selasar-loader

Mengapa Indonesia merupakan negara yang miskin?

Last Updated Apr 6, 2017

8 answers

Sort by Date | Votes

fSusF88Es98OaUbcnXWjeerioht4p6Qd.jpg

Sumber gambar via BS

Indonesia merupakan negara miskin (meskipun kaya sekali dengan sumber daya alam), karena adanya "penggerogotan" kekayaan negara melalui korupsi. Di samping itu, ketidakefisienan dalam bekerja, etos kerja yang tak memadai, serta relatif kurang mumpuni di bidang pekerjaan yang digeluti, ikut berdampak pada peningkatan jumlah orang miskin di Indonesia.

Answered Apr 8, 2017
Muhammad Husein Ali
Pelajar Serabutan

Lzvzo5PyQDI3RPuzCybaiDBbz9HXBNvO.jpg

via bp.blogspot.com (KAM)

Dalam definisi, miskin bukanlah kondisi dimana kita tidak punya uang. Miskin adalah kondisi dimana kita tak punya nilai produksi. Orang miskin diberi uang seratus juta rupiah sekalipun, tetap akan miskin. Karena uang tersebut akan digunakannya sampai habis.

Ketidakmampuan kita melakukan nilai-nilai produksi yang membuat indonesia menjadi miskin. Kalau melakukan perbandingan, Pendapatan domestik bruto Indonesia merupakan yang terbesar di asia tenggara. Tapi mengapa singapura dan malaysia lebih kaya?

Ada 3 hal yang sangat mempengaruhi kaya-miskinnya suatu negara.

1. Institusi

Lemahnya institusi birokrasi menyebabkan mudah terjadinya korupsi. Korupsi memiliki korelasi kuat dengan kemiskinan. Terbukti dari peta di bawah ini bahwa negara-negara kaya cenderung memiliki tingkat korupsi yang rendah.

EPRnW0NkMW-1mZTtuISN4BkPp-lbjto5.png

Korupsi menyebabkan tidak cukupnya pajak yang terkumpul guna membentuk sebuah institusi untuk melawan kemiskinan. Seperti keamanan, pendidikan, kesehatan, transportasi dll. Hal tersebut membuat negara menjadi tetap miskin dan tetap korup. Dalam kasusnya di Indonesia, kita seringkali mendengarkan berita-berita mengenai pembangunan-pembangunan yang sesungguhnya prioritasnya bisa dinomorduakan namun tiba-tiba menjadi megaproyek yang terbengkalai. Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi tetap miskin.

Selain itu, Kita masih cenderung bersikap relatokrasi (istilah saya) bahwa relasi itu nomor satu. Integritas seseorang hilang apabila ia berurusan dengan seseorang yang memiliki kekerabatan. Anda ingin membuat SIM? Tenang, paman anda yang (oknum) polisi akan menyelesaikannya dalam satu hari. Anda ingin melakukan perizinan? Tenang sepupu anda yang (oknum) pejabat dapat menyelesaikannya dengan cepat. 

2. Budaya

Disclaimer: Membahas ini diperlukan pikiran yang terbuka.

tiomkDtq-SdWmHBwKB30nMfZS0eU-KpW.png

Berdasarkan hasil survey di atas, dapat disimpulkan hal yang menarik. Bahwa negara-negara kaya di dunia masyarakatnya cenderung menganggap agama itu tidak penting dan negara-negara miskin di dunia masyarakatnya cenderung menganggap agama itu penting. Amerika serikat merupakan negara yang paling berbeda sebab meski termasuk ke dalam negara kaya, namun masyarakatnya meyakini bahwa agama itu penting. 

