selasar-loader

Mengapa pada masa sekarang sangat sedikit penulis Indonesia yang memiliki kualitas layaknya Pramoedya Ananta Toer?

Last Updated Nov 21, 2016

7 answers

Sort by Date | Votes
Luthfia Rizki
Beauty Enthusiast

Karena kebanyakan hanya sekadar mengikuti tren dan selera pasar.

Image result for penulis abal-abal

Ilustrasi via serempak.id

Answered Jan 3, 2017
Muhammad Aufa
Buruh Ilmu admin di blog pribadi www.sekelumitpandang.com

Hasil gambar untuk pramoedya ananta toer

Karena pemikiran Pram orisinil, berasal dari pengalaman dan pemahaman pribadinya. Tulisannya muncul karena perasaan menderita yang ia alami saat melihat lingkungan dan kondisi sosialnya. Jika mencari penulis yang menyamai hasil karya Pram mungkin sangat sulit karena kita hidup di saat berbeda dengannya kalau pun sekarang ada akan sama saja tidak melebihi batas yang buat Anda sendiri, yaitu untuk menyamai Pram.

 

Ilustrasi via pinimg.com

Answered Jan 6, 2017
J.S. Khairen
Author | Jombang itu bahasa Minangkabau, googling aja jgn males | @JS_Khairen

Hasil gambar untuk penulis

Definisi kualitas ini juga beda-beda ternyata setiap orang. Kalau cerminnya adalah Pram, maka bisa saja banyak penulis berkarya seperti beliau, namun apakah akan berkualitas sama? Atau, akankah kita sebagai pembaca menganggap "gaya Pram dalam seorang penulis baru" ini berkualitas juga? Biarkanlah Pram menjadi Pram. Karena itulah alasan kita mencintainya.

Indonesia tidak kekurangan penulis berkualitas jika rajin ke toko buku. Meski minat baca kita masih rendah (1 dari 1000 orang per buku per tahun), beberapa penerbit besar mengatakan penjualan buku tahun lalu meningkat. Lalu, apakah yang mesti disalahkan adalah selera pembaca? Ya bisa jadi iya, bisa jadi nggak. Iya, karena dikasih buku yang hebat, ada gak yang mau baca? Nggak, karena ya nggak saja (yang membuktikan penulis banyak yang berkualitas)

Walau saya masih penulis "culun" juga, setiap mengajar di kelas penulisan, banyak yang bertanya seperti ini, "Kak gimana sih biar tulisan berkualitas?" atau, "Kak tulisan bagus itu gimana sih?"

Saya bingung menjawabnya karena ternyata setelah ditelisik, standar kualitas itu rancu. Si A bilang yang bisa bikin nangis, si B bilang yang action-nya cepat, si C bilang yang mikirnya dalem, si D bilang yang puitis dan mendayu-dayu. Jadi ya, intinya kembali ke segmentasi. Berkualitas dalam genre A, B, dst.

Omong-omong soal kualitas juga, ada dua jenis buku yang standarnya baku. Begitulah dia sejak awal, tidak boleh diganggu gugat. Begitu juga kualitasnya. Dua jenis buku itu adalah kitab suci dan skripsi :D :D

Belum lagi kalau ngomongin shifting dalam gaya membaca orang, selera, dan referensi, dsb.

@JS_Khairen

 

Ilustrasi via tekooo.com

Answered Jan 7, 2017
Gagar Asmara Sofa
Sarjana Psikologi. Penulis syair, puisi, dan prosa di gagarasmara.tumblr.com

GaFlPkZn3t5cJnWuuqdYopBqaFuww1tW.jpg

Mengapa harus kembali pada masa-masa PAT? Setiap masa punya sosok kuatnya masing-masing. Setiap penulis mengamati masa-masa yang berbeda pula. PAT tentu mengamati realita yang berbeda dengan RM Tirto Adhi Suryo (TAS), tentu pula apa yang mereka tulis akan berbeda pula. PAT bisa menjadi besar karena pada zamannya ia membuktikan bahwa ia bisa abadi dengan karya-karya besarnya seperti tetralogi buru.

Narasi hidupnya yang menarik, penuh drama, manis-pahit, jatuh bangun, serta lika-liku membuatnya sebagai penulis yang tidak hanya bercerita tetapi sosoknya sendiri memiliki cerita. Waktu itu pula, manusia Indonesia tiada habisnya untuk merenung dan berpikir, mengolah apa yang disaksikan dengan hati. Saat ini, arus informasi begitu cepat, setiap orang seperti berlomba, harus berlari, harus serba instan. Tiada lagi waktu untuk 'merasa' atau 'berfilsafat'. Mungkin ini sisi lain.

