selasar-loader

Masa-masa apakah yang paling mengesankan dalam hidup Anda? Mengapa?

Last Updated Apr 29, 2017

10 answers

Sort by Date | Votes

Zl3lNNgEIoBi9YVqlIQG_6w3dRJKMHC4.jpg

Masa masa yang paling mengesankan dalam hidup saya adalah ketika belajar di Pondok Pesantren Darussalam, Gontor yang terletak di Kabupaten Ponorogo,Jawa Timur. Karena menuntut ilmu bukan hanya tentang ilmu di buku saja, tetapi Gontor telah memberikan kepada alumninya kunci agar dapat membuka pintu-pintu yang mereka inginkan di masa depan mereka kelak. Pendidikan karakter dan mental serta ilmu kehidupan yang didapat menjadi salah satu hal yang paling berkesan dalam hidup saya.

 

sumber gambar: blogspot.com

Answered May 2, 2017
Turfa Auliarachman
Penikmat kabar teknologi dan pengguna produk-produknya

6NU0gXwhOXUJL7ZpMWrMtJC9mKiLaVOZ.jpg

Masa-masa ketika saya masih belajar di MAN Insan Cendekia Serpong (IC). Meminjam kalimat yang pernah saya gunakan di salah satu jawaban sebelumnya, sekolah ini sangat banyak memberi saya pelajaran tentang hidup, menjalani hidup, dan memaknai hidup. Sekolah yang mendukung saya untuk terus berprestasi untuk dakwah. Sekolah yang mengajarkan saya cara untuk terus menggali ilmu pengetahuan dan teknologi dengan didasari oleh keimanan dan ketakwaan. Mungkin saya tidak akan bisa seperti sekarang ini jika tidak bersekolah di IC.

Tentu akan sangat banyak pengalaman yang sangat mengesankan ketika kita bersama teman yang sama selama tiga tahun, 24/7. Apalagi dengan banyaknya kegiatan yang asik (mungkin sebulan sekali, bahkan lebih, ada acara-acara internal yang diadakan oleh OSIS).

Sampai saat ini, jika saya mengingat-ingat lagi masa-masa ketika saya bersekolah di sana, ada rasa rindu untuk kembali menjalani kehidupan seperti dahulu.

 

sumber gambar: blogspot.com

 

Admin, saya ingin hadiah Google Nexus ya ;)

Answered May 2, 2017
Mugniar
Blogger www.mugniar.com | Freelance writer

Masa sekolah. Terutama SMP sampai kuliah. Karena di masa-masa itu hidup tidak terlalu memikirkan tanggung jawab seperti setelah berumah tangga :) Ke mana-mana tidak terlalu merasa terbebani. Hanya konsentrasi menyelesaikan studi dan mengembangkan diri. Itu saja.

Saya menjalani hidup dengan lebih santai. Tantangan dan masalah tidak seperti setelah berumah tangga. Ini bukannya mau menakut-nakutin yang belum nikah lho ya, hehehe. Yang belum nikah, nikmatilah masa-masa sekarang. Yang sudah nikah, carilah celah dalam kehidupan Anda untuk bisa menghibur dan mengembangkan diri :)

 

Admin yth, saya mau ikut sayembara ini https://www.selasar.com/jurnal/35311/Sayembara-Selasar-Diperpanjang

Saya ingin hadiah Google Nexus, yah :)

Answered May 2, 2017
Florensius Marsudi
Lelaki, satu istri, satu putri. Masih belajar menulis....

w9ERxfTFD72XReuB77Tm_In7MM28TB9-.jpg

Mengesankan?

Saat saya lulus sekolah.  Saya tak menyangka akan lulus dengan baik, karena saya harus bersaing  dengan  ratusan siswa. Begitu juga  ketika selesai kuliah. Bahkan, ketika harus studi lanjut.

Semua  itu mengesankan saya.

 

sumber gambar: blogspot.com

Answered May 3, 2017
Saverinus Suhardin
Ners, Pembaca, Penulis, Pengajar

WRPUYFbE7hBYCq7yJpOCj1zRdx71f36l.jpg

Bagi saya, masa yang paling mengesankan itu selama mengenyam pendidikan, lebih khususnya saat SMA dan kuliah. Seperti lirik sebuah lagu, "Tiada masa paling indah... Masa-masa di sekolah; Tiada kisah paling indah... Kisah-kasih di sekolah". Memang, kisah yang akan saya ceritakan ini semuanya agak kelam.

