selasar-loader

Kenapa acara TV di Indonesia banyak yang tidak mendidik?

Last Updated Nov 20, 2016

6 answers

Sort by Date | Votes
teguh usis
televisi | broadcaster | jurnalis | sedikit mau juga bahas politik

Hasil gambar untuk acara tv indonesia

Tanpa tendensi menggurui, apalagi menggelar kesoktahuan saya belaka, izinkan saya menjawab pertanyaan ini sesuai kapasitas otak saya yang kian hari kian tergerus dan melemot. Maklumlah, anak zaman sekarang prosesornya sudah i7, sementara otak saya masih digandoli prosesor Pentium 1.

Kalau mau menjawab sebagai orang yang bekerja di TV, pasti saya akan banyak ngeles-nya. Lha, mau bagaimana lagi? Periuk nasi saya, biaya pendidikan anak-anak, biaya istri ke salon, semuanya keluar dari kocek pemilik TV tempat saya bekerja. Tapi, tenang saja, saya juga jawaban yang ideologis kok.

NIELSEN

Mungkin belum banyak yang tahu apa atau siapa itu Nielsen? Ini adalah sebuah lembaga pemeringkatan yang melakukan survei penonton TV. Hasil yang dikeluarkannya berupa rating dan share. Semakin tinggi rating sebuah acara TV, artinya semakin banyak yang menonton acara tersebut. Maka, tak salah bila ada sebagian pengelola TV yang menjadikan Nielsen sebagai "dewa". 

Lalu, kenapa nama Nielsen saya bawa-bawa? Wajar saja, sebab di tangan Nielsen inilah nasib sebuah acara TV ditentukan. Jika rating-nya tinggi, akan banyak pengiklan yang masuk. Jika iklannya banyak, uang yang menjadi revenue stasiun TV juga akan banyak.

Pertanyaannya sekarang, acara seperti apa yang rating Nielsen-nya tinggi? Untuk masa-masa sekarang, acara sinetron, serial India, pencarian bakat nyanyi-joget atau melucu, sedang berada di puncak popularitas. Rating-nya tinggi. Tengok saja durasi komersial acara-acara itu yang secara persentase melebihi 20 persen, sebagai batas durasi iklan seperti regulasi yang berlaku di Indonesia.

TV adalah industri padat modal sekaligus padat karya, yang menganut hukum ekonomi paling purba, raup untung sebanyak-banyaknya dengan modal sekecil-kecilnya. Saya bisa membiayai pendidikan anak, membuat dapur tetap ngebul, dan sesekali mengajak istri ke salon, tentu uangnya dari para pengiklan di TV. Jadi, jika acara di stasiun TV tempat saya bekerja rating-nya kecil, niscaya iklannya pasti sedikit. Ujungnya, uang yang masuk pun tak banyak.

IDEALISME-PRAGMATISME

Soal Nielsen di atas bukan dalam rangka ngeles lho ya. Tenang saja. Saya punya pemaparan mengenai idealisme yang seharusnya tetap diusung oleh profesional TV seperti saya. Ada yang tahu berapa ongkos produksi secara langsung untuk sebuah acara di slot prime time (18.00 WIB - 22.00 WIB)? Tak cukup jika uangnya cuma tersedia kurang dari 150 juta rupiah. Untuk berapa episodekah itu? Cuma untuk 1 episode saja. Itu pun jika programnya diproduksi sendiri, alias bukan dibeli dari production house seperti acara sinetron. 

Nah, dengan kekreatifan seorang profesional TV-lah, idealisme itu bisa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sebuah acara TV. Caranya? Acara talkshow seperti "Hitam Putih" atau "Bukan Empat Mata" (sebelumnya bernama "Empat Mata", tapi sayangnya sekarang sudah almarhum), selalu mengupayakan bintang tamu yang diundangnya adalah orang-orang yang bisa menginspirasi. Kalau pun sesekali mengundang selebriti yang cuma jual tampang dan cari sensasi, ya mohon dimaafkanlah. Kan tidak selalu begitu. Itu pun tetap saja yang dibahas bukan sensasinya, melainkan mencoba untuk "menghajar" bintang tamu yang sensasional tersebut.

Atau, sebut pula "Si Bolang" dan "Laptop Si Unyil". Kedua program ini pastilah disebut sebagai acara yang mendidik. Isinya sarat pengetahuan, petualangan, dan ajaran-ajaran moral yang penting menjadi asupan bagi anak-anak usia dini. Juga ada "Indonesiaku", yang kerap diganjar penghargaan-penghargaan bergengsi dari berbagai ajang di tanah air. 

