selasar-loader

Handry Satriago tentang External Focus

LINE it!
Handry Satriago
Handry Satriago
CEO GE Indonesia
Journal Apr 15, 2015

pL4bY8IEQU0_Ux_M0_jVtyqHQ3PGrIO5.jpg

Dalam manajemen, ada dua hal untuk menilai seseorang itu bagus atau tidak, yaitu “Performance” dan “Values.”

Performa seseorang di dalam bekerja diukur dengan melihat perbandingan antara apa yang berhasil dikerjakan dibandingkan dengan tujuan dan capaian yang diharapkan. "What you do, in comparison with goals and objective.”Sementara itu,“values” adalah mengenai “bagaimana seseorang melakukannya (how do you do it)” yang mengindikasikan “jangkar perilaku (behavioral anchors)” seseorang dalam bekerja dan mencapai performanya."

Values itu memiliki banyak macam. Tiap perusahaan biasanya punya values khusus, dan istilah yang khusus pula.  

Tentu saja, ada values umum yang tak bisa tidak harus dimiliki, seperti integritas, passionate, dan sebagainya. Nah, salah satu values global company yang menarik untuk dipelajari adalah “External Focus.” Intinya adalah terhubung dan belajar dari "luar".  

Orang-orang dengan external focus ini in tune dengan customer/stakeholders dan lingkungan bisnisnya. Mereka memperhatikan apa yang berkembang di sekitarnya. They see around corners. Orang-orang dengan values external focus itu penasaran terhadap perkembangan dunia. Mereka terdidik dengan dengan isu-isu global. 

Nah, sepanjang pengalaman saya berinteraksi dengan anak muda di Indonesia, value external focus generasi muda kita ini masih belum kuat. Padahal, dalam konteks daya saing di dunia global, ‘external focus’ ini salah satu kunci untuk bisa ikut bermain.

"...judul buku yang diterbitkan di Indonesia masih kalah jauh di banding negara maju lainnya. Menurut statistik Unesco, jumlah judul buku yang diterbitkan Indonesia hanya sekitar 25 ribuan pertahun. Jauh dari Tiongkok yang mencapai 250 ribuan dan AS yang sampai 300 ribuan"

Curiosity, ke-kepo-an kita terhadap dunia global kurang top. Kita banyak kepo terhadap isu domestik yang lagi"hot" saja karena sering ikut-ikutan. Padahal, era saat ini dan ke depan adalah eranya “knowledge economy.” Yang menguasai pengetahuanlah yang akan menguasai ekonomi. Those who possess the knowledge will own the economy. Yang akan menentukan kemampuan bersaing bukan lagi sumberdaya alam atau jumlah penduduk, tapi knowledge.   

Memang kondisinya masih menyedihkan. Menurut statistic, 50% dari tenaga kerja kita lulusan SD. Data statistik 2013 menunjukkan dari sekitar 120 jutaan tenaga kerja kita, hanya sekitar 10% yang berpendidikan tinggi. Tenaga kerja kita masih dipenuhi (hampir sekitar 90%) dengan tenaga kerja dengan kemampuan dan pengetahuan rendah.  

Nah, kalau menunggu hasil sekolah untuk kita bisa bersaing, berapa tahun lagi kita bisa mengeliminasi yang 90% low skilled labor tadi? Kita perlu mengejarnya dengan proses belajar sendiri. Tak bosan saya mengingatkan bahwa learning is individual responsibility. Belajar adalah tanggung jawab pribadi.

Budaya membaca, baik online ataupun cetak, belum jadi budaya top kita. Peringkat tontonan news kita juga masih rendah. Iya, judul buku yang diterbitkan di Indonesia masih kalah jauh di banding negara maju lainnya. Statistik Unesco: Jumlah judul buku/tahun yang diterbitkan Indonesia 25 ribuan. Tiongkok, 250 ribuan, AS 300 ribuan. Di zaman yang akses informasi dan pengetahuan mudah ini, sebenarnya kita punya peluang besar mengejar ketinggalan external focus.

Kuncinya pada mindset. Harus ada keinginan untuk bersaing di dunia global. Tidak melulu menyalahkan keterbatasan. Age of Knowledge adalah persaingan ke-kepo-an. The more you kepo, the more you move up. Yang di"kepo"kan ini yang perlu diarahkan. 

Perlu ada semangat untuk berbeda, semangat untuk mencari tahu hal yang tidak diketahui banyak orang. Inilah"Kepology" dalam external focus. Ya, perlu ada "Kepology" agar kita tidak cuma pasif dan mudah dipengaruhi orang lain dengan informasi yang belum tentu benar.  Ada semangat mempertanyakan, semangat ingin mengkonfirmasi informasi, dan semangat mencari informasi lain. Kepology is external focus. Hal yang lain yang membuat nilai external focus jadi lebih dahsyat sesudah curiousity tadi adalah semangat untuk berbagi!

"Kepology is external focus. Hal yang lain yang membuat nilai external focus jadi lebih dahsyat sesudah curiousity tadi adalah semangat untuk berbagi!"

Mari mulai mempelajari "kepology." Pertama, jangan biarkan 100% waktu habis untuk kepo (mencari tahu) tentang isu yang sudah banyak orang bicarakan. Lalu, jangan takut untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dan respek orang yang melakukan hal itu. Then seek around corners, jangan "menelan" informasi dan knowledge dari satu sumber saja. Explore extreme thoughts.    

Tidak jarang extreme thoughts tersebut malah memberi ide baru buat kita. Tambah pengetahuan kita tentang isu-isu global. Jumlah negara di dunia saat ini sekitar 193. Semua berita bisa dicari di internet.

Sesudah mendapatkan pengetahuan, penting untuk merefleksikan dan menghubungkannya dengan apa yang kita hadapi.Learn and reflect, itulah proses belajar yang dahsyat dan menghasilkan pemikiran-pemikiran baru. 

 

 

534 Views