Awal memasuki SMA, saya sangat bersemangat. Namun, 5 bulan kemudian kembali lesu. Saya malas ke sekolah. Saya merasa sekolah it membebankan. Banyak aturan yang harus diikuti, banyak tugas yang harus dikerjakan. Padahal, saya ingin hidup bebas. Hidup sesukanya saja.

Saya pun melarikan diri dari sekolah. Kebetulan dulu saya bersekolah di tempat yang terintegrasi dengan asrama, semua siswa wajib tinggal di sana. Saya meninggalkan sekolah dan asrama bukan pulang ke rumah, tapi numpang di kost teman.

Setelah hampir sebulan, pihak sekolah memberi tahu orang tua lewat surat dan pengumuman lewat radio. Setelah yakin kedua orang tua telah mengetahui saya kabur dari sekolah, barulah berani pulang ke rumah.

Saya diberondong oleh berbagai pertanyaan dengan nada marah saat tiba di rumah. Beberapa saya jawab pendek saja. Selebihnya diam, lalu masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam. Intinya saya mau berhenti sekolah.

Orang tua mengalah dan membiarkan saya tidak sekolah. Setiap hari saya lakukan pekerjaan sebagaimana kebanyakan orang di kampung. Saya ikut membantu kerja di sawah / kebun serta ikut membantu pelihara sapi dan babi.

Tahun ajaran baru, tanpa sepengetahuan saya, orang tua mengurusi pendaftaran di sekolah lain. Saya kaget saat diberitahu untuk siap-siap masuk ke asrama sekolah. Saya ikuti saja, lagian sudah jenuh tinggal di kampung.

Di sekolah baru, saya berusaha lebih rajin. Tahun pertama bisa bertahan dengan baik. Masuk pertengahan tahun kedua, saya ingin sekali pindah sekolah di kota kabupaten. Karena tidak berani mengatakan sama orang tua, maka saya buat ulah. Saya mulai malas ke sekolah, sering bolos dari arsama, serta melanggar aturan lainnya. Sudah berapa kali mendapat sanksi dari pembina asrama dan guru, tapi tidak kunjung dikeluarkan dari sekolah.

Saya akhirnya mendapatkan ide. Saya ajak teman-teman minum arak lokal. Setelah agak mabuk, saya berani ke rumah. Saat ditanya, saya langsung mengatakan ingin pindah sekolah ke kota. Mereka marah-marah. Saya tidak peduli. Apalagi efek alkohol membuat saya tertidur.

Keeseokannya orang tua memberi saya sejumlah uang sambil berkata begini, "Kami sudah tidak mau mengurus sekolahmu. Kami hanya siapkan uang, silakan kamu urus sendiri mau sekolah di mana".

Saya terima uang itu lalu pindah sekolah di kota. Di sana saya merasa lebih bebas karena tidak harus tinggal di asrama. Saya tinggal di kost bersama beberapa teman. Tidak ada yang mengatur atau membatasi keinginan kami. Bebas merdeka.

Selama  di kota, saya hanya betah 1 semester di sekolah pertama. Memasuki kelas 3 SMA, saya pindah lagi ke sekolah lain. Jadi, kalau ditotal selama SMA saya merasakan pengalaman bersekolah 4 sekolah berbeda. Untungnya bisa lulus saat ujian akhir nasional sehingga bisa melanjutkan ke perguruan tinggi.

Saya memutuskan kuliah di ibu kota provinsi NTT, Kota Kupang setalah lulus SMA. Saya coba merubah semuanya. Saya sangat termotivasi untuk belajar. Setiap hari saya ke kampus sesuai jadwal dan jarang terlambat masuk kelas. Setiap tugas yang diberikan, saya kerjakan dengan sungguh-sungguh. Saya telah berkomitmen menjadi mahasiswa yang tekun dan disiplin.

Semua berjalan mulus. Saya pun mendapatkan hasil yang memuaskan tiap semesternya. Saya semakin termotivasi untuk lebih giat belajar.

Hingga pada akhir semester kedua, terdengar kabar kalau kampus tempat saya berkuliah tidak mengantongi izin dari pemerintah. Kami berusaha cek sana-sini, ternyata benar, tidak ditemukan dokumen perizinannya. Kami pun protes, melakukan demonstrasi agar dicarikan jalan keluar yang terbaik.

