selasar-loader

Bagaimana pengalaman menarik Anda sebagai "Pekerja Komuter" menempuh perjalanan jauh untuk bekerja dari rumah ke kantor setiap hari?

Last Updated Apr 16, 2017

2 answers

Sort by Date | Votes
Amril Taufik Gobel
Smiling Blogger (www.daengbattala.com) , lovely husband, restless father

 

nD-xiO3G6zAMIjj6CbdQTDuFsGjjvMLS.jpg

via ATG

Dulu, saya merasa, ayah adalah pegawai yang paling berbahagia di dunia ini. Betapa tidak? Karena rumah kami hanya berjarak 50 meter dari kantor, maka ayah berangkat tidak lebih pagi, masih sempat pulang makan siang dan tiba kembali di rumah lebih cepat. Hebat! Saya bermimpi akan menjadi pegawai berbahagia seperti beliau. Tapi sayang, sudah hampir dua tahun terakhir, saya melakoni profesi sebagai Pekerja Komuter. Tinggal di Cikarang yang berjarak 45 km dari kantor saya di daerah Lebak Bulus. Tiap hari saya kerja, saya mesti berangkat jam 05.30 pagi dan sampai di rumah menjelang pukul 20.00 malam atau bahkan lebih larut lagi. Ironis. 

Tapi saya memang harus siap menghadapi risiko itu. Membeli rumah di Jakarta yang tak jauh dari kantor, untuk kelas pekerja kere berpenghasilan pas-pasan seperti saya ini hanyalah menjadi angan-angan belaka. Dan rumah di BSD alias Bekasi Sono Dikit, menjadi pilihan karena harganya relatif terjangkau dan kalaupun harus kredit ke Bank (seperti yang kini saya lakukan) tidak terlalu mencekik anggaran rumah tangga serta biaya hidup sehari-hari.

Sebelum memiliki rumah sendiri, saya dan istri memang sempat mengontrak rumah dekat dari kantor. Kami mengontrak rumah kecil berkamar dua di Kompleks POMAD Kalibata, sementara kantor saya ada di Gedung Aldevco Octagon Jalan Warung Buncit. Memang sungguh nikmat, saya bisa berangkat ke kantor lebih siang, masih sempat nonton acara infotainment KISS, menghabiskan sarapan pagi dengan santai serta pulang ke rumah makan siang saat istirahat (serta jika sempat, memberikan “nafkah batin” buat istri tersayang dan kembali ke kantor lebih segar karena sudah keramas, hehehe..you know what I mean guys!) sampai akhirnya kembali ke rumah saat matahari belum benar-benar tenggelam. Sungguh mengasyikkan. Sayang itu tak lama.

Setelah anak pertama lahir, saya kemudian menyadari bahwa sudah saatnya memiliki rumah sendiri dan tidak menjadi “kontraktor” (alias ngontrak rumah) terus-terusan. Tapi begitulah–seperti sudah saya katakan sebelumnya–saya mesti menyadari fakta bahwa sebagai karyawan kecil bergaji tidak besar, jangkauan kemampuan kami untuk memperoleh rumah yang relatif layak, murah, ringan cicilannya bila dikredit melalui KPR Bank adalah jauh dari kantor dan tentu saja jauh dari Jakarta. Ya, kami harus realistis menyadari kenyataan pahit itu sekaligus mensyukuri bahwa meski penghasilan pas-pasan, masih bisa membeli rumah mungil daripada harus mengontrak rumah.

Maka, menjelmalah saya menjadi pekerja komuter Cikarang-Jakarta-Cikarang setelah kami resmi membeli rumah di Perumahan Cikarang Baru Kota Jababeka. Pada awalnya cukup berat, apalagi saya harus menggunakan kendaraan angkutan umum dari dan ke kantor. Saya harus bangun lebih pagi paling lambat sekitar pukul 04.30 untuk mengejar bus ke Jakarta pukul 05.30 dan tentu saja sampai di rumah ketika matahari sudah tenggelam. Air mata saya sempat menetes saat mencium anak saya yang masih tertidur lelap saat saya berangkat kerja atau sudah tertidur saat saya pulang. Untunglah, dua tahun belakangan ini, anak-anak saya telah terbiasa dan menyadari status sang ayah sebagai pekerja komuter. Rizky dan Alya biasanya sudah bangun tidur pukul 05.30 pagi dan mengantar saya berangkat kerja.

Saking lelahnya saya melakoni hidup sebagai pekerja komuter, saya pernah ketiduran di atas bus dan “bablas” terbawa hingga pal bus Mayasari Bakti di perbatasan Cibitung, sekitar 10 km dari rumah saya. Kenek bus tertawa terkekeh membangunkan saya dari lelap tidur seraya menatap prihatin pekerja komuter yang malang ini. Saya hanya tersenyum getir serta bersikap “nrimo” dan pasrah menerima “kesengsaraan” harus mencari kendaraan umum lainnya balik ke rumah.

