selasar-loader

Apakah benar agama itu tidak perlu dibela seperti pada tulisan Prof. Sarlito Wirawan Sarwono?

Last Updated Nov 23, 2016

Dalam tulisan Prof. Sarlito, beliau menuliskan:

"Mungkinkah membela agama?" Pertanyaan selanjutnya, "Sebegitu lemahkah Tuhan dan Agama sehingga memerlukan pembelaan dari umatnya?" Pandangan saya mungkin tidak begitu populer, tetapi untuk saya, Islam dan Tuhan tidak perlu dibela."

Baca selengkapnya di https://www.selasar.com/politik/mungkinkah-menistakan-agama.

Benarkah hal demikian?

6 answers

Sort by Date | Votes
Agus Setyono
Pencari Kebenaran

Hasil gambar untuk agama

Setuju. Tidak perlu ragu. Gak perlulah kita munafik. Orang-orang yang berniat membela agama kemarin memang berniat menjatuhkan Ahok. Coba seandainya bukan Ahok, apa akan dibela Islam? Ke mana mereka saat banyak kaum dari agama mereka yang miskin sekali? Kenapa mereka ndak bela itu? Saya bingung dengan kebodohan ini. Siapa yang bodoh sebenarnya?

Ilustrasi via i0.wp.com

Answered Dec 21, 2016
Agil (Ragile) Abdullah
orang NU dan belajar Sufi

Hasil gambar untuk agama menurut sarlito

Agama perlu dibela nilai-nilainya yang bersifat universal (misalnya menjunjung tinggi kejujuran, bersikap amanah, welas asih kepada setiap makhluk, memuliakan orang berilmu), tapi tidak dalam wujud aksi membela Tuhan/Allah karena Tuhan/Allah Maha Agung.

Ilustrasi via liputan6.static6.com

Answered Jan 4, 2017
Habibi Yusuf
Pembelajar agama Islam

pRIDAvTu0SRvsuszuoPZkktDX6T4PmtR.jpg

Saya pernah bikin jawaban atas pertanyaan yang mirip, yaitu "Apakah Tuhan perlu dibela?"

Jawaban saya adalah sebagai berikut.

Dalam konteks ajaran Islam, ada beberapa ayat dalam Alquran yang menyinggung/berkaitan dengan pertanyaan semacam ini, antara lain:

“Wahai sekalian manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (QS. Fathir: 15-17)

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (saja). Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat Kokoh.” (QS. Adz Dzariat: 56-58)

Pada hakikatnya, Allah (Tuhan) Maha Berkuasa atas segalanya. Tentu saja kekuasaannya mutlak dan kita manusia hanyalah hamba-Nya yang lemah dibandingkan dengan seluruh kekuasaan Tuhan. Namun, ada istilah yang cukup menggelitik, yaitu apakah Tuhan perlu dibela.

Ini adalah pertanyaan yang lebih bersifat filosofis ketimbang teknis. Karena dengan kekuasaannya yang mutlak, kenapa lagi Tuhan perlu untuk dibela? Tentu saja kalau konteksnya adalah kekuasaan Tuhan, maka manusialah yang butuh Tuhan, butuh untuk menyembah Tuhan. Bahkan, hakikat manusia diciptakan adalah untuk beribadah/menyembah Tuhan, yaitu dengan jalan melaksanakan semua yang diperintah-Nya melalui kitab suci dan ajaran Rasul-Nya serta meninggalkan semua yang dilarang-Nya.

Namun, membela Tuhan juga memiliki konteks lain, yaitu bagaimana manusia beriman dituntut untuk membela ajaran Tuhan (agama) yang diturunkan untuk umat manusia. Membela Tuhan di sini dimaksudkan untuk membela segala upaya menyampaikan/mendakwahkan ajaran-ajaran Tuhan berupa perintah dan larangan dan segala yang dicontohkan Rasul-Nya kepada umat manusia. 

Upaya mendakwahkan ajaran Tuhan (agama) dengan cara yang baik dan penuh hikmah adalah dalam rangka untuk kebaikan manusia itu sendiri. Supaya hidupnya di dunia lebih teratur, terarah, dan sesuai dengan arahan Tuhan. Serta agar kelak di akhirat mendapatkan balasan yang baik hidup dalam kebahagiaan yang kekal. Namun, sering kali upaya mendakwahkan ini mendapatkan tantangan dan hambatan dari manusia-manusia lain yang punya niat jahat atau karena ketidaktahuannya.

Untuk itu, manusia-manusia beriman diajak dan diperintahkan untuk membela ajaran Tuhan (agama) ini. Bentuknya adalah membela dan melindungi penyampaian ajaran Tuhan secara benar kepada manusia, membela kebenaran ajaran Tuhan melalui berbagai argumentasi terhadap orang-orang yang mendustakannya, serta meneguhkan amar ma'ruf (mengajak kepada kebaikan) dan nahi munkar (melawan kemungkaran) sebagai implementasi ajaran Tuhan di muka bumi dengan cara yang baik dan penuh hikmah.