Mengapa relijiusitas itu berujung kurang sehat terhadap pembentukan kekayaan?
Mari sedikit meninjau teori Karl Marx (hehehe)

Saya pernah bertanya pada teman saya mengenai bagaimana dengan rencana berjualannya. Jawabannya sangat membuat saya kaget sekaligus sedih. "Ah, santai aja. Hidup di dunia mah sementara. Kejar mah yang pasti-pasti aja. Kejar akhirat". Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan karl marx. Bahwa ketidakmampuan kita untuk mencapai hal-hal materalistik di dunia membuat kita pasrah dan lebih memilih untuk mengejar kenikmatan di akhirat.Padahal, orang harus percaya terhadap kapasitasnya melalui kerja keras dan bakatnya itulah yang membuat negara bisa menjadi kaya. Indonesia masih kurang dalam hal itu.

Masalah budaya lainnya adalah masyarakat Indonesia senang berada di zona nyaman. Jika di luar negeri orang berlomba-lomba berkompetisi menjadi seorang entrepreneur, di Indonesia orang berlomba-lomba untuk menjadi pegawai negeri sipil. Dengan kinerja birokrasi pemerintahan yang masih sangat buruk dan lambat, menurut saya alokasi anggaran untuk PNS tergolong tidak memiliki nilai produksi yang sesuai dengan modalnya.

3. Geografi

Indonesia adalah negeri kepulauan. Menjadi tantangan tersendiri untuk membangun wilayah-wilayah di seluruh indonesia secara merata. Pendidikan dan karakter seseorang sangat mempengaruhi permasalahan ini. Adanya beberapa masyarakat yang tidak terjangkau oleh kesempatan untuk memperoleh informasi lebih jauh menyebabkan ketidakpahaman seseorang untuk melakukan produksi terhadap potensi daerahnya. 

Indonesia sebagai negara tropis yang tanaman apapun bisa tumbuh sepanjang tahun merupakan kenikmatan sekaligus kutukan. Sejak awal, nenek moyang kita menanam apapun sepanjang tahun tetap akan tumbuh. Maka inovasi teknologi di Indonesia cenderung lambat. Di Eropa, orang menemukan pupuk dan cara-cara unik bercocok tanam lainnya adalah atas dasar untuk cadangan makanan semasa musim dingin dimana tidak ada tumbuhan yang bisa hidup di musim itu.

Answered Apr 9, 2017
Isumi
Antusias tentang Sayembara Selasar dan memilih MacBook Pro

63OzUrsFRr5nIKxq-zhh9tcyiPUYjiUu.jpg

Gambar via http://cdn2.tstatic.net/tribunnews/foto/bank/images/Serikat-Rakyat-Miskin.jpg

Saya juga ingin berteriak bahwa penyebab kemiskinan di negara ini karena ulah para koruptor yang memainkan peran jabatannya di posisi yang sangat strategis. Tapi, setelah membaca sebuah buku dari seri buku Tata Kelola Kekayaan Negara, saya mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam. Ternyata tak hanya kesalahan dari penegakan hukum yang belum berlaku seadil-adilnya kepada pelaku korupsi. Namun, akar dari permasalahan ini adalah kesalahan dalam mengelola sumber daya negara.

1.  Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah dikuras habis-habisan tetapi rakyat jelata “kelaparan”.

Misalnya gas alam cair alias Liquified Natural Gas (LNG) di Kota Bontang yang terikat kontrak dengan Jepang sejak tahun 1973. Juga, sumber daya energi lainnya yang dikuasai pihak asing seperti minyak bumi, panas bumi, batu bara, dan uranium. Selain itu, sumber daya mineral seperti emas, timah, dan tembaga di Papua. Dan tidak bisa dipungkiri kekayaan alam lainnya seperti hutan, laut, produk hasil tumbuh-tumbuhan, dan tanah di pulau-pulau juga tidak dikelola dengan seadil-adilnya untuk kemakmuran rakyat. Padahal secara tegas pemanfaatan SDA telah diatur dalam Pasal 33 UUD 1945.

Mzz-D6SZJWMUZo0hBXwbWjkkQmLiN3TF.jpg

Gambar via https://infoindonesia.files.wordpress.com/2009/06/migasindonesia.png

Oleh karena itu, pemerintah perlu segera mereformasi total tata kelola kekayaan negara secara menyeluruh dan sistemik. Mulai dari reformasi dan penataan regulasi oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), juga reformasi lembaga pengelola sampai dengan pemanfaatan pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk pengelolaan kekayaan negara.

