selasar-loader

Apa itu Peperangan Asimetris atau assymetric warfare?

Last Updated Nov 22, 2016

Belakangan santer dibicarakan "peperangan asimetris". Apa itu peperangan asimetris? Apa bedanya dengan Peperangan Simetris? Apa bedanya dengan Peperangan Irreguler?

1 answer

Sort by Date | Votes
Niko Efriza
Belajar perang secara serius di Univeritas Pertahanan

Peperangan asimetris adalah serangkaian aksi perang yang seringkali tak nampak seperti sebuah perang. Pada dasarnya, perang asimetris atau assymetric war bukanlah hal baru dalam dunia perang, hanya saja baru populer pasca perang dunia kedua sejak banyak negara merasa bahwa ancaman bagi mereka semakin kompleks, tak hanya datang dari negara melainkan juga dari pihak lain yang notabenenya bukan negara (non state actors), tak hanya soal peluru, misil, roket, bom, serta tank dan sejenisnya, juga tak melulu datang dari luar dengan hitung-hitungan serta aturan perang konvensional (atau boleh juga disebut oerang simetris)

Dari sisi bentuk, perang asimetris adalah bentuk perang yang yang tak mengenal aturan serta kaidah-kaidah perang konvensional itu. Alasannya banyak. Pertama, kaidah perang konvensional yang diatur dalam konvensi Jenewa sebagai hukum perang internasional bersifat mengikat. Dengan demikian, banyak aturan yang akan membatasi suatu negara saat berperang. Kedua, perang konvensional biasanya memakan biaya yang sangat besar namun belum tentu mampu menghantarkan pihak yang berperang pada tujuan utama perang dilakukan (High cost but not necessarily high Impact). BBC dalam salah satu artikelnya yang berjdul Perang Irak dalam Angka pernah merilis bahwa pemenang Nobel Ekonomi, Joseph Stiglitz, dan akademisi dari Universitas Harvard, Linda Bilmes, menghitung uang yang  dihabiskan AS selama perang Iraq dari Maret 2003 hingga Desember 2011 ternyata mencapai US$3 triliun. Jumlah itu belum termasuk jumlah yang dikeluarkan Inggris yang juga ikut membangtu AS. Pertanyaannya, apakah jumlah itu mampu menghantarkan AS pada tujuan awal mereka menginvasi Iraq (Tujuannya tentu bukan hanya mencari senjata pemusnah masal milik Sadam Husein). Ketiga, perang konvensional sangat simetris, sangat kasat mata, disana banyak alutsista digelar, banyak korban militer maupun sipil berjatuhan, banyak terjadi kerusakan, sehingga, selain akan berdampak pada anggaran pertahanan dan perekonomian suatu negara, perang semacam itu juga rentan menuai kecaman dunia internasional. Keempat, dengan adanya PBB yang salah satu tujuan utamanya adalah memelihara perdamaian dan keamanan dunia, maka semakin tidak memungkinkan pula bagi dua negara atau lebih untuk saling serang menggunakan mekanisme kekerasan bersenjata tanpa alasan yang jelas sesuai aturan hukum perang yang berlaku. Dengan alasan itu, maka perang asimetris menjadi salah satu alternatif yang dapat diambil.

Dari sisi strategi dan taktik, perang asimetris adalah perang yang menggunakan strategi serta taktik yang tak biasa pada zamannya (kalau yang umum dan biasa-biasa aja namanya asimetris). Kuda Troya misalnya, saat taktik Kuda Troya pertamakali digunakan, kategorinya adalah taktik asimetris. Tapi jika strategi sudah sangat sering digunakan, maka taktik itu tidak lagi asimetris. Kecuali jika ada modifikasi dalam penerapannya.

Akan tetapi, pemilihan dan penggunaan strategi asimetris juga menimbang banyak faktor. Pertama, positioning dalam perang (suverior atau inferior). Jika pada posisi inferior, aktor dalam suatu peperangan akan menggunakan strategi dan taktik yang menguntungkan mereka seperti taktik perang gerilya, clandestein, perang berlarut, dan sebagainya. Namun jika pada posisi suverior, meskipun secara matematis negara kuat akan mudah melawan negara yang lemah, tak selamanya perang konvensoinal harus dilakukan untuk merusak dan atau menguasai suatu negara. Cara-cara lain yang mungkin digunakan adalah perang perwalian atau (proxy war), penghancuran dengan Chemical, biological, radiological, nuclear, and explosives weapon (CBRNE). lihatlah China, meskipun saat ini mereka terus meningkatkan kekuatan militernya. Namun apakah sejauh ini China pernah berperang habis-habisan untuk menguasai suatu negara?

Sasaran akhir perang asimetris pada dasarnya adalah sama dengan perang konvensional yaitu merusak dan atau menguasai suatu negara. Hanya caranya untuk mencapainya yang tidak konvensional. Karena tidak konvensional maka perang ini seolah terselubung dan sulit didentifikasi. Untuk menyelubungkannya, maka salah satu alternatif cara yang dapat dipilih adalah dengan menggunakan Proxy.

Sedikit tentang Proxy war yang disunggung diatas. Di Indonesia proxy dapat dipahami sebagai kaki-tangan atau anak buah. Nature-nya kaki-tangan ini ada yang sadar dan ada juga yang tidak sadar. Yang sadar misalnya tukang pukul, bodyguard, tentara bayaran, politisi atau aktivis NGO yang "berkerja" untuk asing, dan lain sebagainya. Namun banyak juga pihak yang tidak sadar sedang menjadi proxy bagi pihak lain (Innocence Proxy).

Ini jawaban singkat, mungkin banyak salahnya, para pakar yang lebih expert silahkan melengkapi.

Namun pertanyaan yang lebih pentingnya adalah: apakah anda adalah seorang proxy?

Answered Nov 22, 2016