Ajakan "membela Tuhan" ini merupakan seruan abadi dari para nabi dan rasul mulia, manusia-manusia pilihan Tuhan sebagai pengemban risalah ajaran Tuhan kepada seluruh umat manusia. Tidak hanya Nabi Muhammad SAW, namun juga para nabi dan rasul terdahulu sebagaimana ditegaskan dalam ayat Alquran berikut.

"Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang." (QS. Ash-shaff : 14)

Lalu, mengapa Tuhan membiarkan ada orang-orang yang akan mendustakan ajaran-Nya di satu sisi, sedangkan menyuruh manusia lain untuk membela-Nya di sisi lain? Ini adalah salah satu hikmah penciptaan manusia dan segala kehidupan di dunia ini. Tuhan bisa saja menghendaki semua manusia ini bersifat sama (satu karakter/keyakinan), namun Tuhan punya kehendak lain, yaitu agar kita (manusia) saling berlomba-lomba untuk berbuat baik dan berjuang di atas kebenaran sebagai ujian agar kita (manusia) dapat menjadi umat yang terbaik.

“Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS. Al-Ma’idah: 48)

Jadi, esensi dari upaya "membela Tuhan" adalah justru kebutuhan dari manusia beriman itu sendiri, agar dirinya menjadi umat terbaik yang saling berlomba beramal baik, dalam kerangka ibadah/menyembah kepada Tuhan sebagai kewajiban atas penciptaannya. 

Dengan kata lain, Tuhan seolah ingin memberi ujian kepada manusia, "Kamu sudah Aku ciptakan dan Aku beri berbagai kenikmatan di dunia, tunjukkanlah upaya pengabdianmu kepada-Ku, agar kelak Aku beri lebih banyak kenikmatan dan kebahagiaan untukmu, yaitu kemenangan di dunia dan kesenangan di akhirat."

 

Ilustrasi via cdn.ar.com

Answered Jan 5, 2017
Eka Prasetya
Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia

Mungkin jawaban ini tidak akan menjawab inti dari pertanyaan, tapi bisa dijadikan sebagai perspektif pemahaman.
Yang ingin saya terangkan ialah pokok pikiran yang mendasari perlunya umat Islam untuk menolong agama mereka. Seperti tertera di dalam Al Qur'an, pertama ada di surah Al Hajj ayat 40, 
"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa."
Menurut Ath Thobari ayat ini bermaknanya Allah akan menolong hamba-Nya yang berjuang dalam memuliakan nama-Nya dengan membantu perjuangan hamba tersebut. Adapun pertolongan hamba-Nya kepada agama ini dilakukan melalui perjuangan (jihad) itu sendiri.

Kedua, ada di surah Al Hadid ayat 25,
"dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya. Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.”
Makna dari ayat ini jelas, Allah sebagai Tuhan tidak membutuhkan pertolongan makhluk-Nya, tetapi jelas pula bahwa Allah hendak mengenali siapa hamba-hamba-Nya yang ikhlas berjuang untuk memuliakan nama-Nya. Artinya, menolong agama Allah dalam konteks ini sesungguhnya ialah demi kepentingan manusia sebagai makhluk itu sendiri, bukan dalam rangka membantu Tuhan yang sedianya Maha Kuat lahi Maha Perkasa.

Ketiga, dan ini yang sangat populer dalam surah Muhammad ayat 7
"Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
Bagian "...Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." menguatkan argumen yang di sampaikan sebelumnya, bahwa perkara "menolong agama" sesungguhnya adalah perkara yang dibutuhkan oleh hamba itu sendiri, bukan untuk sang Khalik.

Answered Jan 15, 2017
Rinhardi Aldo
Penulis dan Pekerja - Teknik Jaringan Akses SMK Telkom Jakarta

6czT-PhlnEwmI2ufb1k90fcLnbS_Atyo.jpg

Kalau tak salah ingat, pertanyaan ini agak mirip dengan pertanyaan apakah Tuhan perlu dibela?

Tuhan perlu dibela? Kalau menurut (alm) Gus Dur, tentu jawabannya tidak.

Buat saya, membela Yang Kuasa rasanya sah-sah saja dilakukan. Hanya memang jalur "membelanya" yang berbeda. Jika saya diminta membela Dia dengan cara yang sama yang dilakukan sebagian besar umat Islam terkait kasus pak Ahok, rasanya saya tak bisa. Saya lebih baik membela Dia dan ajarannya dengan cara yang lain, seperti konsisten mengkritisi dunia media dan penyiaran yang telah saya lakukan selama 3 tahun terakhir, yang di dalamnya mengandung rasa ketidakadilan yang sama seperti mereka-mereka yang menuntut pengusutan kasus pak Ahok. 

