selasar-loader

Mengapa Tuhan membuat surga, padahal insentif tertinggi umat Islam adalah ridha Allah?

Last Updated Nov 16, 2016

91 answers

Sort by Date | Votes
Anonymous

cSA4bqn6Us7hy6MaHUP1TL_Cyt1EAq0w.jpg

Andai kata dalam suatu perusahaan, yang kita kejar adalah kesenangan dari investor/bos. Kalau bos senang maka hadiah kita adalah bonus, reward, atau hukuman adalah motivasi untuk para karyawan agar bekerja sesuai dengan perintah sang bos. Ilustrasinya mungkin seperti itu. Wallahualam.

 

ssumber gambar: islamidia.com

Answered Dec 15, 2016
Pramudya Oktavinanda
A devoted disciple of Law and Economics, UChicago Style!

2ySiCEkCnarKFQgwNtBUXeLbVVHgcK_S.jpg

Karena Islam adalah agama yang pragmatis dan Allah sangat amat paham insentif manusia. Sederhananya seperti ini, dalam kebanyakan agama lain, hanya neraka yang biasanya punya beragam tingkatan, tapi surganya egaliter, semua orang sama kedudukannya di surga. Dalam Islam, surga pun ada tingkatan, penentunya? Level ketakwaan. Makin bertakwa, makin tinggi kedudukan yang bisa diraih. Semua orang punya kesempatan sama untuk berlomba-lomba dalam menjadi bertakwa. Dan dengan demikian, insentifnya juga harus berbeda. Ada yang mungkin sudah cukup senang untuk mendapatkan surga, ada yang ingin mengejar lebih jauh dan mendapatkan ridha Allah. Nah mereka yang usaha lebih keras dan lebih baik, akan mendapatkan insentif kenikmatan yang lebih besar. Ini mengapa saya pernah menulis soal mengapa ibadah itu tak bisa dilepaskan dari masalah untung rugi, bahkan bagi mereka yang bersikeras bahwa mereka sedang mengejar ridha Allah semata. Silakan lihat di: http://www.pramoctavy.com/2014/11/ibadah-itu-soal-untung-rugi.html 

Tapi yang lebih penting lagi, semua harus mawas diri, khususnya yang sedang mengejar ridha Allah, jangan sampai terkena perasaan ujub, merasa diri paling oke dan meremehkan mereka yang beribadah karena mengharap surga, bahkan sampai hati mengejek mereka sebagai kaum pedagang. Pertama, berdagang di jalan Allah adalah sah-sah saja dan dianjurkan dalam Qur'an paling tidak 3 kali. Perumpamaan perniagaan yang tidak akan merugi ini diberikan oleh Allah langsung, jadi lucu kalau statusnya direndahkan, masih lebih baik berdagang masuk surga ketimbang banyak gaya dan kemudian masuk neraka kan? Kedua, mencari ridha Allah semata memang imbalannya luar biasa dahsyat, tetapi sebagaimana kata Milton Friedman, "there is no such thing as a free lunch." Karena imbalannya luar biasa, butuh kerja keras ekstra juga, godaannya lebih banyak, penyakit hati sedikit saja sudah bisa merusak amal ibadah puluhan tahun. Jelas ini bukan buat orang sembarangan. Kalau tidak siap, jangan coba-coba. Maka Allah yang Maha Murah Hati menyediakan mekanisme yang lebih gampang: ga usah pusing-pusing, beribadahlah dengan mengharap surga Allah, itu sudah cukup, syukur-syukur dapat ridha Allah juga.    

 

sumber gambar: rumaysho.com

Answered Dec 16, 2016
Edo Fernando
#salamdariPONO

Kita hidup di dunia bagaikan ikut tes. Kita lulus tes jaminan surga buat kita umat muslim. Taati perintahnya dan jauhi larangan. 

Hasil gambar untuk taati aturan dan jauhi larangan

Gambar via blogspot.com

Answered Dec 18, 2016
Ma Isa Lombu
Penikmat Budaya

wbvx6r_AdFv4qKR9o_-msUXgF2-fZ3nA.jpg

Sebelum menjawab, pertama-tama, kita harus pastikan apakah pertanyaan ini benar atau tidak?

