selasar-loader

Apakah Tuhan perlu dibela?

Last Updated Nov 16, 2016

50 answers

Sort by Date | Votes
Ghulam Azzam Robbani
Alumnus Nation Envoy Camp IKADI dan Umroh Da'i MAQDIS

Hasil gambar untuk tuhan perlu dibela

Jika ada sebagian kalangan yang mengatakan bahwa Tuhan tak perlu dibela karena kekuasaan dan kekuatannya, saya ingin bertanya kepada Anda, apakah jika orang tua Anda yang notabene adalah lebih berkuasa daripada Anda, lebih memiliki pengalaman dari Anda, lebih mempunyai jaringan yang luas daripada Anda, apakah mereka tidak perlu dibela jika mereka disakiti, dicaci maki? 

Jika hari ini ada begitu banyak orang yang siap mati ketika ulama atau tokoh idolanya disakiti atau dicaci maki, apakah yang menggerakkan itu? Apakah ini hanya soal ulama dan tokoh itu tidak bisa membela diri mereka sendiri?

Bagi seorang muslim, Allah adalah Tuhan yang Mahakuasa dan maha segalanya. Perkara mudah jika Allah telah berkehendak. Namun, karena Allah adalah yang maha segalanya, bukan domain dan urusan kita yang hanya hamba yang hina. 

Yang harus dipahami adalah, kita harus tahu diri, dengan segala keterbatasan dan kehinaan, kita masih diberikan begitu banyak hal yang luar biasa. Jadi, ini tentang cinta dan penghambaan seorang muslim terhadap Allah SWT untuk membela agama dan Tuhannya.

Iludtrasi via inpasonline.com

Answered Dec 21, 2016
Pramudya Oktavinanda
A devoted disciple of Law and Economics, UChicago Style!

VltdozU6q-Id0X9dTbrKwL_iwS3U3-ZD.jpg

Tergantung konteks pertanyaannya. Sebagai zat yang Maha Perkasa, jelas Tuhan tidak membutuhkan pembelaan karena Tuhan memang tidak membutuhkan siapa pun dan apa pun di seluruh ruang dan waktu. Sebagai konsep ideologi, maka tentunya perlu ada yang membela, karena ideologi tidak bisa berbicara dan bergerak sendiri, ia membutuhkan manusia untuk menyebarkan dan membelanya. Nah, ketika kita berbicara soal pembelaan ideologi ini, isu yang lebih menarik adalah kapan pembelaan itu harus dilakukan, sejauh mana harus dibela, dan bagaimana cara membelanya?

Tiap orang memiliki nilai-nilai ideologi sendiri yang akan dibelanya. Kadang mati-matian, kadang sambil lalu, tapi kalau nilai itu penting, dia akan banyak berjuang untuk nilai-nilai itu. Ini yang kemudian harus diarahkan supaya tersalurkan dengan positif. Bagi saya pribadi, omong kosong kalau seseorang mengklaim sedang membela sesuatu tetapi tak paham betul apa yang sedang dibela. Bedakan antara sungguh-sungguh membela sesuatu dengan hanya sekadar ikut-ikutan tapi merasa sedang membela. Yang kedua ini yang bermasalah. Kalau beneran cinta, masa tak paham apa yang dicintai untuk kemudian selanjutnya dibela? Pada akhirnya, ini memang masalah prioritas. Klaim itu mudah, menjalaninya yang susah, dan yang paling sulit adalah konsistensi dalam menjalani klaim itu. 

Ilustrasi via i0.wp.com

Answered Dec 26, 2016
Florensius Marsudi
Lelaki, satu istri, satu putri. Masih belajar menulis....

Hasil gambar untuk apakah tuhan perlu dibela

Tidak perlu, itu menurut saya.

Alasannya sederhana, ia mengatasi segalanya. Transendental. 

Kata "membela Tuhan" adalah bahasa manusiawi. Dari kedua kata tersebut, menurut saya, hanya mau merujuk pada disposisi batin manusia, ketika manusia berada dalam ketidaknyamanan.

Ilustrasi via blogspot.co.id

Answered Jan 4, 2017
Agil (Ragile) Abdullah
Penulis blog Kompasiana, ex programer komputer, staff keuangan, Gusdurian

Hasil gambar untuk TUHAN PERLU DIBELA

Tidak, Tuhan hanya perlu diyakini keberadaanNya, diindahkan ajaranNya, kemudian diagungkan zatNya.