Penyelesaiannya kurang jelas. Banyak teman-teman saya yang pindah kuliah ke Jawa. Saya bingung. Kalau minta pindah sama orang tua, mereka pastinya berpikir saya ini masih seperti yang dulu, malas ikut kuliah dan sebaginya. Kalau saya tidak pindah, maka sia-sia juga nantinya kalau ijazah tidak diakui oleh pemerintah yang berwenang.

Setelah melalui proses berpikir yang panjang, saya menjelaskan masalahnya kepada orang tua. Mereka jawab dengan menangis. Saya sangat menyesali diri sendiri. Saya telah banyak berbuat salah. Sangat banyak pengorbanan orang tua yang tidak saya hargai dengan baik.

Puji Tuhan, orang tua masih menyanggupi untuk pindah tempat kuliah lagi. Saya mengulang lagi, kuliah di tempat baru. 

Sebagai bentuk rasa syukur, saya berupaya kuliah sungguh-sungguh. Hasilnya terlihat saat diwisuda, saya menjadi lulusan terbaik dan mendapatkan beasiswa pendidikan lebih lanjut.

Itulah masa-masa yang paling mengesankan dalam hidup saya. Kejadian itu mengajarkan saya banyak hal. Salah satu yang saya renungkan adalah, kalau kita menyakiti hari orang tua, perjalanan pendidikan atau karir akan mendapat banyak tantangan. Kalau kita menghargai jerih payah orang tua dengan baik, hasil terbaik akan menjadi ganjarannya.

 

 

 

Answered May 3, 2017
Kartika Aprilia
Indonesian Literature, University of Indonesia.

v4frQHeCGxu32tW0orj4h2F7ZHcVvNea.jpg

Menurut saya, masa-masa paling mengesankan adalah masa SMP.

Ketika itu, saya masuk SMP yang favorit di Bekasi, yaitu SMP Negeri 3 Kota Bekasi. Pada saat ospek, saya bertemu dengan kakak kelas saya saat di SD, yaitu Arfin. Saya biasa saja kepada ia karena menganggap ia adalah senior saya. Kemudian saya masuk ekstrakulikuler yang sama dengannya, yaitu Paskibra.

Entah mengapa, di eskul itulah kisah saya dan Arfin dimulai. Ternyata Arfin suka kepada saya. Ia berusaha mendekati saya, namun saya tidak menghiraukannya karena masih menanggapnya kakak kelas saya. Kemudian ia mencoba mencari beberapa cara untuk menjadikan saya pacarnya. Lama-kelamaan saya luluh dan akhirnya kami berpacaran. Ia menjadi pacar pertama saya saat itu. 

Hubungan tersebut kami sembunyikan beberapa minggu. Selama beberapa minggu tersebut ternyata saya baru mengetahui bahwa Arfin adalah laki-laki yang diidam-idamkan banyak wanita di sekolah saya. Mulai dari kakak kelas IX, VIII, bahkan yang seangkatan dengan saya pun menyukainya. Saya tidak masalah dengan hal tersebut, namun saya khawatir banyak yang membenci saya.

Beberapa bulan berlalu, saya mengikuti Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Saat pertama masuk OSIS, saya langsung dicalonkan menjadi Ketua OSIS bersama 2 kandidat lainnya. Voting menunjukkan bahwa saya menang menjadi Ketua OSIS, namun karena saya masih kelas VII dan belum memiliki pengalaman di OSIS, akhirnya saya dijadikan Wakil Ketua OSIS I. 

Saat itu belum ada yang tahu bahwa saya dan Arfin berpacaran. Orang-orang hanya tahu bahwa Arfin menyukai saya dan sering mengunjungi kelas saya ketika jam istirahat. Hal tersebut mulai memancing orang-orang yang menyukai Arfin untuk melabrak saya. Caranya beragam dan lucu. Ada yang langsung bertanya pada teman sekelas saya dan mengancam saya, ada yang berpura-pura menjadi kakak angkat saya untuk mencari tahu informasi mengenai hubungan saya, dan cara lainnya.

Kabar mengenai 'Arfin menyukai Rani' tersebar di sekolah. Semakin banyak orang yang mendatangi saya, menjuteki saya, dan melabrak saya. Tulisan mengenai saya pun banyak tersebar di tembok-tembok kelas, meja dan kursi kelas, bahkan di kamar mandi. Saya dimaki-maki dengan tulisan yang menyakitkan, seperti Rani Jabl*y, Rani Per*k, Rani Psikopat, Rani perebut pacar orang, dan masih banyak lagi. Semua tulisan tersebut memenuhi tembok kamar mandi, bahkan penjaga kamar mandi mencari saya karena banyak nama saya.

