selasar-loader

Bagaimana pendapat Anda terkait pernikahan beda agama?

Last Updated Apr 5, 2017

18 answers

Sort by Date | Votes
Saverinus Suhardin
Ners, Pembaca, Penulis, Pengajar

kykcs47xtwjwEU6f_19LwZGyjFGKaGid.jpg

Bukan bermaksud membuka aib orang dalam tulisan ini, tapi kejadiannya sering kali terdengar. Kisah seperti ini, pernah saya dengar langsung dari pelaku, dan paling banyak mendengar cerita dari orang ketiga, keempat, dan seterusnya.

Seorang teman kuliah dulu, tiba-tiba dikabarkan telah menghamili anak orang, meski belum menikah secara resmi. Sebagai teman, kami tidak begitu mempermasalahkan asal segera diurus sehingga hubungan itu segera dilegalkan lewat acara adat atau pun prosesi keagamaan. Jadi, secara umum orang memaklumi hamil sebelum nikah pada situasi tertentu, asalkan tetap bertanggung jawab.

Lama berselang, belum ada kabar juga kapan kawan tadi menikah. Setelah dicek, ternyata dia tidak jadi menikah. Saya dan teman-teman lain tentu saja penasaran, apa yang menyebabkan mereka tidak jadi menikah? Kalau tidak menikah, bagaimana janin yang masih dalam kandungan? Bagaimana nasib anak tersebut nanti jika tanpa bimbingan dan kasih sayang orangtuanya? Apakah si cewek atau cowok mudah mendapatkan pasangan baru bila memiliki masa lalu seperti itu? 

Saya mendapat jawaban dari teman yang tahu lebih dahulu, tapi belum begitu yakin. Jangan sampai teman-teman itu hanya fitnah. Begitu bertemu dengan orang pertama, teman kuliah saya tadi yang kebetulan sesama cowok sehingga tidak segan menanykan hal-hal sensitif sekalipun.

Ternyata jawabannya, sama seperti yang dikabarkan oleh teman-teman lainnya. Dia tidak jadi menikah lantaran beda agama. Keluarga dari kedua belah pihak sama-sama ngotot. Pihak laki-laki menginginkan calon istri berpindah agama sesuai agama calon suaminya. Begitu pun sebaliknya, pihak perempuan juga ingin agar calon suami yang mengikuti agama calon istri. Keduanya juga tidak mau ditawarkan untuk nikah campur, artinya antara suami dan istri tetap pada agama atau keyakinan masing-masing.

Perbedaan pendapat yang tidak ada ujung pangkalnya itulah yang menjadi pemantik sebuah perpisahan. Mereka rela berpisah hanya karena gara-gara perbedaan agama. 

Okelah, kita hargai mereka sangat memegang teguh pada keyakinan atau agama masing-masing. Tapi, bagaimana dengan nasib anak dalam kandungan nantinya? Adakah agama yang mengajarakan atau memperboleh umatnya untuk terlantarkan anak sendiri? Adakah agama yang mengajarkan untuk tidak bertanggung jawab dengan apa yang telah kita perbuat? Apa fungsi agama itu sendiri?

Jika hal itu terjadi pada saya, dapat dipastikan lebih memilihkan keutuhan sebuah hubungan kebutuhan. Soal agama, dapat disesuaikan secara perlahan. Toh tidak ada pula ajaran agama resmi yang menyesatkan. Semua mengajarkan tentang cinta kasih, saling membantu, saling menghargai satu sama lain.

Atau pilihan yang win-win solution adalah nikah campur, dimana kedua pasang kekasih tersebut masih teguh dengan agama atau keyakinan masing-masing. Jika kedua sama-sama mau secara sadar, saya yakin akan aman-aman saja. Banyak pasangan yang telah membuktikan, kalau pernikahan beda agama bisa bertahan lama, hingga akhir hayat.

Agama itu soal keyakinan. Sepasang suami istri yang beragama sama pun, tetap memiliki keyakinan yang berbeda pada hal-hal tertentu. Misalnya, ada istri yang meyakini kalau penghasilan itu sebaiknya didapatkan dengan menjadi karyawan. Berbeda dengan keyakinan suaminya, bahwa penghasilan terbaik itu bersumber dari kegiatan berwirausaha. Meski keyakinan mereka berbeda soal sumber keyakinan, bukan menjadi alasan untuk tidak hidup bersama. Jadi, perbedaan keyakinan atau pandangan antara suami dan istri adalah lumrah terjadi. Asalkan pandai-pandai mengelolanya agar tidak menimbulkan konflik yang dstruktif.

Intinya, saya setuju dengan pernikahan beda agama. Asalkan tidak ada pemaksaan kehendak oleh siapapun. Apalagi dalam kondisi seperti yang dialami teman kuliah saya pada cerita di atas, jangankan nikah beda agama, pindah agama juga saya sepakat, demi anak hasil hubungan cinta keduanya.

Kalau memang kita begitu fanatik dengan agama, maka sadarlah dari awal. Saat orang mengatakan cinta, tunda dulu jawabannya. Tanyakan lebih dahulu apa agamanya. Silakan putuskan sesuai keyakinan atau nilai-nilai yang diyakini atau dianut. Jangan sampai kita berhubungan lebih lanjut hingga sangat intim, lalu tiba-tiba batal hanya karena agama. Berpikir dulu sebelum bertindak.