KENISCAYAAN 

Generasi sekarang mulai disesaki oleh generasi digital. Don Tapscott, dalam bukunya Grown Up Digital menamakan mereka sebagai Generasi Internet alias Net Gen. Mereka mulai berserakan di mana-mana. Di tempat saya bekerja, generasi digital ini kian banyak. Salah satu sifatnya adalah "tidak betahan". Jangan paksa mereka berlama-lama di depan layar komputer. Pasti mereka akan bete. Artinya, konsumen acara TV saat ini pun mulai banyak dari generasi digital ini. GenDig ini bukanlah tipikal audiens yang betah berlama-lama menonton sebuah acara TV. Jadi, tak mungkin mereka mengonsumsi serial yang panjangnya bisa ratusan episode. 

Kecenderungan GenDig ini menjadikan smartphone sebagai bagian hidup yang tak terpisahkan. Di Korea Selatan, sebagian smartphone sudah dipasang chip penerima siaran TV di jeroan-nya. Jadi, jangan heran jika di MRT di Seoul melihat anak muda GenDig tak lepas barang sekejap pun tatapan mereka dari layar smartphone. Nonton TV via streaming? Bisa jadi.

Jadi, jika kini merasa kurang sreg dengan acara TV yang dikatakan tidak mendidik, matikanlah TV-mu. Pilihlah acara-acara TV yang Anda yakini mendidik. Toh, dengan semakin sedikitnya yang menonton acara TV tidak mendidik itu, lambat laun rating-nya kan turun. Iklan mulai sedikit. Lalu, ujung pisau menutup acara pun terpaksa diletakkan pengelola stasiun TV di leher acara tersebut. Koitlah dia!***

 

Ilustrasi via blogspot.com

Answered Jan 5, 2017
Wilingga Wilingga
Menulis, menulis, menulislah

Karena yang mereka utamakan adalah iklan. Mereka lebih mengutamakan keuntungan dibanding menjaga siarannya. Ibu-ibu di Indonesia termasuk juga remajanya sangat suka menonton film yang tidak baik. Mereka jadinya suka menampilkan itu, karena banyak mnguntungkan. salah satunya iklan akan nempel terus di siaran tersebut. ini memberi masukan keuangan bagi mereka.

Answered Jan 17, 2017
Moch Nurul
sedang belajar rendah hati, obyektif, moderat dan open minded

1. menurut sudut pandang saya, rendahnya penerapan regulasi yang mengatur hal tersebut. Regulasi sudah baik, pengaplikasiannya yang belum.

2. sebaiknya ada kontrol dari para penontonnya, bijak dalam memilih tontonan apalagi buat anak - anak. 

Answered Jan 25, 2017
Syaifuddin Sayuti
Happy Holiday...

Saya coba ikutan urun rembug soal acara TV yang banyak dianggap tak mendidik. Sebenarnya kegelisahan saya sebagai pemirsa TV sudah saya rasakan sejak lama, sejak masih berada di dalam industri ini.

Sebagai industri yang menghidupi dirinya dari pemasukan iklan, insan pertelevisian dituntut menghasilkan karya yang bisa mendulang banyak pemirsa. Karena banyaknya jumlah pemirsa akan berdampak secara langsung pada perolehan iklan.

Sayangnya industri tv hanya mengejar perolehan iklan sehingga abai terhadap kualitas konten. Lihat saja cerita sinetron tak masuk akal bersliweran di jam tayang utama (prime time). Padahal tiap stasiun tv memiliki divisi QC (Quality Control) yang harusnya ketat membentengi mana program yang sesuai dengan kondisi pemirsa Indonesia.

Selain itu tidak adanya regulasi yang ketat yang membatasi isi konten tayangan membuat stasiun tv seperti diatas angin. Program apa yang sedang "in" dijadikan acuan. Stasiun tv seperti mati kreasi, karena merasa mudah mendapatkan iklan jika membuat program yang sama dengan pesaing (me too product).

Satu stasiun menayangkan FTV dan sukses, segera setelah itu hampir semua stasiun tv menayangkan program sejenis. Satu stasiun tv menayangkan sinetron ABG maka diikuti pula oleh stasiun tv lainnya. Tak ada yang berupaya keluar dari kerumunan atau membuat trend acara sendiri. Oleh karena itu tayangan tv di Indonesia seperti supermarket, segala apapun ada di tv. Ada di stasiun tv X, ada pula di stasiun tv C.