Selang waktu berlalu, orang-orang mengetahui bahwa saya dan Arfin memiliki hubungan. Saya merasa bersalah karena saya benar-benar tidak tahu bahwa Arfin memiliki banyak penggemar. Jika saya tahu dari awal, mungkin saya tidak akan menerimanya agar tidak ada yang membenci saya. Meskipun begitu, saya tidak menyesal karena saya juga tidak peduli dengan bully-an tersebut.

Kakak-kakak kelas, teman sepantaran, semakin banyak yang membenci saya dan menaruh tulisan tidak baik di dinding-dinding sekolah. Saya sempat terpukul melihatnya. Ketika pergi ke kantin, saya dilihati banyak orang, bahkan ada yang menyindir. Namun karena saya cuek dan memiliki prinsip do good, jadi saya abaikan hal-hal tersebut.

1 tahun berlalu, hubungan saya dengan Arfin sudah tidak berjalan. Saya memutuskan untuk berpisah karena saya pikir hubungan ini hanya membuat kami dijauhi banyak orang. Arfin pun menyetujuinya dan kami tetap berteman baik. Kami masih dekat, namun statusnya hanyalah teman. Kedekatan kami itu ternyata tidak membuat haters berhenti membenci kami. Mereka masih tidak terima jika saya masih dekat dengan Arfin. Makian pun masih ditunjukkan pada saya. Namun, lagi-lagi saya mengabaikannya.

Setelah jabatan OSIS selesai, saya pun mengikuti OSIS lagi dan dicalonkan menjadi Ketua OSIS lagi. Saya sempat ragu dan takut karena saya berpikir bahwa ketika promosi di kelas, saya akan mendapat cacian dari orang-orang yang membenci saya. Namun, saya selalu berdoa dan ber-positive thinking untuk menjalankan amanat.

Proses pemilihan Ketua OSIS pun berjalan dan Alhamdulillah semua berjalan dengan baik. Saya menyampaikan visi dan misi dengan lancar, tanpa menghiraukan respon dari orang-orang, termasuk haters saya. Sekali lagi, saya tetap memegang prinsip saya, do good.

Setelah penghitungan suara, ternyata saya menang menjadi Ketua OSIS. Hasil voting menunjukkan dari kurang lebih 900 orang, yang memilih saya ada 700 orang lebih. Hal itu menandakan bahwa banyak orang yang membenci saya juga tetap memilih saya. Saya senang dan saya bangga pada diri saya karena saya bisa menunjukkan bahwa mereka yang membenci saya itu tidak memiliki dasar yang jelas.

Saya pun menjabat sebagai Ketua OSIS SMP Negeri 3 Kota Bekasi selama 1 tahun. Banyak program baru yang saya buat dan jalankan, bahkan sering mendapat prestasi dan apresiasi. Saya semakin yakin bahwa cacian dan makian orang-orang tersebut tidak mempengaruhi prestasi saya di sekolah.

Dalam bidang akademik pun saya mendapat peringkat di kelas. Pertemanan dan hubungan dengan orang-orang juga saya jalin dengan baik sehingga saya memiliki banyak teman dan sahabat. Sekali lagi, saya tidak menghiraukan cacian orang-orang dan tetap do good.

Sampai saat ini saya masih bangga terhadap diri saya karena saya bisa membuktikan bahwa bully-an dari orang-orang tidak menghambat prestasi kita jika kita tetap melakukan yang terbaik. Berdoa saja dan lakukan apa yang bisa membuat Anda membaik. Kelak Anda akan lebih berprestasi dibanding orang-orang yang hanya bisa memaki.

Answered May 3, 2017

3El8k-Ruh5EFhrUmJBXGz1BC1_Is5TdK.jpg

Masa kerja dihotel. Karena belajar banyak hal, dari kesalahan dan menemukan sesuatu yang baru, serta bertemu orang-orang baru.

Gambar via www.exp.cdn-hotels.com

Answered May 11, 2017
Amril Taufik Gobel
Smiling Blogger (www.daengbattala.com) , lovely husband, restless father

3e0AZDAJ5WtBJrcAfeydYte0UNKOnjPQ.jpg

Masa kecil di Bone-Bone, 1978-1981

Foto diatas diambil didepan rumah kami di Kecamatan Bone-Bone, Kabupaten Luwu (kurang lebih 500 km dari  Makassar) sekitar tahun 1979. Kami sekeluarga bermukim disana mulai tahun 1978-1981, mengikuti ayah yang dipindahkan bekerja ke IPS (Irrigation Project Scheme) Departemen Pertanian. Pada latar belakang foto itulah kantor ayah saya dan “gubuk” kecil didepannya adalah tempat generator listrik yang dinyalakan setiap malam tiba.