Ada beberapa dalil yang mungkin bisa membenarkan atau tidak membenarkan pertanyaan di atas. Di antaranya adalah:

Pertama

“Tepatlah kalian, mendekatlah, dan bergembiralah, karena sesungguhnya amal tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” Para shahabat bertanya: “Termasuk juga anda wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ya, termasuk juga saya, kecuali jika Allah menganugerahkan ampunan dan rahmat kepadaku.” (Shahih al-Bukhari kitab ar-riqaq bab al-qashd wal-mudawamah ‘alal-’amal no. 6463, 6464, 6467.)

Kedua

“Hai orang-orang yang beriman (kepada Para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al Hadid : 28)

Dengan dua dalil ini sepertinya kita semua bisa membenarkan pertanyaan di atas dan akhirnya menyimpulkan bahwa:

  1. Allah, dalam doktrin Islam, menjadikan rida-Nya dan surga sebagai insentif dan neraka sebagai disinsentif bagi umat manusia
  2. Yang membuat seorang manusia masuk surga bukanlah karena amal perbuatannya, melakinkan karena rahmat yang Dia dapat memasukan kita ke dalam Surga

***

Saya akan coba jawab pertanyaan di atas, "Mengapa Tuhan membuat surga, padahal insentif tertinggi umat Islam adalah ridha Allah?”

Sampai saat ini saya meyakini bahwa Allah SWT, Tuhannya orang Islam yang dijelaskan lebih lanjut dalam Alquran dan sunah, menciptakan manusia dengan “algoritma”-nya sendiri. Sebuah karakter khas manusia yang membuat manusia berperilaku seperti kita rasakan saat ini.

Salah satu karakter manusia yang diciptakan Tuhan adalah “People respond to incentives (and disincentives)", seperti dikemukakan ulang oleh seorang Professor dari Harvard dalam buku text Macroeconomics, Gregory Mankiw. Memang saya pertama kali membaca itu dari buku karangan Mankiw, tapi entah statement ini pertama kali muncul dari dirinya atau muncul dari Paul Krugman, seorang Professor dari MIT dan Princeton. Yang jelas saya percaya itu.

Karakter yang merespons insentif dan disinsentif inilah yang akhirnya dapat membuat manusia memilih, menganalisis, dan memperjuangkan yang terbaik untuk dirinya. Seperti definisi manusia normal adalah individu yang rasional. Individu yang selalu berhitung untuk kebaikannya sendiri. Saya pikir harl ini cocok dengan pemikiran seorang Professor Economics dari Chicago University, Gary Becker. Lebih lanjut baca Rational Choice Theory untuk memahami pemikiran tersebut.

Insentif dan disinsentif di sini tidak melulu berkaitan dengan uang dan segala sesuatu yang bersifat material, tetapi juga berkatian dengan insentif yang berupa hal-hal yang immaterial dan intangible seperti kebahagiaan, atau pun kepuasan. Hal ini juga berlaku untuk sesuatu yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga dalam jangaka panjang.

Maka dalam hal inilah saya meyakini bahwa surga dan rida Allah adalah skema insentif yang Ia berikan untuk mengintervensi secara tidak langsung perilaku manusia.

Kembali ke pertanyaan awal, ketika rida Allah sebagai insentif tertinggi, mengapa Tuhan tetap menciptakan surga (dan neraka)?

Sebelum kita jawab, mungkin kita bisa lihat gambaran surga yang Tuhan berikan kepada kita:

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.” (QS Al Insaan ayat 5-6).

“Mereka bertelekan di atas permadani yang di sebelah dalamnya dari sutera. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat.” (Ar Rahman: 54)

“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang (berakhlak) baik-baik lagi cantik-cantik.” (Ar Rahman: 70)

“Barang siapa masuk surga akan bahagia dan tidak akan sengsara, tidak akan hancur pakaiannya dan tidak akan sirna kemudaannya. Di surga itu adalah apa apa kenikmatan yang tidak pernah terlihat mata, tidak pernah terdengar telinga dan tidak terbetik dalam hati siapapun.” (HR. Muslim dan Ahmad).

...Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. 3:133-136).

Saya yakin, meskipun surga aslinya tidak sesederhana itu, tapi gambaran yang diberikan Tuhan secara deskriptif bisa lebih “dapat dirasakan” dibandingkan dengan “rida Allah” yang relatif “abstrak” sebagai insentif tertinggi yang Ia tawarkan kepada umat manusia.

