selasar-loader

Apa yang membuat sepak bola Indonesia tidak berkembang?

Last Updated Nov 20, 2016

14 answers

Sort by Date | Votes

AZ9AvdebHi8Waykc97L8xZMovVPLHmll.jpg

Ilustrasi via pertamax7.files.wordpress.com

IMHO ukuran yang paling akurat berkembang atau tidaknya persepakbolaan suatu negara adalah prestasi. Prestasi bisa itu di tingkat klub atau di tingkat tim nasional. Indonesia bisa dikatakan belum berkembang sepak bolanya dilihat dari prestasi yang minim. Kenapa Indonesia minim prestasi?

1. Percaya atau tidak, kenyataannya, Indonesia tidak berbakat olahraga kolektif. Dari dulu, Indonesia memang jarang punya prestasi mentereng di olahraga kolektif, seringnya di olahraga individual, ya badminton, panahan, dan angkat besi. Medali yang pernah didapat Indonesia di olimpiade berasal dari cabor tersebut. Untuk sepak bola, voli, basket, dll? Indonesia masih tertinggal jauh.

2. Fisik. Untuk golongan Asia Tenggara saja, laki-laki Indonesia termasuk yang paling rendah tinggi badannya, rata-rata 158 cm, di bawah Filipina dan Vietnam dengan rata-rata 162 cm. Jauh di bawah Malaysia dan Thailand dengan rata-rata masing-masing 165 cm dan 170 cm, apalagi Jepang dan Singapore dengan tinggi rata-rata 171 cm. Dari tinggi badan saja sudah tergambar yang fisiknya paling bagus yang paling sering juara. Sepak bola, olahraga yang mengandalkan teknik dan fisik. Taktik pelatih berjalan baik kalau dua-duanya bagus. Ukuran lapangan sepak bola yang diformulasi orang Inggris juga mempertimbangkan fisik mereka. Jadi, mau tidak mau fisik harus bagus, apalagi kalau teknik masih pas-pasan. Memang di Indonesia ada fantatista sekelas Messi? Jadi, fisik itu penting.

3. Manajemen sepak bola yang bagus sangat diperlukan. Pembinaan usia muda sampai liga amatir dan profesional yang berjenjang harus rapi. Fisik dan teknik yang bagus tidak ada gunanya, kalau PSSI-nya berantem terus, liganya koruptif, dan pembinaan yang acak-acakan. Pendukung olahraga sepak bola juga harus bagus seperti stadion, lapangan latih, kualitas wasit, pelatih, kesehatan, nutrisi, dll.

1vns0ITGUjBKC4FigQFjzWxZtlwAo4KN.jpg

Ilustrasi via pbs.twimg.com

Andai kata, pemain sudah punya fisik dan teknik yang bagus, manajemen sepakbola yang rapi, dalam 10--15 tahun ke depan, setidaknya Indonesia dapat bersaing seminimalnya di level Asia.

Answered Dec 29, 2016
Abdul Hamid
saya kelahiran minang, 28-08-1996.. saya mahasiswa UNP

Yang membuat sepakbola Indonesia tidak stabil adalah ketegasan hukum dan profesionalitas pada setiap pertandingan yang diselenggarakan

Seharusnya penegak hukum di lapangan, atau yang dikenal dengan wasit, lebih profesional dan berkompeten. Hal ini bisa di laksanakan dengan memberikan pelatihan international.

Sedangkan liga di Indonesia (juga timnas Indonesia) harus memberikan kesempatan lebih besar pada pemain lokal dengan cara meminimalisir pemain naturalisasi pada Timnas dan mendatangkan pemain dari luar negeri yang berkualitas, seperti halnya yang dilakukan liga cina namun dengan tidak mengurangi rasio pemain asing dan lokal seperti yang diterapkan sekarang ini. 

Answered Jan 23, 2017
Barlian Juliantoro
Altruism Enthusiastic and Footballholic

Beberapa faktor yang harus dibenahi bagi persepakbolaan Indonesia;

1. Manajemen federasi yang baik

Sudah menjadi rahasia umum kalau menajemen federasi menjadi faktor utama yang menentukan berkembang atau tidaknya sepak bola sebuah negara. Federasi memiliki porsi besar dalam menentukan arah kebijakan bagaimana sepak bola nasional akan diurus. Mulai dari visi misi, profesionalisme sampai transparansi sebuah federasi akan menunjang prestasi sepak bola sebuah negara. Tidak hanya federasi, tetapi seluruh penunjang dalam menjalankan sepak bola nasional harus bersatu padu menciptakan suasana yang kondusif untuk sepak bola, mulai dari statuta, panpel pertandingan, komisi wasit hingga agen pemain. Hal ini yang masih menjadi pekerjaan besar bagi Indonesia untuk menghadirkan manajemen federasi yang benar-benar punya niat tulus membangun sepak bola Indonesia. Jangan sampai federasi hanya untuk menjadi alat memperkaya diri saja.