Saya dan ketiga adik saya melewatkan masa kecil yang indah di Bone-Bone. Kami menempati sebuah rumah dinas kopel dengan dua pohon akasia yang tumbuh rimbun didepannya. Dibelakang rumah, nun jauh disana, pegunungan Velbeek berdiri kokoh. Sementara disamping rumah kami terdapat kebun ketela rambat, singkong dan pisang yang dikelola bersama oleh ayah saya dan Pak Pasaribu, staff ayah saya di IPS yang tinggal tak jauh dari rumah kami.

Gaji ayah saya sebagai pegawai negeri yang dikirim via wesel pos kerapkali terlambat dan bila ini terjadi, kami makan hasil kebun berupa ketela rambat dan singkong yang diramu secara dashyat oleh ibu saya menjadi sajian yang nikmat. Bisa berupa sop ubi, singkong goreng atau “popolu” (makanan khas gorontalo yang terbuat dari ketela rambat rebus, kelapa parut dan gula merah),

Tidak hanya itu, untuk menghemat pembelian solar generator listrik, kami menggunakan lampu teplok (saya masih ingat betul, hidung saya menghitam terkena jelaga lampu teplok saat belajar malam).

Untuk membantu perekonomian keluarga, ibu saya menerima jahitan. Tugas rutin saya sebagai anak terbesar adalah mengantar jahitan untuk diobras pinggir atau mengantar jahitan yang sudah selesai ke pelanggan-pelanggan ibu saya. Dengan sepeda mini berwarna jingga, saya menunaikan tugas itu dengan ceria. Tak jarang saya mendapatkan tambahan tip dari pelanggan-pelanggan ibu saya.

Kenangan yang masih lekat dalam ingatan saya selama di Bone-Bone adalah, saya dan adik saya, Budi, bersama kawan-kawan cilik kami selalu mandi sore di saluran irigasi berair jernih yang berada tak jauh dari rumah kami. Biasanya sebelum mandi disana, kami bermain bola dulu di lapangan hingga berkeringat. Rasanya begitu segar langsung menceburkan diri di “kali irigasi” serta bersendau gurau bersama.

Selain radio, satu-satunya sarana hiburan di Bone-Bone adalah Bioskop MURNI yang dikelola oleh Pak Amir. Jarak bioskop itu dari rumah sekitar 1,5 kilometer. Biasanya lebih banyak memutar film-film india yang diiklankan lewat mobil pick-up secara berkeliling. Bioskop tersebut dibangun dari dinding-dinding papan dengan tempat duduk berupa bangku kayu. Ayah pernah mengajak kami sekeluarga nonton film “Ratapan Anak Tiri” disana. Kami duduk berjejer dibangku kayu dalam pemutaran perdana film tersebut dibioskop MURNI. Seluruh bangku hampir dipenuhi penonton. Kedua adik perempuan saya, Yayu dan Yanti, yang masih kecil-kecil dibawa ikut menonton film. Saya, sebagai anak tertua bertugas menjaga mereka jangan sampai hilang dalam kerumunan penonton karena mereka berdua sangat senang berlari-larian didalam bioskop. Tak jarang, saya mesti “memburu” mereka dibawah-bawah bangku penonton. Saya masih ingat betul, kepala saya pernah dijitak seorang penonton yang kesal karena beraksi mengejar kedua adik perempuan saya dibawah bangku.

Sekolah saya berada dibelakang bioskop MURNI. Suatu hari, adik saya Budi yang juga bersekolah ditempat yang sama dan masih duduk dikelas 1 SD melapor baru saja dipukul oleh teman sekelas saya di kelas 3 SD. Tampaknya teman sekelas saya itu dendam karena tidak saya pinjamkan catatan dan kemudian “mengincar” adik saya Budi.

Dengan amarah “mendidih”, saya lalu mendatangi kawan sekelas saya itu (kalau tidak salah namanya Baco) dan menantangnya duel didepan bioskop MURNI sepulang sekolah. Baco menyanggupi tantangan saya. Dan tepat pukul 13.00 siang, saat sekolah usai, saya dan Baco dengan ditemani oleh sejumlah kawan pendukung, bertemu ditempat yang sudah kami sepakati sebelumnya untuk berduel : didepan bioskop MURNI.