Answered Apr 8, 2017
Syaifuddin Sayuti
Happy Holiday...

Hasil gambar untuk pernikahan beda agama

Sumber gambar via http://3.bp.blogspot.com/ (SUM)

Sejauh yang saya pahami, pernikahan beda agama hanya akan membawa ke dalam permasalahan besar dalam rumah tangga karena agama merupakan pondasi dari sebuah kehidupan. Bagaimana bila pondasinya berbeda? Akan terjadi persoalan yang tidak akan pernah selesai sepanjang hidup.

Mulai dari persoalan ibadah. Meskipun ibadah adalah persoalan personal seseorang dengan Tuhannya, namun suami dalam ajaran agama saya memiliki kewajiban membawa istrinya menuju surga. Beribadah bersama adalah salah satu jalannya.

Betapa indahnya jika pernikahan itu berlangsung dalam satu agama. Tak ada perbedaan cara beribadah dalam satu rumah. Pendidikan agama bagi anak pun lebih terfokus. Anak mudah mendapatkan sosok panutan dari kedua orang tuanya.

Menikah beda agama juga memberi kemungkinan munculnya friksi besar dalam banyak hal. Karenanya, jika masih ada jodoh seiman lebih baik menikah dengan pasangan seiman.

Answered Apr 8, 2017
Roisiyatin Roisiyatin
Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan

af5DDMN4hvG0VsIaCL60KoJ42UtJPUDs.jpg

via blogspot.com (FR)

Perbedaan selalu bisa ditengahi, tetapi ada hal hal yang jika ditengahi justru akan meruncingkan perbedaan, salah satunya perbedaan agama yang ditengahi dengan menikah. Toleransi itu sangat perlu, menghargai itu kewajiban, tetapi dalam perkara yang menjadi wilayah Tuhan, manusia tidak ada wewenang memaksakan "iya" sebagai jawaban.

Answered Apr 10, 2017
Alanda Syarif
Tertarik akan semua hal, supaya otak gak beku :)

mXdjmxSFaNld9H8a5sriEX7eC1vHHkrM.jpg

via icrp-online.com (FR)

Pernikahan beda agama lebih banyak tidak bagusnya dari pada bagusnya. Mungkin alasan sudah jodoh atau cinta sering jadi jawaban andalan, tapi sebelumnya apa gak pernah jatuh cinta sama yang satu agama ?. Tentu ada seribu alasan lain tentang pernikahan beda agama. Bagi saya sederhana dengan kembali bertanya kenapa ada keraguan untuk melaksanakannya dan kenapa mayoritas orang menikah seagama ? Karena memang begitu seharusnya sesuai dengan ajaran agama (dalam hal ini islam). Kalau masih ada pertanyaan lagi. Silahkan jawab saja sendiri, karena kalau ajaran agama dari yang maha kuasa saja dilanggar apalagi saran manusia :)

Answered Apr 11, 2017
Venusgazer E P
A man who loves reading, writing, and sharing

isfnMMp69B7AxRhOevUXOzug5sYwQSGt.jpg

theamericanconservative.com (FR)

Saya termasuk konservatif dalam pandangan mengenai pernikahan yang berkaitan dengan agama. Dimana saya meyakini bahwa pernikahan akan jauh lebih baik jika seagama.

Agama dan iman harus menjadi dasar ketika pasangan mulai membina rumah tangga. Dalam agama yang saya anut, Katolik, keluarga merupakan Gereja kecil. Dalam keluarga kebiasaan-kebiasaan religius harus menjadi tradisi tak terpisahkan dalam hidup berumah tangga. Misalnya berdoa bersama atau ke gereja bersama.

Ketika saling mengucapkan sumpah setia pun ada poin di mana nantinya anak-anak harus dididik secara iman Katolik. Nah bagaimana jika berbeda agama? Jelas ini nantinya akan menimbulkan persoalan tersendiri yang rumit. Perbedaan agama, misalnya Katolik dan Protestan pun akan menimbulkan persoalan karena secara prinsipil pun ada perbedaan.

Pernikahan satu agama memang tidak menjamin akan langgeng, tetapi setidaknya sudah menghindari satu masalah yang bisa menimbulkan masalah yang cukup serius di kemudian hari. Menikah tidak cuma dilandasi oleh cinta tetapi juga resionalitas.

Coba bayangkan ketika malam berdoa bersama menjelang tidur dengan anak-anak. Atau sholat berjamaah dengan seluruh anggota keluarga tentu akan indah dan mendamaikan. Hal-hal seperti itu adalah energi positif yang membuat sebuah keluarga bahagia.

Karena pernikahan adalah hal yang serius dan bukan sebuah trial and error, maka sudah sepantasnya berjuang mencari pendamping yang satu agama.

 

Answered Apr 12, 2017
Hari Nugroho
Medical Doctor with Addiction Medicine training

2aCx3EyZ_aN7EmU-e4-QcSitbvlnqIs2.jpg

via icrp-online.com (FR)

Nikah beda agama sering menjadi topik hangat dalam berbagai pembicaraan, ada yang mengkajinya secara ilmiah, ada pula yang mengkaji secara heboh dan 'viral' alias jadi gosip, apalagi jika yang menikah beda agama adalah artis.

