selasar-loader

Bagaimana cara menghitung valuasi (nilai) pada sebuah perusahaan digital?

Last Updated Nov 16, 2016

4 answers

Sort by Date | Votes
Achmad Zaky
Pendiri dan CEO Bukalapak

Hasil gambar untuk perusahaan digital

Sumber gambar via http://static.republika.co.id/ (SUM)

Ada beberapa pendekatan yang umumnya digunakan investor atau pasar dalam menghitung valuasi sebuah perusahaan. Pendekatan ini tidak hanya berlaku untuk perusahaan digital saja, bisa juga untuk perusahaan pada umumnya.

Secara prinsip, valuasi (nilai) sebuah perusahaan itu sama halnya dengan nilai sebuah tanah atau barang lain. Saya ambil contoh tanah karena sifatnya yang mirip dengan perusahaan, investor menilai tanah untuk kemudian dibeli sebagai alat investasi sehingga investor mendapatkan return. Tak beda dengan menilai dan membeli (entah seluruhnya atau sebagian) sebuah perusahaan.

Nilai Potensial (Masa Depan)

Bayangkan ada sebuah tanah di daerah Karawang seluas 20 hektar milik Pak Amin. Tanah tersebut harganya 50 ribu per meter seminggu lalu. Tiba-tiba pemerintah hari ini memutuskan akan membangun jalan utama yang sangat lebar di sebelah tanah tersebut di Karawang. Sebulan kemudian, pemerintah juga menyampaikan rencana bahwa di Karawang juga akan dibangun universitas ternama. Karawang akan jadi pusat sains dan teknologi. Taman-taman juga akan dibangun. Baru beberapa bulannya lagi ternyata pemerintah memiliki rencana besar dalam sepuluh tahun menyiapkan Karawang menjadi ibu kota baru Indonesia. Investor pun mulai melirik daerah tersebut cepat-cepat mumpung harganya masih murah. Pak Amin yang cukup "melek" dunia ekonomi pun tau potensi Kerawang. Pak Amin juga terus membaca dan menganalisis kabar dan kebenaran mengenai rencana pemerintah tersebut dan ternyata benar DPR sudah memutuskan. Banyak tetangga Pak Amin yang memiliki tanah di Karawang dibeli oleh investor 3x lipat (150rb per meter). Mereka girang bukan main, bayangkan mereka dulu beli hanya 25rb per meter, harga beberapa minggu lalu pun cuma 50rb per meter, ada yang mau beli dengan harga 3x pasar. Luar biasa.

Tapi Pak Amin tau, seperti halnya investor, potensi Karawang jauh di atas itu. Harga tanah di Depok saja sudah 5juta per meter, apalagi nanti Karawang benar-benar menjadi ibu kota beberapa tahun lagi, kira-kira harganya mungkin bisa sama seperti di Depok 5juta per meter, 100x lipat harga pasar beberapa minggu lalu. Potensi return investasi pak Amin adalah 100x lipat.

Inilah Nilai Potensial atau Future Value. Menilai menggunakan nilai potensial di masa depan ini membutuhkan trend sektor atau daerah (dalam kasus tanah tadi) yang konkret atau faktual. Di sektor digital sendiri, trend ini dimulai ketika Microsoft, Apple, Google, Facebook, Amazon, Priceline, Alibaba, Tencent, Baidu, dan masih banyak perusahaan digital lainnya berhasil membuktikan diri mampu tumbuh besar dan profitable. Awalnya, mereka diragukan dan dicibir, tapi faktanya berkata lain. Fakta inilah yang membuat investor lain semakin tergila-gila dan mencoba mencari google-google baru yang memiliki pertumbuhan cepat dan pola yang sama. Itulah kenapa Uber, Airbnb, Xiaomi, Snapchat, Twitter, dkk memiliki nilai yang fantastis walaupun belum profitable. Menilai menggunakan teknik ini memiliki risiko tersendiri, tapi juga memiliki reward yang sangat tinggi. Pernah mendengar Yahoo yang selamat dari kematian hanya karena mereka berinvestasi di Alibaba waktu masih awal? Ya, Yahoo sangat beruntung.