Ilustrasi via inpasonline.com

Answered Jan 4, 2017
Ma Isa Lombu
Kadang Skeptis, Seringnya Rasional

8LifAnEN3Gv7FySkq6m9zyY-ZZnIF0rQ.jpg

Tidak perlu kata sebagian orang. 

Mereka yang menjawab tidak perlu berpendapat bahwa karena Tuhan Maha Besar dan Kuasa. Dengan kekuatan dan keperkasaannya, Tuhan tidak perlu mendapatkan bantuan dari makhluk ciptaanNya yang lemah.

Masalahnya adalah apakah sesederhana itu? 

Jangan-jangan kita sudah melakukan simplifikasi.

***

Saya mau memberikan sebuah analogi. Analogi sederhana tentang orang tua dan anak. Mungkin bisa menjelaskan dan menjawab pertanyaan ini.

Suatu hari, tersebutlah Ibu Ani dan anaknya, Agus. 

Ibu Ani ikut arisan dan Agus sang anak menemani sang bunda hingga selesai. Setelah selesai, Bu Ani dan Agus langsung beranjak pulang. Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan Ijik, anak tetangga seusia Agus yang terkenal bandel. Tanpa disangka, Ijik meneriakkan kata-kata yang tidak pantas kepada Bu Ani. 

Pertanyaannya adalah sebagai berikut.

a. Apakah Ibu Ani sanggup membela diri?

Jawab: Jelas sanggup, karena Ibu Ani sudah dewasa dan secara sosial, ia memiliki kekuatan untuk menghukum Ijik, misal dengan melaporkan ke orang tuanya.

b. Apakah Ibu Ani perlu dibela Agus, anaknya?

Jawab: Perlu, karena pembelaan Agus mensyaratkan bakti dan kasih sayangnya ia kepada sang bunda. Pembelaan Agus pula yang menjadi bukti bahwa kehormatan orang yang ia sayang dan hormati perlu ia jaga. 

Jika Agus tidak membela dan melakukan "crime of silence", maka Agus khawatir anak-anak bandel lainnya di sekitar komplek akan melakukan hal yang sama kepada ibunda tercinta.

Jadi, sikap pembelaan Agus terhadap bundanya tidak serta-merta berkorelasi positif terhadap kemampuan sang bunda dalam membela diri.

Sekian :)

Ilustrasi via bundaaisyah.com

Answered Jan 4, 2017
Granito Ibrahim
Tuhan itu Maha Seni

Hasil gambar untuk sholat dhuha

Tidak perlu, menurut saya. Justru sayalah yang perlu dibela Tuhan. Di sisi lain, karena saya mencintai Tuhan, bisa saja saya tersinggung manakala Tuhan saya dijelek-jelekan atau diremehkan. 

Namun, apabila saya tidak mengedepankan emosi, tentu rasa tersinggung itu akan kecil sekali kadarnya. Malah saya berpikir sebaliknya, jangan-jangan saya sendiri suka meremehkan Tuhan saya, dengan kelakuan saya, dengan ketidakpatuhan saya terhadapNya, atau menyakitkan hati orang lain yang juga ciptaanNya.

Ilustrasi via i2.wp.com

Answered Jan 4, 2017
Revangga Putra
Hanya orang pinggiran

Tidak.

Hasil gambar untuk tuhan tidak perlu dibela

Ilustrasi via matana.ga

Answered Jan 4, 2017
Habibi Yusuf
Pembelajar agama Islam

z9x21dIggT4xkV7cL6_3PzJpYlNSSECf.jpg

Dalam konteks ajaran Islam, ada beberapa ayat dalam Alquran yang menyinggung/berkaitan dengan pertanyaan semacam ini, antara lain:

“Wahai sekalian manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah”. (QS. Fathir: 15-17)

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (saja). Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (QS. Adz Dzariat: 56-58)

Pada hakikatnya, Allah (Tuhan) Maha Berkuasa atas segalanya. Tentu saja kekuasaannya mutlak, dan kita manusia hanyalah hamba-Nya yang lemah dibandingkan dengan seluruh kekuasaan Tuhan. Namun, ada istilah yang cukup menggelitik yaitu apakah Tuhan perlu dibela.

Ini adalah pertanyaan yang lebih bersifat filosofis ketimbang teknis. Karena dengan kekuasaannya yang mutlak, kenapa lagi Tuhan perlu untuk dibela. Tentu saja kalau konteksnya adalah kekuasaan Tuhan, maka manusialah yang butuh Tuhan, butuh untuk menyembah Tuhan. Bahkan, hakikat manusia diciptakan adalah untuk beribadah/menyembah Tuhan, yaitu dengan jalan melaksanakan semua yang diperintah-Nya melalui kitab suci dan ajaran Rasul-Nya serta meninggalkan semua yang dilarang-Nya.

