selasar-loader

Apabila poligami adalah ibadah, mengapa banyak perempuan muslim yang tidak mau melakukannya?

Last Updated Nov 16, 2016

135 answers

Sort by Date | Votes
Andrian Habibi
Hidup dengan menulis karena menulis memberikan kehidupan

Hasil gambar untuk poligami

Karena tidak ada perempuan yang ingin berbagi cinta. Jika ingin berbagi cinta, tentu saja dia sungguh-sungguh perempuan yang baik dan carilah perempuan tersebut agar ada alasan untuk poligami.

Gambar via www.selasar.com

Answered Dec 9, 2016
Ma Isa Lombu
Masih Belajar Islam

tP_k1uNxYCwSjOPsVjzxC9zM05083jq5.jpg

Sebagai seorang pengamat dan pemerhati aktif dunia percintaan, saya kerap bingung mendapati opini para muslimah (wanita muslim) yang terkadang paradoksial. Terutama ketika dimintai pendapat tentang poligami. Saya yakin, kita semua sudah mahfum dengan istilah tersebut. Poligami adalah praktik pernikahan di mana terdapat satu orang pejantan a.k.a suami dan lebih dari satu betina a.k.a istri dalam satu kehidupan rumah tangga. Kembali tentang pendapat para muslimah ketika dimintai pendapat tentang poligami, biasanya sikap paradoks ini berhasil mereka tutupi dengan jawaban yang cukup elegan.

Ketika ditanya mengenai hal tersebut, biasaya mereka menjawab, ”Saya tidak menentang konsep poligami, karena itu konsep dari Tuhan. Tapi saya memilih untuk tidak melakukannya”. Yang mengejutkan adalah bahwa jawaban tersebut tidak hanya keluar dari lisan seorang muslimah medioker, akan tetapi juga keluar dari lisan seorang muslimah yang memiliki pemahaman Islam yang kelihatannya baik. Dan ini terjadi!
 
Jawaban yang aneh. Logikanya adalah ketika seorang muslim/muslimah meyakini bahwa ajaran Islam itu adalah ajaran yang benar, maka ia bukan hanya membenarkannya dengan lisan, namun mereka seharusnya juga berlomba-lomba untuk melaksanakannya. Sebagai contoh, perintah zakat dan shadaqah yang memiliki substansi untuk mengentasan disparitas ekonomi dan sosial di masyarakat; dan juga hukum potong tangan yang memiliki substansi untuk memberikan efek jera kepada seorang pencuri.

Meski kedua hal ini belum dilaksanakan secara masif oleh seluruh komunitas muslim di dunia, namun saya yakin ketika ada seorang muslim yang taat dan berpendidikan ditanya mengenai hal tersebut maka ia tidak hanya mengafirmasi secara positif, akan tetapi ia juga akan berusaha menjalankan kedua perintah tersebut jika diberi otoritas. Terlebih lagi, kedua permasalahan atas tidak diterapkannya hukum Tuhan ini–kesenjangan ekonomi yang besar antara si kaya dan si miskin serta marak dan tidak dapat disembuhkannya praktik korupsi di banyak negara Islam— menjadi hot dan common issues akhir-akhir ini.
 
Intinya saya yakin, hukum Tuhan itu benar dan akan selalu relevan dengan perkembangan dan permasalahan zaman, relatif dengan hipotesis seorang manusia yang serba memiliki keterbatasan. Namun saya merasa, khusus untuk hukum yang satu ini –poligami— Islam dirasa menjadi tidak compatible dengan realitas zaman dan cenderung akan terus menimbulkan sikap paradoks. Bahkan dalam kebanyakan kasus, para wanita yang diminta untuk dipoligami atau sudah terlanjur dipoligami, menuntut cerai dari pasangannya karena alasan yang sangat manusiawi, tekanan perasaan, dan masalah kebahagiaan yang tidak dapat dipenuhi, misalnya.
 
Sayangnya, rusaknya tatanan rumah tangga itu tidak hanya menjadi domain si suami yang mempoligami dan istri yang dipoligami, ”eksternalitas negatif” juga akan diterima oleh para anak dari pasangan tersebut. Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan, mereka (anak-anak yang hidup dalam kondisi keluarga poligami) akan saling menyalahkan kedua belah pihak dan tidak merasa nyaman dengan pola hubungan seperti ini. Mudahnya ada suatu ajaran yang secara sadar telah dilegalisasi oleh para petinggi agama dan pemanggku kepentingan atas sesuatu yang dibenci oleh Tuhan, memutuskan hubungan silaturahim.

Pasti ada yang salah!
 
Pemahaman bahwa penafsir Islam ortodoks dalam melegalisasi konsep poligami berasal dari tafsiran surat yang berbunyi,
 
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat…”
(QS : An-Nisa ayat 3)
 
Secara sepintas, setiap orang yang membaca ayat tersebut tentu akan membenarkan bahwa Islam memang mengakomodasi konsep poligami. Tetapi apakah benar dimikian keinginan Tuhan? Itu hal lain yang masih jadi misteri. Saya memiliki tafsiran sendiri atas hal tersebut..
 
Sebuah Anti-thesis

Dalam banyak literatur dapat kita temukan bahwa posisi wanita pada saat pra-Islam sangatlah rendah, dan dengan sangat mengenaskan selama ribuan tahun kaum wanita kerap dipersepsikan dan diperlakukan sebagai warga masyarakat kelas dua yang tidak diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan, selayaknya laki-laki. Dalam masyarakat Arab, akan dianggap sebuah aib ketika sebuah keluarga memiliki banyak anak perempuan. Bahkan para kepala keluarga, yang notabene adalah laki-laki, tidak segan untuk membunuh anak perempuannya hidup-hidup.  

Dalam masyarakat barat, bahkan sampai sekarang, kehadiran perempuan disamakan kepada sesuatu yang tidak berbudaya, bahkan disamakan dengan setan. Bahkan untuk ukuran Amerika Serikat sebagai negara yang mengusung hak-hak sipil dan demokrasi, kaum perempuan disana baru mendapatkan hak partisipasi politik mereka baru pada awal abad ke-20.
 
