selasar-loader

Faktor apa yang menyebabkan pasangan Ahok-Djarot kalah di Pilkada DKI Putaran 2?

Last Updated Apr 20, 2017

1 answer

Sort by Date | Votes
Ma Isa Lombu
Pemerhati Indonesia

4ZoUVgSgm2sBhzfAnm6Aa-eXAy4Ynod9.jpg

Sebenarnya pertanyaan ini "agak mudah" untuk dijawab. 

Dengan pengetahuan dan informasi yang terbatas sudah "meramalkannya" di selasar tanggal 13 Desember 2016. Ramalan saya ada di sini.

(seperti) Mengulangi kemenangan Trump di US. Saya bukan ingin bilang bahwa program Anies-Sandi kurang memiliki daya tarik, namun saya pikir menjadi valid hipotesis yang dulu pernah saya keluarkan (secara informal dalam forum-forum yang informal pula) bahwa dalam kompetisi politik (manapun dan dimanapun), trofi pemenang akan dimiliki oleh orang-orang yang sanggup mengkapitasilasi dan mengekspolitasi hal-hal yang memiliki tendensi sektarian (berhubungan dengan kelompok). Which is irrational factors, yang notabene sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan konten kampanye itu sendiri.

Anyway, secara singkat, dalam jawaban ini saya ingin kembali menganalisis faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kekalahan pasangan Ahok-Djarot dalam Pilkada DKI putaran 2 ini. 

1. Mekanisme Dua Putaran

Saya percaya bahwa Ahok dan Djarot hanya akan memenangkan kursi tertinggi pemerintahan DKI jika hanya pilkada hanya berjalan satu putaran. 

Entah karena kejeniusan SBY, blessing in disguise, atau takdir Tuhan, yang jelas dengan adanya tiga calon yang bertarung, harusnya hasil akhir bisa diprediksi sejak awal. Ahok pasti kalah!

Profil demografi Jakarta cukup menarik. Meski dikenal sebagai daerah kosmopolit dan kental akan nuansa heterogen-nya, data yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa sebanyak 83% penduduk Jakarta beragama Islam. 

Mungkin jika pertarungannya adalah head to head (satu lawan satu) antara Ahok-Djarot dan Anies-Sandi, dengan kompetisi dua pasangan dan status Ahok sebagai incumbent (petahana), jelas Ahok-Djarot akan menjadi pemenangnya karena dapat dipastikan perolehan suara pemenang akan melebihi 50% + 1. Untuk itulah strategi mengalahkan Ahok (yang entah diinisiasi oleh siapa) dengan memunculkan pasangan yang dapat memecah suara dan memberikan alternatif pilihan, menjadi sebuah keniscayaan.

Semua  orang kala itu yakin, AHY-Silvy tidak akan menang, namun alasan kebanyakan orang kala itu masih seputar “investasi SBY” untuk sang putra mahkota. Tidak banyak analis politik yang memprediksi bahwa dimunculkannya AHY-Silvy adalah strategi utama untuk mengalahakan Ahok. Mungkin hal ini adalah manifestasi dendam kesumat SBY kepada Megawati yang dibawa mati.

Dengan cerdasnya, Partai Demokrat yang memiliki positioning “Partai Nasionalis Religius” ini menajamkan strategi pemecahan suara tersebut dengan merangkul partai Islam (non-PKS) dan partai berbasis masa Islam lain seperti PPP, PAN, dan PKB. Belum lagi investasi politik SBY kepada para habaib Jakarta yang waktu itu siap untuk dipanen. Dengan strategi tersebutlah maka tidak heran suara para habaib (dan ribuan pendukungnya) dan pemilih tradisional Islam Betawi, sebagian besar memilih AHY dalam putaran pertama. 

Tidak banyak memang, hanya sekitar 17.07% suara yang mendukung AHY-Silvy di putaran pertama, tetapi jumlah suara tersebut terbukti efektif untuk menghantam Ahok-Djarot di putaran dua.

2. Faktor Irrasional dalam memilih

Anies dan Sandi memiliki setiap faktor irrational yang dibutuhkan para swing voters untuk akhirnya memilih mereka sebagai Gubernur dan Wagub dalam pilkada kali ini. Terutama untuk para masa mengambang (floating mass) DKI Jakarta yang diprediksi berjumlah 40% ini.