Nah, sekarang kita sudah amat jauh dengan masa PAT, sesuai dengan hakekat sejarah bahwa ia adalah guru pembelajaran kita dalam hdiup. Di masa sekarang dan masa depan, kita harus punya visi dengan kepala dan jiwa yang siap bekerja untuk kemanusiaan.

Answered Jan 27, 2017
Florensius Marsudi
Ayah satu putri...

ECMG2_fG4s2nY-p44a8ueqaVonpC-g7F.jpeg

via pembebasan.org (FR)

Pramoedya Ananta Toer (PAT) menulis dari kedalaman hati, situasi dan kondisinya yang hidup dalam "penjajahan" sastra. Ia orang dulu, sementara orang kini, menulis dalam situasi kemerdekaan sastra, yang kadang kurang tergali, tercerna, bahkan kadang kurang mendalam sampai menyentuh cita rasa manusiawi.

Answered Apr 3, 2017

jEhSyjcQI6L7GSQFz7oYrvVQYRgMybU3.jpg

via byethost5.com (FR)

Pramoedya Ananta Toer adalah seorang icon sastra Indonesia, seorang penulis sejati yang mampu mengeluarkan isi hatinya melalui sebuah tulisan dan merangkainya dengan indah.

Tulisan-tulisannya khas, bahasa sastra yang tidak terlalu sulit untuk dipahami namun sangat berkelas di saat yang sama. Selain itu beliau sangat berani untuk menulis apapun yang ingin beliau tulis, seolah hanya dalam menulislah tujuan beliau hidup. Tulisan-tulisannya merupakan isi suara hatinya, bahkan ketika dipenjara pun beliau masih menulis.

Namun sekarang mengapa sangat sedikit penulis Indonesia seperti Pramoedya Ananta Toer? Menurut saya karena Pramoedya adalah salah satu tokoh yang pantas untuk dijuluki 'one in a million', sulit sekali untuk menyaingi bahkan menyamakan karya jika disandingi dengan karya beliau yang begitu pure dan berani.

Terlebih lagi minat masyarakat untuk membaca karya sastra sudah semakin berkurang. Mayoritas gemar membaca buku dengan konten yang ringan dengan bahasa yang tidak mengandung metaphor. Hal tersebut membuat penulis/sastrawan pun juga semakin berkurang karena minimnya pembaca.

Answered Apr 4, 2017
Sucia Ramadhani
#Jawabanku Oktober 2017

IeThwSSYUT8Frb4rB9GGrfZgqqTzFrC6.jpg

Pramoedya Ananta Toer menjadi seseorang yang fenomenal dalam bidang kesusasteraan. Ia menulis dengan ide-ide yang brilian dan cara penulisan yang berani. Dalam pergolakan perpolitikan di Indonesia pun Pramoedya Ananta Toer mengambil bagian. Ia aktif dalam Lekra, Lembaga Kebudayaan PKI. Pergolakkan kehidupannya dan lingkungan di sekitarnya memengaruhi pola pikirnya ketika menuliskan sebuah karya. 

Genre atau jenis tulisan Pramoedya Ananta Toer yang berlatar belakang sejarah dapat dilihat dari buku-buku yang ditulisnya, salah satunya adalah Tetralogi Pulau Buru, tempat yang mengasingkan dirinya dari dunia luar. Proses menulis yang panjang membuat dirinya mengetahui pola penulisan yang baik dan benar. Dalam menjalani proses menulis ini, ia jelas menyukai dunia menulis, selain menyukai membaca buku. Buku-buku yang telah dibacanya begitu banyak. Inilah yang memengaruhi gaya penulisannya; karena penulis diciptakan, bukan dilahirkan. Penulis ada tidak berdasarkan darah kepintaran yang mengalir dalam darah keluarga, tetapi dalam kondisi lingkungan yang membentuknya.

Pramoedya hadir tidak hanya sendiri. Ia masuk ke dalam lembaga-lembaga kebudayaan yang menempatkannya ke dalam bidang kepenulisan. Itu artinya, ia akan terus-menerus melatih dirinya dalam dunia kepenulisan. Idenya yang brilian dalam mengungkapkan sesuatu memengaruhi karya-karyanya. Ia yang kritis dan mempertanyakan kondisi yang terjadi pada dirinya pun memengaruhi gaya kepenulisannya. Buku yang dibaca, teman diskusi, kondisi lingkungan, dan tekanan kehidupanya memengaruhi dirinya dalam menciptakan tulisan. 