2. Kompetisi berjenjang pembinaan usia dini

Hal ini sangat dibutuhkan bagi Indonesia yang memiliki potensi besar dalam sumber daya. Kompetisi berjenjang sangat berkolerasi positif dengan pembinaan usia dini. Bisa dibayangkan  2 juta populasi potensi yang dimiliki Indonesia mempunyai sistem pembinaan usia dini hingga ke pelosok daerah.  Bisa dipastikan Indonesia tidak akan kehabisan talenta berbakat sepak bola. Masih ingat bagaimana Indra Sjafri membentuk timnas U-19 hingga menjadi juara Piala AFF 2013 lalu? Itu menjadi bukti shahih bahwa Indonesia masih memiliki harapan untuk menjadi raksasa sepak bola.

3. Sport Science

Hal ini yang masih luput dari pengelolaan sepak bola kita. Memang sport science masih belum mendapatkan perhatian lebih dari setiap klub, tetapi ini menjadi faktor penunjang yang signifikan. Di era modern ini, sudah menjadi hal yang lumrah penggabungan metode olah raga dengan science. Apalagi di dunia sepak bola, kita bisa berkaca bagaimana timnas Jerman dibentuk dengan menggabungkan keduanya yang membuat mereka menjadi juara dunia.

Answered Jan 25, 2017
Wahyu Rizkiawan
jurnalis. tertarik pada dunia pendidikan, seni, kebudayaan dan sepakbola

mDcSTzxAe_Wi0wKp0Y3P7XKZYopJ-_a-.jpg

Sebenarnya, tidak ada yang tidak berkembang. Bahkan, dunia sepak bola Indonesia itu justru selalu berkembang. Buktinya--hampir setiap generasi--selalu ada yang hobi main bola, hobi nonton bola, dan bahkan menjadi penggemar tim-tim bola internasional. Ini menunjukkan bahwa sepakbola di Indonesia itu sebenarnya berkembang. Tak pernah kehilangan peminat.  

Saya berani bilang bahwa sepak bola adalah cabang olahraga (cabor) paling berkembang di Indonesia. Dalam bidang ekonomi misalnya, merchandise terkait sepakbola paling mudah laku daripada badminton ataupun bola voli. Hanya saja, perkembangan minat dan antusiasme masyarakat berbanding terbalik dengan kesigapan regulator sepakbola. Dalam hal ini PSSI.

Kita tahu, bagaimana kiprah PSSI sejak zaman Orde Baru hingga saat ini. Selain banyak oknum koruptif dan tidak berkompten terkait sepakbola, hampir semua jajaran PSSI tidak pernah memiliki inovasi untuk berpikir maju. Kalaupun ada, misalnya, niat itu tidak akan lama. Sebab, tidak mendapat dukungan dari oknum lainnya.

Bukti paling nyata adalah keberadaan Indonesian Premier League (IPL) dan Indonesia Super League (ISL) pada 2011. Ini fenomena sepak bola paling unik dan memalukan yang pernah ada di Indonesia. Dualisme yang lahir bukan karena keinginan menjawab harapan masyarakat sepak bola Indonesia, melainkan karena saling memperebutkan proyek.

Pada 2017 ini, setelah Kongres Bandung Januari lalu, kepengurusan PSSI yang baru terbentuk seolah memberi harapan akan regulasi sepakbola yang lebih mementingkan pada pembinaan daripada kepentingan industri. Hanya, kita juga wajib skeptis. Pembinaan yang seperti apa? Dibina menjadi kader politik atau dibina untuk memberi harapan palsu? Hahaha.

Answered Mar 11, 2017

we4jQQYKRxDzWSn60iw4eHZ1p1oa6C24.jpg

Adakah yang mau membahas perihal investasi disini? Bukankah Chinese Super League tiba-tiba melaju pesat ketika mendapatkan investasi besar-besaran?