Saya sebut pemikiran saya ini sebagai sebuah anti-thesis karena saya yakin bahwa legalisasi poligami dalam Islam bukanlah kehendak Tuhan, melainkan tidak lebih dari tafsir pemikiran manusia yang bisa salah. Saya pikir tidak banyak orang yang serius untuk mengkaji apa yang sebenarnya diinginkan Tuhan terkait dengan tafsir poligami pada surat Al-Maidah ayat 3. Banyak yang lupa bahwa dalam surat tersebut juga dicantumkan redaksi,
 
“…maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat.
Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..."
(QS : An-Nisa ayat 3)
 
Berdasarkan penelusuran makna bahasa yang saya pahami, dimensi ”keadilan” dalam konteks apa pun adalah domain dari si objek, bukan subjek. Mudahnya, dalam konteks sebuah kalimat di mana terdapat unsur subjek sebagai pelaku, unsur predikat sebagai perbuatan, dan unsur objek sebagai penerima tindakan, maka hanya unsur objeklah yang berhak menentukan bahwa sesuatu yang ia terima adil atau tidak, bukan subjek si pelaku. Dalam konteks poligami, suami adalah sang subjek dan perempuan adalah sang objek. Dengan cara...(more)

Answered Dec 13, 2016
Erin Nuzulia Istiqomah
Denganmu aku sebahagianya hidup

O_BAfNawBJIHDBfMW7lWhJcjpqjqE8gH.jpg

Mungkin karena banyak laki-laki muslim yang belum mampu bersikap adil sehingga keengganan wanita melakukan poligami menjadi lebih dominan. Lebih dari itu, pada dasarnya perempuan akan kesulitan melihat orang yang dicintainya berbagi hati kepada wanita lain. 

Daripada banyak mudharat yang terjadi atas poligami, mungkin banyak wanita yang mencoba bermain aman dengan mengambil mudharat yang lebih sedikit, yakni dengan tidak mengizinkan suaminya untuk berpoligami. Tapi dari banyak kasus yang saya temui, jika sang suami sudah mampu berlaku adil atau dirasa mampu berlaku adil, banyak pula istri yang menawarkan suaminya untuk poligami. 

Semua bergantung pada pribadi dan perasaan masing-masing si istri, sejauh apa pun pemahaman keagamaannya, jikalau hatinya tak sanggup melihat orang yang dicintainya berbagi hati, poligami menjadi anjuran Ilahi yang masih harus terus dipelajari oleh banyak muslimah sejati.

Answered Dec 13, 2016

Hasil gambar untuk tidak mau dipoligami

Pemahaman mereka tentang poligami sebagai ibadah itu sendiri.

Selebihnya, tanya ustaz yang bertahun-tahun mengkaji ilmu agama, syukur-syukur sukses praktik poligami.

Ilustrasi via catatanhati.mkes.info

Answered Dec 30, 2016
Josua Collins
Non moslem perspective

Karena banyak pelaku poligami yang melakukan poligami, tetapi menyimpang dari makna dan tujuan poligami sebagai ibadah itu sendiri. Poligami yang seharusnya ruh utamanya adalah menjamin kelangsungan hidup janda dan yatim piatu (setahu saya), namun malah pada akhirnya hanya memenuhi hawa nafsu semata.

Hasil gambar untuk poligami

Ilustrasi via dakwatuna.com

Answered Dec 30, 2016

1uJJoTGLxJ15214yPXGy3bX9KxV-frxP.jpg

Saya perempuan dan muslim.

Sering pula dapat pertanyaan seperti ini, dan jawaban saya selalu sama. Kalau bicara soal cinta, tentu siapa pula perempuan yang mau cinta suaminya terbagi, cinta suami untuk anak-anaknya harus dibagi pula untuk anaknya dari istri yang lain. Tentu hal tersebut berat. Tidak hanya soal cinta, sisi keadilan pun juga hal yang penting. Sebagaimana pun suami berusaha bersikap adil (adil di sini tidak hanya soal finansial, tapi juga batin dll.), tetap saja rasa adil itu tidak akan mudah untuk dirasakan.

Sering kali saya mendengar orang-orang berkata agama membolehkan untuk berpoligami, tapi kembali lagi pada konteks untuk apa poligami itu. Jika poligami yang dimaksud misalnya adalah untuk menolong seperti janda-janda miskin dengan banyak anak dan sulit hidupnya, ini tujuan yang mulia. Meskipun pasti tidak sedikit pula perempuan yang berpikir "tetap saja aku tidak mau berbagi suamiku".

Sebetulnya, semua bergantung bagaimana niat dari sang suami, apakah murni untuk tujuan yang dapat diterima istrinya atau memang hanya ingin memadu saja. Seikhlas-ikhlasnya perempuan, tentu ia pernah punya mimpi untuk memiliki rumah tangga yang utuh, dengan suami dan anak-anaknya, tanpa kehadiran sosok istri yang lain. 

Kecemburuan yang secara alamiah dimiliki perempuan dapat menyebabkan penyakit hati, seperti rasa iri, tidak suka, atau bahkan sampai menilai bahwa suaminya tidak lagi dapat adil. Jika ini sudah terjadi, maka hakikat poligami malah jadi keliru, karena justru menjadi masalah dan memicu rasa benci. Tapi, ini mungkin saja tidak terjadi pada beberapa perempuan, mereka bisa saja ikhlas dan menerima bagaimana pun keputusan suaminya mengenai poligami.

Hanya saja, jika poligami justru menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, dan sang suami tidak bisa berlaku adil, inilah yang dihindari dan tidak dapat diterima oleh banyak perempuan, walaupun konteksnya adalah ibadah.

Ilustrasi via idahroes.co.id

Answered Dec 30, 2016
Nauval El-Hessan
Quranic disciple

Sittin' On The Dock Of The Bay

Pertama, yang harus diluruskan adalah poligami bukan ibadah. Sifatnya mubah, bukan sunah. Ini yang sering disalahpahami oleh para ulama, baik klasik maupun kontemporer.