Namun, membela Tuhan juga memiliki konteks lain, yaitu bagaimana manusia beriman dituntut untuk membela ajaran Tuhan (agama) yang diturunkan untuk umat manusia. Membela Tuhan di sini dimaksudkan untuk membela segala upaya menyampaikan/mendakwahkan ajaran-ajaran Tuhan berupa perintah dan larangan dan segala yang dicontohkan Rasul-Nya kepada umat manusia. 

Upaya mendakwahkan ajaran Tuhan (agama) dengan cara yang baik dan penuh hikmah, adalah dalam rangka untuk kebaikan manusia itu sendiri. Supaya hidupnya di dunia lebih teratur, terarah, dan sesuai dengan arahan Tuhan. Serta agar kelak di akhirat mendapatkan balasan yang baik hidup dalam kebahagiaan yang kekal. Namun, sering kali upaya mendakwahkan ini mendapatkan tantangan dan hambatan dari manusia-manusia lain yang punya niat jahat atau karena ketidaktahuannya.

Untuk itu, manusia-manusia beriman diajak dan diperintahkan untuk membela ajaran Tuhan (agama) ini, dalam bentuk membela dan melindungi penyampaian ajaran Tuhan ini secara benar kepada manusia, membela kebenaran ajaran Tuhan melalui berbagai argumentasi terhadap orang-orang yang mendustakannya, serta meneguhkan amar ma'ruf (mengajak kepada kebaikan) dan nahi munkar (melawan kemungkaran) sebagai implementasi ajaran Tuhan di muka bumi dengan cara yang baik dan penuh hikmah.

Ajakan "membela Tuhan" ini merupakan seruan abadi dari para Nabi & Rasul mulia, manusia-manusia pilihan Tuhan sebagai pengemban risalah ajaran Tuhan kepada seluruh umat manusia. Tidak hanya Nabi Muhammad saw, namun juga para Nabi & Rasul terdahulu, sebagaimana ditegaskan dalam ayat Alquran berikut:

"Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata, "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir, maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang." (QS. Ash-shaff : 14)

Lalu, mengapa Tuhan membiarkan ada orang-orang yang akan mendustakan ajaran-Nya di satu sisi, sedangkan menyuruh manusia lain untuk membela-Nya di sisi lain? Ini adalah salah satu hikmah penciptaan manusia dan segala kehidupan di dunia ini. Tuhan bisa saja menghendaki semua manusia ini bersifat sama (satu karakter/keyakinan), namun Tuhan punya kehendak lain yaitu agar kita (manusia) saling berlomba-lomba untuk berbuat baik dan berjuang di atas kebenaran, sebagai ujian agar kita (manusia) dapat menjadi umat yang terbaik.

“Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan- Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS. Al-Ma’idah: 48)

Jadi, esensi dari upaya "membela Tuhan" adalah justru kebutuhan dari manusia beriman itu sendiri, agar dirinya menjadi umat terbaik yang saling berlomba beramal baik, dalam kerangka ibadah/menyembah kepada Tuhan sebagai kwajiban atas penciptaannya. 

Dengan kata lain, Tuhan seolah ingin memberi ujian kepada manusia, "Kamu sudah Aku ciptakan dan Aku beri berbagai kenikmatan di dunia, tunjukkanlah upaya pengabdianmu kepada-Ku, agar kelak Aku beri lebih banyak kenikmatan dan kebahagiaan untukmu, yaitu kemenangan di dunia dan kesenangan di akhirat."

 

Ilustrasi via cdn.cakranews.com

Answered Jan 5, 2017
Abhotneo Naibaho
Kita manusia lah yang patut ditolong oleh Tuhan, bukan sebaliknya.

Bagaimana mungkin kita yang adalah mahluk ciptaan yang seharusnya mendapatkan pembelaan manakala kita harus dibela oleh Sang Pembela Sejati yakni Tuhan Yang Maha Kuasa....?????

Answered Jan 10, 2017
(A)gansky
Ngalamers. Bataknese. Loving Annelies.

Sangat tidak perlu sama sekali. Bila Tuhanmu dihina, sebesar apa kuasamu untuk membela Dia? Membela Dia atas penghina-Nya juga merupakan bentuk penghinaan juga terhadap Dia. Kita menyebut Tuhan Maha Kuasa, maka biarkanlah kuasa-Nya yang bekerja.