Answered Mar 12, 2017
Kesha Darma
Someone who try to enjoyed life

_oHFaHi8jY_ZJCV_30c5J5n8A41GTbSW.jpg

Mungkin terlalu banyaknnya intervensi dari pihak ketiga di luar keluarga, klub, dan juga official. Lalu, sistem dan tata kelola liga di Indonesia yang belum benar dan struktur yang belum rapi mulai dari liga tertinggi hingga liga terendah juga turut menjadi persoalan.

Pemerintah sendiri sekarang sudah melakukan pembenahan pada PSSI. Sementara itu, PSSI sendiri sudah melakukan segala hal untuk membuat sistem sepakbola Indonesia menjadi lebih baik.

Mungkin, kita harus meng-copy apa yang Jepang lakukan pada awal pembentukan J-League, yang sistem klub benar-benar diatur dengan cara yang benar.

Answered Mar 22, 2017
Nur Ihsan
Professional Coach | Career & Life Coach | HR Practioner

Hasil gambar untuk sepak bola indonesia

Sepak bola Indonesia menurut saya berkembang. Antusiasme supporter mulai diimbangi dengan manajemen supporter lebih baik. Wasit-wasit yang berkualitas mulai banyak juga, walau memang masih ada saja yang kepemimpinan wasitnya belum oke, tapi trennya sudah baik. Sudah mulai ada klub sepak bola yang tidak hanya hidup dari APBD, saya melihat gairah untuk semakin mandiri dan profesional terasa jelas di klub sepak bola Indonesia. Yang terakhir, semakin menjamurnya pemain muda Indonesia bertalenta, jadi tanda sepak bola Indonesia berkembang dan potensi besar semakin baik.

Ilustrasi via ggpht.com

Answered Jun 21, 2017

Gambar terkait

Ada beberapa jawaban, yaitu:
1. peliknya permasalahan internal yang ada di beberapa klub besar; 
2. korupsi yang merajalela di dalam dunia persepakbolaan;
3. kaderisasi pemain yang kurang masif; dan
4. permainan mafia perjudian yang memperparah kondisi.

Ilustrasi via berita7up.com

Answered Jul 13, 2017
Alvian Azwar
Mahasiswa Fakultas Peternakan UGM

Gambar terkait

Saya coba lihat dari sisi pemain dan pelatih, yang kurang dari sepak bola lokal adalah:

1. belum adanya kurikulum yang pakem dan komprehensif sebagai panduan latihan dan penyampaian materi oleh pelatih;

2. exposure media yang berlebihan bisa menjadi bumerang bagi kesuksesan jangka panjang suatu tim;

3. klub dari divisi mana pun seharusnya memiliki akademi pemain muda yang sustainable dan kompetisi lokal klub (contoh Persebaya).

 

Ilustrasi via cdn.fourfourtwo.com

Answered Jul 14, 2017
Anzhar Pratama
ESL FEM IPB 2016 | Ketua Departemen Kastrat BEM PPKU 2017

https://cdn1-a.production.liputan6.static6.com/medias/1054770/big/035217700_1447467756-sepak-bola.jpg

Menurut saya, sepak bola Indonesia justru cukup berkembang. Dunia persepakbolaan di negeri kita saat ini sudah jauh lebih berkembang dibanding sebelumnya. Bisa kita lihat dari kompetisi tertinggi yang ada di negeri kita hari ini, Liga 1, yang menampilkan marquee player seperti Michael Essien, Piter Odemwingie, Dridier Zokora, dan lain-lain. Tentu ini adalah sebuah perkembangan yang cukup baik untuk mengangkat kualitas dari kompetisi tertinggi itu sendiri.

Tapi, yang belum berkembang selama ini adalah soal prestasi. Baik klub maupun tim nasional Indonesia belum mampu untuk menampilkan prestasi yang gemilang di kancah internasional, di Asia umumnya dan Asia Tenggara khususnya. Menurut saya hal ini disebabkan oleh beberapa sebab baik di tingkat Federasi hingga ke tingkat Klub itu sendiri. Berlarut-larutnya masalah internal di PSSI, penyelenggaraan kompetisi yang tidak jelas (bahkan sempat terhenti) dalam kurun 5 tahun terakhir saja telah membuang banyak waktu bagi negeri kita dalam pembangunan dunia sepak bola. Meski sempat juara AFF Cup U-19 beberapa tahun lalu, setelah itu timnas kita (masih) harus rela puasa gelar.