Poligami menjadi sunah apabila ditujukan untuk mengangkat martabat perempuan. Misalkan, istri kedua adalah budak atau orang miskin; atau bisa saja dari tawanan perang atau janda ditinggal mati serta kondisi janda itu cacat, miskin, atau mengalami kondisi-kondisi lainnya yang mengenaskan. Namun pada hakikatnya, poligami bukan ibadah, melainkan "diperbolehkan".

Akan tetapi, dalam kondisi apa pun, tentu banyak perempuan yang tidak ingin dipoligami. Mengapa?

Natural saja. Manusia diciptakan katanya sesuai dengan citra-Nya. Dia, Tuhan, Maha Pencemburu, jadi wajar saja manusia cemburu. Laki-laki dan perempuan sama saja. Tidak ada yang mau diduakan layaknya Tuhan. Namun sekali lagi, itu masalah hati dan jiwa. Siapa tahu hati manusia? Perempuan bisa saja meridai suaminya berpoligami. Akan tetapi, mayoritas tidak karena rasa cemburu tadi.

Bahkan dalam Quran sendiri, poligami juga dikecam dengan menyatakan bahwa "yang adil hanya Allah". Laki-laki itu manusia, punya hati dan hati punya preferensi.

Bisa saja laki-laki yang berpoligami lebih mencintai salah satu istrinya. Mungkin itu adil. Tapi bagaimana pandangan perempuan? Bahkan, Nabi Muhammad pun preferensi bahwa cinta sejatinya tetap Sayyidah Khadijah. Banyak istrinya yang cemburu, terutama Aisyah. Wajar bila perempuan lain pun tidak mau dimadu atau dipoligami karena nature manusia yang selalu ada preferensi.

Ilustrasi via information.dk

Answered Dec 30, 2016

Gambar terkait

Dari segi agama

Poligami diperbolehkan dalam Islam dan dicontohkan oleh rasul kita Nabi Muhammad saw yang dikisahkan dalam Alquran, namun ketika kita mengkaji Alquran, tidak hanya membaca dan mengetahui artinya. Kita perlu tahu yang namamya asbabun nuzul (alasan diturunkannya ayat tersebut) seperti poligami, memang diperbolehkan pada zaman Nabi Muhammad saw, namun apakah alasan di balik nabi melakukan poligami tersebut? Dan bagaimanakah istri nabi tersebut? Nabi Muhammad melakukan poligami didasari atas ingin melindungi wanita tersebut, dikarenakan istrinya janda, tua, dan juga korban ditinggal suami karena perang, itulah alasan (asbabun nuzul) turunnya ayat tersebut, berbalik dengan zaman sekarang yang mayoritas ulama dan orang-orang yang berpoligami dilandasi hawa nafsu, bahkan di Indonesia sampai ada istilah yang namanya istri tua dan sitri muda.

Dari segi sains

Manusia sendiri memiliki kingdom hewan, kelas mamalia dan berordo primata, yap primata. Sifat primata yang merupakan pasangan hewan poligami, merupakan bukti nyata mengapa manusia melakukan poligami, tidak seperti angsa maupun merpati yang hanya memiliki satu pasangan. Maka, dapat kita tarik kesimpula bahwa dalam sains sendiri manusia memang sudah ditakdirkan untuk berpoligami. Permasalahannya adalah apakah si pejantan rela untuk berbagi betinanya dengan jantan yang lain?

Alasan di balik perempuan yang tidak mau berpoligami adalah merupakan bentuk perlawanan zaman. Semakin berkembang dan modern seorang wanita, ia akan semakin memikirkan mengenai kesetaraan gender, hal ini berakibat pada pola pandang wanita pun bisa mencari uang, lelaki pun bisa mengurus anak. Dan bahkan, wanita pun dapat berpoligami. Jadi, jika teman-teman di sini ingin melakukan poligami, bersiaplah merelakan pasangan Anda untuk berpoligami juga.

Ilustrasi via blogspot.com

Answered Dec 30, 2016

vXdWtDSVxcn8xdVKKfEV9Liqc5VcmHek.jpg

​Hakikat Manusia

​Setiap manusia dilahirkan dengan tiga qadar (hukum alam): hajatul udawiyah (kebutuhan jasmani), garizah (naluri), dan akal.

Hajatul udawiyah jika tidak terpenuhi akan menyebabkan kematian, contohnya makan, minum, dan tidur. Garizah jika tidak terpenuhi tidak akan mematikan manusia, namun akan menyebabkan kegelisahan di dalam hatinya, garizah ini terbagi lagi jadi tiga:

1. Garizatun nau: naluri melestarikan jenis, contohnya naluri menyayangi orang tua, anak, dan menginginkan pasangan hidup.

2. Garizatun baqa: naluri mempertahankan diri, contohnya naluri ingin jadi pemimpin, tidak ingin dihina, dan rasa takut akan bahaya yang akan menimpa.

3. Garizatun tadayyun: naluri mengagungkan sesuatu, contohnya seseorang mencari Tuhan, mana yang sejati. Bahkan seorang ateis tidak akan luput dari naluri ini. Seorang ateis bukanlah tidak bertuhan, namun ia menyakurkan garizatun tadayyunnya pada hal-hal yang mampu dijangkau oleh akal, misalnya sains, dan uang.

Akal adalah kapasitas kognitif yang melahirkan pemikiran yang menyeluruh tentang manusia, alam semesta, kehidupan, hubungan antara ketiganya, dan hubungan antara ketiganya dengan apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya. Maka akal inilah yang menentukan benar salahnya seseorang dalam memenuhi hajatul udawiyahnya, dan garizahnya, dan bagaimana menjadikan keduanya sebagai potensi, bukan keburukan.

Contohnya garizatun nau menginginkan pasangan, akalnya akan menilai mana yang benar: pacaran, atau menikah?

Poligami, dan Garizah di Dalamnya

Poligami merupakan bentuk pernikahan, dan pernikahan merupakan bentuk pemenuhan garizatun nau yang syar'i (benar menurut pandangan hidup Islam). Namun, yang menjadikan perjalanan pernikahan itu benar-benar baik membutuhkan tsaqafah (ilmu yang syar'i) yang lebih dalam lagi. Akal harus mempertanyakan pemenuhan garizah itu: kenapa harus poligami? Untuk apa poligami? Mau apa setelah poligami? Setiap pilihan hidup yang tidak didasarkan aqidah yang murni hanya akan menjadi sia-sia, bahkan celaka.

