selasar-loader

Kalau Anies-Sandi benaran menang, apa saja kekhawatiranmu?

Last Updated Apr 19, 2017

1 answer

Sort by Date | Votes
Pepih Nugraha
Jurnalis Politik, menulis politik, tapi tidak berpolitik

tK3P4d5R3RpAOdyERFG1HKPswrkOup9I.jpg (Sumber foto: Detikcom)

Terima kasih atas pertanyaan yang ditujukan langsung kepada saya melalui fitur "Ask to Answer". Saya menjawabnya begini...

Tak ada sedikitpun kekhawatiran saya atas terpilihnya Anies Baswedan yang berpasangan dengan Sandiaga Uno selaku Gubernur DKI Jakarta yang baru. Seluruh survey hitung cepat telah menyatakan Anies-Sandi pemenangnya, meski penetapan pemenang baru akan dilakukan KPUD kemudian. Ini alasan saya mengapa tidak perlu khawatir;

Pertama, karena saya warga Tangerang Selatan di Provinsi Banten yang secara emosional tidak terlalu berurusan dengan DKI Jakarta. Namun karena saya berkantor yang berlokasi di Jakarta, maka saya cukup punya kepedulian.

Kedua, Anies paham pemerintahan, setidak-tidaknya ia pernah menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayan meski tidak lama. Sementara Sandiaga Uno dikenal sebagai pengusaha dengan segala plus-minusnya. Memiliki pemahaman mengurus administrasi pemerintahan ini akan menjadi modal bagi Anies memutar organisasinya.

Ketiga, Anies berasal dari kalangan Islam moderat sehingga tidak perlu dikhawatirkan Jakarta akan menjadi Ibukota Syariah seperti selama ini yang didengungkan dalam kampanye-kampanye. Bahwa Anies "meniti buih" menggunakan isu agama pada saat kampanye dan mendekati (atau didekati) garis keras, itu tidak bisa dipungkiri. Tetapi, itu tidak lantas akan mengubah Jakarta menjadi bersyariah.

Keempat, dari sisi pendidikan, Anies cukup representatif untuk mengelola pemerintahan dan rakyatnya, juga jaringannya yang luas lewat "Indonesia Mengajar", sehingga kita tidak perlu "underestimate" atas kemampuannya.

Kalaupun ada yang perlu dikhawatirkan atas terpilihnya Anies-Sandi, adalah kemungkinan tunduk dan tidak berdayanya Anies selaku gubernur dan Sandi sebagai wakil gubernur kepada orang-orang yang selama ini berjasa dalam kampanye-kampanye politik. Kasarnya politik "balas budi". 

Bisa saja beberapa oknum akan langsung meminta jatah jabatan di lingkup pemerintahan DKI Jakarta, jabatan-jabatan strategis atau politis yang berhubungan langsung dengan anggaran. Penempatan walikota sampai camat juga tidak akan lepas dari peran gubernur, sehingga kalau pos-pos ini diisi oleh orang-orang yang tidak punya kapabilitas, maka akan cepat mundurlah kejayaan Jakarta sebagai pemerintahan bersih yang sudah dirintis gubernur sebelumnya, yaitu Basuki Tjahaja Purnama. 

Kekhawatiran lain yang berimbas pada politik skala nasional adalah pola yang digunakan Anies dan tim suksesnya menggunakan masjid sebagai ajang kampanye politik, sebagaimana yang disarankan Eep Saefullah Fatah, yang kebetulan berada di tim pemenangan Anies. Jika pola politisasi masjid ini dianggap berhasil mendorong Anies sebagai gubernur, maka bisa saja capres tertentu pada Pilpres 2019 yang sudah didepan mata akan menggunakan pola yang sama. 