Lalu apa yang bisa dilakukan sebagai pemirsa tv? Matikan tv kalau tak suka dengan siarannya, karena dengan demikian mereka tidak akan mendapat rating/share dari Nielsen yang baik, sehingga berujung tidak dapatnya perolehan iklan. Sayangnya kesadaran akan konten buruk di tv tidak ada di semua kalangan. Sehingga stasiun tv masih bebas melenggang.

Tapi dalam sekian tahun ke depan percayalah penonton bakal makin pintar, apalagi pilihan tontonan kini tak didominasi tv lagi. Sebagian penonton kini sudah mulai menjadikan tayangan video di Youtube sebagai tontonan harian mereka. Dan jika ini dilakukan secara massif robohlah industri tv. Who knows?

Answered Jan 30, 2017
Rinhardi Aldo
Mengamati pertelevisian Indonesia sejak 2014, penulis blog IniKritikGue

HMSiPW8ahp--npccq7AOBkjDIXCyTzM7.jpg

Program televisi kita sebenarnya banyak yang mendidik kok. 

Namun, kalau boleh dibilang tren yang ada sekaranglah yang membuat program televisi kita yang jadi tak mendidik. Saya sudah mengamati televisi kita selama beberapa tahun terakhir dan saya rasa kita tak berhak juga untuk menjustifikasi bahwa televisi kita seutuhnya tak mendidik. Apalagi kalau justifikasi ini (saya lihat rata-rata di media sosial) malah untuk mempromosikan stasiun TV tertentu yang dianggap kece badai melintir dan/atau budaya luar. Ini sama tak mendidiknya dengan tren yang dibuat televisi kita. Bukannya mengajarkan kita untuk memilih program yang baik dan bermanfaat, malah membuat kita terjerumus dalam pemikiran yang makin keliru. 

Sebagian penjelasan saya rasa sudah disampaikan oleh pak Sayuti dan pak Teguh yang saya tahu adalah praktisi dibidangnya. Namun, untuk memahami bahwa televisi kita mendidik apa tidak, saya rasa bukan hanya karena "diperbudak" oleh rating dan share yang nantinya terkait dengan banyak lapisan di stasiun TV itu sendiri. Namun, juga karena banyak hal. Industri televisi kita lahir dari dosa masa lalu, dimana kebijakan pemerintah sendiri pada masa Orde Baru yang terlalu bebas dan mengandung unsur KKN menjadi salah satu penyebabnya. Kehadiran era reformasi yang diharapkan memperbaiki segalanya, malah memperburuk situasi. Tekanan dari berbagai sisi membuat televisi kita dilematis : mau mendidik, salah. Mau biasa-biasa saja salah. 

Ini juga terkait dengan masyarakat kita yang belum mendapat literasi yang utuh tentang memilih program TV. Bukannya diajarkan untuk memilih, malah diminta mematikan TV atau pindah ke Indovision, misalnya. Masyarakat kita memang budayanya menonton, bukan budaya membaca, yang salahnya adalah menonton sekedar melahap semata, bukan selektif. Yang penting isi waktu, padahal kontennya sendiri.. Cukup tahulah, ya. Budaya menonton ini, tanpa ditopang budaya membaca yang akan menumbuhkan skeptis dan kekritisan, akan jadi "sayur kurang garam".

Akhirnya, ya seperti hari ini. Televisi yang hampa ditekan oleh oligarki dengan budaya masyarakat yang hanya melihat tanpa skeptis dan kritis. 

Sebuah pekerjaan yang tak mudah. Rasanya.

 

sumber gambar : elmina-id.com

Answered May 2, 2017
Reza Firmansyah
Mathematician. Writer. Futurist. Trying to leave good marks as my legacy.

Mungkin salah satu faktornya adalah, waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk membuat tayangan bagus adalah tidak sebentar, dan para pembuat serta stasiun TVnya juga kurang siap kalau acaranya perlu menunggu waktu lama untuk ditonton banyak orang.

Sebagai contoh, saya yakin bahwa kuis Who Wants to be a Millionaire masih akan banyak ditonton apabila bisa diadakan kembali di Indonesia, namun waktu riset untuk membuat soal-soal yang menantang dan menarik serta biaya yang diperlukan untuk hadiah bagi para peserta tidaklah sedikit, sehingga biasanya investor akan agak takut ketika harus membiayai acara semacam itu.

 

Namun saya yakin, acara berkualitas yang bisa menarik penonton akan tetap laku di zaman apapun.

Answered Feb 7, 2019