Bila Tuhanmu dihina lalu imanmu terganggu, maka yang perlu diperiksa itu imanmu, bukan penghina Tuhanmu.

Answered Jan 13, 2017
Ricky Jenihansen
Adventurer, Journalist, Student and Researcher

Tuhan tidak akan hina jika tidak dibela. Tapi dengan membela Tuhan, kita akan terus meninggikan agama-Nya di dunia. 

Answered Jan 16, 2017
Wilingga Wilingga
Menulis, menulis, menulislah

Tuhan tak perlu dibela.

Answered Jan 17, 2017
Fajri Muhammadin
Lecturer at the Dept. of International Law, Faculty of Law, UGM

jrVmyxVixWWUAbEmK4-O5EZdZMOj393O.jpg

via combiboilersleeds.com

Ini adalah pertanyaan yang sangat menjebak, sama seperti pertanyaan "Apakah ibumu sudah keluar dari penjara?" padahal belum pernah dipenjara. Insya Allah saya akan menjawab dengan apa yang saya pahami dari agama Islam saja.

Kata "perlu" di sini antara lain dapat bermakna "membutuhkan". Padahal, Allah tidak membutuhkan suatu apapun. Jika kita memaknai dengan cara demikian, maka jawabannya jelas tidak.

Kata "perlu" juga dapat dimaknai apakah dari sisi para pembelanya. Apakah perlu kita melakukan pembelaan? Apalagi mengingat pemaknaan sebelumnya menunjukkan bahwa Allah tidak perlu dibela?

Jawabannya, ya, tapi kita harus lebih kritis dalam memahami konteks pertanyaan dan jawabannya.

Gini, lho.

Lapis pertama.

Memangnya kalau ada yang menghina ibu kita, lantas derajat dan kemuliaan ibu kita berkurang? Jawabnya, tidak. Tapi, itu adalah salah satu bukti cinta kita pada ibu kita. Sudah merupakan hal yang alamiah ketika kita memiliki rasa "cemburu" dan marah ketika apa yang kita cintai dihina. Ini namanya GhirahSaya menulis tentang ini (konteksnya Ahok dan penistaan agama) di blog saya, silahkan diklik di sini

Allah tidak perlu dibela, tapi respon keras kita terhadap penghinaan adalah bukti keimanan. Karena iman letaknya ada di hati, dan itulah cinta. Cinta kepada Allah dan Islam adalah utama dalam agama ini dan merupakan pondasi iman. Banyak ayat dalam Al Quran yang menjelaskan ini, misalnya Al Hujarat ayat 7-8 atau At Taubah ayat 24, dan laaain sebagainya.

Kita mau mati dalam keadaan beriman, bukan? Ghirah adalah keniscayaan pada orang orang yang sungguh beriman.

Lapis kedua

Kadang, serangan terhadap Islam adalah berbentuk tindakan konkret, mulai dari serangan fisik hingga serangan ilmiah dan pemikiran. Janji Allah adalah bahwa Islam akan menang. Ada di berbagai hadits bahwa Islam akan hancur-terpuruk, lalu bangkit lagi, dan akhirnya hilang karena semua orang Islam akan dimatikan sehingga tersisalah orang-orang kafir dan saat inilah terjadi kiamat.

Tentu intervensi Allah akan sangat banyak, tapi manifestasi keduniawiannya adalah bahwa kejayaan ini akan terjadi melalui wasilah (perantara) umat Islam yang memperjuangkan agamanya. Nah, ini adalah "membela agama". Jangan melihat bahwa "agama ini lemah sehingga butuh pembelaan". Tapi "kekuatan agama ini yang akan memenangkannya akan berwujud perjuangan umatnya". 

Dalam lapisan ini, ya, harus membela agama. Karena Islam akan menang, dan kita ingin dimatikan dalam keadaan berjuang sebagai bagian dari kemenangan itu.

Demikian jawaban saya. Wallaahu'alam bish shawaab.

Answered Jan 19, 2017
Revangga Putra
Hanya orang biasa yang biasanya cuek.

Siapa yang bisa membela Tuhan?

Answered Mar 5, 2017

Ini simpel banget, sih. Saya setuju kalau Tuhan itu nggak perlu dibela dengan berbagai alasan apapun. Cuma, Tuhan itu melihat dan menilai sikap hamba-Nya. Tuhan melihat posisi kita ketika Tuhan itu dihina, apakah kamu diam saja atau "gerak"?

