Perang Gerilya

Perang Gerilya adalah jenis perang yang dilakukan dengan taktik gerilya. Banyak perlawanan bangsa Indonesia yang menggunakan strategi ini karena memang cocok digunakan pasukan Indonesia yang tidak memiliki persenjataan lengkap. Taktik yang dipopulerkan oleh Jenderal Sudirman ini yang akhirnya membuat Indonesia berhasil mempertahankan kemerdekaan. Taktik ini digunakan pada saat rakyat Indonesia melawan Belanda pada agresi militer Belanda II pada 14 Desember 1945 di Pulau Jawa.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai teknik Perang Gerilya? Yuk, simak di sini!

Peta Perang Gerilya

foto peta perang gerilya
Sumber: wikimedia.org

Berikut adalah peta wilayah Perang Gerilya.

Sejarah dan Pengertian

sejarah perang gerilya
Sumber: merahputih.com

Belanda melakukan agresi militer II di Indonesia pada tanggal 14 Desember 1945. Agresi militer yang berlangsung di Pulau Jawa tersebut dinamai Operation Kraai. Jenderal Simon Spoor adalah orang yang merancang serangan militer itu. Serangan yang tergabung dalam agresi militer II merupakan usaha Belanda untuk melemahkan pertahanan Indonesia.

Operation Kraai dilakukan Belanda di Jawa dan Sumatera bertujuan untuk melumpuhkan aksi-aksi bangsa Indonesia. Ibukota Indonesia yang kala itu telah berpindah ke Yogyakarta digunakan sebagai markas Tentara Keamanan Rakyat atau TKR. Model serangan yang digunakan Belanda adalah serangan yang cepat untuk meminimalisir korban dari pihak mereka.

Jenderal Meyer menjadi pemimpin serangan yang dilakukan di Yogyakarta. Serangan pertama dilakukan pada pukul 05.45 adalah serbuan udara. Kala itu BKR Indonesia belum memiliki sumber daya manusia yang memadai karena BKR sendiri baru dibentuk pada 5 Oktober 1945. Saat ada serangan udara yang tiba-tiba, pasukan Indonesia belum memiliki persiapan untuk menghadapinya.

Jalannya Perang

latar belakang perang gerilya
Sumber: iwanbanaran.com

1. Awal Mula

Serangan Belanda berlanjut menjadi serangan darat. Pasukan Indonesia dipimpin oleh Jenderal Sudirman. Mengetahui serangan yang dilancarkan Belanda, Perintah Siasat dikeluarkan dengan tujuan agar BKR melakukan serangan berupa gerilya.

Presiden, wakilnya, serta para staf diminta oleh Jenderal Sudirman untuk meninggalkan Yogyakarta tetapi mereka menolak. Setelah keputusan tersebut, akhirnya dilaksanakan rapat kabinet terbatas yang hasilnya: Pembentukan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di Bukittinggi Sumatera dengan Menteri Kemakmuran Syafruddin Prawiranegara sebagai penanggung jawab

Terdapat kemungkinan KTN ditahan oleh pihak Belanda sehingga presiden, wakil, dan stafnya dianjurkan untuk tinggal di kota. Strategi dirancang oleh pimpinan militer yang dilakukan di luar kota Yogyakarta berhasil dilumpuhkan Belanda pada tanggal 19 Desember 1948.

Para pemimpin segera diterbangkan ke luar Jawa oleh Belanda untuk diasingkan. Presiden Soekarno diasingkan hingga 2 kali, yaitu ke Prapat dan Bangka. Sedangkan Mohammad Hatta diasingkan ke Bangka. Setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda, mereka langsung mengumumkan ke seluruh dunia melalui radio bahwa pemerintah Republik Indonesia sudah tidak ada lagi.

Jenderal Sudirman menderita TBC yang membuat kesehatannya melemah, tetapi ia tetap meninggalkan Yogyakarta untuk ikut bergerilya. Kolonel A.H Nasution mengumumkan berdirinya Pemerintah Militer di Jawa. Sebelumnya terdapat pasukan yang hijrah setelah Perjanjian Renville, tetapi pasukan ini dibangkitkan kembali untuk melakukan penyusupan.

Pasukan TNI menyebar ke luar kota dan melakukan koordinasi dengan pimpinan masing-masing kota. Koordinasi ini menyangkut pergerakan gerilya yang dilakukan untuk menyerang Belanda. Pasukan Indonesia yang telah bergerak secara teratur membuat Belanda kewalahan.