Maka wanita yang akan dipoligami PASTI akan bengkit garizatun baqanya, dia merasa tidak mau ada yang menyamai kedudukannya, ataupun didatangi bahaya semisal,

1. Apakah hajatul udawiyahku akan terpenuhi? (Kecukupan nafkah), dan

2. Apakah garizatun nauku akan terpenuhi? (Kecukupan waktu bercinta)

Kembali lagi sebagai hukum alam, bangkitnya garizah ini merupakan hal yang sangat manusiawi, tinggal akal yang menentukan apakah pemenuhannya benar:

1. Barangkali memang suaminya belum layak secara ekonomi, atau belum dipercaya kesetiaannya, maka benar untuk memenuhi garizah ini dengan cara menolak dan berdiplomasi

2. Jika memang memahami bahwa suaminya berpoligami atas dasar aqidahnya, tidak syar'i menolaknya hanya karena garizatun baqa semata, dan jika menerimanya justru akan mendapatkan keutamaan yang besar.

Jadi, faktor keberterimaan seorang istri dipoligami tergantung pada dua hal: kapasitas suaminya itu sendiri, dan tsaqafah yang dimiliki si istri.

Answered Dec 31, 2016
Florensius Marsudi
Lelaki, satu istri, satu putri. Masih belajar menulis....

Related image

Secara psikologis, setiap orang menyukai nomor satu, pertama. Ranking pertama, juara satu, dan seterusnya.

Dengan berpoligami, akan ada sebutan istri pertama, istri kedua, istri ketiga, dan seterusnya.

Ilustrasi via dakwatuna.com

Answered Jan 3, 2017
Muhammad Zulifan
Peneliti, Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam-UI

5Tmroxv3UQxAwWGHVAFpwSurfT2o5HKW.jpg

Mengapa banyak perempuan muslim yang tidak mau melakukannya?

Jawabannya jelas, karena hal tersebut dirasa akan membawa mudarat bagi kelangsungan keluarga yang selama ini jatuh bangun ia perjuangkan. Akibat proses ke arah sana yang tidak paripurna.

Pada akhirnya, setiap kita mengharapkan maslahat dalam tiap aktivitas dan keputusan yang kita ambil. Praktik poligami pada umumnya hanya membawa maslahat  bagi satu pihak, namun membawa bencana bagi pihak lainnya. Poin ini yang menjadikan kebanyakan muslimah menolaknya.

Banyak kasus ditemui di mana suami sudah berani "buka cabang" meski "kantor pusat" belum settle dan masih dirundung banyak persoalan finansial. Masalah makin runyam saat mereka secara sembunyi-sembunyi "buka cabang" dan kantor pusat secara tak sengaja mengatahui bahwa kantor cabang tersebutlah yang menjadi penyebab goyahnya kantor pusat.

Pintu Darurat

Islam sebagai agama pertengahan tidak membuka secara bebas dan tanpa syarat,  juga tidak menutup rapat-rapat  poligami. Ibarat pintu darurat, syariat poligami muncul untuk menjadi solusi dari masalah-masalah kedaruratan yang timbul. Poligami dibolehkan dengan syarat dan kondisi yang ketat, hingga tidak sembarang orang boleh melakukannya. Lebih lanjut  M. Quraish Shihab mengemukakan:

”Poligami itu bukan anjuran, tetapi salah satu solusi yang diberikan kepada mereka yang sangat membutuhkan dan memenuhi syarat-syaratnya. Poligami mirip dengan pintu darurat dalam pesawat terbang yang hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency tertentu.” (Republika.co.id)

Dalam hal ini, ulama memberikan batasan bagi seorang pria yang akan melakukan Poligami, yakni mampu dan adil. Ia harus mampu untuk memberikan nafkah yang mencukupi baik lahir maupun batin, serta berlaku adil pada istri dalam pembagian waktu dan nafkah. Kompilasi Hukum Islam (KHI) secara tegas memberikan batasan poligami. Seperti disebut dalam pasal 55:

(2) Syarat utama beristeri lebih dari seorang, suami harus mampu berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anaknya.

(3) Apabila syarat utama yang disebut pada ayat (2) tidak mungkin dipenuhi, suami dilarang beristeri dari seorang.

Syarat di atas masih dipertegas dengan kondisi yang harus dipenuhi agar mendapat izin pengadilan, seperti disebut pasal 57:

  1. isteri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai isteri;
  2. isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;
  3. isteri tidak dapat melahirkan keturunan.

Alquran secara eksplisit menyatakan anjuran untuk menikah hanya satu saja (monogami). Jika seseorang tidak bisa memenuhi syarat berpoligami dan dikhawatirkan tidak bisa berlaku adil, maka sebaiknya menikah hanya dengan satu istri.

 “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja….”(QS An-Nisa: 3).

Ulama tidak berselisih akan hukum poligami, sebagaimana hal itu secara lugas disebutkan dalam Alquran. Namun, yang patut menjadi perhatian bersama adalah “how to do” poligami,  agar praktik tersebut  dapat membawa maslahat bagi semua.

Terlepas dari pro-kontra poligami dalam masyarakat, yang jelas menghukumi poligami tidak bisa berdasar atas temuan satu dua kasus. Banyak orang yang tidak paham tata cara wudu dan salat yang benar, tapi dalam masalah poligami, mereka tiba-tiba menjelma bak ulama besar. Kesalahan individu yang menjalankan sebuah syariat tidaklah bisa menjadi alasan untuk menolak syariat tersebut. Sebagaimana syariat jihad yang sering disalahartikan, bukan berarti lantas kita menolak pensyariatannya.