Banyak yang menganjurkan jangan menikah beda agama, karena seringkali menimbulkan permasalahan, baik konflik keluarga besar maupun konflik pasangan itu sendiri, juga yang tidak boleh dilupakan adalah konflik yang dialami anak, minimal konflik batin mengenai agama mana yang ingin di anut, ikut bapak atau ikut ibu.

Sebagai orang yang lahir dari pernikahan beda agama, saya turut merasakan hal tersebut. Sedari kecil perbedaan agama kedua orang tua menjadi bahan olok-olok dalam kehidupan sosial saya, tentu hal ini sangat tidak nyaman. Yang kedua adalah tradisi keagamaan yang tidak sama di dalam keluarga, membuat bingung, kedua orang tua saling mencoba menanamkan pengaruh, supaya ikut agama masing-masing, di buku raport atau identitas siswa saja saling bertolak belakang, waktu masuk tk, ditulis agama saya kristen, dan ketika sd ditulis islam. Yang ketiga ada perasaan sedih, ketika merayakan hari besar keagamaan, tentu karena tak bisa seperti orang lain yang seluruh nuclear family nya bisa saling bergembira atau pergi bersama melakukan ibadah.

Namun demikian, ada juga hikmah yang saya rasakan, setidaknya adalah ketika saya memilih agama islam untuk dianut, saya memilih dengan kesadaran pribadi, dan berusaha belajar sedalam mungkin untuk memahami agama yang saya pilih. Tak ada yang sia-sia ketika yang maha kuasa memilihkan skenario hidup untuk kita.

Meskipun demikian, saya tetap menganjurkan untuk menikah seagama, supaya kehidupan rumah tangga, setidaknya untuk anak-anaknya kelak dapat berlangsung dengan nyaman dan bahagia.

 

 

Answered Apr 12, 2017
Gina Namira
Knows a little.

WLc5FaCQ0aMqD9tVxHCcvWftOGFDlVNM.jpg

via hidayatullah.com (FR)

Sebelum menulis panjang lebar, harap diingat bahwa yang akan saya sampaikan adalah pendapat saya, yang muncul karena pengalaman dan apa yang saya yakini. 

Silakan dibaca, silakan memberikan pendapat (kalau mau), tapi tidak usah debat kusir. Keyakinan itu abstrak, dari hati. Jadi daripada berantem, lebih baik berteman saja. 

Orang tua saya menikah beda agama. Ayah Islam dan sedang bersiap naik haji tahun ini, Ibu Katholik, baru saja pulang perjalanan rohani ke Jerusalem. Kakak pertama Katholik dan menikah dengan Muslim. Kakak kedua Katholik dan menikah dengan Katholik. Saya................. ya doakan saja semoga cepat dilamar :p

Pernikahan beda agama sama indahnya dengan pernikahan 1 agama. Malah terkadang saya merasa lebih beruntung berasal dari keluarga yang berbeda agama (dan suku). Saya merasa beruntung karena saya jadi belajar untuk melihat segala sesuatu dari point of view yang lebih banyak. Saya juga jadi belajar untuk menghargai. Eh bukan. Menghargai menjadi sesuatu yang default dalam diri saya, tidak perlu dipaksakan, tidak perlu dipikirkan. Kalau ada yang berbeda, ya udah ga apa-apa. Apa salahnya?

Menurut saya, agama adalah way of life. Manusia menggunakan agama sebagai guidance. Kalau memang berbeda ya sudah, toh semua agama mengajarkan kebaikan dan cinta kasih. Kalau berbeda, tinggal bagaimana pasangan berkompromi mengenai segala hal, dari mulai pendidikan anak, tata cara berdoa di rumah, waktu hari raya pulang ke mana, dan lain-lain. Pada dasarnya, sama saja sih seperti pasangan yang agamanya sama. 

Apapun keyakinan pasangan saya nanti, saya tidak terlalu mempermasalahkan. Ya asal bukan satanis saja sih, soalnya serem

Asalkan pasangan menghargai orang lain, rendah hati, dan punya value yang sama dengan saya, saya akan terima lamarannya (kalau sudah kenal dan cocok ya, ga ngasal terima juga). Yang penting, dia menghargai apa yang saya yakini dan tidak berusaha mati-matian untuk mengubah saya. Karena saya pun akan menghargai dia, tanpa berusaha untuk menyamakan keyakinannya dengan saya. 

Lalu anak-anak nanti bagaimana? Berhubung di Indonesia wajib untuk mengikuti pelajaran agama, anak saya akan mempelajari satu agama di sekolah. Saya dan pasangan akan mendukung penuh dan tentunya menemani anak ibadah. Tapi jalan untuk mencari tahu mengenai keyakinan lain akan saya buka lebar-lebar. Lalu nanti terserah anak akan memilih keyakinan seperti apa. Yang penting, hargai dan berbuatbaiklah untuk sesama. 

Untuk pertanyaan "Lebih cinta Tuhan atau cinta umatnya?", saya rasa Tuhan tidak akan seiseng itu untuk membuat kita jatuh cinta dengan sembarang orang, terlebih kalau Dia memang melarang, kalau itu memang berdosa. Walaupun ada jutaan orang dengan keyakinan yang sama dengan kita, kalau memang tidak cocok ya mau apa. Kalau cocoknya dengan si yang-cara-berdoanya-beda itu ya mau apa. 