Klub-klub di Indonesia pun tak lepas dari problem. Masih banyak klub yang kesulitan masalah finansial. Apalagi klub-klub di liga yang stratanya dibawah liga 1. Belum lagi mayoritas klub belum mempunyai akademi sepakbola milik sendiri untuk mengembangkan bibit-bibit pesepakbola handal di masa mendatang.

Beberapa hal di atas kadung membuat persepakbolaan Indonesia jalan di tempat. Tentunya ini perlu ada keseriusan dari berbagai pihak, baik PSSI, pemerintahan, swasta, dan juga manajemen klub agar persepakbolaan Indonesia bisa selevel dengan dunia sepakbola di Eropa yang sudah sangat baik dari segi pengelolaan maupun prestasi.

Saya yakin, kita pasti bisa!

Sumber gambar: Liputan6 :: Bola

Answered Aug 5, 2017

Keunggulan bibit mereka cukup bagus bahkan ada yang mewakili indonesia di tournament dunia mungkin masalahnya ada di kepengurusan lembaganya masih ingat ketika indonesia kena sanksi fifa itu karena keegoisan kelompok tertentu

Answered Aug 24, 2017
Anonymous

KW_wo82WGujlG0BeG7dLJQJP3eVQ-fV7.jpg

Prestasi bukan satu-satunya indikator untuk melihat perkembangan sepak bola Indonesia. Ada setidaknya dua isu utama. Pertama, pembinaan sejak usia dini. Kedua, kompetisi berkualitas.

Bila terbiasa melihat permainan sepak bola Spanyol, Inggris, Italia, Perancis, Belanda, you name it, Anda mungkin akan sangat terganggu dengan permainan sepak bola Indonesia. Ada perbedaan signifikan pada bagaimana mereka menyentuh bola dan bagaimana visi mereka terhadap permainan. Itu belum termasuk stamina, baik secara fisik maupun mental. Emosi yang mudah terpancing adalah isu umum timnas Indonesia yang telah diketahui sekaligus dieksploitasi timnas-timnas lain di Asia Tenggara. 

Soal nutrisi? Lupakan sport science di bidang nutrisi. Saya punya tetangga yang sempat bekerja di PSSI. Ia pernah mewawancarai salah seorang pemain timnas ketika masih kuliah. Sang pemain timnas kemudian minta wawancara dilakukan sambil makan mie ayam di pinggir jalan.

Tapi itu dulu. Sejak Indonesia (atau Indra Sjafri dan tim kepelatihannya?) mulai memperhatikan pembinaan pemain usia muda, gaya bermain Indonesia jauh berkembang. Umpan satu-dua sentuhan dimainkan. Stamina fisik didongkrak, termasuk kadar VO2 Max (volume maksimum oksigen yang bisa digunakan seorang atlet) pemain-pemain muda kita. Stamina mental pun diperhatikan. Saya melihat bagaimana Garuda Muda di bawah bimbingan Indra Sjafri memiliki mental kelas dunia. Mereka bermain sangat percaya diri, sangat tenang, dan tidak mudah terprovokasi ketika melawan tim-tim yang memainkan sepak bola keras seperti Vietnam dan Myanmar hingga yang memang memiliki kemampuan individu di atas rata-rata (Korea Selatan). Sepak bola modern juga telah mereka mainkan. Saya melihat kiper timnas Indonesia U-18 membangun serangan dengan melakukan umpan pendek kepada pemain terdekat (bukan umpan lambung ke tengah lapangan). Ini adalah karakter kiper modern. 

Anda bisa lihat, mengatasi satu masalah saja sudah membuat sepak bola Indonesia memperlihatkan perkembangannya. Melibatkan Indra Sjafri (atau siapapun yang memiliki visi sama sepertinya) adalah contohnya. Ini bukan pengkultusan, ya, namun lebih kepada pengamatan. Saya tidak punya kepentingan apapun untuk memujanya.

Kedua, liga yang berkualitas. Memulai liga yang berkualitas bukan perkara mudah. Ada banyak pihak yang dilibatkan dan harus satu visi demi memudahkan reformasi sepak bola menuju liga kelas Asia (tadinya saya ingin tulis liga kelas dunia, tapi khawatir malah menimbulkan sensasi komedi). Sederhananya, liga berkualitas dijalankan oleh operator yang berkualitas. Operator berkualitas terikat dan tunduk pada aturan yang juga berkualitas. Aturan berkualitas harus ditegakkan oleh pengurus organisasi induk sepak bola Indonesia yang berkualitas. Permasalahannya, bagaimana mau berkualitas kalau (menurut tetangga saya yang bekerja di PSSI) uang kebersihan saja dikorupsi? Hahaha!

