selasar-loader

Siapa Atmaji Sapto Anggoro Pendiri dan CEO Tirto id?

Last Updated Apr 25, 2017

2 answers

Sort by Date | Votes
Miftah Sabri
Pendiri dan CEO Selasar

Sapto Anggoro begitu namanya dipanggil. Ia adalah ksatria pilih tanding. Pendiri dan CEO Tirto.id. Jarang Atmaji ini terdeteksi keluar. Saya baru mengenalnya tiga hari yang lalu. Mengenal dalam arti yang spesifik "bertatap muka", dan "bertukar gagasan satu sama lain". 6 jam lebih kami bersama. Saya mengunjungi Padepokan Asa yang beliau dirikan di pinggiran Yogya Kab Sleman nan asri itu.Padepokan ini saya bangun dari "exit saya di company sebelumnya". 

Namun jika mengenal namanya lama, saya sudah lama mengenal nama beliau. Beliau adalah living legend di dunia digital Indonesia. Legenda yang masih hidup dan akan senantiasa hidup. Mas Sapto Asli Jombang. Dari mentee nya yang merupakan Kepala Konten Eksekutif di Selasar Arfi Bambani saya mengetahui bahwa Mas Sapto adalah "wartawan kosong satu detik". Demikian Mas Budiono Darsono, mantan CEO dan pendiri detik.com, kini Chairman Kumparan.com memberi gelar kepada beliau.

Dari 6 jam pertemuan tiga hari yang lalu itu saya jadi tahu bagaimana beliau menjadi sosok midas dalam setiap usaha yang digelutinya. Detik.com didirikan dengan modal 60 juta rupiah lantas laku senilai 60 juta US dollar. Dari sana Mas Sapto menjual ESOP (Employer Stocks Option) yang ia beli dari gajinya di sana lantas mendirikan Merdeka.com. Merdeka.com lantas Ia bangun bersama mitra nya dari Kapan Lagi Network. Tidak sampai dua tahun Merdeka menembus tiga besar alexa rangking untuk portal news dalam Bahasa Indonesia. Salah satu ventures capital dari Singapore masuk dengan nilai yang tidak kalah besar dari Detik.com sebelumnya. 

ugp-29dGypALXGSuwra5n_GUoluvBVM7.jpeg

Mas Sapto pun exit kembali dari merdeka,dan berbeda dengan dua tempat sebelumnya dimana yang pertama "hanya karyawan", di tempat kedua "sekedar mitra" kali ini beliau berdiri sendiri.  Kali ini beliau hadir menghentak publik dengan konsep yang sama sekali baru. Semua orang pada mulanya bingung, apa itu tirto.id. Siapa sosok di belakangnya misterius begitu berani membuat portal news yang reportasenya dalam (depth report), dengan riset kuat dan sangat pro digital dalam penyajian datanya. Penuh infografis yang memudahkan dan juga ada video video depth report ala ala vice.com. Usut punya usut Mas Sapto Anggoro lah tokoh di balik kehadiran mata air baru di ranah jurnalisme digital kita. Tirto hadir menyentak, dansentakannya tersebut mampu mencuri hati netizen Indonesia.

Saat kami bertemu 22 April lalu di Yogya, tirto sedang menimbulkan "masalah" dengan mengangkat reportase jurnalis Allan Neirn tentang upaya kudeta atas Presiden Jokowi dengan sasaran antara aksi bela islam gara gara Ahok. Mas Sapto bolak balik menyebut dia pasang badan untuk itu semua, dan desas desus yang selama ini hanya rumor mampu publik nikmati dalam sebuah reportase jurnalistik yang dalam dan apik. Dalam sesi tanya jawab Bincang Selasar Yogya di padepokannya tersebut Mas Sapto kerap keluar masuk pendoponya, dan tanpa berahasia pada saya beliau bilang "dari istana" sahabat lama yang dikenal baik. Pastilah seputar Allan Neirn dan kontrofersi yang ditimbulkannya dan kemarahan TNI pada reportase tersebut. Mas Sapto tenang saja menyikapi itu. Kami terus berdiskusi hingga matahari tenggelam di ufuk barat. Dan sebagai sosok mentor di tengah hampir 150 peserta diskusi anak muda start up di Yogyakarta Mas Sapto Anggoro tetap menyala nyala menjelaskan poin demi poin "zero to one" nya Pak De Peter Thiel, Don dari Mafia Paypall. 