Antara Berkah dan Musibah

Pada umumnya, seorang wanita cenderung tidak mau dimadu, tapi cenderung mau menjadi madu saat ia dalam kondisi membutuhkan tanpa memikirkan perasaan istri pertama. Bagi istri pertama, kebanyakan praktik poligami adalah musibah. Sebaliknya, bagi istri kedua yang membutuhkan, poligami adalah berkah. Oleh karenanya, seorang suami sebelum melakukan poligami hendaknya dapat memastikan bahwa praktik poligami yang akan ia lakukan membawa berkah di kemudian hari bagi kedua pihak, bukan hanya salah satunya saja. Karenanya , dibutuhkan sebuah proses ishlah keluarga.

Seorang lajang yang menikah tidak sama kedudukannya dengan seorang suami yang ingin menikah lagi. Alquran sendiri memberikan motivasi kepada masyarakat, membantu lajang yang akan menikah.

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. An-Nur:32).

Motivasi untuk membantu “orang-orang yang sendirian” tersebut tidak ditemukan untuk suami dari sebuah keluarga yang akan melakukan pernikahan kedua. Justru yang ada adalah peringatan akan fungsi keadilan seperti disinggung dalam surat An-Nisa ayat 3. Jika tidak mampu adil, maka di ingatkan untuk hanya satu saja.

Dalam kasus seorang pemuda yang belum bekerja lalu nekat menikah misalnya, maka yang mananggung risiko hanya dua orang dewasa. Namun, ketika seorang suami nekat menikah lagi, ia mempertaruhkan jiwa dan psikologis sekian banyak anak yang masih mencari jati diri dan butuh sosok utuh seorang ayah dalam proses tumbuh kembangnya.

Alasan halalnya hukum poligami tidak bisa dijadikan alat justifikasi atas praktik yang kurang memperhatikan unsur maslahat. Bagaimana pun tidak semua yang halal itu membawa maslahat. Jika implementasinya kurang bijak, bisa jadi justru mudarat yang didapat. Islam adalah agama yang Syamil (menyeluruh). Seyogianyalah semua variabel dipertimbangkan terlebih dahulu. Kecenderungan di satu sisi dengan melupakan sisi yang lain, akan membawa kesenjangan.

Sebelum mengambil keputusan besar itu, pastikan suami telah melakukan langkah-langkah ishlah. Pertama, memastikan bahwa ia adalah...(more)

Answered Jan 4, 2017
Agil (Ragile) Abdullah
orang NU dan belajar Sufi

Gambar terkait

Poligami memang dicontohkan oleh Rasulullah, tapi tidak serta-merta dianjurkan kepada semua umatnya. Buktinya, beliau tidak mengizinkan kedua menantu beliau (Ali dan Ustman) untuk berpoligami.

Ilustrasi via seword.com

Answered Jan 4, 2017
Fala sifah
Suka Nulis suka Makan

CbCj2ykWSL3rIEqA2fFxtxuXxq5ilRin.jpg

Nah.. ini nih biasanya yang dijadikan alasan para lelaki untuk melakukan Poligami. memang poligami itu ibadah, tetapi yang saya tahu, "ibadah" yang dilakukan itu tulus dan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun dari wanita yang dinikahinya. Poligami bukan semata-mata untuk bersenang-senang, yang melakukan proses poligami, yaitu yang mampu menjalankan syariatNYA.

saya pernah baca tentang suatu tulisan dan artikel tentang poligami, itu juga ternyata pernah dibahas dalam pengajian-pengajian pagi di Televisi. syarat orang yang mau berpoligami yaitu:

1. Harus Mampu berbuat adil dan tegas

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Siapa saja orangnya yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa-i, At-Tirmidzi). 

nah itu-tuh yang bikin ngeri. jadi pastikan dulu buat para lelaki, sudah bisa berlaku adil belum? jangankan untuk istri-istrinya, untuk diri sendiri sudah?

2. Aman dari lalai beribadah kepada Allah.

ini sangat penting. karena jangan keenakan punya istri dua, atau lebih jadi ibadahnya lupa. itu salah besar!

3. Mampu menjaga para istrinya

bener tuh, harus bisa menjaga istri-istrinya kelak. karena kodrat lelaki ya harus bertanggung jawab terhadap istri. bayangkan aja, gabisa menjaga istri satu, dan gak bertanggung jawab.. eh mau nambah lagi... Astaghfirullah.

4. mampu memberi nafkah

jelas..., karena seorang yang berpoligami, wajib mencukupi kebutuhan nafkah lahir para istrinya. Bagaimana ia ingin berpoligami, sementara nafkah untuk satu orang istri saja belum cukup? Orang semacam ini sangat berhak untuk dilarang berpoligami.

mungkin itu saja yang saya tahu..

dari syarat-syarat tersebut, sebagai wanita muslim yaa saya pribadi (ini alasan pribadi ya) jika suami saya nanti mampu dan bisa bertanggung jawab, kenapa tidak? alasan klasik sang istri melarang suaminya menikah lagi karena saya mengira suami tersebut belum mampu untuk melakukan poligami... mungkin begitu. selain ada sedikit rasa cemburu juga sih karena cinta yang berlebihan.. tapi untuk para istri, jika cintanya kepada Allah melebihi apapun, InshaAllah ikhlas... begitu.

Answered Jan 14, 2017
Ilmia Rahayu
Politics & Economics Graduate. Banking Industry

Karena banyak ibadah lain yang bermanfaat bagi manusia dan alam dibandingkan mau dipoligami dan menyakiti diri sendiri dan menyakiti wanita lain.

Lagi pula hukum poligami tidak wajib dan juga tidak sunah bahkan haram kalau lelakinya tidak bisa berbuat adil. 

Wanita yang punya bargaining position seperti mapan secara ekonomi, berani membuat standar kenyamanan bukan merek baju, rumah mewah, sehingga kekayaan bukan hal nomor satu yang didapatkan dari harta suami, punya idealisme dsb tidak akan mau dipoligami. 

Answered Jan 15, 2017
Ricky Jenihansen
Adventurer, Journalist, Student and Researcher

Poligami bukan ibadah, ajarannya sudah jelas. Poligami hanya diperbolehkan bagi mereka yang "Mampu" berlaku adil. Jika tidak, neraka paling dekat kepada mereka yang poligami hanya karena nafsu.

