selasar-loader

Bagaimana rasanya kuliah di Belanda?

Last Updated Apr 14, 2017

2 answers

Sort by Date | Votes
Anonymous

t8EmJ2OiJTVtKkIqKJneQgNL2CRx4s8W.jpg


Sangat berat.

Sebelumnya saya harus tegaskan bahwa ini berdasarkan pengalaman pribadi saya. Apa yang saya alami sendiri, apa yang saya lihat dengan mata kepala sendiri, dan apa yang saya dengar dari teman-teman lain. Saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan, tapi realita ini memang harus sangat dipahami oleh siapa pun mereka  yang berencana studi di Belanda. Pengalaman orang lain mungkin ada yang berbeda dengan saya. Dalam kasus itu, feel free to share! Mari kita jadikan evaluasi dan pembelajaran bersama :D

Jadi, bagaimana rasanya kuliah di Belanda?

Analoginya begini. Kalau ITB: "Masuknya susah, dalamnya susah, keluarnya susah." Kalau kuliah di Belanda: "Masuknya gampang, dalamnya susah banget, keluarnya? Good luck coy!"

Belanda sangat menggiurkan sebagai salah satu negara tujuan studi. Sistem penerimaan mahasiswa barunya sangat ramah terhadap mahasiswa internasional. Selain itu, banyak universitas menawarkan program studi dalam Bahasa Inggris. Orang Belanda juga relatif fasih dalam berbahasa Inggris. Anda tidak akan mengalami kesulitan berarti apabila tidak bisa berbahasa Belanda di Belanda.

Kedekatan hubungan historis antara Belanda dan Indonesia membuat Anda akan merasa seperti berada di rumah yang jauh dari rumah. Ada banyak komunitas Indonesia di Belanda, apalagi makanan Indonesia. Sate ayam atau sekadar saus kacangnya sudah menjadi semacam snack yang dijual sebagai fast food.

Berbagai faktor ini menjadikan Belanda salah satu pilihan favorit negara tujuan studi orang Indonesia. Masuknya pun relatif mudah. Saya dulu mendaftar ke 2 universitas dan diterima di dua-duanya. Sama sekali tidak ada halangan apa pun; lancar jaya! :D

Salah satu universitas lain yang jadi favorit mahasiswa Indonesia ibarat bagi-bagi admission letter gratis. Seleksi administrasi hanya sekadar formalitas. Hampir semua yang mendaftar, diterima! Dahsyat, bukan?

Tapi, ....

... seleksi benerannya begitu Anda tiba dan mulai kuliah.

Tidak mengejutkan kalau mendengar mahasiswa yang nilainya bermasalah, depresi, harus diantar ke psikiater, dan lain-lain. Beberapa yang tidak bisa menyelesaikan studinya tapi masih cukup "beruntung" paling hanya sekadar drop out, seperti beberapa orang yang saya kenal (baik dari Indonesia maupun negara lain).

Yang lain? Dalam kasus-kasus yang sangat ekstrim, ... bunuh diri.

Saya belum pernah mendengar cerita mahasiswa Indonesia bunuh diri, syukurnya. Dari negara lain, sudah ada beberapa kasus. Tapi saya sudah mendengar cerita mahasiswa Indonesia yang stres, nilainya bermasalah, sampai harus diantar ke psikiater.

Dan ini anak-anak beasiswa, bung!

Kalau Anda melihat materi-materi promosi studi di luar negeri, biasanya Anda akan melihat hal seperti ini:

rNFBecc1Y1Ec23XrIjjTfiWT1Ak8vruJ.jpg

via http://acgs.tk

Mahasiswa tertawa, tersenyum, bersenda gurau. Senangnya :D Betul?

Kenyataannya adalah seperti ini:

o7j3Bqbf4Y9yNcmTiu_c0OUzAE8EemCl.jpg

via http://stress.lovetoknow.com

grr1F6E84lTWcD0QUZhpMbwI5zveB-d5.png

via managingyourstressincollege.wordpress.com

Tidak terkecuali di Belanda. Jadi kalau Anda pikir kuliah di luar negeri itu enak, hati-hati ;)

Tiap universitas dan program studi memiliki aturan dan kulturnya masing-masing. Tapi secara akademik, saya berani katakan tantangannya sangat berat di semua tempat. Tiada hari tanpa belajar, kadang sampai jam 10 - setengah 12 malam. Perpustakaan penuh saat weekend? Biasa.

