selasar-loader

Apa makna di balik filosofi "urip iku urup" versi orang Jawa?

Last Updated Apr 13, 2017

2 answers

Sort by Date | Votes
Hari Nugroho
Bisa bahasa jawa ngapak

Ut6wLaAqvDuQJ2-Z3h6QRb2wLH35kUKP.jpg

 

Sebagaimana suku-suku yang lain di Indonesia, kebudayaan Jawa juga mempunyai falsafah-falsafah dalam kehidupan, yang barangkali sekarang ini mulai luntur. Salah satu falsafah dalam kebudayaan Jawa adalah Urip iku Urup.

Konon, falsafah ini berasal dari Sunan Kalijaga, salah satu walisongo yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Lalu apa maknanya?

Urip iku Urup, menggunakan kata-kata yang hampir mirip, tetapi beda di huruf vokal saja. Urip dalam bahasa Jawa artinya hidup, sedangkan Urup berarti nyala, jadi dapat diartikan dalam bahasa Indonesia, yaitu Hidup itu Nyala, hidup itu haruslah menerangi, bagaikan lentera.

Di dalam kehidupan, egoisme pribadi seringkali menguasai, kita ingin mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, kita bernafsu untuk berkuasa, kita ingin pribadi kita menjadi prioritas, tak peduli orang lain mau bagaimana. Lantas setelah mendapatkan hal tersebut, apa yang kita rasakan? Puas, barangkali itu yang pertama dirasa, bangga menjadi yang kedua, namun belum tentu bahagia. Kita dapat melihat berbagai contoh di dunia, bahwa kebahagiaan tidak selalu linear dengan banyaknya harta atau kedudukan yang tinggi, bahkan banyak yang bunuh diri karenanya.

Sebaliknya, ada banyak orang yang mempunyai kehidupan biasa saja, namun rasanya bahagia. Mengapa demikian? Karena ternyata hidupnya didedikasikan agar bermanfaat untuk orang lain secara ikhlas. Kepuasan batin ketika membantu orang lain inilah yang menimbulkan rasa bahagia.

Nah, berkat kebermanfaatan terhadap orang lain dan kebaikan terhadap sesama inilah makna yang diharapkan dari falsafah Urip iku Urup. Manfaat ini tak melulu berupa santunan harta, namun juga inspirasi, semangat dan nasihat yang mengubah pribadi seseorang menjadi lebih baik.

Falsafah ini juga sejalan dengan nilai-nilai agama, Rasulullah pernah bersabda :

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. HR. Ath-Thabarany dalam al-Ausath dan dinilai sahih oleh al-Albany.

Sebagai manusia, kita saling terhubung satu sama lain, dan hubungan itu diharapkan hubungan yang saling menguatkan bukan yang mencerai-beraikan. Kita dapat rasakan, kehidupan di Indonesia belakangan ini tak lagi saling menerangi, banyak yang lebih suka membenci, mencaci maki, atau beradu diri. Oleh karena itu, marilah bersama-sama membuat Urip kita Urup, sebagaimana lentera yang menerangi gelap, bermanfaat untuk orang lain, saling asah asih asuh, dan semoga kita akan memanen hasilnya kelak, toh tak ada ruginya kita menolong saudara-saudara kita.

“Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama ia senantiasa menolong saudaranya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

 

gambar via art.pks.id

Answered Jun 27, 2017
Syaifuddin Sayuti
Happy Holiday...

02MBIYISxNee3NOwTpEuoEgje3uOBAYw.jpg

Bagi orang Jawa, hidup itu bukan hanya persoalan personal namun juga bagaimana hidup itu punya nilai bagi sekitarnya. Bagi warga dan lingkungan sekitarnya. Karena hidup itu selalu bersentuhan dengan orang sekitar, bukan orang terjauh.

Tetangga kadangkala jauh lebih kuat kekerabatannya dibandingkan dengan saudara yang tidak tiap hari kita temui. Jika kita kena masalah atau sedang bersentuhan dengn problema hidup, logika pemecahan masalah yang ada adalah meminta bantuan tetangga terdekat dan buka  saudara yang jauh tempat tinggalnya.

Untuk bisa berbagi dengan lingkungan dan orang sekitar tak perlu menunggu kaya terlebih dulu. Sebab membagi sesuatu tidak harus sifatnya materi. Bisa jadi ketrampilan, ilmu atau berbagi pengalaman. Dengan cara seperti itu hidup kita lebih berwarna dan lebih bisa diterima lingkungan

Sumber gambar dari bombastis.com

Answered Jun 27, 2017