Administrasi Joko Widodo melalui menporanya, Imam Nachrawi, sepertinya cukup concern akan hal ini sehingga membuat keputusan berani dengan membekukan PSSI. Sekarang, PSSI sedang berbenah dan menggulirkan Liga 1. Namun, terlalu dini untuk menilai; apakah kompetisi sepak bola Indonesia sudah berkualitas atau belum.

Jadi, mari duduk dan nikmati pertandingannya. Siapkan kacang atau panganan lain di meja televisi Anda, lalu lihat ke mana sepak bola kita menuju.

Ilustrasi via bolasport.com

Answered Sep 17, 2017
El Hakim Law
Founder Lingkar Studi Islam & Kepemimpinan (@larsik.id)

Konsistensi mengawal pendidikan olahraga sejak dini.

Belajar dari kelahiran bintang sepakbola seperti Messi maupun Ronaldo, saya percaya bahwa sepakbola bisa menjadi olahraga andalan bangsa ini dengan syarat bahwa kader-kader mudanya benar-benar dikawal lahir-batin sejak kecil. Pun jika berbicara keterbatasan infrastruktur, maka opsinya bisa "ekspor" talenta sebagaimana yang dilakukan pemain-pemain Amerika Latin, termasuk Messi salah satunya.

Tentu hal ini tidak menghasilkan produk instan dan jangka waktunya yang lama, namun sebagaimana hukum alam menanam, keberhasilan tim sepakbola dihasilkan dari konsistensi dan determinasi asosiasi sepak bola negara tersebut untuk terus meregenerasi pemainnya.

Answered Nov 29, 2017
muhammad rifadli
Mahasiswa Fakultas Teknik UI Peserta Rumah Kepemimpinan Jakarta

menurut saya perlu pembinaan yang konsisten terhadap sepak bola di Indonesia di semua level usia setelah itu perlu perbaikan infrastruktur sepak bola Indonesia seperti lapangan dan lainnya . Untuk PSSI perlu di perjelas alur koordinasi dengan klub-klub sepak bola di Indonesia

Answered Feb 2, 2018

Question Overview


16 Followers
2421 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Kenapa beberapa klub sepak bola mandiri/profitable, sementara sebagian klub sepak bola lainnya mengandalkan dana APBN?

Mengapa Brasil bisa menjadi juara dunia sepak bola berkali-kali dan apa rahasia suksesnya?

Apa yang pertama kali ada di kepala Anda saat diucapkan kata Manchester United? Alasannya?

Menurut Anda, apa faktor yang menentukan kemenangan Indonesia atas Singapura?

Mengapa pengorganisasian kompetisi bola basket lebih baik daripada sepak bola di Indonesia?

Apa pendapat Anda tentang klub sepakbola R.B. Leipzig?

Siapakah pemain Manchester United favorit Anda?

Siapa saja pemain Manchester United yang menyeberang ke Liverpool?

Apakah persamaan antara Manchester United dan Liverpool?

Siapa yang bakal keluar sebagai juara catur dunia yang saat ini sedang berhadapan antara Magnus Carlsen melawan Sergey Karjakin?

Apakah berolahraga memiliki pengaruh secara langsung terhadap perkembangan mental?

Apakah kerugian dari memiliki tubuh berotot?

Bagaimana cara Anda menyiasati kemalasan berolahraga pada pagi hari?

Apa tujuan terbesar Anda ketika berolahraga?

Bagaimana budaya populer diterapkan dalam dunia olahraga?

Siapa atlet Indonesia yang paling fenomenal?

Mengapa olahraga Indonesia mengalami kemunduran drastis sejak 2000an?

Adakah keterlibatan Indonesia pada Perang Dunia II?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Hal-hal apa sajakah yang harus dipenuhi agar Indonesia menjadi pemimpin budaya populer dunia?

Foto apa saja yang bisa mengubah cara pandang kita tentang Indonesia?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Masakan/makanan Indonesia apa yang menurut Anda paling mungkin go international?

Mengapa bangsa Indonesia dapat sebegitu lamanya dijajah oleh Belanda?

Makanan/masakan Indonesia apa yang paling memiliki nilai sejarah tinggi?

Apa yang membuat beberapa suku di Indonesia masih tetap bertahan dengan gaya hidup tradisionalnya, misalnya Suku Badui?