selasar-loader

Mengapa Kementerian Kelautan dan Perikanan melarang cantrang digunakan sebagai alat penangkap ikan?

Last Updated Apr 6, 2017

1 answer

Sort by Date | Votes
Fikrang
Mahasiswa Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (Bagian alat Penangkapan ikan), UNHAS

Sebelum itu, kita harus melihat bahwa asal mula dari alat cantrang ini adalah pengembangan dari alat tangkap trawl. Alat tangkap trawl sejak tahun 1980 telah dilarang penggunaannya melalui Keputusan Presiden Nomor 39 Tahun 1980. Pada tahun ini juga terjadi konflik akibat penghapusan penggunaan trawl ini. Seiring berjalannya waktu, maka nelayan mengembangkan sebuah alat tangkap baru yang bernama cantrang.

Perbedaan mendasar antara cantrang dan trawl adalah konstruksinya. Pada alat tangkap trawl, ada yang disebut sebagai otter boards, bagian ini berada di bagian depan jaring yang berfungsi untuk membuka mulut jaring. Jadi, semakin cepat kapal penarik trawl, maka semakin sempurna bukaan mulut jaring tersebut. Sedangkan pada alat tangkap cantrang menggunakan palang rentang (beam) yang fungsinya sama dengan otter board. Jadi, sampai tahun 2015 yang berkembang di masyarakat adalah modifikasi dari trawl itu sendiri.

Pada tahun 2015, Menteri Kelautan dan Perikanan RI mengeluarkan sebuah aturan yang tuangkan dalam PERATURAN  MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA  NOMOR 2/PERMEN-KP/2015, tentang LARANGAN PENGGUNAAN ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT HELA (TRAWLS)  DAN PUKAT TARIK (SEINE NETS) DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN  NEGARA REPUBLIK INDONESIA.

Melalui peraturan menteri ini, maka segala jenis alat tangkap yang prinsip pengoperasiannya yaitu dengan cara ditarik. Jadi, dalam peraturan ini tidak hanya melarang cantrang tetapi juga melarang alat tangkap lain yang ditarik seperti dogol, payang, lampara dasar, pair saines, dll.

Penggunaan alat tangkap cantrang dapat memberikan dampak negatif bagi lingkungan perairan. Pertama, merusak habitat laut karena dalam pengoperasiannya yang mengeruk dasar perairan tanpa terkecuali, termasuk terumbu karang dan lokasi pemijahan biota laut. Kedua, menghentikan regenerasi biota laut karena mata jaring yang digunakan dalam alat tangkap ini sangat rapat sehingga berbagai jenis biota anakan belum matang gonad dapat tertangkap. 

Hasil kajian WWF-Indonesia menyebutkan bahwa hanya sekitar 18-40% hasil tangkapan trawl dan cantrang yang bernilai ekonomis dan dapat dikonsumsi, 60-82% adalah tangkapan sampingan (bycatch) atau tidak dimanfaatkan (discard), sehingga sebagian besar hasil tangkapan tersebut dibuang ke laut dalam keadaan mati.

Hasil lain dari survei pada nelayan jaring di takalar, November 2013, menyebutkan bahwa penggunaan cantrang akan merugikan nelayan secara langsung maupun tidak langsung. Nelayan kecil yang menggunakan pancing maupun jaring insang tidak dapat melakukan penangkapan selama 2--3 di daerah yang telah disapu oleh alat tangkap cantrang tersebut.

Data statistik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), menyebut jumlah alat tangkap trawl dan cantrang sekitar 91.931 unit pada tahun 2011. Kemudian, nelayan kecil tanpa perahu, perahu tanpa mesin, dan perahu mesin tempel berjumlah 396.724 nelayan, yang beroperasi di jalur 0-12 mil sama dengan wilayah penangkapan trawl dan cantrang. Jika dihitung dengan anggota keluarga nelayan kecil ini seperti asumsi KNTI, maka ada sekitar 2 juta keluarga nelayan kecil di seluruh Indonesia merasakan dampak kerugian tersebut.

 

Sumber foto: berita.suaramerdeka.com 

Answered Aug 1, 2017