Answered Mar 6, 2017
Venusgazer E P
A man who loves reading, writing, and sharing

1rbsJHbQ487OZ4teEjU7ZkvypZcEvW1e.jpg

Membela Tuhan sama saja mengkerdilkan Tuhan. Tuhan sudah mempunyai bala tentaranya sendiri dan itu bukan tugas manusia. Tugas manusia itu hidup selaras dengan kehendak-Nya saja. Terutama, menjadi manusia yang berarti bagi sesama manusia.

Answered Mar 6, 2017
Tegar Hamzah
Pegawai Pelabuhan Indonesia II, Ditempatkan di Gresik, Tinggal di Surabaya

Y-YO43tJlFGW6NlBlki63LnGzSecP6ig.jpg

Tidak. Tapi saya tidak terima saat agama saya yang sedikit banyak sudah menjadi identitas saya itu dihina. Itu naluri. Saat bagian dari diri dilecehkan, tentunya manusia normal pasti tidak terima. Yang berbeda mungkin respon yang terlihat. Ada beberapa orang yang diam dan berdoa saja. Ada yang langsung lewat aksi nyata, misalnya demo, atau bentuk lainnya.

Apa hal-hal tersebut bentuk pembelaan terhadap Tuhan? Terserah masing-masing orang dalam menafsirkannya. Ada yang bilang itu sia-sia saja, tapi ada yang merasa bahwa itu bentuk positioning seseorang di hadapan tuhannya.

Answered Mar 7, 2017
Rinhardi Aldo
Penulis dan Pekerja - Teknik Jaringan Akses SMK Telkom Jakarta

Hasil gambar untuk demo ahok

Tuhan perlu dibela? Kalau menurut (alm) Gus Dur, tentu jawabannya tidak.

Buat saya, membela Yang Kuasa rasanya sah-sah saja dilakukan. Hanya memang jalur "membelanya" yang berbeda. Jika saya diminta membela Dia dengan cara yang sama yang dilakukan sebagian besar umat Islam terkait kasus pak Ahok, rasanya saya tak bisa. Saya lebih baik membela Dia dan ajarannya dengan cara yang lain, seperti konsisten mengkritisi dunia media dan penyiaran yang telah saya lakukan selama 3 tahun terakhir, yang di dalamnya mengandung rasa ketidakadilan yang sama seperti mereka-mereka yang menuntut pengusutan kasus pak Ahok. 

Tentu, kita membela Dia sambil jalan dengan memahami konteks tentang apa yang kita bela dan apa yang Dia ajarkan untuk kita. Memahami konteks sering kali lupa kita lakukan saat kita memikirkan sesuatu, apalagi dalam emosi yang menggebu-gebu. 

Dia tak ingin kita lupa tentang makna dalam sebuah peristiwa dalam hidup yang kita alami. 

Gambar via cdn2.tstatic.net

Answered May 15, 2017
Aviardhansyah Sakrie
Muslim Pembelajar | http://aviardhansyah.wordpress.com

F570D2ERv486_qHbtea6S6KOUqgCVCUO.jpg

Salah satu sifat Allah ialah Ia tak butuh kepada sesuatupun. Makna sesuatupun meliputi keseluruhan dari apa yang kita ketahui. Maka, secara umum Allah tak butuh untuk dibela. 

Namun, Allah menurunkan seorang Rasul untuk menyampaikan ajaran Islam. Maka, Rasul tersebut perlu dibela. Mengapa?

Rasul adalah penyampai wahyu. Ia harus terjaga kesuciannya sehingga agama yang ia bawa tak menjadi kotor dan diragukan kebenarannya. Untuk itu, Allah memberikan sifat maksum (tak pernah salah) kepada Rasul-Nya sehingga agama ini menjadi sebuah agama yang benar yang berasal dari Allah dan bukan buatan manusia. Seandainya agama ini berasal dari manusia, maka pastilah akan banyak pertentangan. 

Allah juga membuat sebuah agama yang menyempurnakan agama terdahulu, yaitu agama Islam. Maka agama ini patut kita bela karena agama ini semata-mata berisikan peribadahan kepada Allah dan Allah yang membuat semua aturan yang berkaitan dalam agama ini. Jika agama ini dihina, maka pastilah ia juga menghina pembuat agama ini. Menghina pembuat agama ini berarti melecehkan siapa-siapa yang menyanjung, sujud, dan rukuk kepada-Nya. Maka, agama ini harus dibela dari siapapun yang merusak agama ini serta melecehkan Rasul yang mengantarkan ajaran ini kepada umat manusia.

