selasar-loader

Seberapa nasionaliskah keturunan Cina di Indonesia?

Last Updated Apr 6, 2017

1 answer

Sort by Date | Votes
Ibnu Zubair
Menolak tua dengan rutin tertawa

G3mJkZ_lUH7mU32QcP6JzTqsiQGRxXo0.jpg

Saya pernah baca, nasionalisme pada mulanya diterjemahkan sebagai kesamaan dalam satu kelompok. Semacam loyalitas dan kepatuhan pada organisasi preman. Lalu, kepatuhan itu diikuti dengan pengakuan terhadap seorang pemimpin. Maka, apapun yang dikatakan pemimpin harus diikuti. Hal itu adalah wujud dari loyalitas. Mereka yang loyal mendapat fasilitas tertentu, seperti bantuan advokasi ketika diancam atau hendak dicelakai oleh orang di luar kelompok, dan sejumlah fasilitas lainnya. 

Model kepatuhan tersebut lama-lama berkembang menjadi persamaan perasaan terhadap penderitaan yang dihadapi, lalu memerlukan satu kesamaan pandangan terhadap apa yang akan diperjuangkan dan dipertahankan. Di situlah muncul kepatuhan dan loyalitas yang lebih luas dan menjadikan cita-cita sebagai pimpinan. Kepatuhan dilekatkan pada cita-cita, dan cita-citalah yang menyatukan semua kelompok atau suku-suku atau etnis dalam semangat yang sama. Di situlah nasionalisme berkembang dan menjadikan kita semua memiliki perasaan dan persamaan dalam melangkah untuk Indonesia.

Nasionalisme kemudian berbenturan dengan sebagian ajaran agama, juga dengan tradisi dan kebiasaan suku dan etnis yang terkadang menggerus dan mengurangi spirit cita-cita bersama tadi. Celakanya, aktor-aktor politik menggunakan ajaran agama serta budaya dalam suku dan etnis sebagai senjata politik, sehingga loyalitas pada cita-cita mulai dipertanyakan, dan di antara pertanyaan-pertanyaan itu, muncul sifat paling benar.

Jadi, nasionalisme di Indonesia sesungguhnya belumlah tuntas seperti gagasannya. Nasionalisme masih berupa mencintai produk lokal dan dalam negeri. Nasionalisme masih berbentuk kecintaan pada mata uang sendiri. Nasionalisme menjadi sempit dan meninggalkan cita-cita sebagai pemimpin dan hanya berupa simbol semata. 

Apa yang saya utarakan tersebut tidak hanya fenomena dalam negeri, boleh jadi merupakan gejala global yang juga terjadi di penjuru dunia lainnya. Itulah mengapa tidak ada pendatang dengan warna kulit berbeda dan bentuk ukuran dada yang beragam tidak terlalu gembira berada ditempat baru yang jauh dari daerah asal usulnya.

Bagi saya, baik Cina, Arab, maupun Rohingya sekalipun tidak memiliki ikatan yang kuat dengan tempat barunya. Wajar jika seorang Taipan pernah berucap, Indonesia adalah bapak angkatnya, bukan bapak kandungnya. Mereka pun tidak akan bisa senasionalis orang-orang lokal. Apalagi aturan dan sejumlah perlakuan diskriminasi belum juga berpihak secara dominan pada mereka. 

Di sinilah pentingnya hukum. Hanya hukum yang dapat melindungi dan memperlakukan semuanya sama dan adil. Hukum tidak melihat warna kulit, panjang pendeknya rambut, dan sebagainya. Yang diperlukan hukum adalah apakah ada pelanggaran atau tidak. Siapun yang melanggar, tidak pandang kedudukan dan pangkat, akan diproses. Jadi, nasionalisme memerlukan hukum sebagai pengaman. Tanpa itu, nasionalisme akan tetap bergerak secara sempit dan sendiri-sendiri. 

Nasionalisme itu perasaan. Ketika perasaan dilukai dan tidak dipercaya, maka mustahil orang akan mau bergandengan tangan secara terbuka dan lapang dada.

 

sumber foto: kompasiana.com

Answered Sep 5, 2017

Question Overview


2 Followers
623 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Adakah keterlibatan Indonesia pada Perang Dunia II?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Hal-hal apa sajakah yang harus dipenuhi agar Indonesia menjadi pemimpin budaya populer dunia?

Foto apa saja yang bisa mengubah cara pandang kita tentang Indonesia?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Masakan/makanan Indonesia apa yang menurut Anda paling mungkin go international?

Mengapa bangsa Indonesia dapat sebegitu lamanya dijajah oleh Belanda?

Makanan/masakan Indonesia apa yang paling memiliki nilai sejarah tinggi?

Apa yang membuat beberapa suku di Indonesia masih tetap bertahan dengan gaya hidup tradisionalnya, misalnya Suku Badui?

Apakah Xenophobia adalah konsekuensi logis dari Nasionalisme?

Bagaimana Anda memandang desa?

Seberapa dalam Anda mengenal Indonesia?

Apa yang membuat Anda bangga menjadi orang Indonesia?

Bagaimana cara menanamkan nasionalisme kepada Gen Y/Net Genner/Millenials?

Apakah Anda rela jika Indonesia dihancurkan?

Apa makna dari lagu Indonesia Raya?

Apa makna dari lagu Indonesia Jaya?

Apa makna dari lagu Bagimu Negeri?

Apa sajakah perbedaan yang mencolok di antara Cina-Indonesia dan Cina asli?

Kenapa China bisa menjadi negara yang sangat kuat sekali?

Apa persepsi Anda mengenai Republik Rakyat China?

Apa beda Wushu dengan Kungfu?

Apa kesulitan terbesar saat Anda belajar bahasa Cina?

Kenapa orang Indonesia keturunan Arab sering lebih dianggap orang asli Indonesia dibandingkan orang Indonesia keturunan Cina?

Mengapa Cina berhasil mengajak rakyatnya untuk beralih menggunakan media sosial buatan negaranya?

Makanan Cina apa yang Anda rekomendasikan? Mengapa?

Bagaimana gaya hidup orang-orang Cina di Batavia pada abad ke-20?