Answered Jan 16, 2017
Luthfia Rizki
Beauty Enthusiast

Karena masih sangat banyak ibadah lain yang bisa dilakukan untuk dekat dengan Allah, daripada harus berpoligami yang banyak orang mengatakan "padahal itu kan ibadah". Walaupun banyak persyaratan yang harus dilakukan dan ditaati seorang laki-laki jika ingin berpoligami, tetapi saya sendiri tidak pernah yakin bahwa mereka (suami yang ingin berpoligami) akan menepati janji dan memegang teguh komitmen berpoligami, seperti akan adil pada istrinya. Untuk apa yang katanya poligami itu "ibadah", tetapi berujung menyakiti sang istri, bukan? Lebih baik membahagiakan satu istri dengan maksimal, InsyaAllah berpahala lebih besar.

Alasan utamanya adalah karena tidak ada wanita yang ingin diduakan oleh pasangannya.

Answered Jan 24, 2017

Karena itu berat. Susah untuk melihat orang yang kita cintai membagi cintanya dengan orang lain. Mungkin terkesan egois. Tapi itulah yang dirasakan. Apalagi jika poligami didasari hanya untuk memenuhi nafsu belaka. Tentu saya sebagai perempuan sangat menolak. Banyak ibadah lain yang bisa dilakukan selain berpoligami :)

Answered Jan 27, 2017
Wenti Indrianitha
Psikologi UI. Anak Bungsu. Penyuka hujan, gunung, pantai dan wangi tanaman kopi

LjMGdYb2uy3en0K64PHuxxoD7AMS0FhL.jpg

 

 

 

Saya akan mencoba menjawabnya sesuai dengan apa yang saya pahami dan sedikit ilmu yang saya ketahui. Saya bukan seorang ustadzah. Saya hanya seorang perempuan yang mungkin punya kekhawatiran yang sama dengan banyak perempuan lain. Jadi jika ada yang salah atau kurang berkenan silahkan dikoreksi. 


Bicara soal poligami memang tidak mudah. Sunnah poligami menurut saya adalah sunnah yang paling menguras perasaan. Bahkan untuk membicarakannya pun sungguh berat. Ada perempuan yang memilih untuk diam dan tidak mau membahas poligami karena ada kekhawatiran bahwa suatu saat jangan-jangan ia yang akan mengalami .  Tapi Ada juga perempuan yang secara terang-terangan menentang. Banyak sekali ragam rupa rekasi para perempuan terkait ibadah satu ini. Intinya, membicarakan poligami ini memang tidak mudah. Bahkan saya pun juga sebenarnya agak enggan membahasnya. Tapi biarlah saya mencoba membahasnya dari sudut pandang saya sebagai seorang perempuan, seorang isteri dan seorang ibu. Saya sepakat bahwa Poligami adalah ibadah dan saya sangat setuju sekali  dengan penjelasan yang diutarakan oleh Muhammad Zulifan (saya rekomendasikan Anda untuk membacanya ) tentang poligami ini. Poligami bisa menjadi bencana dan berkah. Bencana bagi isteri pertama dan berkah bagi isteri kedua. Tidak selalu begitu memang. Sebagai seorang muslim saya tidak mengingkari poligami, tapi sebagai seorang perempuan  rasanya agak rumit untuk menjawabnya. Jika boleh jujur, maka saya termasuk perempuan yang tidak mau  terlibat  dalam ibadah satu ini mengingat resiko dan konflik kedepan yang mungkin akan terjadi.  Kenapa saya  tidak mau (atau tepatnya belum mau) untuk dipoligami? Berikut adalah alasan saya.

 

Apakah Kewajiban Sudah Menjadi Prioritas?

Ibadah itu ada yang wajib dan sunnah. Yang wajib tentu harus didahulukan sebelum sunnah. Oleh karena itu, sebelum suami ingin berpoligami, maka apakah dia sudah memenuhi semua kewajibannya kepada istri dan anak-anaknya? Berikut saya jabarkan beberapa kewajiban suami yang saya sadur dari rumaysho.com.

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka dengan baik.” (QS. An Nisa’: 19).

Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik kepada keluarganya. Sedangkan aku adalah orang yang  paling berbuat baik pada keluargaku” (HR. Tirmidzi no. 3895, Ibnu Majah no. 1977, Ad Darimi 2: 212, Ibnu Hibban 9: 484. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dalil Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آَتَاهَا

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya” (QS. Ath Tholaq: 7).

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara ma’ruf” (QS. Al Baqarah: 233).

Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika haji wada’,

فَاتَّقُوا اللَّهَ فِى النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ. فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Bertakwalah kepada Allah pada (penunaian hak-hak) para wanita, karena kalian sesungguhnya telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kewajiban istri bagi kalian adalah tidak boleh permadani kalian ditempati oleh seorang pun yang kalian tidak sukai. Jika mereka melakukan demikian, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakiti. Kewajiban kalian bagi istri kalian adalah memberi mereka nafkah dan pakaian dengan cara yang ma’ruf” (HR. Muslim no. 1218).
Itu semua adalah beberapa kewajiban seorang suami kepada keluarganya. Jika sang suami sudah merasa melakukan kewajibannya, pertanyaan selanjutnya adalah apakah dia sudah melakukan sunnah sunnah yang sangat dianjurkan oleh Allah? 

