selasar-loader

Apa penyebab Myanmar menindas muslim Rohingya?

Last Updated Nov 21, 2016

1 answer

Sort by Date | Votes
Agaton Kenshanahan
Penstudi Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran

burma.jpg

PERMASALAHAN Rohingya di Myanmar terletak pada satu hal: tidak diakuinya etnis tersebut sebagai warga negara Myanmar. Penggunaan istilah Rohingya sendiri untuk mengakui warga muslim yang tinggal di negara bagian Rakhine (dulu bernama Arakan State) pun diperdebatkan. 

Pemerintah (Myanmar) memilih menggunakan kata ‘Bengali’ merujuk pada klaim bahwa etnis Rohingya sebenarnya adalah imigran ilegal dari Bangladesh, yang tidak ada sebelum kemerdekaan Myanmar tahun 1948. Sedangkan Rohingya sendiri mengaku sudah tinggal di Myanmar sejak nenek moyang mereka ada. Beberapa pihak menganggap bahwa Rohingya hidup di Myanmar sejak berabad-abad lalu dan merupakan keturunan Muslim Arab, bangsa Moor, Persia, Turki, Mughal dan Bengali yang datang sebagai pedagang, ksatria, dan pendakwah (Chowdhury, 2006).

Pada tahun 1974, di bawah payung Program Partai Sosialis Burma (BSPP), Myanmar mendata 135 etnis yang diakui di Myanmar. Rohingya tidak termasuk ke dalam etnis tersebut dan secara sepihak, oleh pemerintah, tidak dihitung dalam sensus nasional.

Dianggapnya Rohingya sebagai imigran ilegal merupakan sebab mereka tidak mendapatkan kewarganegaraan Myanmar. Inilah akar permasalahan kekerasan struktural yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar –yang pada akhirnya berubah menjadi kekerasan langsung (untuk membedakan jenis kekerasan, lihat segitiga kekerasan Johan Galtung).

Kewarganegaraan merupakan syarat utama diberikannya hak-hak pada seseorang oleh negara untuk tinggal di suatu negara berdaulat. Bila tidak diberikan kewarganegaraan, implikasinya seseorang tidak dianggap ada, bisa menjadi subjek kekerasan, termasuk diperlakukan diskriminatif untuk mendapat pendidikan, pekerjaan, dan dapat disewenang-wenangi kepemilikannya atas suatu hal (Ullah, 2016).

Hingga kini, etnis Rohingya mesti memegang kartu putih (belakangan pemerintah mengeluarkan ‘kartu hijau’ yang tak jauh beda fungsinya) yang sejak tahun 1990-an dijadikan penanda sementara kependudukan. Namun kartu tersebut tak ubahnya sebuah kartu biasa yang tak bisa digunakan untuk mendapatkan hak-hak sebagai warga negara. Dengan membawa kartu ini etnis Rohingya tetap saja dibatasi pergerakannya, tidak bisa memilih, dan sulit dalam mengakses pendidikan dan kesehatan.

Secara de facto, bukti sejarah mengatakan bahwa Rohingya sebenarnya memang telah lama menginjakkan kakinya di Myanmar. Rohingya sudah beberapa kali ditekan untuk ‘kembali’ ke Bangladesh pada akhir 1700-an dan awal 1800-an, tahun 1940-an, 1978, pada rentang 1991-2, dan yang cukup baru tahun 2012 (Human Right Watch, 2000). Catatan tersebut belum termasuk tragedi manusia perahu tahun 2015 dan eksodus masyarakat ke perbatasan Bangladesh Agustus 2017 ini.

Fakta bahwa sebelum tahun 1948 –yang merupakan tahun kemerdekaan Myanmar-, sudah ada masyarakat Rohingya di Myanmar tentu mematahkan teori pemerintah bahwa keberadaan Rohingya berstatus imigran ilegal. Nyatanya, sejak tahun 1700-an sejarah sudah mencatat adanya persekusi, untuk tidak menyebutnya genosida atau pembersihan etnis, terhadap masyarakat Rohingya di Myanmar.

Keterlibatan Etnis Budha Rakhine

Apa yang dibicarakan di atas adalah Myanmar dalam arti pemerintah Myanmar. Sedangkan Myanmar dalam arti lain juga bisa dipahami sebagai masyarakat Myanmar secara umum, terutama etnis Budha di negara bagian Rakhine.

Krisis Rohingya, pada kenyataannya, bukan hanya sebatas akibat konflik vertikal antara pemerintah dan etnis Rohingnya, tapi juga konflik horizontal antaretnis yang melibatkan Rohingya vis a vis etnis Budha Rakhine. Contohnya pada tahun 2012 saja, ketika terjadi konflik yang dipicu penjambretan, pemerkosaan, dan pembunuhan terhadap perempuan Rakhine oleh pemuda Rohingya, tersebar propaganda dalam sebuah pamflet.