2.  Jumlah penduduk yang besar tetapi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) masih rendah

Selain faktor SDA yang marak dieksploitasi, tingkat kesenjangan semakin melebar di era otonomi daerah. Hal ini bisa diamati berdasarkan Indeks Rasio Gini. Dan, jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia, maka Indonesia berada di posisi pertama runner-up yang memiliki tingkat kesenjangan yang tinggi dengan jumlah penduduk yang membengkak.

Ux6ZCymEkl2K4CvaHIpHk7TNMlNZRYXT.jpg

Gambar via http://www.indonesia-investments.com

Di era globalisasi ini persaingan kerja semakin ketat, tetapi penduduk Indonesia masih belum mendapatkan pendidikan yang merata dan berkualitas. Banyaknya pengangguran berkaitan juga dengan masalah kesehatan yang dialami rakyat jelata. Selain itu, pekerja di Indonesia masih dihargai sangat rendah.

z3V6FrJUmQhp9Ho3Lb4qzfPLwD-YYeEn.jpg

Gambar via https://kumparan.com/rina-nurjanah/infografis-jurang-si-kaya-dan-si-miskin-makin-lebar

Ironisnya, para pendidik yang sangat berjasa dan memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas manusia di negara ini masih dipandang sebelah mata. Karena faktanya banyak guru kontrak maupun honorer yang tidak mendapatkan hak yang sama sebagai tenaga kerja. Disamping hanya mendapatkan upah yang minim, juga masih banyak guru yang tidak mendapatkan jaminan kesehatan maupun ketenagakerjaan (JHT). Guru di Indonesia terpaksa harus menjerit, menggugat, dan turun ke jalan untuk memperjuangkan hak dan nasibnya. Mulailah dengan merevolusi paradigma semua pihak agar lebih menghargai jasa para guru, memberikan hak untuk kehidupan yang layak, dan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya agar semua guru bisa meningkatkan kompetensinya.

C0eHpAglLP6j607Ve6MJ69eTfq2o7t4D.jpg

Gambar via liputan6.com

Pengalaman saya sebagai guru di Sekolah Menengah Kejuruan, pemerintah memang mulai gencar memberikan kesempatan kepada para guru dengan memberikan pelatihan, dan menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri. Demikian halnya di seluruh Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta yang juga perlu menyesuaikan kurikulumnya agar lulusan siap kerja dan berdaya saing global. Selain itu, perlu adanya rencana strategis membenahi kualitas pendidikan agar setara dengan negara lain seperti Finlandia dan Jepang, juga tentunya perlu didukung dengan fasilitas yang memadai dan merata.

3.  Sumber Daya Modal dan Kewirausahaan yang masih perlu dibenahi

Salah satu faktor lain yang menyebabkan negara ini miskin adalah pemerintah melegalkan UU yang pro kepada pihak asing, yaitu UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (yang menggantikan UU PMA dan UU PMDN). Hal ini berdasarkan kajian oleh Syamsul Hadi, dkk dalam buku “Kudeta Putih, Reformasi dan Pelembagaan Kepentingan Asing dalam Ekonomi Indonesia”.

Indonesia pun semakin miskin di mata dunia karena memiliki Utang Luar Negeri (ULN) yang terus meroket. Per Januari 2017, ULN Indonesia tercatat sebesar USD 320,28 miliar atau setara dengan Rp 4.274 triliun (dilansir oleh merdeka.com).

Dalam bidang kewirausahaan, pemerintah memang sudah mendukung gerakan nasional 1000 startup digital yang akan menjadi solusi dalam mengentaskan kemiskinan di masyarakat. Tetapi usaha ini hanya akan menjadi mimpi jika tidak didukung dengan bantuan modal yang pro kepada ekonomi kerakyatan. Pemerintah perlu totalitas mendukung UMKM, juga dengan bantuan redistribusi aset dan reforma agraria untuk kesejahteraan rakyat.