Kunci dari pernikahan beda agama adalah compromise - komunikasi dan rasa menghargai terhadap pasangan. Yaa, sebenarnya semua hubungan kuncinya sama sih.

Saya pro pernikahan beda agama, yang penting kedua belah pihak saling menghargai dan sudah saling bicara mengenai perbedaan dan hal apa saja yang mungkin muncul di kemudian hari. 

Answered Apr 13, 2017

f-_fdx3rLIvTR_HAYEHv3fgdC2ZFlGBg.jpg

Pernikahan Beda Agama via BBC (AM).

Pada dasarnya, manusia itu berlainan satu sama lain. Kalau pun ada dua orang yang berlainan suku, ras, agama, mau menikah beda agama, asalkan sama sama cinta, ya tidak masalah. Karena peralatan terpenting dalam menikah bukanlah agama melainkan cinta. 

Answered Apr 14, 2017
Isumi
Antusias tentang serba-serbi gaya hidup

jCU52QEAgjB8YZkjaxu4ikZDyTNTJ7wy.jpg

Sumber gambar: http://cdn3.collective-evolution.com/assets/uploads/2015/02/6614538_f260.jpg

Pertanyaan yang menarik karena di keluarga saya ada yang tetap menikah walau beda agama. Tapi, saya tidak setuju pernikahan beda agama atas dasar keyakinan yang tidak akan bisa diubah oleh siapapun di dunia ini.

Berdasarkan Qs. Al Baqarah (2): 221, Allah S.W.T berfirman:

LvkSsbc4JDkPtWigUksa3ebjIzetQz1D.jpg

Gambar via https://quran.com/2/221

Juga berdasarkan Qs. Al Mumtahanah (60): 10, Allah S.W.T berfirman:

twlab4wSSiogHOjuk_wzpump8zG9BjYG.jpg

Gambar via https://quran.com/60/10

Namun, berdasarkan penuturan pakar hukum dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia kepada pihak Hukum Online, Ichtianto berpendapat bahwa aturan UU Perkawinan tidak melarang perkawinan lintas agama, malah telah mengaturnya dalam Bab XIII tentang Perkawinan Campuran Pasal 57 pada gagasan pertama yaitu 'perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan’. Ichtianto juga memandang ketentuan Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan sebagai ketentuan yang mengakui adanya pluralitas hukum perkawinan menurut agama-agama yang ada di Indonesia. Sesuai dengan pasal tersebut, di Indonesia ada pluralitas hukum perkawinan menurut hukum agama Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan bahkan Kong Hu Cu. Menurutnya, hal tersebut tidak dipahami oleh pejabat Kantor Catatan Sipil, sehingga mereka menolak perkawinan semacam itu.

Meskipun demikian, saya tetap menjaga toleransi dengan orang lain yang berbeda pendapat karena ini adalah bagian dari prinsip dan pilihan hidup. Saya memilih untuk taat pada aturan-Nya karena sebagai muslimah dengan keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

 

#SayembaraSELASAR (Saya pilih MacBookPro)

Answered Apr 27, 2017
Nauval El-Hessan
Humble servant of God

Sumber gambar: barb3ta.files.wordpress.com/2015/10/011015-nikah-beda-agama-mengapa-dilarang-dalam-islam.jpg?w=640

Pertanyaan menarik, tapi sebenarnya klasik. Meskipun klasik, harus saya akui bahwa pertanyaan semacam ini akan terus dipertanyakan selama manusia eksis di dunia ini dan pemahaman mereka atas dalil-dalil agama terus berkembang. Sebelum saya menjawab secara rinci pendapat saya, saya menekankan bahwa saya cenderung melarang atau tidak setuju dengan pernikahan beda agama. Melarang, bukan berarti mengharamkan karena tidak setiap yang dilarang adalah haram, bisa saja makruh. Tentu saja, ketidaksetujuan saya ini juga berdasar pada Qur'an, namun sekali lagi, saya tidak menganggap bahwa itu DIHARAMKAN oleh Qur'an.

Saya tahu, terdapat dua ayat dalam Qur'an yang melarang pernikahan berbeda agama. Pertama, Al-Baqarah (2): 221 dan Al-Mumtahanah (60): 10. Saya akan mengutip lengkap dua ayat tersebut. Pertama, Al-Baqarah (2): 221:

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) hingga mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izinNya. Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya (perintah-perintahNya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”

Kedua, Al-Mumtahanah (60): 10:

Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dua ayat di atas tidak menggunakan kata diharamkan, hanya kata dilarang, baik dalam bahasa Arab maupun dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi, tentu saja yang menarik adalah surah Al-Mumtahanah di atas, digunakan kata "tidak halal". Ini menunjukkan bahwa menikah beda agama adalah haram. Sayangnya, saya mengira banyak orang yang lupa konteks ayat ini turun.