Jadi jawaban saya cukup sederhana, mengapa Tuhan tetap menciptakan surga, karena Tuhan mendesain manusia sebagai makhluk yang “respond to incentives”. Lebih jauh, surga bagi manusia merupakan incentives yang relatif  “tangible” dibandingkan “rida Allah”. Karena itu, surga dan penggambarannya (tetap) dihadirkan dalam Alquran dan sunah sebagai bentuk incentive yang Ia berikan untuk mengontrol perilaku manusia, ciptaanNya.

Semoga salah.

Gambar via blogspot.com

Answered Dec 18, 2016
kirin sakir
Hidup berarti mati

Kalu surga yang dipahami secara hakikat, seharusnya pertanyaan itu tidak muncul. Tetapi sayang, pemahaman surga ketika masuk di ranah non-makrifat dipahami sangat sempit.

Hasil gambar untuk ridha allah

Ilustrasi via wordpress.com

Answered Dec 29, 2016

Hasil gambar untuk ridha allah

Nope, rida Allah bukan insentif tertinggi, namun bentuk "kelulusan" Ente sebagai manusia.

Ngaji lagi, Tong.

Ilustrasi via wanitasalihah.com

Answered Dec 30, 2016
Nauval El-Hessan
Quranic disciple

Hasil gambar untuk surga allah

Walaupun insentif tertinggi adalah rida Allah, tapi manusia memiliki tahapan atau dalam bahasa sufi disebut dengan maqam. Ada manusia yang giat beribadah karena hadiah dari Allah, ada yang memang hanya ingin bertemu dengan Allah. Dalam mencintai-Nya pun, manusia pasti memiliki tingkat. Pada tahap awal, pasti mereka menginginkan sebuah balasan konkret, lalu abstrak, kemudian pemberi imbalan itu sendiri.

Mari kita ibaratkan tahapan itu sebagai pertumbuhan manusia yang terdiri dari anak-anak, remaja, dan dewasa. Anggap saja mereka yang awam atau awal adalah anak-anak, sehingga wajar Allah menciptakan surga untuk memotivasi mereka. Remaja adalah orang yang mulai berilmu seperti cendekiawan. Masih berharap surga, akan tetapi mulai melihat hal yang lebih tinggi. Dewasa adalah ulama yang masuk tingkatan marifatullah. Apa yang mereka inginkan hanyalah Allah itu sendiri. Surga dan neraka bukanlah tujuan mereka.

Tidak ada yang bisa disalahkan karena setiap karakter manusia berbeda-beda. Begitu multikulturalnya Tuhan/Allah dalam menyayangi dan mengasihi manusia.

Ilustrasi via wordpress.com

Answered Dec 30, 2016
Agil (Ragile) Abdullah
orang NU dan belajar Sufi

Hasil gambar untuk surga bagi orang bertaqwa

Manusia secara umum membutuhkan dorongan, imbalan, dan motivasi bahwa dengan berbuat baik sesuai tuntunan Tuhan akan diganjar dengan hadiah istimewa dari Tuhan. Ini dimensi syariat fikih. Sedangkan rida Allah adalah dimensi spiritual/makrifat bagi hamba Allah yang tidak lagi berhitung pahala dan dosa dalam beribadah. Beda level pemahaman, beda motif dalam beribadah.

Ilustrasi via republika.co.id

Answered Jan 4, 2017
Fajri Muhammadin
Lecturer at the Dept. of International Law, Faculty of Law, UGM

Hasil gambar untuk ridha allah

Pertanyaan ini mengasumsikan bahwa "insentif tertinggi umat Islam adalah rida Allah". Justru insentif tertinggi umat Islam adalah rida Allah.

Sebagian kalangan mengatakan bahwa tidak ada gunanya surga neraka, yang penting adalah di dunia ini bagaimana jadi lebih baik bagaimana bisa damai. Ini adalah pemikiran yang salah. Ini adalah campuran:

1. Pola pikir materialis, padahal pertama kali Allah menyebut takwa di Al Baqarah ayat 2, dijelaskan di ayat 3 siapa itu orang-orang yang bertakwa dan ciri pertama adalah:

ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ

"... yaitu mereka yang beriman pada yang gaib."

2. Dan pola pikir bahwa agama adalah dikarang oleh manusia, jadi suka-suka dia merasa apa yang baik apa yang tidak. Kafirlah orang yang berpikir begitu, karena salah satu pondasi akidah umat Islam adalah bahwa Alquran adalah diturunkan oleh Allah dan dijelaskan oleh Rasulullah Muhammad bin Abdillah s.a.w. Sombonglah orang yang berfikir seperti itu, karena dipikir ia memiliki ide yang lebih baik daripada Allah, padahal dalam Al Baqarah ayat 216 Allah berfirman:

 وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

"...Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak."