Sebelum duel berlangsung, kami berdua membuka baju masing-masing (agar tidak kotor). Budi menonton kakaknya dibalik sepeda jingga kami dengan harap-harap cemas. Pertarungan pun dimulai dengan ditingkahi sorak-sorai penonton yang juga adalah kawan-kawan sekolah kami. Beberapa kali saya berhasil menghunjamkan pukulan ke tubuh Baco yang berperawakan lebih besar dari saya dan sebaliknya beberapa pukulan serta tendangan dia mendarat ditubuh saya. Wajah kami berdua babak belur. Pertarungan kami mendadak berhenti saat seorang guru sekolah memergoki kami berdua yang tengah bergelut seru ditanah.

Kami berdua lalu digiring ke sekolah kembali dan masuk ke ruang kepala sekolah. Tak lama kemudian ayah saya dan ayah Baco datang tergopoh-gopoh. Setelah mendapat nasehat seperlunya, ayah membawa saya dan Budi pulang. Sepanjang jalan, sembari menuntun sepeda jingga kami, ayah “memborbardir” kami dengan omelan.

Tahun 1981, kami sekeluarga meninggalkan Bone-Bone menuju ke tempat penugasan ayah yang baru di BPSB VI (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih) Kabupaten Maros. Begitu banyak kenangan indah terpatri disana. Diatas mobil yang membawa kami ke Maros, saya menatap sedih rumah kopel, gubuk generator, saluran irigasi, kebun singkong, bioskop MURNI dan pegunungan Velbeek yang memukau. 

Answered May 11, 2017
Gina Namira
Knows a little.

KKOETVJyTBtn7kWnoNr--itn3EWz1bsM.jpg

Hi Annisa! Thanks for the A2A!

Untuk pertanyaan ini, tadinya saya mau menjawab masa SMP, karena di masa itu hidup saya kayanya gampang banget, tidak ada beban sama sekali, bahagiaaaa banget. Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya masa SMA saya lebih berkesan deh, lebih banyak naik turun ala ABG-nya :p

Okay, saya ceritakan ya. 

Saya anaknya tidak suka belajar dan sekolah walaupun untungnya masih bisa mengejar pelajaran dari TK sampai SMP. Semua berakhir ketika lulus SMP. Saya diminta untuk ikut tes masuk ke sekolah unggulan di kota saya di program SBI. Yaa, walaupun males setengah mati, namanya disuruh Mama, udah diambilin form pendaftarannya berkali-kali, ya saya ikut saja. Saat tes saya juga ogah-ogahan, datang paling akhir, keluar paling awal. Saya ingat banyak yang melihat kaget/sinis pada saya karena saya kelihatan banget ga niat. yang lain mukanya rajin-rajin :p. Tapi namanya ada doa Ibu, saya ternyata lulus dalam tes itu. 

Berhubung yang mengadakan tesnya adalah psikolog pemilik playgroup saya waktu kecil, jadi sudah kenal, beliau memberitahu Mama bahwa nilai tes saya cukup jika saya ingin masuk ke program Akselerasi. Long story short, saya masuk ke program Akselerasi atas dorongan Mama dan kakak-kakak. "Biar cepet masuk kuliah," katanya. 

Di situlah mimpi buruk saya berawal. Saya sekolah dari jam 7.30 sampai 17.30 hari Senin-Kamis, 7.30-11.00 hari Jumat, dan 7.30-14.30 hari Sabtu selama 8 bulan pertama, 7.30-12.00 hari Sabtu setelah 8 bulan pertama.

Berasa hampir gila seharian ada di kelas. Saya tidak bisa lagi mengikuti ekskul drum band yang saya ikuti dari kelas 3 SD, saya harus meninggalkan latihan intensif karate di hari Senin-Kamis (padahal latihannya untuk calon atlet :() dan akhirnya benar-benar berhenti karate, sampai akhirnya saya benar-benar tidak melakukan apapun selain sekolah. Saya juga ikut tes pertukaran pelajar yang cukup bergengsi dan lulus di ketiga tahapnya. Tapi katanya sih kalau saya keluar negri dulu selama setahun, balik-balik saya masuknya ke kelas reguler yang berarti SMA saya jadi 4 tahun. Males dong dan akhirnya dilepas lah kesempatan emas itu :(

Nah berhubung teman-teman saya di program reguler, mereka biasanya pulang lebih cepat dari saya. Namanya abege masih bandel, saya akhirnya jadi sering ikutan main sama mereka dan cabut dari sekolah. Cabutnya biasanya makan-makan, nonton, dan kelakuan standar remaja perempuan lainnya. Ga macem-macem kok suer. 