Surah Al-Mumtahanah di atas turun berkaitan dengan Perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian damai antara umat Islam dengan musyrik Makkah yang banyak menilai bahkan 'Umar, sangat merugikan umat Islam. Bagaimana tidak merugikan? Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa bila ada pihak Madinah yang ke Makkah, maka tidak boleh dikembalikan, sedangkan ada pihak Makkah yang ke Madinah, maka pihak Madinah wajib mengembalikan mereka yang kabur dari Makkah ke Madinah. Ini sangat merugikan umat Islam, oleh karena itu, turun ayat kesepuluh Al-Mumtahanah. Dengan demikian, dengan seizin Allah, tafsir yang mungkin benar adalah bahwa pelarangan pernikahan beda agama yang diharamkan adalah pernikahan ketika terjadi perang antara dua pihak.

Misalkan pihak saya yang Islam sedang berperang dengan pihak A yang Kristen. Akan tetapi, saya dan A terikat secara pernikahan. Bila berdasar ayat 10 Al-Mumtahanah, maka saya diharuskan memutuskan hubungan pernikahan tersebut kecuali istri saya dari pihak A mau masuk Islam.

Konteks pembicaraan Al-Baqarah (2): 221 dan Al-Mumtahanah (60): 10 berbeda, walaupun sangat terkait. Akan tetapi, saya tetap bersikeras bahwa kedua ayat tersebut melarang pernikahan beda agama, walaupun tidak dalam tahap haram jaddah atau haram hakiki. Lantas mengapa Islam melarang?
Tentu saja bukan karena perbedaan agama, melainkan karena pertimbangan sosial dan budaya, baik saat itu, maupun yang akan datang.

Perbedaan adalah niscaya, akan tetapi dalam menyikapi perbedaan harus bijak agar tidak memunculkan konflik. Ini bukan berarti saya menutup kemungkinan bahwa menikah beda agama justru menimbulkan suatu keharmonisan. Tidak. Saya hanya menghimbau kepada masyarakat agar introspeksi masyarakat bahkan keluarga mereka sendiri. Ini bukan himbauan saya, melainkan himbauan Qur'an. Qur'an melarang karena Qur'an memperhatikan psikologis setiap individu manusia. Tidak semua manusia legowo dalam menerima perbedaan hingga permasalahan substansial seperti pernikahan. Ini yang harus diperhatikan oleh masyarakat.

Bisa saja saya dan keluarga saya menerima pernikahan beda agama, akan tetapi bisa jadi pihak A tidak (walaupun perempuan A tersebut menerima). Ini pada akhirnya akan berdampak pada anak-anak saya dan A kelak. Bila pihak keluarga A tidak menerima perbedaan, maka ada kemungkinan pihak A akan memaksakan kehendaknya kepada anak-anak saya dan A. Ini justru akan menimbulkan konflik lanjutan. Di satu sisi saya, A dan keluarga saya menjunjung kebebasan, sedangkan pihak A tidak. Bisa juga justru sebaliknya, pihak keluarga saya yang sangat fanatik bahkan memaksa si A agar memeluk Islam dan anak-anak saya dan A kelak harus memeluk Islam. Hal-hal seperti di atas yang kemudian harus diperhatikan bagi mereka yang ingin menikah beda agama.

Qur'an tidak hanya menimbang kondisi psikologi individu keluarga, melainkan juga menimbang stigma masyarakat. Bisa saja ada masyarakat yang masih memiliki budaya memandang pernikahan beda agama adalah hal yang tabu. Tentu saja ini mungkin tidak masalah bagi saya dan A, akan tetapi bagaimana anak-anak saya kelak? Apakah saya sudah siap menanggung anak-anak saya kelak untuk dibully oleh masyarakat? Apakah saya siap menanggung resiko yang sifatnya...(more)

Answered Apr 27, 2017
Andrian Habibi
Hidup dengan menulis karena menulis memberikan kehidupan

Hasil gambar untuk nikah beda agama

Menikah beda agama? Pertanyaan ini menusuk relung hatiku. Apakah bisa? Bagi sebagian mungkin tidak masalah, tetapi bagi diriku, tentu akan sulit dilaksanakan. Namun, dari pandanganku, menikah beda agama tidak masalah karena pernikahan muara dari ikhtiar cinta sepasang kekasih. Cinta terlalu indah untuk dikotak-kotakkan dengan pelbagai syarat yang membelenggu sepasang kekasih.

Sepanjang yang saya ketahui, izin menikahi pasangan beda agama kata ustad apabila laki-laki muslim dan perempuannya non-muslim (agama apa pun) dengan dalil :

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami) mereka mahar yang telah mereka berikan. Dan tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu bayarkan kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta kembali mahar yang telah kamu berikan; dan (jika suaminya tetap kafir) biarkan mereka meminta kembali mahar yang telah mereka bayarkan (kepada mantan istrinya yang telah beriman). Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (QS. 60:10)

Creditshttp://www.satujam.com/hukum-nikah-beda-agama/

Oleh sebab itu, menikah bagi saya mungkin tidak mengenal syarat apa pun sepanjang kedua belah pihak menginginkan pernikahan tersebut. Yang menjadi masalah apabila menikah dengan seagama tetapi dengan paksaan atau keharusan. Masalah ini bisa menimbulkan persoalan daripada menikah beda agama. Namun, ini hanya pandangan yang bagi saya sulit untuk mengamalkannya.

