selasar-loader

(Tema: Kebudayaan) Apa nilai dan pesan dari foto kebudayaan yang kamu ambil?

Last Updated Apr 19, 2017

2 answers

Sort by Date | Votes
Arbi Arif
Belajar Memahami Dunia

Indonesia itu banyak budayanya, salah satu budaya yang ingin saya share adalah budaya di desa Tenganan, Bali. Oktober tahun lalu, saya dapat kesempatan untuk mengikuti acara International Youth Forum bersamaan dengan acar World Culture Forum di Bali. Selama 6 hari saya bersosialiasi dengan orang Indonesia dan luar negeri yang dibagi dalam 4 kelompok yang akan mengunjungi desa asli di Bali dan desa yang saya kunjungi adalah desa Tenganan. Disana saya belajar banyak hal tentang ritual dan adat yang masih asli. Mulai dari ritual untuk memotong pohon. Orang disana tidak sembarangan memotong pohon tanpa izin dari ketua adat yang menyatakan kalau pohon tersebut sudah mati dan boleh dipotong. Mereka sangat menyayangi alam lebih dari siapapun, karena mereka mempercayai roh pohon dan alam yang sudah membantu manusia. Ritual lainnya adalah perang pandan yang mana sebagai lelaki yang beranjak dewasa harus melakukan ritual tersebut pertanda sudah dewasa. Mereka bertarung satu lawan satu atau kadang juga beramai-ramai menggunakan daun berduri, saling melukai tapi tidak masalah karena itu sangat menyenangkan. Mereka mempunyai obat sendiri dari dedaunan yang bisa buat obat. Ritual lainnya adalah pernikahan warga desa asli, wanita dilempari lumpur oleh para pria, kehamilan dan masih banyak lagi ritual lainnya. Saya belajar bagaimana memperlakukan alam dengan baik dan bergotong royong.

YDz1wAU_Kdt9XF039yB9zytmOAO0xL_g.jpg

Bersama partisipan dari London keliling desa

Z4zU5bJOXIQdISOM8P98HfCOq_9FuJiw.jpg

Belajar painting, salah satu kegiatan International Youth Forum 2016

dESvfFHfLl_4MnZCTPazHjo5ZPIZmv8x.jpg

Menghadiri acara World Culture Forum 2016

Answered Apr 22, 2017
Teti Zebua
Just an ordinary me

jF9aAcVvIXjwht6Od_sFsrV4sj6q6EM2.jpg

Saya masih selalu mengagumi atraksi budaya yang satu ini. “Hombo Batu” atau “Lompat Batu”, selalu menjadi daya tarik dari Nias Selatan, tepatnya dari desa Bawömataluo. Budaya hombo batu memiliki sejarah yang sarat dengan peperangan, patriotisme dan bersifat heroik.

Mulanya bertujuan untuk melatih dan mempersiapkan pemuda di desa untuk berperang. Dulu, ketika zaman peperangan antar desa masih gencar-gencarnya.

Seiring waktu, budaya lompat batu lebih diartikan pada kematangan dan kedewasaan seorang pria. Ia yang dapat melompati batu setinggi kurang lebih 2 meter itu berarti sudah dewasa, seorang pemberani, dan (karena sudah dewasa maka dapat dikatakan layak untuk menikah). Biasanya seorang anak sudah mulai diajarkan dan dilatih melompat paling mudanya di usia 10 tahun. Tentu tidak langsung di batu yang berukuran tinggi 2 meter. Namun dimulai dari batu yang tingginya kecil saja. Kemudian ada bambu atau kayu yang memang sengaja dibuat dan diberi ukuran sedemikian rupa sebagai alat bantu latihan. Sore-sore lebih seringnya sore minggu, bocah-bocah ini akan ngumpul rame-rame di halaman desa untuk berlatih dan disaksikan para orangtua.

Namun, tidak semua pemuda desa Bawömataluo mampu melompat dan menjadi pelompat batu. Semua butuh ketekunan dan latihan. Sekarang, kebiasaan melompat batu mengalami pergeseran nilai. Tak hanya untuk pelestarian budaya, namun menjadi aktivitas komersial oleh pemuda setempat. Dan untuk atraksi melompat hanya dilakukan oleh pemuda yang kira-kira usia SMP hingga 20 tahun.

Apa yang saya dapatkan dari atraksi ini? Ibarat melompati batu setinggi itu, untuk mencapai sesuatu memang selalu dibutuhkan ketekunan, kerja keras, keberanian dan latihan. Percayalah ketika kita memulai sesuatu dari nol, dari tangga yang paling bawah dan tetap menjaga semangat mengerjakannya, niscaya, tantangan yang lebih besar pun dapat kita lampaui karena telah terbiasa dan telah mendapatkan trik untuk mengatasinya. Bisa karena biasa. Hasil akhirnya pun dipastikan indah. Tentu! Jangan lupakan untuk melibatkan Tuhan sebagai sumber rahmat. ^^
Ya'ahowu!

 

Answered May 11, 2017