 

Rida Allah adalah apa yang perlu kita capaidi dunia ini, sedangkan dunia ini akan berakhir. Sebagaimana firman Allah dalam surah Anbiya ayat 104:

يَوۡمَ نَطۡوِى ٱلسَّمَآءَ ڪَطَىِّ ٱلسِّجِلِّ لِلۡڪُتُبِ‌ۚ كَمَا بَدَأۡنَآ أَوَّلَ خَلۡقٍ۬ نُّعِيدُهُ ۥ‌ۚ وَعۡدًا عَلَيۡنَآ‌ۚ إِنَّا كُنَّا فَـٰعِلِينَ

"...[Yaitu] pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya."

 

Barulah setelahnya ada surga dan neraka sebagai tujuan akhir nanti.

Allah mendeskripsikan dengan frasa:

خَـٰلِدِينَ فِيہَآ أَبَدً۬

"...mereka akan kekal di dalamnya."

Frasa ini digunakan baik untuk surga (surah At Taubah ayat 100) maupun neraka (surah An Nisa ayat 78).

Wallaahu'alam

 

Ilustrasi via ummi-online.com

Answered Jan 6, 2017
Andrian Habibi
Hidup dengan menulis karena menulis memberikan kehidupan

surga adalah hadiah atas pencapaian "ridha" juga sebagai pengganti tempat tinggal yang hancur karena "kiamat"

Answered Jan 18, 2017
Tigor Dalimunthe
Lelaki dan Ganteng

Kenapa kita kerja mendapatkan uang? Padahal rumah dibuat dari bata, beras terbuat dari padi, dan kita menikah dengan wanita. Kita tidak bisa tinggal di atas uang, menelan uang, dan menikahi uang.

Answered Jan 19, 2017

Pertanyaan ini mengingatkan saya beberapa tahun silam, guru saya pernah menjelaskan begini.

Tiingkatan manusia dalam beribadah ada 3 :

1. Tingkatan budak, hamba-hamba Allah ini menyembah Allah karena takut akan murka-Nya. takut akan siksa Neraka yang disebutkan dalam kitab suci Al quran. kelak balasan bagi mereka adalah pembebasan dari api neraka.

2. Tingkatan Pedagang. Hamba-hamba Allah ini menyembah Allah karena yakin akan janji-Nya tentang kenikmatan yang tidak ada kesedihan setelahnya, segala amal perbuatannya layaknya pedagang akan dihisab, dievaluasi, agar kelak pahalanya lebih besar dari dosanya. Balasan bagi mereka adalah syurga yang dijanjikan oleh Nya.

3. Tingkatan Pecinta (kekasih). Golongan ini menyembah Allah bukan karena keterpaksaan, ketakutan, atau iming-iming syurga. mereka menyembah Allah karena mahabbah, kecintaan yang luar biasa kepada Rabb nya, Penciptnya, melebihi cintanya kepada pasanganya, orang tuanya, bahkan kepada dirinya sendiri. Ia akan cemburu ketika nama kekasihnya disebut-sebut orang lain. Ia akan berasyik masyuk dengan Rabbnya dalam keheningan saat makhluk lain terlelap. layaknya orang yang sedang memadu kasih. Balasan baginya adalah keridhaan Allah atasnya sepenuhnya. dan ia akan mendapat kenikmatan tertinggi seorang makhluk, bertemu Penciptanya.

Yaa ayyatuhan nafs al mutmainnah. Irj'i ilaa robbiki roodiyatan mardiyyah.fadkhulii fii "ibaadi. Fadkhulii Jannatii.

Answered Jan 25, 2017

sama pertanyaannya kenapa anda dihidupkan oleh Tuhan....

Answered Jan 26, 2017

T8as7-KQmBTNVuBjQlcUUEhFRzM9-7Fb.jpg

Surga memang sudah ada sebelum keberadaan manusia dan agama sebagai tuntunannya.

Surga dijanjikan sebagai ganjaran dari amal, sebagai motivasi untuk kebanyakan manusia untuk beribadah. Untuk surga saja sudah bertingkat-tingkat.

Pemahaman dan iman untuk agama berbeda-beda bagi setiap orang. Selain itu, hanya sedikit sekali orang yang memiliki pemahaman tinggi tentangnya.