Saya menduga, tahun 2019 Prabowo Subianto akan menjadi kandidat Presiden RI untuk kesekian kalinya. Boleh jadi dia akan menggaet kandidat Wapres Anies Baswedan yang telah sukses menjadi Gubernur DKI. Ada pendapat, menguasai Indonesia akan lebih mudah jika telah menguasai Jakarta. Melihat pola keberhasilan Anies-Sandiaga yang "menghalalkan" politisasi masjid, tidak tertutup kemungkinan cara ini akan digunakan Prabowo atau siapapun dalam menggaet pendukung. Jika masih Joko Widodo (Jokowi) mencalonkan diri sebagai petahana berpasangan dengan siapapun (katakanlah Sri Mulyani), maka polarisasi "Islam vs PKI" atau "Muslim vs Kafir" akan menjadi sejata ampuh dan bahkan akan digaungkan sejak pemanasan sekarang ini. 

Soal politisasi masjid, kendati itu bukan ilegal dan tidak ada undang-undang yang melarangnya (politisasi masjid sebagai ajang kampanye politik), tetapi cara ini akan meruntuhkan bangunan demokrasi yang membutuhkan sisi rasional masyarakat pemilih. Dengan politisasi masjid ini, maka yang disasar adalah sisi emosional melalui judge "keimanan" dan spiritual yang takterbantahkan, yang bersifat "binary"; "halal" atau "haram" dan "ya" atau "tidak". Tidak heran kalau pengamat asing atau media barat "mencium" adanya gelagat kebangkitan kelompok garis keras berbasis keagamaan akan menguasai Indonesia. Asumsinya, Jakarta sebagai pintu masuk sudah berhasil dibuka dengan kemenangan Anies-Sandiaga.

Mungkin kekhawatiran yang berlebihan manakala Indonesia akan dijadikan "Suriah" baru dengan menguatnya kelompok militan berbasis keagamaan, tetapi kekhawatiran ini ada dasarnya juga. Menjadikan negara "khalifah" tidak harus "berjihad" secara frontal berdarah-darah di palagan, tetapi cukup mendompleng calon kepala daerah (bupati/gubernur) atau calon presiden yang bakal memenangi pertarungan. Tentu saja dengan konsensus tertentu. Tidak ada makan siang gratis, bukan?

Para anggota dewan dan pemerintah serta pakar hukum sebaiknya belajar dari kasus ini. Apakah dalam undang-undang pemilu, khususnya ayat yang mengatur kampanye, perlu ditegaskan lagi larangan menggunakan tempat ibadah sebagai sarana kampanye, meski di undang-undang sebelumnya sudah tertera. MUI juga bisa mengatur, misalnya ceramah khatib di masjid-masjid saat Jumatan atau hari-hari besar lainnya dan bahkan pengajian harian agar tidak menyisipkan pesan berbau politik, terlebih mendukung atau menolak calon kepala daerah/presiden.

Di luar jawaban saya atas pertanyaan itu, saya mengucapkan selamat kepada Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang telah memenangi kontestasi pilkada DKI Jakarta. Juga salut dan hormat saya atas kelegowoan gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saeful Hidayat yang telah mengakui kemenangan lawannya.

Salam....

Answered Apr 20, 2017
Sponsored

Question Overview


4 Followers
631 Views
Last Asked 1 year ago

Related Questions


Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?

Mengapa SBY begitu ngotot membangun dinasti partainya melalui pencalonan Agus Yudhoyono?

Apakah Ahok benar-benar menistakan agama Islam?

Apa analisis Agus Yudhoyono hingga enggan ikuti debat di televisi?

Siapa yang akan memenangkan Pilkada Jakarta 15 Februari 2017?

Menurut Anda berpeluangkah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi Presiden RI tahun 2019?

Apa alasan utama banyak orang mencintai Ahok?

Mengapa Pasangan Anies - Sandi pantas memimpin Jakarta?

Mengapa Pasangan AHY-Sylviana pantas memimpin Jakarta?

Mengapa Pasangan Ahok - Djarot pantas memimpin Jakarta?

Mengapa Nasdem jadi partai pertama yang dukung Ahok di Pilkada DKI Jakarta?