Tentu, kita membela Dia sambil jalan dengan memahami konteks tentang apa yang kita bela dan apa yang Dia ajarkan untuk kita. Memahami konteks sering kali lupa kita lakukan saat kita memikirkan sesuatu, apalagi dalam emosi yang menggebu-gebu. 

Dia tak ingin kita lupa tentang makna dalam sebuah peristiwa dalam hidup yang kita alami. 

Oh ya, membela agama sebenarnya lebih menekankan kita bukan pada aksi yang "jauh" dan belum kita pahami mendalam maknanya, namun membela agama sendiri menekankan diri pada hal-hal yang dekat dengan kita dan hidup kita. Contohnya ya, seperti yang saya lakukan, saya mengkritisi dunia media dan penyiaran. Ini dekat dengan hidup saya, karena beberapa hal, seperti pengalaman saya di masa kecil yang pernah menangis tersedu-sedu ketakutan karena pemberitaan televisi beberapa tahun lalu soal maraknya kecelakaan pesawat terbang (saya dan keluarga naik pesawat terbang), yang membuat saya sempat berpikir buruk.

Ketika kita bisa memahami makna, pada akhirnya kita bisa benar-benar tulus membela agama. Bukan sekedar ikut-ikutan menuntut keadilan, namun diri sendiri tak mampu menegakkan keadilan di sekitar kita.

 

sumber gambar: fgulen.com

Answered May 16, 2017
Anonymous

Agama sangat perlu dibela karena Allah telah berfirman bahwa barang siapa yang menolong agama Allah maka Allah akan menolong kita. Kalau diibaratkan dengan logika, agama adalah raja dan pemeluknya adalah prajurit. Apabila raja diserang, sudah sepatutnya rakyat membela rajanya karena rakyat punya rasa setia terhadap rajanya.

Answered Aug 14, 2017

Question Overview


10 Followers
1607 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Mengapa Tuhan membuat surga, padahal insentif tertinggi umat Islam adalah ridha Allah?

Apakah Tuhan perlu dibela?

Apakah Syiah bukan Islam?

Mengapa Nabi Muhammad tidak mengizinkan Ali mempoligami Fatimah?

Apa yang dimaksud dengan bid'ah?

Apa yang dimaksud dengan munafik?

Apa yang dimaksud dengan halal?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Apa yang dimaksud dengan mubah?

Mengapa Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail sendirian di Mekah?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Apakah ulama harus selalu dibela walaupun mereka jelas melanggar hukum?

Menurut Anda, toleransi itu yang seperti apa?

Apa makna simbolik di balik status tersangka Ahok dan Buni Yani?

Apakah sanksi hukum terbaik yang menimbulkan efek jera bagi seorang yang melakukan penistaan agama? Mengapa?

Menurut Anda apakah ada daerah di luar DKI Jakarta yang intelektualnya berdebat di media massa tentang dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok?

Apakah Islam di Indonesia sedang dikriminalisasi?

Apakah masjid-masjid di Jakarta masih menolak mensalatkan jenazah?

Menurut Anda, bagaimana toleransi beragama di Indonesia?

Apa yang menarik dari Afi Nihaya Faradisa?

Sampai kapan konflik antarumat beragama akan berakhir?

Mengapa masih banyak orang-orang yang bertengkar karena agama?

Pantaskah Bandung disebut "kota intoleran" atas pelarangan penyelenggaraan ritual agama tertentu oleh keyakinan lain?

Bagaimana cara menanamkan nilai-nilai toleransi pada anak?

Menurut Anda apakah Bandung kota yang toleran?

Seumpama terlahir dalam keluarga Hindu, seberapa yakinkah Anda akan menerima ajaran Islam sebagai kebenaran?

Apakah Anda keberatan jika kitab suci Anda dipelajari lalu dikritik penganut agama lain?

Mengapa tingkat survival warga minoritas lebih tinggi/ulet di tengah kehidupan warga mayoritas?

Apakah membayar utang atau bersedekah yang lebih didahulukan?

(Masih) Mampukah mahasiswa turun ke masyarakat?

Aplikasi atau teknologi apa yang baik digunakan dalam mengatasi bencana alam (banjir, kebakaran, gempa bumi, dan tsunami) di Indonesia yang mengaktifkan masyarakat dan masih berbasis kearifan lokal?

Apakah hipnoterapis mempunyai kemampuan menyembuhkan?

Sebetulnya apa saja ideologi politik yang hari ini ada di Indonesia?

Mengapa orang Indonesia suka menggunakan aplikasi Path?

Mengapa lelucon terkait "jomblo", "jodoh", "galau", dan sejenisnya laku keras di Indonesia?

Mengapa banyak orang Indonesia yang sering ke puskesmas?