Ada manusia yang termotivasi untuk beribadah tanpa memahami hakikat dan makrifat dari agama itu sendiri dengan adanya hadiah. Bahkan, ada pula manusia yang beribadah hanya sekadar menjalankan perintah bukan karena iman dan pemahaman.

Ada juga yang sudah iman dan paham dengan hakikat dan makrifat, ikhlas menjalankan ibadah, bahkan surga atau neraka bukan hal yang penting lagi baginya, sejauh Allah rida terhadapnya.

Allah sudah membuat sesuatu itu sesuai dengan kadarnya.

Answered Mar 4, 2017
Tegar Hamzah
Pegawai Pelabuhan Indonesia II, Ditempatkan di Gresik, Tinggal di Surabaya

XHRVpd9OC8fZTrgTgj9WYFqI2oqw3FnA.png

Bagi saya, insentif tertinggi sebagai muslim adalah bisa melihat wajah Allah, melihat langsung dan bertemu langsung dengan wujud Sang Maha Pencipta. Mungkin hal ini (melihat wajah Allah) masih debateble. Bagi beberapa madzhab, ada yang menganggap melihat wajah Allah dalam Al Quran itu cuma kiasan, tapi beberapa madzhab seperti dari kawan-kawan salafi memahami "melihat wajah Allah" dalam makna zhohir-nya.

Jadi, saat atau waktu melihat wajah Allah itu terjadi ketika kita berada di surga. Sementara itu, seseorang bisa masuk surga saat Allah rida kepadanya.

Answered Mar 6, 2017
Mhd Fadly
KPI Fak. Agama Islam UMSU, Alumni Pon-pes Ibadurrahman Stabat

1bt0s1GqXzznUqYReseEVrXmhL2t_j6R.jpg

via bp.blosgpot.com (FR)

Pertanyaan ini mengingatkan saya jawaban ilustrasi yang diberikan oleh Dr. Zakir Naik di setiap kesempatan terkait Taqdir, Ujian bahkan yang dibandung terakhir kemarin ilustrasi atas pertanyaan apa guna manusia di ciptakan, apakah manusia hanya sekedar boneka oleh tuhan, toh tuhan maha tau dan maha kuasa atas segalanya.

nah kira-kira ilustrasinya adalah: ada 3 orang murid A,B,dan C mereka belajar dalam satu kelas dan di asuh oleh satu guru. berbulan-bulan belajar hingga sampailah ia mendekati masa ujian. dan sebagai guru yang perhatian ia telah mengetahui siapa yang lulus di antara mereka sebelum ujian berlangsung.

Untuk menjawab pertanyaan ini saya mengembangkan ilustrasinya dengan: capaian terbesar oleh murid adalah untuk mendapat restu dari sang guru. dan sang guru tersebut mengetahui bahwa restu nya adalah hal yang paling berharga bagi murid-muridnya. tetapi bentuk restu tersebut ingin di nyatakan sang guru dengan memberikan suatu yang nyata (misalnya tongkat pusaka). dan guru tersebut sudah memberitahukan kepada muridnya dengan mengatakan siapa yang berhasil maka ia berhak menerima tongkat pusaka.

Artinya, tidak salah kan ketika sang guru memberikan wujud nyata atas keberhasilan muridnya? walau ia mengetahui bahwa restu adalah hal yang berharga bagi si murid.

Begitu juga dalam menghadapi ujian kehidupan di dunia, tujuannya adalah Ridha Allah, tetapi Allah juga akan memberikan syurga sebagai bentuk nyata ridho Allah tersebut kepada hambanya yang berhasil melewati ujian di dunia.

Moga-moga ilustrasinya dapat di pahami.

Answered Apr 4, 2017
Eka Prasetya
Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia

Gambar terkait

via fernandhy.files.wordpress.com (SUM)

Karena Tuhan tahu sebagian besar hambanya membutuhkan reward yang bersifat konkret. Ridha Allah hanya akan dipandang sebagai insentif tertinggi bagi mereka yang telah sampai pada tahap religius yang matang, di mana pengabdiannya kepada Tuhan tidak lagi didasari oleh pertimbangan akan surga dan neraka. Sedangkan bagi sebagian besar umat manusia, hanya akan mengikuti perintah-Nya mana kala ada imbalan yang pantas. Dengan memahami penciptaan surga dengan cara seperti ini, kita jadi lebih meyakini Tuhan sebagai Tuhan yang Maha Mengetahui, karena dia mengetahui bagaimana cara berpikir sebagian besar makhluk ciptaannya

Answered Apr 16, 2017
Nuzulul Arifin
I'm a travel and food blogger. Write about anything useful for others.

dTYIrNUpTOcr-s-XVL3Wsl0HTr8r9AC1.jpg

Sebab Allah Ta'ala itu Maha Adil. TQS Ali Imran: 133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.

