selasar-loader

Bolehkah orang muslim mempelajari ajaran dari agama lain?

Last Updated Apr 11, 2017

2 answers

Sort by Date | Votes
Mhd Fadly
KPI Fak. Agama Islam UMSU, Alumni Pon-pes Ibadurrahman Stabat

zn_qNTCQxWUDeW8l_cjws_0qjY2w-xvN.jpg

via abdurrakhman.com (FR)

Kenapa tidak?

Apapun bidang ilmunya, tidak ada larangan untuk mempelajarinya, bahkan ilmu bagaimana durhaka kepada Allah juga sah-sah aja untuk di pelajari. ilmu adalah pijakan dasar untuk melakukan apapun. bahkan islam tidak menginginkan pemeluknya mengamalkan ajaran islam tanpa tau dasar ilmunya.

Hanya saja setelah ilmu itu di dapat kembalilah fungsi otak untuk berfikir dan hati untuk merasakan, bekerja sebagai filter apakah pengetahuan tersebut di amalkan ataukan hanya sekedar pengetahuan. jika diamalkan maka jatuhlah hukum baginya, apakah halal atau haram.

Ilmu yang setelah di filter dan tidak bagus untuk di amalkan maka itu menjadi pengetahuan untuk mencounter orang-orang yang akan mengamalkan pengetahuan tersebut.

Answered Apr 11, 2017
Nauval El-Hessan
Quranic disciple

1neLFpS3LYGuUB1N2QNfOr88DT5vtRKX.jpg

via muslim.or.id (FR)

Mempelajari. Berarti, objek yang dituju adalah "ilmu". Sebelum saya mejawab tentang boleh atau tidaknya, ada baiknya kita melihat beberapa pendapat ulama seperti Abu Hamid al-Ghazali dan Yusuf Qaradhawi. Setelah itu, kita akan melihat dalil dari Qur'an dan Sunnah.

Ilmu dalam Pandangan Al-Ghazali dan Qaradhawi

Antara kedua tokoh ini tidak jauh berbeda tentang ilmu, walaupun rentang hidup mereka jauh. Al-Ghazali di era klasik, sedangkan Qaradhawi di era kontemporer. Apalagi ketika mereka mengklasifikasikan ilmu. Al-Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin membagi ilmu ke dalam tiga tingkatan: (1) terpuji, (2) terlarang dan (3) diperbolehkan. Menurut al-Ghazali, ilmu yang terpuji adalah ilmu yang langsung berhubungan dengan kehidupan manusia seperti agama, kedokteran, matematika dan sejenisnya. Ilmu terlarang adalah ilmu yang bertentangan dengan Qur'an seperti sihir. Ilmu yang diperbolehkan adalah ilmu yang tidak dilarang oleh Qur'an, namun juga tidak terlalu urgen untuk dipelajari. Sayangnya, al-Ghazali memasukkan biologi ke dalam ilmu yang diperbolehkan. Yusuf Qaradhawi tidak jauh berbeda dengan al-Ghazali. Hanya saja, dia memperluas klasifikasinya. Misalkan ilmu terlarang, dia memasukkan di dalamnya sebagian ilmu filsafat seperti marxisme, kapitalisme, liberalisme dan komunisme.

Tidak hanya itu, mereka juga masih sepakat bahwa tingkatan dalam beramal harus dimulai dari ilmu. Dengan demikian, ilmu, iman dan amal tidak akan lengkap bila tidak didahulukan ilmu. Menurut keduanya, seorang beriman harus terlebih dahulu memiliki ilmu. Begitu pula dalam beramal, seorang harus beriman terlebih dahulu. Bila tidak, sia-sia amalannya. Dengan demikian, dalam beramal, kita membutuhkan iman terlebih dahulu, dan sebelum beriman, kita membutuhkan ilmu; sehingga, dalam beramal pun kita sejatinya membutuhkan ilmu terlebih dahulu bila tidak maka amalan kita tidak valid (apalagi bila berurusan dengan amalan agama). Logika ini akan menjadi pendekatan dalam menjawab pertanyaan "bolehkan orang muslim mempelajari ajaran dari agama lain?"

Pandangan Qur'an dan Sunnah terkait Ilmu

Dalam surah al-Maidah (5): 48, jelas dikatakan bahwa Al-Qur'an merupakan kitab yang membenarkan kitab-kitab dan ajaran-ajaran sebelumnya. Apa maksud dari kata "membenarkan"? Apakah hanya sebatas afirmasi? Menurut saya tidak. Kata "membenarkan" yang dipakai di dalam ayat tersebut bukan hanya afirmasi, melainkan juga dimaknai dengan "membenahi". Permasalahannya, bagaimana kita bisa membenahi ajaran sebelum Qur'an bila kita tidak mempelajari ajaran agama tersebut? Akan tetapi, apakah boleh mempelajarinya?