Saya mungkin bisa menikah dengan orang yang berbeda agama (perempuan) dengan syarat dia memeluk agama Islam setelah menikah. Karena menikah bagi saya bukan soal kita saling mencintai saja, tetapi bagaimana kita saling memahami pernikahan juga menyatukan keluarga antara keluarga laki-laki dengan perempuan. Sehingga, pernikahan menjadi alat silaturahmi bagi saya dan pasangan.

Gambar via blogspot.comHasil gambar untuk nikah beda agama

Answered May 13, 2017
Hartathy
penikmat senja & penikmat cintamu

t6jt-JFifn089IgXWRkyhCdzCQ4r83tV.jpg

Tidak pernah terlintas dibenak maupun di pikiran saya tentang menjalin cinta yang serius dalam jangka waktu yang lama ataupun sampai menikah dengan orang yang berbeda agama. Tapi, kini semuanya berbalik 180 derajat. Kenapa? Karena saya berpacaran dengan orang yang berbeda keyakinan dan sudah berjalan hampir 2 tahun. Wow!

Saya sendiri pun tidak menyangka, namun ketika berbicara tetang menikah dengan orang yang berbeda keyakinan dengan saya tentu saja dengan tegas saya katakan TIDAK karena menurut saya itu bukan hal yang baik dan membawa kesedihan berkepanjangan kepada keluarga, khususnya orang tua. Saya mengerti bahwa yang menjalani pernikahan adalah 2 insan manusia, tapi menikah bukan hanya tentang 2 orang tersebut tetapi bagaimana menyatukan 2 keluarga besar dan itu tidak mudah jika harus berbeda keyakinan. Ini bukan hanya dengan alasan keluarga tapi ini juga tentang cinta kepada Yang Maha Esa yang membuat saya tidak menyetujui pernikahan beda agama.

 

sumber agama:barb3ta.wordpress.com

Answered May 14, 2017
Ma Isa Lombu
Selasares Garis Keras

SVQrKIVuOjBDEJNHZFpvqtQfWy0OflHM.jpg

Menurut saya, tidak boleh, meski dengan ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) sekali pun.

Disclaimer: Saya akan jawab sesuai pengetahuan saya tentang persoalan ini dari sudut pandang agama Islam dan pendapat ini bisa jadi salah karena keterbatasan informasi.

Untuk memudahkan pembahasan, saya akan jawab melalui pointers:

a. Nikah adalah ibadah dan sunnah

Dalam ajaran Islam, menikah bukan sekadar sebagai manifestasi kisah cinta dua orang manusia. Menikah/kawin dalam Islam tentu dinilai istimewa. Jika menikah hanya sekadar untuk menunaikan hasrat birahi dan bereproduksi, hewan pun demikian. Lalu, apa istimewanya hal ini dilakukan oleh manusia? 

Dalam ajaran Islam, pernikahan adalah ibadah dan sunah rasul. Perilaku itu memiliki nilai tersendiri yang tidak dapat dipraktikkan secara asal-asalan.

Ibadah di sini maksudnya adalah, apabila kegiatan tersebut dilakukan sesuai syariat dan dimaksudkan untuk menggapai rida Allah SWT, maka kegiatan tersebut akan mendatangkan pahala. Menikah juga merupakan sunah rasul, yang artinya bahwa apabila manusia mengikutinya, maka ia akan mendapatkan peluang mendapatkan pahala dari Tuhan karena mengikuti seseorang yang sangat dimuliakan oleh agama ini.

Pertanyaan kritisnya, mengapa mengikuti perilaku/perkataan (sunah) rasul itu memiliki konsekuensi terhadap diraihnya pahala? Karena Rasul bertindak dan berbicara atas arahan Tuhan:

Dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. Al-Najm [53]:3-4)

Karena alasan inilah akhirnya dapat dimengerti korelasi antara mengerjakan amalan sunah dan pahala karena apa yang dilakukan/ucapkan Muhammad adalah sesuatu yang diwahyukan Tuhan padanya. 

b. By default, manusia berpasangan 

Meskipun menikah adalah sunnah, sampai detik ini saya percaya bahwa hanya dengan menikah manusia dapat sampai titik paripurnanya. Titik optimumnya. 

“Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21].

Mawadah (cinta) dan rahmah (sayang) yang menciptakan sakinah (kedamaian, tenang, tentram, dan aman) inilah yang akhirnya akan membawa manusia titik optimumnya. Tanpa galau. Tanpa fluktuasi semangat dan keimanan yang berlalut.

Untuk itulah, secara rasional, dalam pandangan Islam, menikah itu penting adanya.

c. Perbedaan pendapat menikah beda agama dalam Islam

Bagaimana Islam mengatur pernikahan? Ada beberapa syarat dan mekanisme yang harus dilalui dalam pernikahan ala Islam. Namun, dalam konteks ini saya hanya akan membahas apakah pernikahan berbeda agama boleh atau tidak.

Nikah berbeda agama pada dasarnya tidak boleh, kecuali dengan ahlul kitab. Pendapat yang menyatakan demikian tentu bukan tanpa dalil. Dalil yang biasa dipakai adalah:

وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ ۖ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ

“Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu” [Al-Maidah/5: 5]

Lalu, siapakah ahlul kitab?

Ahlul kitab adalah orang-orang yang telah diberikan kitab (Yahudi dan Nasrani).

وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ

“Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab.” [QS. Ali Imron: 20]

Asumsinya jika orang yang diberikan kitab (Taurat dan Injil) adalah orang-orang yang masih berada dalam jalan yang lurus dan berserah diri kepada Tuhan atas doktrin monoteisme dari Tuhan yang sama, harusnya ketika ada informasi baru yang menyebutkan bahwa agama mereka "sudah disempurnakan", harusnya mereka dengan mudahnya convert pada Islam.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3].

d. Rasulullah dan pernikahannya dengan ahlul kitab

Buat yang belum tahu, dua di antara istri rasul adalah berasal dari golongan ahlul kitab. 

Yang pertama adalah Shafiyah binti Huyay, salah satu anak dari ketua suku Bani Nadhir,  Bani Israel yang bermukim di sekitar Madinah. Yang kedua adalah Mariah binti Syama’un adalah adalah seorang budak Kristen Koptik yang dikirimkan oleh Muqawqis, penguasa Mesir bawahan Kerajaan Bizantium, sebagai hadiah kepada nabi Muhammad pada tahun 628.

Permasalahannya adalah tidak banyak yang mengetahui ini bahwa baik Shafiyah yang Yahudi dan Mariah yang Koptik sudah memeluk Islam sebelum menikah dengan Rasulullah. Jadi, mereka telah bersyahadat (convert to Islam) sebelum hari pernikahannya. Data ini bisa di-check di literatur Islam mana pun yang Anda temukan. Hal ini diperkuat oleh perintah Allah tentang kawin-mawin berikut, bahwa:

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman” [Al-Baqarah/2 : 221]

Logikanya, tidak mungkin Muhammad melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Tuhannya. Jadi, Muhammad TIDAK MUNGKIN menikahi Shafiyah dan Mariah sebelum mereka berdua masuk Islam. Muhammad menikahi Shafiyah dan Mariah bukan karena permission bahwa seorang lelaki muslim boleh menikahi ahlul kitab. Muhammad melakukan hal tersebut karena Muhammad yakin bahwa Shafiyah dan Mariah telah...(more)

Answered May 15, 2017
Teti Zebua
Just an ordinary me


h5W2T8xT_gf2Mi3fp4b4wsIvZsFC572w.jpg

Bagi saya bukan hanya masalah agama, bahkan juga dengan seseorang yang tidak percaya pada keberadaan sang Pencipta dan Pemilik kehidupan ini. Menikah dengan seseorang yang memiliki keyakinan yang sama pasti akan jauh lebih baik dan sempurna.

Bila memiliki keyakinan yang berbeda, itu ibarat gelap dan terang yang tidak akan pernah bisa bersatu. Sedangkan sebuah pernikahan berbicara tentang kebersamaan, keharmonisan, kesatuan pemikiran. Meski memang seagama bukanlah jaminan sebuah pernikahan akan terhindar dari masalah, namun pemahaman yang selaras yang dibangun dari konsep keyakinan yang sama pasti akan memberikan dampak menyelesaikan pertikaian dengan lebih bijak.

Terlebih lagi, ini tentang tujuan pernikahan itu sendiri. Dalam agama yang saya anut, ketika tujuan pernikahan utamanya adalah mengenalkan dan meneruskan iman kepercayaan kepada Tuhan yang saya sembah kepada anak cucu, maka tentu, bagi saya, pernikahan beda agama bukanlah pilihan yang terbaik.

Gambar via Pinterest

Answered May 19, 2017

QDXZmi56m9I3WYs-Nw2-lb16vM3Vbdv8.jpg

Menurut saya sebagaimana yang di riwayatkan bahwa untuk Wanita Muslim dilarang menikahi orang yang beda agama walaupun itu ahlu kitab, tetapi untuk Pria Muslim dibolehkan menikahi hanya dengan ahlu kitab.

ahlu kitab menurut saya bukan hanya terkait pada agama yang di turunkannya kitab sebelum Al-Qur'an (Yahudi mengaku di turunkan Taurat padanya dan Nasrani di turunkan Injil padanya), tetapi ahlu kitab adalah orang yang beriman pada kitab-kitab sebelum al-Qur'an turun, dan jika ia beriman pada kitab sebelum al-Qur'an sudah tentu ia juga hari ini mengimani al-Qur'an. karena dalam kitab-kitab sebelum al-Qur'an sudah di jelaskan akan datangnya Nabi Muhammad, sebagaimana yang di imani oleh seorang yang sebenar-benarnya ahlu Kitab yaitu Waraqoh bin Naufal, ia mengimani Muhammad sebelum Muhammad di turunkan wahyu oleh Allah. inilah sosok ahlu kitab sebenarnya.

terkait pernikahan seorang pria dengan wanita ahlu kitab, Umar bin Khattab pernah juga menasihati seoarang pemuda yang ingin menikahi ahlu kitab dengan mempertanyakan "apakah tidak ada Muslimah yang akan engkau nikahi lagi hingga harus menikahi ahlu Kitab?" dan masa itu mungkin saja ahlu kitab benar-benar masih ada, karena keterbatasan informasi dan dakwah islam masih terbatas, hingga wilayah yang belum di masuki islam masih menganut agama dan mengimani kitab sebelum Al-Qur'an.