Tak ada satupun dalil Al Qur'an yang menyatakan bahwa insentif tertinggi seorang muslim adalah ridha Allah.

 

sumber gambar : islamidia.com

Answered May 2, 2017
Aviardhansyah Sakrie
Muslim Pembelajar | http://aviardhansyah.wordpress.com

Pertanyaan-pertanyaan mengenai kehendak Tuhan memang menarik untuk ditanyakan, tetapi siapa saja yang paham bahwa dirinya adalah hamba dan Tuhan adalah Dzat yang mencipta paham bahwa kehendak Pencipta takkan pernah bisa dipahami seluruhnya oleh seorang hamba, objek dari penciptaan. Karena Tuhan, memiliki wewenang penuh untuk melakukan apapun terhadap karya ciptaNya, ia pula yang menciptakan jalanan takdir untuk triliunan mahkluk yang Ia ciptakan.

Sekarang jika kita bertanya, mengapa ada yang menciptakan sepatu sementara sudah ada yang menciptakan sendal untuk menutupi kaki? Tentu pikiran kita akan terbolak-balik hanya karena pertanyaan remeh tersebut. Dan kini kita berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan KeTuhanan yang teramat tinggi dan jauh dari capaian akal. Ada baiknya sebagai hamba, kita tunduk terhadap setiap kehendaknya.

Jika kita menemukan makna-makna tersirat dari setiap takdirnya, mungkin itu hanya sebagian dari yang bisa kita capai dengan akal seperti manfaat sholat bagi tubuh, manfaat air putih ketika kita doakan dan semacamnya. Adapun kita melakukan semua ibadah tersebut tidak lain karena kita adalah hamba yang manut kepada Tuhannya.

Answered May 3, 2017
agus salim
Kuliah di STAI DDI Maros Jurusan Tarbiyah

HlXsItjTyfmXH5rel0VSb5QVr5cWcN71.jpg

Mari kita melihat kembali sejenak kehidupan kecil kita di masa lalu. Anggaplah kita masih berumur lima tahun

Ketika kita disuruh orang tua untuk melakukan suatu perbuatan yang nyatanya untuk kebaikan kita sendiri, kadang kita merasa berat untuk melakukannya. Melihat hal tersebut, cara yang paling ampuh orang tua untuk membujuk kita adalah dengan memberikan sebuah hadiah jika kita melaksanakan suruhan tersebut. Cara ini yang paling ampuh, selain dari ancaman dipukul jika tidak melaksanakan.

Tabiat manusia ini berlangsung sampai ia dewasa. Manusia enggan melaksanakan suatu perbuatan, jika dari segi materi tidak menguntungkannnya, atau tidak merugikannya jika tidak dilaksanakan. Begitupun, manusia cenderung ingin melakukan apa yang dilarang jika tidak diancam atau tidak diimingi keuntungan jika meninggalkannya.

Ini adalah fitrah yang Tuhan telah tanamkan pada setiap hambanya, pasti dirasakan oleh setiap manusia. Dibalik itu, harus kita pahami betul juga bahwa tak semua fitrah manusia itu terpuji. Misalnya, marah, benci, dengki, materialis, dan lain-lain. Ada fitrah yang harus kita jaga, adapula fitrah yang harus kita hilangkan sedikit demi sedikit. Itu merupakan sebagian dari ibadah dan tugas manusia sebagai hamba Allah.

Berkaitan dengan pertanyaan MENGAPA TUHAN MENCIPTAKAN SURGA? jawaban yang paling simpel adalah karena manusia memang materialis, seperti yang dijelaskan diatas, itu adalah fitrah manusia. Tuhan pun tahu akan sifat ini, karena tak diragukan lagi, Dia sendiri yang menanamkan sifat tersebut dalam diri manusia. Jika ingin bertanya yang kritis lagi, maka seharusnya yang jadi pertanyaan mendasar, MENGAPA TUHAN MENCIPTAKAN SIFAT MATERIALIS (UNTUNG RUGI SURGA NERAKA)???