Pertemun singkat saya dengan Mas Sapto meninggalkan kesan yang mendalam di batin saya. Kami anak anak muda merasa terhormat dengan kerendahan hati mau menyediakan tempat kepada kami di padepokannya untuk kami membincangkan how to built the priceless start up di Indonesia. Terus terang saya merasa terhormat diberi nasehat dan arahan yang tak berbayar dari seorang legenda hidup digital Indonesia. 

Seorang mantan sekjend asosiasi penyelenggara jasa internet mau duduk dengan anak anak muda yang dua puluh tahun lebih muda dari beliau untuk meriung saling berbagi pengetahuan,pengalaman dan wawasan bersama sama.

Telah banyak nama nama besar yang ia hadirkan untuk anak anak muda ke padepokannya, William Tanuwidjaja, Dhandy Laksono pernah datang dan padepokan itu penuh, anak anak muda antusias menggali ilmu di padepokan seluas 2000 m di tengah persawahan yang asri tersebut.

Saya mendoakan Mas Sapto sehat selalu dan senantiasa dinaungi Rahmat Allah SWT dan terus penuh dedikasi menjalani perjalanan sunyi menjadi penjaga malam jurnalisme di dunia maya kita. Menjaga marwah jurnalisme digital kita.

IFKu8A3HAbMH9dO92TuA94n0Klu7DRLY.jpeg

Vivat Atmaji Sapto Anggoro

Vivat Selasares

Jayalah Kaum Kaum Selasar

Wallahu'alam

 

 

 

 

Answered Apr 25, 2017
Arfi Bambani
Chief Content Officer Selasar | Sekretaris Jenderal AJI

htNtA72V7ksJMAZPwyJVVhdFfzAeBHt3.jpg

Mas Sapto. Terus terang, tak banyak persinggungan saya dengan jurnalis-cum-entrepreneur sukses ini meski pernah bertahun-tahun bekerja di kantor yang sama, www.detik.com. Saat itu, kurun 2006-2008, pendiri dan pemimpin redaksi detik.com, Budiono Darsono, kerap bercerita mengenai pria yang kini jadi CEO Tirto.id itu.

Kala itu, saya masih seorang reporter, sementara Mas Sapto adalah 'dewa' yang sudah menjadi, kalau tak salah, wakil direktur yang menangani marketing detik.com. Praktis, sehari-hari saya tak pernah berhubungan langsung dengan beliau, saya lebih banyak berinteraksi dengan Pak BDI, panggilan akrab Budiono Darsono.

BDI bercerita, detik.com berawal dari "keisengannya" yang tak sabar menunggu berita-berita mengenai perkembangan Reformasi baru muncul besok pagi di koran-koran lokal. BDI memanfaatkan jaringannya untuk mendapatkan informasi, lalu diramunya untuk dijadikan berita di detik.com. Saat itu, beberapa bulan setelah Soeharto lengser, belum ada reporter khusus yang turun ke lapangan.

Salah satu pemasok berita untuk BDI adalah Sapto Anggoro, yang saat itu bekerja di Harian Republika. Sapto saat itu masih turun ke lapangan, mengumpulkan informasi. "Jadi saya menelepon Sapto, lalu nanya-nanya apa perkembangan berita hari ini," kata BDI menceritakan kembali.

Informasi dari Sapto ini kemudian diramu BDI untuk menjadi bahan berita di detik.com. Ketika sudah beberapa kali melakukan telepon yang sama ke Sapto, lama-lama Sapto tersadar bahwa informasi yang dia berikan diolah menjadi berita di detik.com. Singkat kata, Sapto kemudian ditantang BDI untuk bergabung ke detik.com. Awalnya Sapto ragu, namun akhirnya mengiyakan.

Jadilah Sapto sebagai "wartawan kosong satu" detik.com, kata BDI dalam beberapa kali kesempatan. Sebagai karyawan-karyawan awal detik.com, Sapto memiliki hak mendapatkan employee stock option (Esop), yakni hak mendapatkan dividen jika detik.com mendapatkan keuntungan.