Tugas kuliah yang diberikan bervariasi. Mulai dari latihan soal biasa, menulis paper, tugas baca buku / paper / artikel, sampai group project. Tugas bisa datang bertubi-tubi tiap minggu, belum termasuk ujian. Beberapa program studi ada yang ujian tiap 2 minggu sekali, ada yang tiap bulan, ada yang tiap 3 bulan, ada yang tiap 1 semester, tergantung sistemnya. Kemampuan manajemen waktu Anda akan sangat diuji disini. Miss sedikit, bye-bye ;)

Mahasiswa Belanda pun kadang bisa agak mengintimidasi. Mayoritas dari mereka yang saya lihat dan/atau kenal sangat kritis, sanggup berpikir cepat, percaya diri, rajin bertanya dan membaca, tiap hari me-review materi yang diajarkan di kelas dan mengerjakan tugas kuliah. Yang terkadang membingungkan, bisa saja mereka party sampai tengah malam dan mabuk ga jelas, tapi pagi atau siang besoknya masuk kelas dan sanggup menjawab semua pertanyaan dosen dengan sangat lancar!

Secara fondasi ilmu mereka lebih kuat. Membandingkan kebiasaan-kebiasaan mereka dan pola-pola kita di Indonesia, jujur saja... kualitas kita masih kalah jauh dibanding mereka. Orang Belanda sebetulnya tidak lebih pintar / intelligent dibanding orang Indonesia. Tapi mereka lebih rajin dan pandai membagi waktu, sehingga lebih unggul. Study hard, party hard. Party hard, but don't forget to study.

Di Indonesia, mungkin bisa saja kita belajar ngebut H-1 ujian.

Di Belanda, jangan harap. Hari ini Anda terima materi di kelas, malam itu juga Anda harus sediakan waktu untuk me-review-nya! Belum termasuk mempersiakan diri untuk bahan bacaan kuliah besok.

Independensi sangat dihargai di Belanda. Mahasiswa yang baik di mata dosen adalah mereka yang proaktif dan asertif. You must be able to think for and by yourself. Dosen / pembimbing thesis tidak akan menyuapi Anda.

Bertanya ketika Anda tidak memahami sesuatu itu perlu. Tapi, terlalu banyak bertanya bisa dianggap sebagai kelemahan. Banyak kasus yang saya tahu dimana mahasiswa dikurangi nilai thesisnya karena "terlalu banyak bertanya" dan dicap "kurang independen".

Yang kadang menyebalkan, mungkin tidak ada nilai untuk "usaha". Di Indonesia dan Amerika Serikat (setidaknya yang saya ketahui), usaha Anda dihargai. Di Belanda, proses penilaian berfokus kepada hasil. Pihak kampus tidak akan peduli seberapa kerasnya Anda berusaha atau belajar. Kalau menurut pembimbing atau pihak kampus hasil kerja Anda kurang bagus, nilai Anda akan jelek. Tidak peduli apa pun situasi Anda, tidak akan ada apresiasi terhadap usaha Anda. Hasil adalah yang terpenting.

Mungkin terdengarnya parah ya? Memang berat. Belanda sebetulnya masih bisa dibilang bagus untuk jadi negara tujuan studi. Banyak institusi dan profesor di Belanda berkelas internasional dan memiliki fasilitas riset terdepan (ya tergantung...(more)

Answered May 3, 2017
Hari Nugroho
Kecanduan mencari beasiswa ke luar negeri

wDvK_K2LCHQOKSIFzUktGnujch5JXW5A.png

Saya sepakat jika kuliah di Belanda berat, meski hanya mengikuti fellowship sebentar di Amsterdam, hawa beratnya kuliah sudah terasa. Belum kedua kaki meninggalkan Indonesia, tugas paper yang harus dikumpulkan sudah banyak. Rasanya mual begitu dapat email di dashboard mengenai tugas. Jadi, begitu sampai Belanda, istirahat sebentar dan mulai mengetik paper.

Tugas bacaan juga banyak, beruntung dikasih  akses e-library yang oke banget, lumayan buat mempermudah menyelesaikan tugas, coba di Indonesia, stress saya bisa makin berat.

Tapi itulah belajar, mau di manapun namanya belajar butuh usaha, butuh ketekunan, butuh keseriusan. Saya teringat kisah-kisah intelektual muslim, para ulama yang sedemikian seriusnya ketika belajar, tak mau banyak membuang waktu, hingga mereka jarang makan, atau ketika makan akan berusaha untuk makan makanan yang kalo perlu tidak dikunyah.

Berat ringannya belajar tentu bergantung dari kita sebagai pelajar, jika memang serius mengejar cita-cita, apapun akan diusahakan. Belajar itu pengorbanan, siap menderita.

 

sumber gambar: blogspot.com

Answered May 3, 2017