 

#SayembaraSELASAR (Saya pilih MacBookPro)

Sumber referensi dari seri buku Tata Kelola Kekayaan Negara:

Siregar, Doli. 2016. Kekayaan Negara, Siapa Punya, Siapa Kuasa. Sinergi Manajemen Aset & YPII.

Answered May 3, 2017
Ray Rahendra
digital strategist, writer, Juventus, marketeer

liN0Gb_JNowX2hpJVTWBbYzxIQ40gFsT.png

Maaf kalo saya gak setuju dengan judul pertanyaannya.

Indonesia bukanlah sebuah negara miskin, setidaknya itu menurut saya. Kenapa? Karena saya masih menemukan banyak, sekali lagi, banyak banget orang-orang, dari kelas ekonomi apapun (terutama lower class, since kita ngomongin soal Indonesia negara miskin) yang rela menghabiskan gaji, uang, dan tabungan dengan berbelanja ke mal dan mempraktikkan gaya hidup yang entah dan embuh, padahal hidupnya susah. Coba deh main-main ke kota-kota di Pulau Jawa, semisal Madiun, Solo, Boyolali, dan lainnya. Jika dalam sebuah keluarga ada 5 orang, bisa dipastikan masing-masing memiliki sepeda motor sendiri. Dan saya sendiri bingung mereka bayar cicilannya dari mana, karena kesehariannya tipe keluarga ini pekerjaannya kalo gak jadi buruh tani, atau memiliki suami/istri/anak yang bekerja di luar negeri.

Kalo bukan kaya, rasanya tidak akan mungkin se-pede itu toh untuk ambil kendaraan sebanyak-banyaknya?

Jangan lupakan kelas menengah di kota-kota besar dengan Latte Factor mereka. Apa itu Latte Factor? Pengeluaran-pengeluaran kecil semacem kopi cafe yang dibeli tiap hari dan pengeluaran-pengeluaran kecil lainnya. Kelihatannya kecil, tapi jika dihitung, besar juga efeknya.

Nah, para kelas menengah yang akrab dengan Latte Factor ini pun tidak bisa dibilang miskin. Toh mereka bisa dan mampu membeli segelas kopi seharga Rp. 20.000 (untuk kopi rumahan semacem T*K*) atau seharga Rp. 50.000 untuk kopi dengan logo mermaid berwarna hijau. Dan itu dilakukan hampir tiap hari. Belum lagi ditambah dengan pengeluaran harian lainnya, yang sebenarnya, gak perlu-perlu amat. Tapi ya dibeli.

Dan lagi, saya sih gak yakin mereka miskin, toh buktinya bisa mengeluarkan minimal Rp600.000 tiap bulan untuk pengeluaran yang harusnya bisa dipotong hingga Rp60.000 (kopi sachet Rp2.000 kan?)

Itu baru ngomongin soal penduduknya ya, belum sampai ke pemerintahan daerah, pemerintahan pusat, infrastruktur, income negara, dll. Dan gak bakal saya bahas juga wong ke lingkup kecil seperti penduduk saja sebenarnya kelihatan kalo kita mampu kok, mengapakah senang menyebut diri menjadi miskin? :D

 

sumber gambar: erepublik.com

Answered May 3, 2017

Karena di Indonesia masih kental dengan budaya "pekewuh" (sungkan). Jadi, penindakan terhadap pelanggaran undang² tidak efektif. Misalnya koruptor pun masih dipanggil "beliau", kesempatan kerja masih kkn, termasuk untuk memperoleh pendidikan. Dan yang paling mengerikan, perilaku kkn tersebut sudah dianggap biasa.