Tentu saja ayat di atas masih belum cukup. Sekarang kita lihat ayat lain seperti An-Nisa (4): 113 dan Al-Baqarah (2): 231. Kedua ayat tersebut tidak jauh berbeda; keduanya menekankan bahwa Allah telah menurunkan "Kitab" dan "Hikmah" sebagai petunjuk manusia. Jumhur ulama, baik dari kalangan Syiah, Sunni, Mu'tazilah, Ibadiyah dan lain sebagainya, sepakat bahwa yang dimaksud dengan "Kitab" adalah Qur'an. Saya pun sepakat. Hanya saja ketika menafsirkan "Hikmah", banyak yang berbeda pendapat. Mayoritas yang dimaksud dengan "Hikmah" adalah "Sunnah" karena terdapat di dalam hadits yang kurang lebih berbunyi demikian: "Kutinggalkan kepada kalian dua perkara: Qur'an dan Sunnah!". Akan tetapi, sebagian ulama menafsirkan "Hikmah" lebih luas lagi, yaitu "ilmu yang bermanfaat". Saya cenderung kepada penafsiran kedua karena didukung dengan kata "ayat" yang digunakan oleh Qur'an. Qur'an, ketika menggunakan kata "ayat" tidak selalu merujuk pada teks yang notabene Qur'an maupun Sunnah, melainkan juga alam sekitar dan ilmu-ilmu lainnya. Ini sesuai dengan hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Al-Ghazali, "Yang terbaik di antara manusia adalah yang beriman lagi berilmu yang beramal saleh...". Hadits tersebut cukup membuktikan bahwa ilmu (hikmah) tidak hanya sebatas pada Sunnah. Dalam hadits lain pun, Nabi saw. bersabda: "Barangsiapa yang menghendaki dunia, maka harus memiliki ilmu. Barangsiapa yang menghendaki akhirat, maka harus berilmu. Barangsiapa yang menghendaki keduanya, maka harus berilmu.". Dengan demikian, sudah jelas bahwa "Hikmah" yang diturunkan oleh Allah tidak hanya sebatas pada Sunnah, melainkan juga pada ilmu-ilmu yang lain termasuk ilmu agama lain (selain Islam).

Apakah Boleh?

Dengan lantang saya berani menjawab: BOLEH! Tentu saja pernyataan saya berdasar pada ayat-ayat Qur'an di atas dan hadits yang sudah saya kutip. Selain itu, bila merujuk pada logika yang ditawarkan oleh Al-Ghazali dan Qaradhawi, mempelajari ilmu apapun sejatinya boleh. Hanya saja, yang harus diperhatikan adalah ketika ilmu tersebut diimani yang kemudian diamalkan. Dengan ini, saya tidak setuju dengan pembagian ilmu menjadi boleh, tidak boleh atau terpuji. bagi saya, semua ilmu boleh dipelajari. Misalkan kita ingin menentang sekularisme. Bagaimana mungkin kita menentang sekularisme tanpa mempelajari terlebih dahulu sekularisme? Bukankah menentang sesuatu tanpa ilmunya juga tidak dibenarkan oleh Qur'an? Cek An-Nahl (16): 116 yang kurang lebih berbunyi demikian: "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.". Dengan demikian, mempelajari sekularisme hukumnya boleh, akan tetapi hanya sebatas mempelajarinya, bukan untuk diimani apalagi diamalkan.

Sama dengan mempelajari agama lain. Sudah disebutkan bahwa Al-Maidah (5): 48 menekankan Qur'an merupakan pembenar yang notabene bukan hanya mengafirmasi, melainkan juga membenahi. Bagaimana kita tahu Qur'an membenahi ajaran-ajaran sebelumnya tanpa kita tahu logika ajaran-ajaran agama sebelumnya? Misalkan kita ingin menekankan kesesatan berpikir Trinitas dalam Kristen. Bagaimana kita dapat membantah doktrin Trinitas bila kita tidak mempelajarinya terlebih dahulu. Dengan demikian, sudah sewajarnya kita mempelajari ilmu apa saja...(more)

Answered Apr 12, 2017

Question Overview


3 Followers
2748 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Mengapa Tuhan membuat surga, padahal insentif tertinggi umat Islam adalah ridha Allah?

Apabila poligami adalah ibadah, mengapa banyak perempuan muslim yang tidak mau melakukannya?

Bagaimana cara mengakhiri konflik antara Sunni dan Syiah?

Apakah Syiah bukan Islam?

Mengapa Nabi Muhammad tidak mengizinkan Ali mempoligami Fatimah?

Apa yang dimaksud dengan bid'ah?

Apa yang dimaksud dengan munafik?

Apa yang dimaksud dengan halal?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Apa yang dimaksud dengan mubah?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Kinerja ketua KPK siapa yang paling baik; T. Ruki, Antasari Azhar, Busyro Muqoddas, Abraham Samad, atau Agus Rahardjo?

Mengapa selama ini kaum pria lebih banyak tersangkut kasus korupsi dibandingkan perempuan?

Apakah hukuman yang paling memberikan efek jera untuk koruptor laki-laki?

Apakah hukuman yang paling memberikan efek jera untuk koruptor perempuan?

Apakah Anda setuju hukuman mati untuk para koruptor?

Mengapa sosok Presiden RI secara otomatis juga menjabat sebagai panglima militer tertinggi di negeri ini?

Apakah keluarnya surat perintah penyidikan juga berarti ada tersangka?

Mengapa Lampung terkenal sebagai provinsi yang tinggi tingkat kriminalitasnya?

Bagaimana negara seharusnya melindungi HAM atas saksi kasus korupsi?

Bagaimana cara mendidik anak sehingga menjadi anak yang saleh dan salehah?

Bagaimanakah cara yang tepat untuk menanggulangi kenakalan remaja?

Apa keistimewaan pesantren Gontor dibanding pesantren-pesantren lain di Indonesia?

Apa anda pikirkan tentang sejarah keagamaan yang di Indonesia?

Apakah keadilan di bumi pertiwi sudah benar ditegakkan? Apa ciri - cirinya?

Kalau sulit istikamah dalam beribadah, apa solusinya?

Apa itu gaudeamus igitur?

Apa sajakah fakta yang menarik tentang keberagaman agama di Indonesia?

Mengapa Alquran hanya menyebutkan 25 nabi?

Apakah Tuhan perlu dibela?

Mengapa Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail sendirian di Mekah?