Lakukan Dulu Sunnah yang Memiliki Keutamaan
Berikut saya sertakan beberapa penjelasan tentang ibadah sunnah yang sangat dianjurkan, yang saya sadur dari rumaysho.com. Sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan  (dan saya pikir masih ada lagi ibadah sunnah yang lain) adalah tidak meninggalkan sholat sunnah rawatib ( yang keseluruhannya ada 12 raka'at diluar shalat wajib), sholat tahajud, sholat witir,Shalat Isyroq dan sholat Dhuha. Kebanyakan diantaranya adalah memang tentang ibadah sholat, karena memang kaitannya adalah sholat itu sebenarnya bisa mencegah orang dari melakukan perbuatan munkar ataupun maksiat. 
Nah yang saya pahami adalah Allah dengan begitu terus terang mengatakan soal keutamaan ibadah sunnah tersebut. Tapi tidak dengan poligami. Yang saya ingat soal poligami ini hanyalah surat Annisa tentang sifat adil.
 “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat....(more)

Answered Feb 1, 2017
Fadhel Yafie
Mahasiswa UIN Jakarta; Pembelajar yang menggandrungi filsafat dan sains

wv2Js0c7rRJ_PWonIo37Q5zDX30FBsxw.jpeg

Poligami bukanlah ibadah. Itu hanyalah cara dakwah Islam yang santun. Kala itu, seorang pria bisa memiliki puluhan istri. Tidak mungkin Rasulullah SAW dapat melenyapkan sesuatu yang sudah menjadi budaya dengan mendadak. Oleh karena itu, dibatasi dulu menjadi empat, dengan persyaratan yang sangat berat pula, yaitu harus adil.

Sama halnya dengan perbudakan. Kala itu, budak boleh dengan seenaknya diapakan saja. Rasulullah SAW mendakwahkan bahwa budak juga harus dimanusiakan. Tapi apa ada larangan perbudakan? Tidak. 

Kita yang mampu berpikir harusnya dapat memahami visi Rasulullah SAW untuk menghapuskan poligami dan perbudakan yang belum sempat dilarang karena sudah mengakar begitu dalam. Ini adalah strategi dakwah. Tidak bisa ujug-ujug melarang sesuatu yang sudah menjadi budaya, karena hal seperti itu hanya akan menghasilkan antipati.

Pelarangan alkohol saja tidak langsung total, pelan-pelan dari dilarang sebelum salat hingga benar-benar dilarang total. Kurang lebih, ada 8 ayat yang sedikit demi sedikit melarang alkohol.

Saya kira, poligami bukanlah ibadah, melainkan hanya pemakluman hasrat seorang lelaki yang memang selalu haus akan pemenuhan seksualnya. Sebab, Islam tidak bertentangan dengan fitrah manusia. 

Answered Feb 28, 2017
Martina Mochtar
Istri dari seorang pecinta sosial, dan Ibu dari seorang Bocah Pemberani

ISvjZ7JoxwsEjUD2EEP4Bdu-R9rSPrN2.jpg

via dakwatuna.com

Dahulu, saya sensitif dengan kata Poligami. Mata saya selalu mengernyit saat para pria membahas tentang poligami sebagai sebuah ibadah atau joke-joke lainnya. Namun, saya menemukan beberapa keadaan di sekeliling saya yang membuat saya akhirnya dapat memahami mengapa Allah SWT tidak mengharamkan poligami. 

1. Kondisi "Default" Pria Akan Kebutuhan Seksualnya dan Keinginan Mendua

Pernyataan itu saya dengar dari seorang pria beristri satu dengan rumah tangga yang saya nilai harmonis. Ia berkata kepada kami (saya dan 2 teman wanita yang saat itu ada di sebelahnya), "Sejujurnya, kondisi default laki-laki adalah ingin mendua, tapi ada banyak alasan-alasan untuk gue tidak melakukan hal itu, seperti; takut mengecewakan istri pertama, dan takut tidak bisa berbuat adil, kalau gue gak adil, namanya Zhalim." 

Hmm... syukur-syukur kalau pria tersebut mengambil keputusan mengontrol kondisi default-nya dengan tidak berpoligami sebagai risiko dari kedua rasa takut tersebut. Yang bikin sakit kepala ibu-ibu adalah jika seorang pria menjadikan perselingkuhan dan nikah siri diam-diam untuk menghindari risiko kekecewaan istri dan tuntutan untuk adil -mereka lebih memilih untuk tetap mengamini kondisi default-nya namun dengan cara perselingkuhan atau nikah siri diam-diam. 

2. Beberapa Penyakit Wanita yang Mengganggu Hubungan Seksual 

Saat seorang wanita ditimpa penyakit dan mengakibatkan dirinya tidak bisa melayani suami, mungkin sebagian besar orang menilai bahwa hal yang paling ideal adalah suaminya tetap setia, tidak menikah lagi, yang berarti sang suami harus 'puasa' sepanjang sisa hidupnya. 

Hal ini bukan tidak mungkin. Ya, mungkin saja ada pria yang benar-benar memilih berpuasa. Namun, kita semua tahu bagaimana kebutuhan seorang pria akan seks, bukan? Termasuk bagaimana stresnya mereka jika tidak tersalurkan? Juga efek-efek lainnya.  

3. Wanita Janda Rawan Akan Fitnah dan Kejahilan Pria

Seiring berjalannya waktu, beberapa kawan wanita saya terpaksa harus menyandang status janda dikarenakan satu dan lain hal. Latar belakangnya beraneka ragam; ada yang karena perselingkuhan, ada yang karena konflik besar, ada yang karena sakit, dan ada yang sekedar keputusan bersama saja. Karakter teman wanita saya yang bercerai pun berbeda-beda; ada yang berkarakter wanita karier yang independen, wanita genit yang luntang-lantung, dan ada juga yang religius. Namun, kesamaannya adalah satu, yaitu setelah mereka menyandang status janda, pandangan dari sekitar mereka secara ekstrem berubah. 

Pria-pria yang "iseng-iseng berhadiah" berdatangan untuk sekedar 'cek ombak'; Kalau mau, ya, syukur. Kalau tidak, juga gak apa-apa. Walau seringkali hal ini jadi gurauan, namun sebetulnya ini merupakan cobaan berat bagi wanita. Wanita dijadikan 'obyek' coba-coba. Ada teman saya yang terjebak dan akhirnya ia terperangkap dengan status negatif di masyarakat seperti 'simpanan' atau 'peliharaan'. Ada juga teman saya yang lebih memilih untuk menjadi wanita judes dan galak untuk mem-protect dirinya dan ada juga yang mendekat pada majelis untuk ta'aruf agar segera menikah lagi dan terhindar dari fitnah sekaligus gangguan "iseng-iseng berhadiah."

Nah, hubungan atas ketiga situasi yang saya temui tersebut membuat saya berkesimpulan bahwa poligami itu memang dapat menjadi solusi untuk beberapa keadaan tertentu. Dan Tuhan sudah sangat tahu keadaan umat-Nya.