Nilai Buku/Wajar

Sekarang, mari kita melanjutkan cerita Pak Amin tadi. Lima tahun kemudian, Karawang telah menjadi Kota yang sudah lumayan maju. Progres menyiapkan ibu kota baru tinggal setengah jalan. Tanah-tanah harganya juga sudah melambung tinggi bahkan sama dengan harga perkiraan pak Amin 10th kemudian yaitu 5juta per meter. Pak Amin menilai harga ini sudah mendekati harga wajar. Pertumbuhannya sudah sama dengan investasi di tanah lainnya. Di sinilah Pak Amin berniat melepas tanah tersebut. Investor menghargainya 5juta per meter karena harga di sekitaran sudah tidak ada tanah dengan harga semurah itu bahkan banyak yang di atas itu. Investor berharap suatu ketika harganya bisa mendekati harga Jakarta yang sudah puluhan juta ketika Ibu Kota Karawang sudah benar-benar matang. Di sinilah investor sudah sangat rasional dan menggunakan benchmark tanah-tanah di sekitarnya sebagai acuan. 

Dalam perusahaan, benchmark ini biasanya Pendapatan atau Profit (keuntungan). Nilai suatu  perusahaan secara umum memiliki pengali tertentu terhadap profit, istilahnya P/E rasio (Valuasi dibagi Profit). P/E rasio umumnya berkisar 10--20, atau valuasi adalah 10--20kali lipat profit. Menilai menggunakan teknik ini memiliki risiko yang lebih terukur, tapi juga returnnya juga terukur.

Umumnya, penilaian menggunakan teknik pertama digunakan untuk masa awal sebuah perusahaan, sedangkan kedua digunakan ketika perusahaan sudah matang. Jadi, kalau Anda pendiri sebuah startup dengan mimpi besar dan bertemu dengan investor yang mengajak Anda berhitung-hitung menggunakan teknik kedua, secara tidak langsung investor menilai diri Anda tidak potensial.

Answered Nov 27, 2016
Hilman Fajrian
Founder Arkademi.com

zXn--kmUJLLaV5VNLIp7OEFTmrwEa-wv.jpg

Di kelas MBA in 1 course yang saya ikuti, mata pelajaran soal valuasi, VC (venture capital) financing, dan pembagian saham startup memakan waktu lebih dari 15 jam. Salah satu yang paling njelimet! Tapi saya coba sederhanakan di sini dalam bentuk cerita sebuah startup fiktif sebagai ilustrasi.

Bila dilihat dari tahapan pendanaan, sebuah startup punya 3 tahap: seed, venture capital, dan public. Saya menggunakan pendekatan tahapan pendanaan ini untuk menilai valuasi sebuah startup.

SEED/BIBIT
Misal, Anda dan 1 teman Anda sepakat untuk mendirikan sebuah startup. Anda berdua tak punya modal uang apapun. Hanya punya laptop dan semangat yang berapi-api mengubah dunia. Anda jago bisnis, si teman jago programming. Masing-masing dari Anda punya peran yang sama besar. Jadi, menurut Anda, cukup adil bila kelak apapun yang didapatkan oleh startup Anda hasilnya dibagi dua sama adil, 50%-50%. Semua itu cuma di atas kertas tisu saja. Belum ada akta pembentukan perusahaan sekalipun.

Dalam memulai startup ini, khususnya untuk menciptakan produk awal atau prototype, Anda butuh uang yang tak anda miliki. Modal awal ini biasanya berasal dari 3F (founder, family, friend) atau angel investor. Karena Anda berdua sebagai founder tak punya uang, maka Anda pergi ke paman Anda. Sebelum minta modal ke paman, Anda pasti sudah punya jawaban atas pertanyaan ini:

  • Perlu modal berapa besar?
  • Akan digunakan untuk apa modal tersebut?
  • Apa return/imbal hasil yang akan kalian diberikan kepada pemodal?
  • Kapan return itu akan bisa dinikmati pemodal?