Dalam pamplet tertulis kata-kata yang menunjukkan rencana islam global telah dibuat dan melakukan penetrasi di negara non-muslim dalam bentuk seperti praktik poligami, pembangunan dan ekspansi masjid, serta mencari status etnis minoritas di Myanmar sebagai Muslim Rohingya (McDonald, 2012). Para biarawan budha turun ke jalan, melakukan demonstrasi mendukung ajuan kebijakan Presiden Thein Sein berkenaan dengan pemindahan etnis Rohingya ke negara ketiga.

Apa yang bisa dikatakan di sini adalah bahwa ternyata masyarakat (terutama etnis budha Rakhine) dan negara berusaha berkompromi terkait isu Rohingya ini. Bahwa, nampaknya, mereka sama-sama tidak menginginkan Rohingya diintegrasikan –atau bahkan untuk ada sekalipun- sebagai warga negara Myanmar. 

Wajar saja bilamana ada anggapan dari komunitas internasional bahwa sudah terjadi genosida di Myanmar.

---

Bacaan Suplemen

Kipgen, N. (2014). Addressing the Rohingya Problem. Journal of Asian and African Studies, 234-247.
Ullah, A. (2016). Rohingya Crisis in Myanmar: Seeking Justice for the “Stateless”. Journal of Contemporary Criminal Justice, XXXII(3), 285-301.

***

Foto: Tentara Myanmar (AFP via Independent)

Answered Sep 1, 2017

Question Overview


3 Followers
1180 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Apa yang harus kita lakukan untuk membantu menyudahi konflik Rohingya?

Apa dan bagaimana perasaan Anda terhadap kasus muslim Rohingya?

Bagaimana cara khusuk dalam salat?

Mengapa Indonesia yang tidak menegakkan hukuman Qisas? Apa hukuman qisas tidak sesuai? Mengapa?

Apabila poligami adalah ibadah, mengapa banyak perempuan muslim yang tidak mau melakukannya?

Apa kriteria tingkatan tertinggi wanita salihah itu yang mau dipoligami?

Mengapa Islam yang katanya Rahmatan Lil Alamin justru berbalik 180 derajat faktanya ketika diaplikasikan di Indonesia?

Pengalaman apa yang membuat seorang menjadi sekuler?

Mengapa Tuhan membuat surga, padahal insentif tertinggi umat Islam adalah ridha Allah?

Bagaimana cara mengakhiri konflik antara Sunni dan Syiah?

Apakah Syiah bukan Islam?

Mengapa Nabi Muhammad tidak mengizinkan Ali mempoligami Fatimah?

Apa yang dimaksud dengan bid'ah?

Apa yang dimaksud dengan munafik?

Apa yang dimaksud dengan halal?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Apa yang dimaksud dengan mubah?

Realistiskah tuntutan untuk mengirim TNI ke Myanmar dalam rangka pembebasan Rohingya?

Jika Indonesia memutus hubungan diplomasi dengan Myanmar lalu bagaimana Indonesia membantu penduduk Rohingya?

Bagaimana asal-usul etnis Rohingya?

Bagaimana pandangan orang Myanmar terhadap etnis Rohingya?

Apa yang telah pemerintah Indonesia lakukan berkaitan dengan konflik Rohingya?

Apakah Anugerah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi masih pantas dipertahankan?

Hal apa yang paling harus diketahui dan dipersiapkan sebelum berwisata ke Myanmar?

Apa peran Amerika Serikat di balik runtuhnya kekuasaan junta militer Myanmar?

Sampai kapan konflik antarumat beragama akan berakhir?

Solusi apa yang paling realistis dilakukan untuk mengatasi konflik Suriah?

Bagaimana rasanya menjadi korban tragedi Mei 1998 di Indonesia?

Mengapa masih banyak orang Indonesia yang sentimen dengan orang Belanda?

Bagaimana sikap yang seharusnya kita miliki agar tidak terjerumus dalam konflik antaragama?

Apakah Indonesia harus menerima pengungsi dari negara yang sedang berkonflik? Mengapa?

Siapa pihak yang sebenarnya paling berhak meng-klaim kepemilikan Tanah Palestina?

Negara apa yang paling buruk untuk para turis dan backpacker?

Siapa pihak yang paling harus bertanggung jawab dalam konflik Suriah hari ini?

Mengapa India dan Pakistan masih berkonflik secara kebudayaan?