Jika bertanya MENGAPA TUHAN, maka segala jawabannya adalah bersifat dzhanni (meragukan) kecuali terdapat dalil yang menjelaskan hal tersebut, karena ini sudah termasuk ranah ILMILLAH (ilmu Allah) meski sebagian hambanya dikaruniai sedikit pengetahuan hikmah seperti ini. Termasuk Nabi Muhammad SAW yang merupakan ahli hikmah nomor wahid  di dunia.

Mengenai sifat materialis, maka ini sudah banyak dibahas dalam buku buku tasawuf para ulama sufi.Didalam kitab nashaihul ibad contohnya, disebutkan tiga tingkatan keikhlasan.

  1. Beribadah dengan niat karena Allah (Ridho Allah)
  2. Beribadah karena niat mendapatkan surga atau takut neraka
  3. Beribadah karena mengaharap keberkahan dari ibadah, seperti kelancaran rezeki, kerukunan keluarga, atau hidup sejahtera.
Tiga keikhlasan diatas adalah kelas-kelas keikhlasan manusia yang dilalui secara bertahap dan penuh dengan mujahadah (ikhtiar keras). Beribadah karena surga bukanlah suatu dosa, namun suatu kewajaran. Meski demikian, manusia harus berusaha menghilangkan kecenderungan cinta akhirat seperti itu. Karena tujuan akhir dari ibadah adalah mencari ridho-NYA, meskipun tidak semua orang mampu menggapai keikhlasan suci itu. Karena tidak semua orang mampu, maka Tuhan sebagai Dzat Yang Maha Tahu dan Penyanyang, ia menyediakan surga bagi hambanya yang bersusah payah beribadah kepada-NYA, meski niatnya belum penuh karena mencari ridho-NYA. 
"Rahmatku mendahului Murkaku" (hadis Qudsi). Surga merupakan bentuk kasih sayang Tuhan buat ummat islam.
Jika surga buat mereka yang mengejarnya, lantas dimanakah di tempatkan orang yang beribadah hanya karena mencari ridho-NYA??? Tentu juga di surga, terus apa bedanya?? WALLAHU A'LAM. Namun kita meyakini bahwa Allah itu Maha Adil, Maha Tahu, dan Sumber kebahagiaan. 
Akhir kata mari kita renungkan kata-kata Rabiah Al A.
 
sumber gambar: konsultasisyariaf.com

Answered May 30, 2017

Question Overview


and 127 more
145 Followers
6474 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Apabila poligami adalah ibadah, mengapa banyak perempuan muslim yang tidak mau melakukannya?

Bagaimana cara mengakhiri konflik antara Sunni dan Syiah?

Apakah Syiah bukan Islam?

Mengapa Nabi Muhammad tidak mengizinkan Ali mempoligami Fatimah?

Apa yang dimaksud dengan bid'ah?

Apa yang dimaksud dengan munafik?

Apa yang dimaksud dengan halal?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Apa yang dimaksud dengan mubah?

Apakah Tuhan perlu dibela?

Mengapa kita percaya adanya Tuhan?

Ke mana kita setelah mati?

Apa bukti keberadaan Tuhan?

Apa alasan yang akhirnya membuat Anda memilih untuk menjadi seorang Atheis?

Apa alasan yang akhirnya membuat Anda memilih untuk menjadi seorang Agnostic?

Apa alasan yang akhirnya membuat Anda memilih untuk berpindah agama?

Siapa yang menentukan kesuksesan seseorang? Usaha diri sendiri atau takdir Tuhan yang ditetapkan sejak zaman azali?

Bagaimana manifestasi "keadilan Tuhan" pada bayi yang terlahir cacat?

Mengapa Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail sendirian di Mekah?

Bagaimana kaitan antara genre film favorit dan budaya setiap negara?

Apa itu Mazhab Frankfurt?

Bagaimana perkembangan Mazhab Frankfurt dalam konteks budaya populer?

Apa yang dimaksud dengan Teori Fetisisme Komoditas?

Apa perbedaan antara budaya massa dan masyarakat massa?

Apakah kaitan antara budaya massa dan amerikanisasi?

Apa pendapat Anda tentang amerikanisasi dan kritik atas Teori Budaya Massa?

Bagaimana pengaruh industri budaya terhadap musik pop?

Apakah kaitan antara James Bond dan strukturalisme?

Bagaimanakah konsep hegemoni Gramsci?