Saya sebelumnya tidak terbiasa belajar di rumah, paling hanya mendengar guru di sekolah. Jadi nilai saya pun hancur karena tidak pernah mendengar guru di sekolah, apalagi belajar sendiri di rumah. Saya bahkan beberapa kali ketiduran di kelas. Di hari-hari tertentu, di mana mata pelajarannya yang gampang-gampang seperti Kesenian, Bahasa Inggris, dan Komputer (pelajaran Sabtu tuh saya inget banget), saya biasanya minta dibuatkan surat izin tidak sekolah sama Mama, dan dikasih!! Jadi saya cabut legal deh :p

Setelah setahun bersekolah, Mama saya dipanggil wakil kepala sekolah bidang akselerasi dan guru-guru BK. Menurut mereka saya underachiever dan jika tidak berubah akan gagal dalam ujian akhir nasional. Jadi saya diancam dipindah ke kelas reguler kalau tidak berubah. Oh saya lupa bilang, kedua kakak saya juga bersekolah di sana dan mereka murid teladan gitu deh dulunya. Jadi di ruang BK saya dibanding-bandingin juga :(

Untungnya, Mama menjawab dengan diplomatis, kalau Mama yakin sebenarnya saya mampu mengikuti pelajaran dan Mama percaya dengan kemampuan saya. Tapi setelah itu saya disuruh les juga sih tetep hahahaha. Teman kakak saya yang lulusan ITB datang setiap Jumat siang selama 1 jam untuk belajar mafiki. Saya les selama setengah tahun hingga tiba saatnya UAN. Ternyata setelah lebih dari 1.5 tahunan santai-santai, sehari sebelum UAN saya panik juga hahaha. Waktu itu saya merasa cemas hingga tidak bisa napas dan gemeteran setengah mati. Tapi sebulan kemudian, saya dinyatakan lulus juga ternyata, dengan nilai yang ga malu-maluin :D

Lalu saya mulai bimbel dan tes masuk ke perguruan tinggi. Saya bimbel intensif selama 6 minggu di SSC Bandung. Seminggu pertama sih masih rajin masuk kelas. Minggu kedua mulai males :( Apalagi di minggu-minggu berikutnya. Jangan ditanya! Saya baru mulai rajin di 2 hari terakhir karena ditelepon sama kakak saya, yang bilang kalau Mama sama Papa mungkin akan sulit menerima kenyataan kalau saya ga lulus PTN. Eh tapi mau sombong, tiap Sabtu kan ada try out, saya pernah dapat 10 besar dari ratusan anak yang bimbel bareng saya, dan beberapa kali nama saya terpampangnya di halaman pertama hasil try out :p

Saat itu target saya masuk Psikologi UI. Tapi di SIMAK yang kuotanya paling banyak saya tidak lulus, di UMB yang kuotanya di bawah SIMAK saya juga tidak lulus. Nangis-nangis deh tuh. Mulai menyesal karena sebelumnya saya melepas beasiswa di President University. Padahal harusnya kan saya jadikan cadangan saja. Kesempatan terakhir saya SNMPTN di mana anak-anak yang sudah lulus di tempat lain masih banyak yang iseng buat masuk ke jurusan lain, termasuk jurusan incaran saya. Sudah lah kuotanya cuman 10, yang ikut ada ribuan. Kelar SNMPTN saya nangis karena merasa gagal. Lalu akhirnya saya ikut perintah Papa, untuk ikut tes STAN. Mungkin karena ga niat juga, di hari tes saya hanya tidur kurang dari 2 jam, mengerjakan tes sambil kriyep-kriyep dan kelihatan agak teler, selesainya pun terakhir. Pengawas di kelas kayanya sampai ga tega melihat saya. Beliau sampai nanya-nanya dan ngelus-ngelus kepala saya bilang semoga sukses. Padahal dalam hati sih saya merasa tesnya gampang :p

Ternyataaaaaaaaaa saya lulus di Psikologi UI dan Akuntansi STAN! Tapi karena udah keburu bayar di Psikologi (dan emang ga minat di STAN sih), saya berakhir jadi anak Depok deh. Dari situ dimulailah fase baru dalam hidup saya yang ngga kalah berkesan = anak kuliahan! :p

Kuliah saya juga berkesan sih, banyak naik turunnya juga. Tapi entah kenapa (mungkin karena waktu SMA masih labil) rasanya masih lebih berkesan masa SMA...(more)

Answered May 31, 2017
Annisa Sri Aulia Mutiara
Pecinta sepakbola. Penikmat sastra.