Karena Anda bukan ingin bangun pabrik semen atau buka lahan batu bara, tak mungkin Anda minta modal awal Rp100 miliar. Selain itu, tak mungkin Anda bikin produk yang langsung sempurna dan komplit karena itu akan membuat Anda harus punya banyak uang untuk menyediakan berbagai sumberdaya dan butuh waktu lama untuk menciptakannya. Lagipula, siapa yang mau beri banyak uang kepada anak-anak yang cuma modal mimpi?

Jadi, Anda tak bisa minta banyak uang ke paman. Anggap saja Anda minta modal Rp100 juta. Uang ini Anda proyeksikan cukup sampai membuat prototype produk dan menghasilkan 1.000 pengguna (user) gratis. Deadline-nya anggap saja 1 tahun. Anda menawarkan saham 20% kepada si paman apabila dia mau memberi modal Rp100 juta itu (sepenuhnya negoisasi). Dengan demikian, saham kalian yang sebelumnya 50%-50% mesti menyusut (terdilusi) karena ada modal Rp100 juta yang masuk. Anggaplah kalian menyusutkannya sama besar. Pada akhirnya, Anda punya 40%, teman 40%, dan paman 20%. Maka, kalian bertiga pergi ke notaris membentuk sebuah PT dan menerbitkan misalnya 1.000 lembar saham yang ditulis dalam akta.

Dari sini, secara sederhana valuasi atau nilai startup Anda sudah bisa dihitung. Bila dengan Rp100 juta si paman mendapatkan 20% saham, maka 100% saham berarti Rp500 juta (20% sama dengan 1/5). Maka, valuasi perusahaan Anda saat itu Rp 500 juta. Nilai perusahaan Anda memang Rp 500 juta, tapi bukan berarti Anda punya Rp 500 juta itu --- yang Anda punya hanya Rp 100 juta.

Karena perusahaan Anda menerbitkan 1.000 lembar saham, dengan valuasi Rp500 juta, maka nilai per lembar saham adalah Rp500.000. Dengan demikian, Anda yang memegang 40% saham berarti memegang 400 lembar saham senilai Rp200 juta, teman Anda juga Rp 200 juta, dan paman Anda dengan 20% saham sebanyak 100 lembar dengan nilai Rp100 juta.

Di atas itu adalah cara perhitungan valuasi tahap seed yang paling sederhana. 

Sebelumnya, si paman pasti akan tanya, "Kalau saya beri Rp100 juta sekarang dan akan kalian gunakan selama setahun, setelah itu apa? Apakah saya akan dapat bagi hasil/dividen dari keuntungan perusahaan kalian di akhir tahun pertama?"

Ya jelas tidak. Wong belum jualan apapun di tahun pertama. Jualan mungkin baru di tahun ke-3. Dapat laba mungkin di tahun ke-5. Paman jadi tegang dan berpikir lebih baik Rp100 juta itu dia jadikan modal warung bakso saja. Lebih cepat baliknya.

Tapi kemudian Anda menjelaskan, "Kalau target kami di akhir tahun pertama berhasil, berarti produk yang kami buat ini terbukti menarik. Kami perlu mengembangkan produknya ke tingkat yang lebih lanjut supaya lebih banyak pengguna. Tapi karena uang dari paman sudah habis di tahun pertama itu, kami akan cari pemodal lain. Istilahnya pemodal ventura atau venture capital (VC). Mereka yang akan memberi modal baru buat perusahaan kita ini supaya bisa melanjutkan pengembangan. Karena mereka beri modal yang pastinya lebih besar, maka nilai perusahaan kita otomatis akan naik. Bila nilai perusahaan naik, otomatis nilai saham kita semua akan naik juga."

Tapi si paman masih skeptis. Ia berpikir, meski nilai saham naik ketika pemodal baru masuk, apakah ia bisa dapat uang tunai?

Bisa iya, bisa tidak. Saham itu bisa langsung menghasilkan uang apabila si paman memilih untuk menjual sebagian atau seluruh sahamnya kepada pemodal baru (atau kepada kalian berdua sebagai founder) berdasarkan valuasi terbaru. Namun bila si paman memilih untuk mempertahankan sahamnya di perusahaan dan menganggapnya sebagai kekayaan meski tidak cair dalam bentuk uang (liquid), bisa saja.