Dari posisi sebagai redaktur-penulis untuk detik.com, Sapto akhirnya mencapai puncak karier kewartawanan di detik.com sebagai wakil pemimpin redaksi. Ketika saya bergabung dengan detik.com di tahun 2006, Sapto kemudian "dimutasi" menangani marketing. Makanya saya hanya sebentar merasakan "lekat tangannya" sebagai wartawan.

Sapto adalah karyawan detik.com yang ilmunya paling mumpuni karena pernah menjajal berbagai posisi, mulai dari konten, marketing sampai HRD. (Mungkin kemumpunian ini yang kemudian hari membuat beliau sukses di berbagai startup yang dikembangkannya).

Pivot Sapto

Tahun 2011, ketika saya sudah bekerja di Viva, tersiar kabar detik.com dibeli Chairul Tanjung. Beredar rumor santer di antara para "alumni" detik.com jika para pendiri dan karyawan-karyawan mula detik.com kaya raya karena nilai saham yang mereka punya melambung.

Nah, Mas Sapto adalah salah satu yang disebut sukses besar. Kesabarannya bertahun-tahun membeli sedikit demi sedikit saham detik.com dari menyisihkan gajinya membuatnya, kalau memakai bahasa orang banyak, "OKB" alias orang kaya baru.

Mas Sapto sempat sebentar merasakan detik.com di bawah Chairul Tanjung. Namun beberapa bulan setelah diakuisisi detik.com, Mas Sapto kemudian keluar untuk mendirikan Merdeka.com. Saat di Merdeka.com ini, Mas Sapto terpilih menjadi Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII). Saya sempat beberapa kali bertemu dengan beliau saat menjadi Sekjen APJII ini.

Pertemuan yang agak berisi terjadi ketika Mas Sapto meluncurkan buku "detikcom, Legenda Media Online" di sebuah hotel di Jakarta Pusat. Saat itu, Mas Sapto menyebut ini buku pertama mengenai detik.com. Banyak kisah-kisah yang belum saya tahu muncul dalam buku ini. Konon, Pak BDI agak gusar dengan kehadiran buku ini karena ada beberapa hal yang dia kurang berkenan untuk diceritakan kembali.

jPthUlyvN98rjo0ZjmtThGXq1VLi9DcO.jpg

Tahun 2015, setelah Merdeka.com sukses besar, hanya butuh dua tahun untuk menembus jejeran lima besar media online nasional, tiba-tiba muncul isu Mas Sapto mundur dari Merdeka.com. Kabar mundur ini menyusul berita 52 persen saham Kapan Lagi Network yang membawahi Merdeka.com dibeli anak usaha Temasek, Singapura.

Jelas, Mas Sapto kembali "chuan" alias untung. Sebagai pendiri, tentu Mas Sapto memiliki saham pula di Merdeka.com yang memiliki investor baru. Tak lama, Sapto mundur dari Grup Kapan Lagi dan kemudian muncul dengan gebrakan barunya, mendirikan Binokular, sebuah perusahaan media monitoring yang berbasis di Yogyakarta. Mas Sapto juga mendirikan sebuah tempat bernama Padepokan ASA yang bisa dipakai untuk diskusi atau pertemuan-pertemuan.

Namun gairah sebagai wartawan belum padam. 2016, muncul pula Tirto.id, sebuah media online yang memilih jalan sepi menyajikan berita-berita indepth atau investigatif. Jalan sepi karena memilih tidak mengikuti langgam hard news yang lebih menjanjikan traffic. Mas Sapto adalah chief executive officer-nya.

Beberapa bulan belakangan ini, hampir tiap minggu saya bertemu Mas Sapto. Saya bersama beliau sedang sibuk menyiapkan Deklarasi Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) yang berhasil dilakukan 18 April 2017 yang lalu. Dalam beberapa kali rapat yang digelar bergiliran di beberapa kantor media, saya bisa mengenal lebih jauh Mas Sapto.

"Di sini (dalam rapat pendirian AMSI), kita tidak boleh bicara traffic. Di sini kita bicara value," ujar Mas Sapto ketika peserta-peserta rapat mulai berbincang soal traffic, pageviews atau pun berbagai metriks pengukuran Internet lainnya.

Mungkin itu yang mendasari Mas Sapto mendirikan Tirto.id. Value.

Semoga sukses terus, Mas Sapto.

Answered Apr 26, 2017