Keadaan berupa seorang pria tidak dapat menahan kondisi default-nya membuat mereka mencari 'mangsa' untuk dapat melayani tanpa harus dinikahi secara sah justru merupakan masalah sebenarnya, bukan poligami. Karena poligami adalah solusi terbaik untuk situasi-situasi tersebut. Sosok yang layak dijadikan pasangan poligami menurut saya adalah para wanita yang sedang dalam keadaan rawan fitnah dan rawan gangguan-gangguan hidung belang, seperti wanita janda tersebut. Dengan begitu, poligami dapat berguna tidak hanya untuk menghindari pria dari berzina, namun juga dapat memerdekakan wanita yang sedang terzhalimi dari fitnah dan jebakan rayuan yang tidak bertanggung jawab.   

Jadi, mengapa wanita muslim masih tetap belum mau menerima poligami? Karena masih memandang poligami sebagai cobaan bukan solusi.

 

Answered Mar 1, 2017

Question Overview


and 190 more
208 Followers
19618 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Mengapa Tuhan membuat surga, padahal insentif tertinggi umat Islam adalah ridha Allah?

Bagaimana cara mengakhiri konflik antara Sunni dan Syiah?

Apakah Syiah bukan Islam?

Mengapa Nabi Muhammad tidak mengizinkan Ali mempoligami Fatimah?

Apa yang dimaksud dengan bid'ah?

Apa yang dimaksud dengan munafik?

Apa yang dimaksud dengan halal?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Apa yang dimaksud dengan mubah?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Apa penyebab Myanmar menindas muslim Rohingya?

Apa yang harus kita lakukan untuk membantu menyudahi konflik Rohingya?

Apa dan bagaimana perasaan Anda terhadap kasus muslim Rohingya?

Bagaimana cara khusuk dalam salat?

Mengapa Indonesia yang tidak menegakkan hukuman Qisas? Apa hukuman qisas tidak sesuai? Mengapa?

Apa kriteria tingkatan tertinggi wanita salihah itu yang mau dipoligami?

Mengapa Islam yang katanya Rahmatan Lil Alamin justru berbalik 180 derajat faktanya ketika diaplikasikan di Indonesia?

Pengalaman apa yang membuat seorang menjadi sekuler?

Bagaimana cara mengatasi rasa malas saat kita akan sholat?

Pada umur berapa sebaiknya anak dipaksa untuk menjalankan ritual keagamaan?

Apa yang harus dipersiapkan saat akan pergi umrah ke Tanah Suci dan mengapa hal itu penting?

Bagaimana perasaan Anda ketika sudah menginjakkan kaki di Mekkah?

Apa menu buka puasa Anda hari ini?

Momen puasa Ramadhan apa yang paling berkesan yang pernah dialami Selasares?

Apa makna bulan Ramadhan bagi teman-teman Selasares?

Apa dan bagaimana cinta itu?

Kepada siapa kecenderungan waria memilih pasangannya?

Bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintai?

Lagu apa yang membuat Anda teringat pada mantan kekasih?

Siapa nama mantan pacar pertama kamu? Bagaimana kabar dia saat ini?

Bagaimana cara mendekati/PDKT dengan wanita yang benar?

Siapakah cinta pertama Anda?

Gejala apakah yang biasanya dialami oleh orang yang sedang jatuh cinta?

Seperti apa patah hati (broken heart) terhebat yang pernah Anda alami?

Apakah menyukai pria mapan lantas membuat perempuan menjadi materialistis (matre)?

Bagaimana pilihan karier terbaik untuk perempuan?

Apakah botol parfum wanita paling indah yang pernah Anda lihat?

Apakah sebelum berhijab kita harus menghijabkan hati kita dulu?

Calon istri atau istri seperti apa yang kamu dambakan?

Bagaimana laki-laki memandang wanita alpha?

Benarkah anggapan pemimpin perempuan itu lebih tangguh dibanding pemimpin pria? Apa alasannya?

Apa pendapatmu tentang sosok Awkarin?

Mengapa banyak anak perempuan yang menjadikan ayahnya sebagai cinta pertamanya?

Bagaimana pandanganmu terhadap perempuan bertangan kidal (left-handed)?

Apakah setiap wanita dominan sudah pasti adalah "Alpha Woman"?

Dapatkah Anda bercerita mengenai keseruan, manfaat dan asyiknya menjadi blogger perempuan?

Siapa Yohana Yembise?

Apa perbedaan menulis esai dengan menulis gagasan?

Apa yang menjadi alasan mengapa suatu negara menerapkan bebas visa terhadap negara lain?

Mengapa Indonesia sebagai negara maritim harus mengimpor garam?

Apa kelebihan kuliah di jurusan Teknik Metalurgi?

Apa perbedaan antara sosiologi ekonomi dan ilmu ekonomi?

Apa yang menyebabkan manusia selalu menilai dari apa yang dia lihat?

Bagaimana efek otonomi daerah terhadap pengontrolan mutu di Indonesia?

Kabupaten apa yang mengalami inflasi paling tinggi pada tahun 2017?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Apa kelebihan kuliah di jurusan Komunikasi?

Apa saja hukum/prinsip fisika yang diterapkan pada sebuah roller coaster?

Apakah HIV dan AIDS itu sama?

Bagaimana cara masuk UI (Universitas Indonesia)?

Mengapa kuliah di Universitas Indonesia begitu menarik dan prestisius?

Mengapa iPod mampu mengalahkan Walkman dalam bisnis peranti musik dunia?

Kenapa Indonesia belum juga maju sementara Korea Selatan yang dulu lebih miskin dari kita justru maju sekali saat ini?

Siapa film director (sutradara film) terbaik menurut Anda?

Mengapa Anda menyukai Wali dan lagu-lagu apa yang masih Anda ingat grup band ini?

Apa yang akan terjadi jika semua nasabah suatu Bank menarik semua uang mereka?

Bagaimana menumbuhkan keberanian anak untuk bermimpi?

Mengapa perkembangan teknologi di Indonesia sangat buruk?