat tersebut sudah sangat jelas dan tidak perlu ditafsirkan lagi, sedangkan ayat-ayat mutasyabihat merupakan ayat-ayat yang umumnya berisi perumpamaan, nah ayat-ayat inilah yang bisa ditafsirkan, namanya juga perumpamaan, gimana kita bisa mengerti kalau tidak ditafsirkan.

Namun untuk menafsirkannya tidaklah bisa sembarang orang, bahkan Allah sendiri mengatakan bahwa Al-Quran itu ayat ummubayyinatun, ayat-ayat yang saling menjelaskan, jadi Al-Quran itu bisa menjelaskan dirinya sendiri dengan cara yang sangat kompleks dan hanya bisa dimengerti oleh seseorang yang memang sudah dipilih oleh Allah.

 

sumber gambar: blogspot.com

Answered Dec 31, 2016
Muhammad Zulifan
Peneliti, Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam - UI

Y4OBgGS86sYoCfeqyTTUY8WN7c9fsVwQ.jpg

Jawabannya sama seperti pertanyaan berikut.

"Apakah UUD 1945 dapat ditafsirkan oleh siapa saja?"

Tentu tidak, hanya Mahkamah Konstitusi (MK) yang berhak secara legal dan sah untuk menafsirkannya. Jika tiap warga negara tanpa kriteria tertentu dapat menafsirkan, maka hancurlah negara.

Begitu juga Alquran, hanya orang-orang dengan kriteria tertertu yang sah menafsirknnya, dalam hal ini ulama mufassir dengan kriteria yang sangat ketat untuk mendapatkan predikat tersebut.

Salam

Ilustrasi via netralnews.com

Answered Jan 4, 2017
Agil (Ragile) Abdullah
Penulis blog Kompasiana, ex programer komputer, staff keuangan, Gusdurian

Gambar terkait

Boleh, karena Islam agama untuk seluruh bangsa manusia dan bangsa jin. Namun, benar tidaknya sebuah tafsir Alquran ditentukan oleh ilmu dan pengetahuan sang penafsir. Dalam hal ini dibutuhkan pengakuan oleh para ulama yang kompeten, apakah sebuah tafsir layak diikuti atau harus diabaikan.

Ilustrasi via pimg.mycdn.me

Answered Jan 4, 2017
Ilham Akhsanu Ridlo
Dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga.

Hasil gambar untuk alquran

Tentu tidak. 

Gambar via dakwatuna.com

Answered May 15, 2017
Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

kRyqQsorr-GB-HG9ppOaqXBRiJrZK_rP.jpg

Bisa, hanya dengan catatan. Menanggapi bro Ilham Akhsanu Ridlo dan Muhammad Zulifan 

Pada prinsipnya sebenarnya sama saja. 

Pada dasarnya setiap orang, dengan ilmu pengetahuan, dapat melakukan dan mengerjakan apa pun.

Masalahnya di hari ini, dengan keterbatasan sumber daya (limited recources), maka manusia "dipaksa" untuk memilih informasi apa saja yang akan diolahnya menjadi sebuah kesimpulan atau pun perilaku tertentu yang ia anggap berguna untuk dirinya.

Untuk itulah wajar ada spesialisasi. Untuk itulah juga wajar bahwa meski setiap orang dapat melakukan semua hal, hanya orang yang ahli atau berpengalaman saja yang dapat melakukan sesuatu dengan hasil yang baik dan waktu pengerjaan yang juga baik (efektif dan efisien).

Jadi, di titik ini saya sependapat akan pendapat Ilham Akhsanu Ridlo dan El Hakim Law  meski beliau berdua menjawab tanpa argumen bahwa ada batasan-batasan (kewenangan) untuk melakukan sesuatu. Apa batasannya? Pengetahuan yang dimilikinya.

Permasalahannya adalah ketika persoalan semakin kompleks (dengan super multivariabel yang spesifik serta kontemporer) dan manusia membutuhkan keputusan yang cepat sebagai solusi atas permasalahan yang ada lewat tuntunan Alquran, bisakah manusia menafsirkan Alquran tanpa bantuan ahli tafsir?

Kembali, saya jawab BISA, hanya dengan catatan.

Seperti jawaban saya di Selasar tentang inovasi teknologi apa yang paling saya nantikan (jawaban utuh bisa dilihat di sini), saya bilang di sana bahwa:

"Saya yakin, cepat atau lambat, akan ada sebuah artificial intelligence (AI) yang dapat membantu memaksimalkan fungsi kerja otak dengan membantu supply seluruh informasi yang ada di dunia ini ke dalam otak manusia untuk diproses dengan cepat, dan akhirnya di-convert jadi sebuah kesimpulan yang menentukan sikap dan perilaku seseorang.

Mudahnya, AI tersebut bukan hanya mengumpulkan seluruh informasi dengan cepat, tetapi juga membantu otak untuk mengolah informasi tersebut dalam hitungan millisecond."

Mungkin, semacam teknologi Artificial Intelligence yang dicombine dengan data aggregator-nya Google yang diinstal langsung ke otak. Tapi dengan kinerja yang jauh-jauh lebih baik.

Dengan teknologi ini, big data atas informasi kandungan Alquran dengan berbagai macam tafsirnya, kitab-kitab klasik Islam, ribuan hadis sahih yang dikumpulkan Bukhari-Muslim, berbagai macam pemikiran ulama, atau informasi apa pun di dunia, dapat cepat hadir di otak kita dalam hitungan yang super cepat.

Nah, apabila otak manusia sudah bekerja pada level sempurnanya dengan akses informasi yang unlimited, maka dunia ini sudah "tidak butuh” ulama-ulama konvensional, karena manusia kala itu sudah bisa jadi ulama ( bahkan dengan kapasitas yang jauh lebih baik) secara cepat dan utuh, baik untuk dirinya sendiri dan mungkin untuk masyarakat di sekitarnya.