Pada sebuah kesempatan lain, di atas bus, saya pernah digoda secara tidak senonoh oleh seorang pria transeksual. Semula, saya tidak menaruh curiga sedikit pun lelaki "kemayu" yang duduk di samping saya, dekat jendela bus. Secara atraktif, pria yang berdandan seronok dan berusia sekitar 3 tahun lebih muda dari saya itu melirik-lirik genit. Sepertinya dia terpukau melihat tampang kyut (atau “cute”) saya, yang konon kata istri tercinta, mirip-mirip George Clooney lagi ngeden di WC hehehe.

Saya cuek dan memilih lebih tekun membaca buku. Pria itu terlihat mulai gelisah dan seperti cari perhatian. Duduknya tidak tenang. Saya masih sabar dan berusaha tidak peduli kelakuan petakilan pria genit itu. Sampai beberapa waktu kemudian, tangan lelaki itu mampir secara menjijikkan di atas paha saya. Spontan saya terloncat kaget. Geli sekaligus jengkel. Lelaki itu tertawa cekikikan dan berucap ganjen,”Maaf Mas, sengaja”. Kemarahan saya spontan naik ke ubun-ubun.

Tangan dia yang mampir secara biadab di paha segera saya cengkram sekencang-kencangnya sampai ia berteriak kesakitan. “Saya bisa melakukan hal yang lebih sadis dan kasar dari ini. Jadi, jangan coba-coba, ya? Saya laki-laki normal, punya istri, dan anak dua,” bisik saya geram dan mengancam ke telinganya seraya pasang muka segalak mungkin. Tawa lelaki itu mendadak lenyap dan berganti dengan ketakutan yang amat sangat. Ia mengangguk pelan dan berucap lirih, “Maaf Mas”. Saya manggut-manggut dan melepaskan cengkraman tangan saya dari tangan dia. Kembali ke aktivitas semula, membaca buku dalam kondisi waspada sepenuhnya dari “serangan-serangan” najis yang tidak diinginkan dari pria tersebut.

Pelan tapi pasti, saya mulai menikmati ritual rutin yang saya lakoni sebagai pekerja komuter. Apalagi, sudah banyak pilihan angkutan bus dari Cikarang ke Jakarta. Tidak hanya itu, saya berkenalan dengan banyak teman senasib sepenanggungan, sehidup se-Cikarang, sama-sama pekerja komuter. Kami sempat membentuk komunitas tersendiri dan menjalin hubungan kekeluargaan yang akrab. Perjalanan Cikarang-Jakarta di pagi hari yang lama karena harus mengalami macet di tol dalam kota kerap membuat bosan dan membuat geregetan. Salah satu cara menyiasatinya, selain membaca buku atau tidur di...(more)

Answered Apr 16, 2017
Agung Pushandaka
Indonesia | Gemini | Jakarta | @pushandaka | pushandaka.com

sfRzXrzHlsWSQLW1NpJq7sdrBXG9RCmM.jpg

Saya sejak awal tahun 2017, saya telah beralih ke moda transportasi KRL untuk bepergian dari tempat tinggal menuju kantor. Sebenarnya, ada alternatif dengan menggunakan bus Transjakarta, tapi setelah saya coba, ternyata menumpang bus Transjakarta membutuhkan waktu tempuh 2 jam dengan 3 kali transit dan berganti bus, padahal masih di wilayah DKI Jakarta saja.

Saya tinggal di Kelurahan Pulo Gebang, sementara kantor saya terletak di Jalan Gatot Subroto. Kalau saya berangkat menumpang bus Transjakarta dari Terminal Pulo Gebang pukul 6 pagi, maka saya akan tiba di halte Gatot Subroto LIPI pukul 8 pagi.

Sementara itu, dengan waktu keberangkatan yang sama dari Stasiun Cakung, dengan menumpang KRL, saya tiba di Stasiun Manggarai pukul 6:35. Saya bisa melanjutkan menumpang KRL menuju Stasiun Sudirman kemudian berganti bus Transjakarta jurusan Tanah Abang-Pasar Minggu menuju kantor, atau dari stasiun Manggarai langsung berganti menumpang bus Transjakarta jurusan stasiun Manggarai-Blok M turun di Gatot Subroto LIPI.

Waktu yang saya butuhkan dengan cara ini paling lama adalah 90 menit. Lebih cepat daripada menumpang bus Transjakarta dari Pulo Gebang. Saya harus mengeluarkan total Rp7000 untuk sekali perjalanan menuju kantor. Maka dalam sehari, pergi dan pulang, pengeluaran saya untuk transportasi minimal Rp14000. Nilai itu sudah yang paling murah dibandingkan cara lain.

sumber gambar: cityam.com

Answered May 29, 2017