namun, hari ini jika di tanyakan kepada saya apakah ada ahlu kitab yang dapat di nikahi oleh pria Muslim? maka jawabannya adalah sebagaimana jawaban Umar bin Khattab, dan menambahi apakah engkau menemui seorang yang benar-benar ahlu kitab di zaman sekarang?

dari sudut pandang agama saja sudah sebegitu jelas akan larangan menikahi ahlu kitab, apalagi jika di pandang dari sisi sosial dan pendidikan anak, bukan bermaksud dengan rasis tetapi bagi pendidikan agama dalam keluarga anak sendiri akan bingung dalam bentuk keyakinannya, dan akan terjadi setidaknya perang ideologi dalam pemikirannya. akankah mengikuti ayahnya yang muslim atau ibunya yang non muslim? bagaiman jika kondisi dunia terkait perbedaan agama yang semakin memanas? kemanakah ia akan berpihak? keluarga ibarat satu kapal, jika kapal mempunyai dua tujuan bagaimana awak kapal akan bekerja? begitu juga dalam keluarga jika mempunyai dua haluan tujuan kemanakah anak akan ikut?

 

Answered Jun 8, 2017
Dewa Ayu Fitriyanti
Mahasiswa fakultas psikologi

Menurut saya pernikahan beda agama adalah hal yang biasa karena mereka menikah berdasarkan cinta dan sayang. memang Tuhan mereka tak sama tapi tujuan mereka sama dan satu. Hanya cara ibadah  dan tempat ibadah yang berbeda, pernikahan beda agama  sudah di takdirkan oleh Yang Kuasa. 

Dewa Ayu Fitriyanti _ 1706980204 _ Wikramawa 13

Answered Aug 8, 2017
Gregorius Bramantio
Anagata FHUI 2017

Tidak masalah selama memang diperbolehkan oleh agama dan kepercayaan yang bersangkutan.

 

Gregorius Bramantio_1706047555_FH_Wijayarasa-04

Answered Aug 8, 2017

Saya sepenuhnya tidak keberatan dengan hal ini selama menurut mereka itu bisa membuat mereka bahagia why not then(?). Tapi menurut saya pasangan seperti ini biasanya tidak akan bertahan lama atau bisa saja salah satunya harus memutuskan untuk merubah keyakinannya dan mengikuti pasangannya. Mari dipikirkan lagi apakah itu yang dimaksud dengan kesetiaan? Kepada Tuhan-Nya yang sudah menciptakannya saja sudah tidak setia. Bagaimana kamu yang hanya manusia? Hehe but anyway it's all up to you. It's your live tho. Do whatever you wanna do.

Hakiki Mega Lestari_Vokasi_Kramawarata-1

Answered Aug 11, 2017

Question Overview


and 6 more
24 Followers
6086 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Bagaimana implementasi growth hacking atau akuisisi user baru yang paling efektif untuk sebuah produk media digital?

Mengapa Indonesia merupakan negara yang miskin?

Perubahan seperti apa yang Anda inginkan di Indonesia?

Mengapa teleskop tidak bisa melihat lebih jauh dari 13,8 miliar tahun cahaya?

Apa sebab munculnya ekstremisme di dunia ini?

Mengapa langit berwarna biru?

Bagaimana nasib perempuan-perempuan Jerman setelah Nazi kalah dalam Perang Dunia II?

Bagaimana cara Nazi mengenali orang Yahudi pada Perang Dunia II?

Apa yang bisa Indonesia lakukan untuk meningkatkan kejayaan industri filmnya?

Mengapa Tuhan membuat surga, padahal insentif tertinggi umat Islam adalah ridha Allah?

Apakah Tuhan perlu dibela?

Apakah Syiah bukan Islam?

Mengapa Nabi Muhammad tidak mengizinkan Ali mempoligami Fatimah?

Apa yang dimaksud dengan bid'ah?

Apa yang dimaksud dengan munafik?

Apa yang dimaksud dengan halal?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Apa yang dimaksud dengan mubah?

Mengapa Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail sendirian di Mekah?

Apakah merek parfum yang paling cocok untuk wanita?

Apakah perbedaan antara parfum dan cologne?

Apa yang membuat harga parfum begitu mahal?

Apakah wanita mengenakan parfum untuk menarik perhatian pria atau ada alasan lainnya?

Apa tujuan laki-laki memakai parfum?

Bagaimana cara memakai parfum yang benar?

Bagaimana cara memakai cologne yang benar?

Apakah parfum yang aromanya paling maskulin?

Apakah parfum yang aromanya paling feminin?

Parfum pria apa yang aromanya bisa diterima oleh semua orang?

Apa yang menyebabkan orang takut menikah?

Mengapa ada orang yang memilih untuk tidak menikah?

Apa dampak terbesar dalam hidup Anda setelah pernikahan?

Hal apa yang paling Anda takutkan dari pernikahan? Mengapa?

Apa perbedaan Anda dan pasangan Anda?

Apa persamaan Anda dan pasangan Anda?

Bagaimana rasanya diselingkuhi?

Apa yang membuat seorang pria ragu untuk menikah?

Apakah lamanya berpacaran bisa melanggengkan hubungan pernikahan?

Apa yang perlu dilakukan oleh seorang wanita jika dia sudah berusia 35++ dan belum menikah?