(sumber gambar: rumaysho.com)

Answered May 16, 2017

ncHuQgbvl1UXxRHf6-BBAdTbIifEyh7W.jpg

Mengutip dari pernyataan "K.H. Abdurrahman Wahid // tuhan tidak perlu dibela "
*al-hujairi* mengatakan : bila engkau menganggap Allah ada hanya karena engkau merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Allah tidak lerlu disesali kalau "ia menyukitkan" kita. Juga tidak perlu dibela lalu orang menyerang hakikatnya. Yang diakui berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya."

Kalau diikuti jalan pikiran kiai tarekat itu, informasi diri yang dianggap merugikan Islam sebenarnya tidak perlu "dilayani". Cukuo dibagi dengan informasi dan ekspresi diri yang "positif konstruktif", kalau gawat cukul dengan jawaban yang mendudukkan persoalan secara dewasa dan biasa-biasa saja. Tidak perlu dicari.
Islam perlu dikembangkan, tidak untuk dihadapkan pada serangan orang. Kebenaran Allah tidak berkurang sedikitpun dengan adanya keraguan orang, maka ia pun tentram. Tidak lagi merasa bersalah berdiam diri. Tuhan tidal perlu dibela, walaupun tidak menolak dibela. Dalam hal ini cara kita membela tuhan dan agama tidak selalu dengan perbuatan anarkis, saling fitnah bahkan saling menghilangkan nyawa. Lalu bagaimanakah cara kita membela islam dan tuhan? Dengan cara merubah mainset bahwa islam sebenarnya bukan teroris, bahwa islam adalah agama yang lembut dan cinta damai. Melalui memperbaiki akhlak dan berprestasi dengan membawa nama islam dapat kita terapkan untuk menunjukkan bahwa islam bukan teroris. Seperti yang kita kutipan diatas bahwa tuhan tidak perlu dibela, yang diminta adalah menaati perintah-NYA dan menjauhi larangannya-NYA. Karena siapapun yang di jalan Allah maka dia tidak akan kehilangan segalanya.

 

sumber gambar: blogspot.com

Answered May 31, 2017

Question Overview


and 52 more
70 Followers
3973 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Mengapa Tuhan membuat surga, padahal insentif tertinggi umat Islam adalah ridha Allah?

Mengapa kita percaya adanya Tuhan?

Ke mana kita setelah mati?

Apa bukti keberadaan Tuhan?

Apa alasan yang akhirnya membuat Anda memilih untuk menjadi seorang Atheis?

Apa alasan yang akhirnya membuat Anda memilih untuk menjadi seorang Agnostic?

Apa alasan yang akhirnya membuat Anda memilih untuk berpindah agama?

Siapa yang menentukan kesuksesan seseorang? Usaha diri sendiri atau takdir Tuhan yang ditetapkan sejak zaman azali?

Bagaimana manifestasi "keadilan Tuhan" pada bayi yang terlahir cacat?

Apakah Syiah bukan Islam?

Mengapa Nabi Muhammad tidak mengizinkan Ali mempoligami Fatimah?

Apa yang dimaksud dengan bid'ah?

Apa yang dimaksud dengan munafik?

Apa yang dimaksud dengan halal?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Apa yang dimaksud dengan mubah?

Mengapa Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail sendirian di Mekah?

Apa kebenaran atau prinsip yang Anda yakin benar tapi semua orang di sekeliling Anda mengatakan itu salah?

Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan ada?

Apa dunia ini adil?

Mengapa ada gravitasi di alam semesta ini?

Jika memang hanya satu diantara tiga agama langit (Islam, Kristen dan Yahudi) yang benar, mengapa Tuhan tidak menimpakan adzab kepada ajaran yang salah seperti yang Tuhan lakukan kepada kaum Ad, Nuh, Tsamud?

Mengapa kisah-kisah Israiliat seringkali dijadikan referensi yang sahih dalam mengajarkan hikmah dalam budaya Islam?

Apa agama orang tua Muhammad SAW? Jika mereka non-Islam, apakah mereka masuk neraka?

Apakah sebagai seorang manusia biasa, para nabi juga memiliki dosa? Jika benar demikian, apa saja dosa mereka?

Bagaimana Anda dapat menjelaskan keberadaan Tuhan dan Malaikat secara ilmiah?