Ketika saat itu tiba, dengan teknologi big data dan artificial intelligence, setiap orang sudah memiliki kapasitas selayaknya ahli hadist dan ahli tafsir sekaligus. Luar biasa!

Pada saat masa itu datang, mungkin hak untuk menafsirkan Alquran bisa setiap manusia miliki, selayaknya priviledge yang saat ini (hanya) dimiliki oleh para penafsir atau ulama-ulama besar lain.

Semoga salah.

Gambar via encrypted-tbn0.gstatic.com

Answered May 15, 2017
dr Dito Anurogo
Dokter digital/online, penulis 19 buku, S2 IKD Biomedis FK UGM, CEO SLI dan SFI

Hasil gambar untuk TAFSIR ALQURAN

Menurut saya, Alquran boleh saja ditafsirkan oleh mereka yang benar-benar memahami ilmu tafsir dan bahasa Arab secara mendalam dan menyeluruh (kaffah, sempurna). Lalu, mengaplikasikan isi dan filosofinya di dalam kehidupan alias seolah menjadi "Alquran berjalan".

Gambar via santrilucu.files.wordpress.com

Answered May 18, 2017
Aviardhansyah Sakrie
Muslim Pembelajar | http://aviardhansyah.wordpress.com

Gambar terkait

Tidak, untuk menafsirkan Alquran, dibutuhkan keilmuan khusus dan tingkatan ilmu. Ilmu khusus yang dimaksud ialah ilmu bahasa Arab Nahwu dan Sharaf, memahami kaidah-kaidah ushul untuk menafsirkan, serta harus mengkaji dan memahami ilmu tafsir para sahabat nabi khususnya ahli tafsir Quran terbaik, yaitu Ibnu Abbas radhiallahu anhu.

Tingkatan ilmu diartikan bahwa ia telah menyelesaikan kajian ilmu Islam yang komprehensif, berada di atas pemahaman dan akidah agama yang benar dan lurus, dan mendalami sanad-sanad periwayatan tafsir Alquran. Ia pun telah pernah mengkaji secara mendalam tafsir ulama terakhir seperti Ibnu Katsir, Jalalain, Syaikh Sa'di. Karena tafsir mereka sudah sangat jelas untuk dipahami sehingga kita perlu bertanya apakah perlu untuk menafsirkan kembali apa yang sudah ditafsirkan.

Namun, sering kali orang tertukar antara tafsir dan terjemahan. Tafsir bukan menerjemahkan dan sebuah terjemahan tentu bukan tafsir. Maka, jika yang Anda maksud apakah semua orang boleh menerjemahkan? Tentu boleh, asalkan ia punya ilmu sastra Arab yang kuat khususnya, ilmu Nahwu dan Sharaf.

Semoga membantu.

Gambar via blogspot.com

Answered May 19, 2017

Tidak

Hasil gambar untuk tafsir alquran

Ilustrasi via wordpress.com

Answered Jun 12, 2017

Tidak bisa.

Answered Aug 13, 2017

Iya, jika orang tersebut telah memiliki syarat-syarat dalam menafsirkan Alquran.

Answered Aug 16, 2017

Siapa saja boleh menafsirkan Alquran jika memenuhi syarat-syarat sebagai mufassir yang telah disepaki oleh para ulama, dan penafsiran yang tidak menyimpang dari kandungan teks yang bersifat universal.

Answered Aug 16, 2017
Fhidela Dheaa
Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Ini kalam Allah, tidak sembarang orang dapat menafsirkan Alquran, harus memenuhi syarat-syarat yang sudah ditetapkan.

Answered Aug 16, 2017

Tidak semua orang bisa menafsirkan Alquran. Hanya orang-orang yang telah memenuhi syarat dan telah belajar dengan guru ahli tafsir Quran.  

Answered Aug 16, 2017

Tidak dapat, karena dalam Alquran terdapat kata-kata yang tidak bisa ditafsirkan dengan arti biasa harus dengan metode takwil dan jika salah dalam mengartikan ayat tersebut risikonya bisa fatal.

Answered Aug 16, 2017
Anonymous

Al Qur'an tidak bisa di tafsirkan. Oleh siapa saja . Butuh keilmuan yang tinggi dan pengetahuan yang cukup . Serta wawasan yang luas . Karna Al Qur'an adalah bahasa allah, Kalam nya Allah . Bagaimanapun pencipta dengan makhluk nya itu berbeda . Allah maha sempurna , sedangkan kita sebagai manusia yang banyak salah dosa dan khilaf nya 

Answered Aug 16, 2017
Zezen Rifai
Mahasiswa jurusan filsafat islam

Dalam menafsirkan alquran yang terkait dengan hukum syariat maka diperlukan adanya kapabilitas yang memadai seperti memenuhi standar untuk ijtihad. Sedangkan jika terkait dengan penjelasan tentang alam kosmos atau bisa disebut ayat kauniyyah maka diperbolehkan menggunakan potensi logika pribadi karena sejalan dengan tujuan untuk merenungi keagungan tuhan namun dalam batas ayat tersebut 

Answered Aug 16, 2017
Afifah Choirunnisa
Mahasiswi Fakultas Ushuluddin

Tentu saja tidak. Karena setiap orang memiliki pendapatnya masing-masing yang pasti berbeda-beda. Jika ada yang menafsirkan di luar akal dan jika dia tidak mempercayai, itu yang bahaya. Yang wajib bagi kita adalah menjadikan akal tunduk kepada Alquran dan sunnah. 

Answered Aug 18, 2017

Question Overview


and 63 more
81 Followers
5590 Views
Last Asked 2 years ago