Pertanyaannya, mengapa pada masa sekarang sedikit penulis yang seperti Pramoedya Ananta Toer? 

Dilihat dari buku-buku yang dibaca atau yang beredar di toko buku, pembaca lebih menyukai novel dengan tema romance. Ditambah, tingkat membaca masyarakat Indonesia yang kurang membuat kemampuan menulis pun tidak meningkat tajam. Namun, dari topik-topik yang beredar membentuk pola pikir masyarakat. Karena hasil karya diiringi dengan buku-buku yang dibaca. Penulis lebih tertuju pada tema yang disenangi pembaca dibandingkan menciptakan novel yang kuat akan amanat atau keabadiannya. Selain itu, kondisi lingkungan yang tidak memicu untuk menciptakan sebuah karya membuat penulis Indonesia yang lahir tidak begitu banyak. Lembaga-lembaga kebudayaan yang dahulu hadir kini berkurang. Media cetak pun kini mengalami penurunan sehingga kita tidak dapat melihat sastrawan yang hadir mewarnai kesusasteraan Indonesia. 

Pramoedya Ananta Toer terus membaca dan berlatih menulis. Di saat ini, anak muda lebih banyak menghabiskan waktu bersama gawainya dibandingkan dengan buku-buku. Keteguhan dan ketekunan Pramoedya Ananta Toer dalam menulis yang jarang ditemukan di masa kini. 

Bukan tidak ada, namun belum ditemukan penulis-penulis Indonesia yang hebatnya seperti Pramoedya Ananta Toer. Karena penulis diciptakan, bukan dilahirkan. Jadi, di antara ratusan juta penduduk Indonesia, pasti ada yang kemampuan menulisnya sama atau lebih tinggi dibandingkan Pramoedya Ananta Toer...

...yang kini sedang mempersiapkan karya terbaiknya. 

 

Ilustrasi via quotefancy.com

Answered Nov 1, 2017

Question Overview


9 Followers
1729 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Siapakah menurut Anda yang patut disamakan kualitas penulisannya dengan Pramoedya Ananta Toer?

Mungkinkah Pramoedya Ananta Toer mengkader seseorang agar mampu menjadi penerusnya? Siapa dia?

Siapa penulis populer favorit Anda? Mengapa?

Mungkinkah Tereliye melakukan plagiasi dalam beberapa karya atau novelnya?

Novel apa yang paling menginspirasi dalam hidup Anda hingga mengubah hidup Anda?

Mengapa Helvy Tiana Rosa tidak lagi menerbitkan novel?

Siapa itu Don Rosa?

Siapa sastrawan perempuan Indonesia favorit kamu?

Bagaimana cara membuat suatu konten menjadi viral? Apa ada tips khusus?

Adakah karya sastra yang memiliki tema tentang parfum?

Apakah yang dimaksud dengan penulisan kreatif?

Apa puisi Chairil Anwar yang paling Anda sukai?

Siapa sastrawan paling "nyastra" menurut Anda? Mengapa?

Dari mana cara termudah memulai mencari ide untuk menulis novel?

Bagaimana cara paling efektif untuk mengembangkan alur dalam menulis novel?

Bagaimana proses kreatif saat pertama kali menulis novel?

Siapakah sastrawan Indonesia paling Anda sukai? Mengapa?

Bagaimana kaitan antara genre film favorit dan budaya setiap negara?

Apa itu Mazhab Frankfurt?

Bagaimana perkembangan Mazhab Frankfurt dalam konteks budaya populer?

Apa yang dimaksud dengan Teori Fetisisme Komoditas?

Apa perbedaan antara budaya massa dan masyarakat massa?

Apakah kaitan antara budaya massa dan amerikanisasi?

Apa pendapat Anda tentang amerikanisasi dan kritik atas Teori Budaya Massa?

Bagaimana pengaruh industri budaya terhadap musik pop?

Apakah kaitan antara James Bond dan strukturalisme?

Bagaimanakah konsep hegemoni Gramsci?

Adakah keterlibatan Indonesia pada Perang Dunia II?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Hal-hal apa sajakah yang harus dipenuhi agar Indonesia menjadi pemimpin budaya populer dunia?

Foto apa saja yang bisa mengubah cara pandang kita tentang Indonesia?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Masakan/makanan Indonesia apa yang menurut Anda paling mungkin go international?

Mengapa bangsa Indonesia dapat sebegitu lamanya dijajah oleh Belanda?

Makanan/masakan Indonesia apa yang paling memiliki nilai sejarah tinggi?

Apa yang membuat beberapa suku di Indonesia masih tetap bertahan dengan gaya hidup tradisionalnya, misalnya Suku Badui?