Seperti di jawaban saya yang lalu bahwa Anies Baswedan, sang inisiator Indonesia Mengajar adalah sosok orang memiliki reputasi baik bagi anak muda urban Jakarta yang bisa jadi sebagian besarnya merupakan kelompok dari swing voters ini. Belum lagi citranya sebagai mantan menteri, tampangnya yang cukup good looking, tokoh politik muda yang reformis dan dibela mati-matian oleh Pandji, akan semakin membuat para undecided voters kelas menengah mengarahkan pilihan padanya.

Kegalauan mereka akan semakin menjadi-jadi dengan hadirnya Sandi Uno sebagai wakil dari Anies yang pintar, tajir, saleh, dan pastinya ganteng. Dengan bekal itulah maka jelas Sandi Uno jelas memiliki comparative advantage dibandingkan paslon Ahok-Djarot. 

Mereka berdua adalah sosok ideal idaman kaum hawa, mulai dari remaja putri, mahmud (mamah-mamah muda), cabe-cabean, ataupun irrational-swing voters lain, yang seperti sudah disinggung sebelumnya, mencapai 40% dari total populasi warga Jakarta. 

Jelas, "SBY effect" akan berulang.

3. Kasus Penistaan Agama

Mungkin Ahok kala itu sudah merasa di atas angin. Mungkin ia beranggapan bahwa setiap setatement yang dikeluarkannya tidak akan mendapatkan reaksi politik yang destruktif. 

Meski sampai detik ini saya menganggap bahwa apa yang Ahok merupakan "slip of the tongue”, entah karena ia mendapatkan informasi ini dari para pembisiknya, atau berusaha mengikuti Gus Dur, yang jelas poin ini yang menjadi faktor terbesar kekalahannya.

Sebelum video “penistaan agama” di upload Buni Yani, Ahok memiliki tingkat elektabilitas yang sangat baik di Jakarta. Undefeated. Tak terkalahkan. Titik balik itu terjadi ketika Ahok "salah ngomong" di Kepulauan Seribu dan menjadi viral di mana-mana. 

Sejak saat itu, isu ini seakan tidak akan pernah mati dan terus dihidupkan mulai dari adanya aksi masa besar-besaran di ibukota, hingga disiarkannya proses persidangan penistaan agama di beberapa stasiun TV nasional.

Terus hidupnya isu tersebut membuat umat muslim di dalam alam bawah sadarnya menganggap Ahok sebagai ancaman. Dengan adanya social media, “kebencian” terhadap Ahok terus dihidupkan dan akhirnya mengakar kuat di benak para pemilih muslim yang memiliki hak pilih.

4. Iwan Bopeng dan perilaku Ahokers yang tidak simpatik

Iwan Bopeng, sosok preman yang berlagak sebagai serorang praktisi hukum menjadi viral setelah pencoblosan pertama di social media dilakukan. 

Ia, dalam video yang viral tersebut” terlihat mengintimidasi salah satu TPS di Jakarta dengan berteriak-teriak, mengintimidasi panitia pemungutan suara. Tidak hanya itu, seperti layaknya Ahok, Iwan Bopeng pun mengalami "slip of the...(more)

Answered Apr 26, 2017
Sponsored

Question Overview


1 Followers
616 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?

Adakah keterlibatan Indonesia pada Perang Dunia II?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Hal-hal apa sajakah yang harus dipenuhi agar Indonesia menjadi pemimpin budaya populer dunia?

Foto apa saja yang bisa mengubah cara pandang kita tentang Indonesia?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Masakan/makanan Indonesia apa yang menurut Anda paling mungkin go international?

Mengapa bangsa Indonesia dapat sebegitu lamanya dijajah oleh Belanda?

Makanan/masakan Indonesia apa yang paling memiliki nilai sejarah tinggi?

Apa yang membuat beberapa suku di Indonesia masih tetap bertahan dengan gaya hidup tradisionalnya, misalnya Suku Badui?

Mengapa SBY begitu ngotot membangun dinasti partainya melalui pencalonan Agus Yudhoyono?

Apakah Ahok benar-benar menistakan agama Islam?

Apa analisis Agus Yudhoyono hingga enggan ikuti debat di televisi?

Siapa yang akan memenangkan Pilkada Jakarta 15 Februari 2017?

Menurut Anda berpeluangkah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi Presiden RI tahun 2019?

Apa alasan utama banyak orang mencintai Ahok?

Mengapa Pasangan Anies - Sandi pantas memimpin Jakarta?

Mengapa Pasangan AHY-Sylviana pantas memimpin Jakarta?

Mengapa Pasangan Ahok - Djarot pantas memimpin Jakarta?

Mengapa Nasdem jadi partai pertama yang dukung Ahok di Pilkada DKI Jakarta?