Serangan gerilya bertujuan untuk membuat konsentrasi Belanda terpecah. Hal tersebut berhasil setelah penyusup dari Indonesia selesai merusak alat komunikasi Belanda. Akhirnya keadaan berbalik, Indonesia tidak lagi menjadi pihak yang bertahan.

2. Akhir Perang

Serangan Belanda yang dilancarkan ke Indonesia dalam agresi militer didengar oleh PBB. Kemudian PBB langsung memberikan himbauan untuk menghentikan pertikaian. Terdapat 3 hal yang disoroti seteah adanya resolusi yang didukung oleh Amerika Selatan

Pertama, pertikaian harus segera dihentikan. Kemudian yang kedua adalah permintaan untuk membebaskan presiden beserta pemimpin lainnya yang ditawan sejak 19 Desember. Terakhir, KTN diminta untuk melaporkan keadaan di Indonesia.

Dukungan untuk Indonesia tak hanya datang dari PBB, melainkan juga negara internasional lainnya. Bahkan negara fraksi buatan Belanda juga menolak aksi tersebut.

Strategi Perang Gerilya

Taktik gerilya adalah strategi yang sering dilakukan dalam perlawanan bangsa Indonesia di berbagai daerah. Bagi para prajurit, taktik gerilya sangat baik karena bisa mengelabuhi musuh hingga menyerangnya secara tiba-tiba. Selain itu, taktik gerilya juga sangat cocok digunakan untuk menyerang musuh yang memiliki jumlah besar.

Tak jarang, gerilya juga dilakukan dengan cara mengepung secara tidak terlihat. Taktik ini masih sering digunakan oleh teroris karena menguntungkan mereka yang jumlahnya tidak terlalu besar. Tokoh taktik gerilya yang terkenal adalah Jenderal Sudirman.

Tokoh yang Terlibat

foto tokoh yang terlibat dalam perang gerilya
Sumber: wikimedia.org

1. Jenderal Sudirman

Jenderal Sudirman adalah tokoh yang sangat berpengaruh dalam perlawanan Indonesia melawan agresi militer Belanda. Beliau adalah orang yang cakap dalam merancang taktik gerilya.

Hampir semua perlawanan yang ia pimpin berhasil. Taktik yang digunakan adalah gerilya dengan model yang berbeda-beda teragntung medan dan musuh. Meskipun dalam keadaan sakit TBC, Jenderal Sudirman tetap memaksakan dirinya ikut berperang.

2. Presiden Soekarno

Presien Soekarno pada masa Perang Gerilya diasingkan ke Bangka bersama dengan Mohammad Hatta. Hal ini terjadi karena pada serangan Belanda yang pertama, Indonesia gagal mempertahankan kemenangan. Serangan Belanda yang tiba-tiba membuat pasukan Indonesia belum siap menerima serangan.

Ir. Soekarno, sebagai presiden kala itu memberikan perintah kepada pasukan militer untuk segera pergi ke luar kota dan menyusun rencana. Hal itu beliau lakukan sesaat sebelum berangkat dalam pengasingan.

3. Moh. Hatta

Peran Mohammad Hatta dalam Perang Gerilya mirip dengan Soekarno. Para pemimpin negara dan beberapa staff memang langsung diasingkan ke luar Jawa untuk menghancurkan pemerintahan Indonesia. Namun, akhirnya pasukan militer Indonesia berhasil merebut kembali kemenangannya. Setelah kekalahannya, Belanda mengembalikan presiden, wakil, serta stafnya ke Jawa.

4. Tjokropranolo

Ia adalah pengawal pribadi Jenderal Sudirman. Tjokropranolo dimasukkan dengan BKR yang ada di Magelang dan menjadi deputi penjaga markas TKR. Setelah ia mendapat pangkat kapten, ia mengikuti Jenderal Sudirman ke Yogyakarta dan menjadi pengawalnya.

5. Tan Malaka

Setelah kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka sempat dimasukkan ke dalam penjara tanpa diadili terlebih dahulu. Ia berada di penjara selama 2,5 tahun. Setelah pemberontakan PKI di Madiun, ia dikeluarkan tanpa alasan juga.

