selasar-loader

Memilih selingkuh atau diselingkuhi?

Last Updated Apr 20, 2017

3 answers

Sort by Date | Votes
Febrina Rachmayanti
Literature and a touch of make-up

ub8U8CfjkocJaJWYW_iX8cM-XOZX6pzU.jpg

Selingkuh dan diselingkuhi sama-sama hal yang menyakiti sehingga saya lebih memilih untuk tidak melakukan keduanya. Namun, jika harus dipaksa memilih salah satu, saya akan memilih untuk diselingkuhi saja.

Saya mempunyai prinsip hidup untuk tidak membalas perbuatan jahat yang orang lain lakukan pada diri saya. Memang, sih, nggak muna juga, pasti saya pernah jahat kepada orang lain. Akan tetapi, saya percaya kalau kejahatan dibalas kejahatan, kejahatan itu akan abadi. Begitu juga dengan perihal selingkuh ini.

Ketika pasangan selingkuhpun, sebenarnya 100% kita tidak bisa menyalahkan orang tersebut. Melainkan saya lebih suka jika kita mengintrospeksi diri kita sendiri, sudah baikkah? Atau mumpunikah? Instead of menyalahkan orang lain yang tidak akan ada ujungnya. Pada dasarnya, saya percaya orang yang selingkuh itu memang tidak serius dan akan selalu begitu.

Diselingkuhi juga bukan perkara buruk sampai dunia tiba-tiba akan kiamat besok, kok. Diselingkuhi menunjukkan bahwa pasangan kita tidak setia dan bukan yang terbaik. Nantinya, dia dia juga yang akan menyesal, toh?

 

sumber gambar : fajar-online.com

Answered Apr 21, 2017

Y8SjAuXo7wyYLiBaBfXgvRYjXeoSOQpt.jpg

"Ketika lo punya tempat berteduh, meskipun atapnya bocor waktu hujan, harusnya lo cari sesuatu untuk membetulkannya supaya gak bocor lagi. Bukan pergi dan cari tempat berteduh yang lain. It's up to you to live with my imperfections or not. But instead of cover it up, you choose to be with the one with no flaws, which wasn't me" - Theala, Loversation by Kaisoone.

Jawaban ini berdasarkan pada pengalaman pribadi namun tidak bermaksud curhat.

Jika diharuskan untuk memilih, saya akan lebih memilih diselingkuhi. Karena, selingkuh merupakan hal yang paling saya benci dan hindari. Karena itu adalah masalah kepercayaan, dan tidak ada hal apapun yang dapat mengembalikan kepercayaan seperti semula jika sudah sekali dikecewakan dan sekecil apapun itu.

Dan menurut saya jika seseorang selingkuh itu adalah mutlak kesalahannya. Kenapa? Karena seseorang itu punya pilihan lain dari pada selingkuh. Jika memang ada masalah dalam hubungannya, maka selesaikan masalah itu, bicarakan dan cari solusinya bersama. Jika dirasa sudah tidak ada solusi maka ya sudah, berpisah.

Atau jika sudah tidak mau berjuang lagi untuk pasangannya dan hubungannya, ya sudah tinggal berpisah.

Maka tidak ada satupun masalah yang mengarahkan kita untuk memilih selingkuh sebagai solusi.

 

sumber gambar : kordanews.com

Answered Apr 27, 2017
Baskoro Aris Sansoko
Mahasiswa UNAIR; baskoroaris.com

Sebelum menjawab memilih yang mana, aku ingin mengulas terlebih dahulu pemaknaan tentang selingkuh. Kalau memerika ke KBBI, selingkuh memiliki tiga pengertian: 1 suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong, 2 suka menggelapkan uang; korup, dan 3 suka menyeleweng. Pengertian di KBBI ini rupanya kurang sesuai dengan pemaknaan masyarakat mengenai selingkuh.

Sejauh ini yang kupahami dari pemaknaan masyarakat mengenai selingkuh adalah seseorang memilih untuk memiliki hubungan romansa non-pernikahan dengan orang lain selain pasangannya.

Aku ingin mencoba untuk memadukan antara pemaknaan yang digunakan KBBI dan pemaknaan masyarakat. Kekurangan pemaknaan KBBI disebabkan oleh terlalu luasnya cakupan sehingga tidak merefleksikan pemaknaan yang digunakan masyarakat. Kekurangan pemaknaan masyarakat adalah terlalu sempit dan terbangun dalam kerangka narasi modernitas sehingga menurut aku tidak menyentuh isu yang lebih penting.

Ringkasnya, menurutku, selingkuh adalah membangun hubungan romansa atau/dan seksual dengan orang lain tanpa disepakati oleh pasangannya.

Jika pasanganku, misalnya, sepakat aku menjalin hubungan romansa non-pernikahan dengan perempuan lain, maka maknanya aku tidak selingkuh. Masyarakat boleh saja menilai aku (dan pasanganku) sebagai pasangan yang tidak bermoral, tapi itu jelas bukan selingkuh. Jika pasanganku, misalnya, tidak sepakat aku menikah lagi dengan perempuan lain lalu aku menikah lagi, maka itu maknanya aku selingkuh. Terlepas itu diperbolehkan oleh agama, direstui masyarakat, dan tidak dinilai menyacati moral, tapi itu tetap saja selingkuh.

Oleh karenanya selingkuh dalam pengertianku bisa diwujudkan dalam tindakan yang tidak masalah secara moral dan tidak selingkuh bisa terwujud dalam tindakan yang bermasalah secara moral.

Tapi yang pasti, selingkuh dalam pengertianku tidak pernah etis. Ia selalu tidak etis karena melanggar kesepakatan yang dibangun bersama. Ini menunjukkan ketidakmampuan pasangan dalam membangun komunikasi yang terbuka di antara keduanya sehingga seseorang perlu untuk menyembunyikan atau tidak mencari kesepakatan dengan pasangannya. Selain itu, selingkuh secara emosional selalu menyakitkan. Kadang tidak hanya menyakitkan untuk yang diselingkuhi, namun juga pada yang berselingkuh.

Perasaan bersalah, membayangkan rasa sakit yang dirasakan pasangan, dan bayangan-bayangan paranoia memberikan beban tersendiri yang sebenarnya tidak seringan yang dibayangkan. Beban itu banyak diabaikan karena yang berselingkuh sudah dari awal disalahkan, tapi tetap saja beban itu ada. Walaupun demikian, beban itu tidak menjadi justifikasi untuk membenarkan tindakan selingkuh.

Maka lebih memilih selingkuh atau diselingkuhi?

Aku memilih untuk selingkuh.

Tapi membicarakan dari awal dengan orang yang aku berselingkuh dengannya tentang hubungan apa yang ingin aku jalin dan bangun. Sebab aku tidak pernah terpikir selingkuh hanya karena ada perempuan lain, tapi ada kemungkinan selingkuh ketika memang hubungan yang telah terbangun (walaupun lama) sedang kehilangan kemampuan komunikasinya, banyak drama, dan apapun itu yang bermasalah.

Pasti salah secara etika. Mungkin salah secara norma sosial.

Selalu menyakitkan. Tapi terkadang memang benar-benar dibutuhkan.

Answered May 15, 2017