HFGMoctS9kLPszErO2zN5shXsj2HDcqK.jpg

Masa yang paling mengesankan di hidup saya sejauh ini adalah masa kuliah. Meski saya baru menginjak tahun kedua di kampus, saya tetap merasa bahwa masa kuliah adalah masa yang paling berarti. Di tahapan ini, kita sudah dianggap cukup dewasa untuk bertindak. Kita dibebaskan memilih, dalam hal apapun. Dari mulai memilih jurusan yang dirasa paling tepat dengan bakat dan minat, hingga memilih kegiatan-kegiatan apa saja yang hendak kita ikuti untuk mengisi masa-masa kuliah.

Sejak awal masuk kuliah, saya memiliki cita-cita untuk mengabdi. Saya merasa sangat perlu mengabdi untuk masyarakat karena mereka memiliki andil dalam pendidikan kita sejauh ini. Pun, kita sebagai mahasiswa memiliki tanggung jawab terhadap generasi selanjutnya. Maka, saya memilih organisasi yang bergerak di bidang pengabdian masyarakat, dengan menghabiskan satu tahun mengajar anak-anak di sekitar kampus melalui Rumah Belajar BEM.

Di masa kuliah, kita memiliki kebebasan yang "sebebas itu". Anda diperbolehkan mengikuti kegiatan apapun yang sesuai dengan minat bakat, yang sesuai dengan keinginan Anda. Anda dibebaskan untuk menggali kompetensi sedalam-dalamnya. Anda diberikan kesempatan untuk mengeluarkan kemampuan terbaik Anda. Anda pun memiliki waktu untuk menjadi versi terbaik dalam diri Anda. Menyenangkan, bukan?

Saya masih memiliki dua tahun lagi untuk menggali kemampuan saya, untuk mewujudkan cita-cita saya, untuk memberikan kemampuan terbaik saya, untuk menyalurkan hal-hal yang saya sukai, dalam dunia kampus. Saya pun akan berusaha memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Karena indahnya masa-masa kuliah tidak bisa Anda cicipi dua kali. :)

 

sumber gambar: telemundo.com

Answered Jun 3, 2017

Question Overview


12 Followers
7382 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Apa pengalaman terburuk yang pernah Anda alami seumur hidup?

Apa pengalaman terbaik/terindah yang pernah Anda alami sepanjang hidup Anda?

Bagaimana cara Anda meniti karier dari bawah sampai ke puncak?

Bagaimana rasanya ditipu/difitnah/dizalimi oleh orang lain?

Apa hal yang paling berbahaya/berisiko yang pernah Anda lakukan?

Apa pengalaman yang paling mengesankan selama hidup Anda?

Apa cerita nyata yang Anda alami tapi banyak orang tidak percaya?

Apa cerita hebat mengenai orang tua Anda yang akan ceritakan ke anak Anda?

Apa pengalaman kehidupan yang paling berkesan dalam diri Anda?

Apa hal paling menyedihkan yang pernah Anda dengar, baca, dan lihat?

Siapa yang paling menginspirasi hidup Anda?

Apa cerita yang paling menginspirasi dan mengubah hidup Anda?

Novel apa yang paling menginspirasi dalam hidup Anda hingga mengubah hidup Anda?

Apa kegagalan-kegagalan terbesar dalam hidup Anda?

Apa film yang paling menginspirasi dan mengubah hidup Anda?

Siapakah tokoh olahraga Indonesia paling menginspirasi?

Siapakah tokoh olahraga dunia yang paling menginspirasi?

Siapa di antara anggota keluarga besar Anda yang memiliki prestasi paling mengesankan?

Apa 10 pengalaman yang harus dijalani selama hidup?

Apa nasihat terbaik yang pernah Anda dapatkan?

Bagaimana menjelaskan bahwa ada kemungkinan kehidupan lain selain di Bumi ini?

Apa motto hidup paling keren?

Apakah seseorang mempunyai karakter bawaan yang tidak bisa diubah?

Apa ketakutan terbesar dalam hidupmu? Mengapa?

Siapakah cinta pertama Anda?

Seberapa pentingkah olahraga bagi Anda ?

Apa yang Anda lakukan ketika mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan?

Apa pengalaman paling bermakna dalam kehidupan Anda?

Siapakah orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan Anda?