Answered May 24, 2017

Menurut saya, Indonesia bukanlah miskin. Akan tetapi, pemerintah Indonesia belum terlalu memperhatikan daerah-daerah terpelosok di negeri ini. Dan seharusnya Indonesia yang kaya akan sumberdaya alamnya tidak perlu mengimpor ikan atau barang-barang dari luar. Saya yakin, masyarakat Indonesia bisa membuat produk asli Indonesia secara lebih baik dari luar negeri.

 

Tiara Latifa_Fakultas Vokasi Komunikasi_Azhiga14

Answered Aug 3, 2017
Dewa Ayu Fitriyanti
Mahasiswa fakultas psikologi

Karena di negara kita Indonesia terlalu banyak sekali orang yang melakukan hal haram seperti KORUPSI. Seharusnya dana yang di salurkan ke masyarakat bisa mencukupi  dan membantu keluarga kurang mampu , tetapi karena banyak oknum oknum yang tidak baik , jadi dana yang harusnya langsung di salurkan itu di makan atau di korup sedikit demi sedikit oleh oknum oknum yang tidak bertanggung jawab. 

Dewa Ayu Fitriyanti _ 1706980204 _ Wikramawa

Answered Aug 8, 2017
Gregorius Bramantio
Anagata FHUI 2017

Kesejahteraan sosial belum dapat terwujud sepenuhnya karena maraknya budaya konsumerisme, masih adanya praktik KKN, dan anggaran negara yang sering defisit

 

Gregorius Bramantio_1706047555_FH_Wijayarasa-04

Answered Aug 8, 2017

Question Overview


13 Followers
1982 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Bagaimana implementasi growth hacking atau akuisisi user baru yang paling efektif untuk sebuah produk media digital?

Bagaimana pendapat Anda terkait pernikahan beda agama?

Perubahan seperti apa yang Anda inginkan di Indonesia?

Mengapa teleskop tidak bisa melihat lebih jauh dari 13,8 miliar tahun cahaya?

Apa sebab munculnya ekstremisme di dunia ini?

Mengapa langit berwarna biru?

Bagaimana nasib perempuan-perempuan Jerman setelah Nazi kalah dalam Perang Dunia II?

Bagaimana cara Nazi mengenali orang Yahudi pada Perang Dunia II?

Apa yang bisa Indonesia lakukan untuk meningkatkan kejayaan industri filmnya?

Adakah keterlibatan Indonesia pada Perang Dunia II?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Hal-hal apa sajakah yang harus dipenuhi agar Indonesia menjadi pemimpin budaya populer dunia?

Foto apa saja yang bisa mengubah cara pandang kita tentang Indonesia?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Masakan/makanan Indonesia apa yang menurut Anda paling mungkin go international?

Mengapa bangsa Indonesia dapat sebegitu lamanya dijajah oleh Belanda?

Makanan/masakan Indonesia apa yang paling memiliki nilai sejarah tinggi?

Apa yang membuat beberapa suku di Indonesia masih tetap bertahan dengan gaya hidup tradisionalnya, misalnya Suku Badui?

Kenapa Indonesia belum juga maju sementara Korea Selatan yang dulu lebih miskin dari kita justru maju sekali saat ini?

Bagaimana cara Jerman membangun kembali ekonominya setelah Perang Dunia II?

Apakah kunci sukses pertumbuhan dan pemerataan ekonomi pada puncak bonus demografi di Indonesia (2025-2035)?

Apakah penggunaan alat ukur Gross Domestic Product (GDP) masih relevan untuk menghitung tingkat kesejahteraan sebuah negara?

Mengapa perhitungan Gross National Product (GNP) jarang digunakan sebagai alat ukur kinerja ekonomi?

Apa yang Anda ketahui tentang Green GDP?

Apakah inflasi selalu berdampak buruk untuk perekonomian?

Apakah konsekuensi deflasi terhadap kinerja perekonomian sebuah negara?

Ketika terjadi apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar, langkah taktis apa yang seharusnya dilakukan untuk meningkatkan kerja perekonomian?

Apakah depresiasi nilai tukar selalu memiliki dampak negatif untuk perekonomian?