Pasca agresi militer Belanda yang pertama, ia menjadi pihak yang mengevaluasi Perjanjian Linggarjati. Ia mengumpulkan pasukan yang tersisa dari pemberontakan PKI di Madiun dan membentuk Gerilya Pembela Proklamasi di Kediri. Perlawanannya dilakukan di Kediri hingga ia tewas tertembak di sana.

Dampak dan Akibat

Terdapat beberapa dampak positif yang timbul setelah adanya perang gerilya. Pertama, pasukan Indonesia semakin terlatih dalam melakukan perang. Selain itu, pasukan Indonesia juga terlatih kesiapan mentalnya dalam keadaan terdesak.

Namun, ada juga dampak negatif berupa kesengsaraan rakyat ketika pasukan militer belum memiliki kemampuan yang memadai untuk mengusir penjajah. Jatuhnya banyak korban juga merupakan salah satu dampak dari Perang Gerilya.

Keunggulan

1. Sembunyi-sembunyi

foto perang gerilya dengan taktik bersembunyi
Sumber: hukamnas.com

Taktik gerilya yang dilakukan Indonesia salah satunya adalah sembunyi-sembunyi. Srategi ini cocok digunakan oleh pasukan Indonesia yang persiapannya masih kurang, sedangkan pasukan Belanda selalu menyerang secara tiba-tiba.

Jenderal Sudirman adalah tokoh yang sangat terkenal jika membicarakan taktik ini. Beliau adalah orang yang berpengaruh dalam perkembangan taktik gerilya oleh pasukan Indonesia.

2. Secara kilat

foto perang gerilya
Sumber: mariviu.com

Serangan tiba-tiba yang dilakukan bangsa Indonesia menargetkan pos-pos kecil yang ada di pinggiran. Hal tersebut menguntungkan Indonesia karena pasukan Belanda hanya fokus pada daerah perkotaan. Akhirnya pos-pos di pinggiran tersebut bisa dengan mudah diduduki oleh bangsa Indonesia.

Serangan tiba-tiba juga berdampak baik karena pihak Belanda tidak memiliki persiapan yang memadai. Sedangkan bangsa Indonesia telah berkembang dan pergerakannya semakin terorganisir.

3. Penyamaran dan Kamuflase

foto perang gerilya dengan taktik penyamaran
Sumber: minews.id

Penyamaran bangsa Indonesia dilakukan dengan berpura-pura menjadi rakyat sipil. Hal ini bertujuan untuk melakukan pengintaian. Dengan menjadi rakyat sipil, Belanda tidak akan curiga jika prajurit yang menyamar tersebut berkeliaran. Penyamar ini kadang-kadang juga melakukan interaksi dengan rakyat sipil lain, bahkan dengan tentara musuh.

4. Memiliki Tempat Persembunyian

foto perang gerilya dengan taktik kamuflase
Sumber: akamaized.net

Wilayah Indonesia yang kala itu masih ditumbuhi banyak semak belukar dan hutan belantara membuat pasukan Indonesia memiliki banyak tempat persembunyian. Meskipun tanpa senjata yang canggih, pasukan Indonesia sudah terbiasa memanfaatkan medan perang yang berupa alam.

Monumen Jenderal Sudirman

foto monumen jenderal sudirman setelah perang gerilya
Sumber: goodnewsfromindonesia.id

Monumen ini adalah bangunan yang dibuat untuk menghormati jasa salah satu pahlawan dalam Perang Gerilya, yaitu Jenderal Sudirman. Bangunan dengan patung Jenderal Sudirman ini berada di tengah salah satu taman di Surabaya. Patung Jenderal Sudirman sering menjadi tujuan para wisatawan yang datang ke Surabaya. Monumen ini sangat cocok bagi wisatawan yang ingin mengingat kembali sejarah di masa lalu.

Nah, itu tadi adalah penjelasan mengenai Perang Gerilya. Meskipun awalnya menderita kekalahan, bangsa Indonesia tidak mau menyerah begitu saja. Hal ini patut dicontoh oleh generasi muda Indonesia. Membela tanah air dengan sepenuh hati adalah sikap yang harus ditanamkan sejak dini. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama mencontoh sikap-sikap pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Nirwana Pradana Maharani

Aktif dalam organisasi dan event mahasiswa semasa berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi. Sedang tertarik mendalami dunia fotografi. Saya juga tertarik mengikuti artikel-artikel terkait fashion dan kuliner.

Update : [modified_date] - Published : [publish_date]

Tinggalkan komentar