Sampai di sini, paman sudah tahu cara bagaimana mencairkan kekayaannya dalam bentuk saham, yakni menjualnya kepada pemodal baru atau pemegang saham lain. Tapi ada juga cara lain, yakni tetap mempertahankan saham dan menerima dividen kelak ketika perusahaan sudah punya laba. Cara lainnya adalah ketika perusahaan sudah besar/sukses dan menjual sahamnya kepada publik lewat pasar saham (IPO) yang pastinya harganya sudah tinggi. Bisa juga kelak menjual seluruh sahamnya bila perusahaan ini dibeli/diakuisisi oleh Google, misalnya. Yang pasti, si paman sudah paham ini merupakan permainan/investasi panjang, bukan seperti bisnis pada umumnya yang bergantung dari cashflow sejak awal berdiri.

VC/VENTURE CAPITAL
Di akhir tahun pertama, target Anda tercapai. Anda dan teman akan melanjutkan pengembangan produk dan bisnis kalian ke tahap selanjutnya. Mulai dari merekrut pegawai, sewa kantor, upgrade teknologi, biaya marketing dll. Semua itu butuh...(more)

Answered Aug 3, 2017

Ini mungkin valuasi dari sudut pandang startup itu sendiri (=kami). Ceritanya sebagai ketentuan suatu program kerjasama antara kami, GERDHU Inkubator Teknologi (www.gerdhu.com), dengan salah satu kementrian diharuskan merumuskan SOP valuasi inkubatee (=objek inkubasi), jadilah kami kebingungan. Akhirnya, dengan menghimpun segenap pengalaman pribadi, kami rumuskan berikut ini:

X1cMA2LlicvXTksJFnegU4FH2nGsmcmn.pngoRGGDEin5fm2bGqGpYLQ_VhH2BYUJzxu.pngUO4QkYTsnB0VgB5lXYPiT-JybaOURG9W.pngzKqtnHN70_BjhORTaE_FHO_L7YnxMjv8.png 

Answered Aug 4, 2017
Doddy Hidayat
Founder Ro-cket Pizza Indonesia

http://kiosusaha.com/wp-content/uploads/2015/12/Bisnis-Mudah.jpg

Ask to answer from Selasar. Oke dee.

Kalau saya jadi investor, maka dasar valuasi adalah Model Bisnis. 

Model bisnis seperti apa? Jadi begini, semakin mutakhir kehidupan, maka semakin banyak dan bertumpuk masalah. Banyak orang semakin terjebak dengan dunianya yang parsial. Semakin keras usaha untuk merunut dan menghimpun masalah, semakin bingung untuk memilih prioritas penyelesaian masalah. Prosedur-prosedur baru bermunculan dan celakanya malah menambah masalah baru, paling tidak membuat orang ruwet dengan prosedur itu sendiri.

Digital startup makin ke sini makin bingung dan tertukar antara alat dan matlamat. Digital adalah bagian dari alat, matlamatnya adalah penyederhanaan dan penyelesaian masalah kehidupan. As simple as that!

Jadi, valuasi tertinggi adalah sebagai berikut.
1. Bisnis model yang mampu mengatasi persoalan sebesar-besarnya dengan cara yang sesederhana mungkin.
2. Bisnis model yang integrated: ada produk, ada platform, ada solusi -berhimpun semua model terkait tapi simpel implementasinya, ada impact, ada cycle, ada konversi, ada saling support.
3. Bisnis model dua alam: online dan offline, bagaimana caranya meramu keseimbangan peran antara platform dan manusianya.

Jadi, konkretnya bagaimana? Ciptakan bisnis model yang barter value, meningkatkan kemampuan daya beli, memberikan kepastian pendapatan, peluang pekerjaan massive, siklus produksi-distribusi-pemasaran. Jadikan semua user dapat berperan sebagai konsumen-pedagang-produsen. Dasarnya adalah setiap manusia untuk hidup, baik langsung maupun tidak pasti akan saling memerlukan dan berketergantungan. Di bokmark, ya. Mahal ini idenya. heuheu.

Sumber gambar: www.paisatown.com

Answered Aug 12, 2017