selasar-loader

Belajar Menjadi Negarawan

LINE it!
Ghufron Mustaqim
Ghufron Mustaqim
Co-Founder Forum for Indonesia
Journal Mar 12, 2015

Dalam pidatonya pada 29 Januari 2014 di Universitas Sebelas Maret, Buya Syafii Maarif menjelaskan definisi negarawan yaitu “sosok pemimpin yang lebur dan larut untuk kepentingan umum.” Di kolom Resonansi Republika 3 Februari 2015, Buya berpendapat bahwa Indonesia saat ini sangat kekurangan negarawan.

"Padahal menurutnya medan di mana kita bisa membuat perubahan yang besar dan signifikan ada di medan politik. Ia berpendapat, semakin banyak politisi negarawan di Indonesia, masa depan Indonesia akan semakin baik"

Pendapat yang sama juga diutarakan oleh Wakil Presiden Boediono, ketika berbicara pada Young Leaders for Indonesia Alumni Annual Conference di Mei 2014 di Jakarta. Saya bertanya kepada Boediono tentang persoalan terbesar di Indonesia. Ia menjawab bahwa persoalan itu adalah terlalu banyaknya politisi namun sangat sedikit diantaranya yang berkualitas negarawan. 

Padahal menurutnya segala kebijakan di republik ini ditentukan oleh sekelompok yang beridentitas politisi itu. Ia memandang bahwa karut marut terjadi berkat politisi yang tidak memiliki visi dan wawasan kebangsaan.

Pada kesempatan itu Boediono mendorong generasi muda untuk berani terjun ke dunia politik, dengan catatan, setelah mereka yakin atas kualitas kenegarawanan mereka. Ia mengkritik generasi muda idealis tetapi hanya ingin aman dan hidup enak, bekerja di korporasi, menjadi pengusaha, atau mendaftar PNS.

Padahal menurutnya medan di mana kita bisa membuat perubahan yang besar dan signifikan ada di medan politik. Ia berpendapat, semakin banyak politisi negarawan di Indonesia, masa depan Indonesia akan semakin baik.

Namun pertanyaannya, bagaimana generasi muda dapat membina diri sejak sekarang agar di kemudian hari ia dapat menjadi sosok negarawan, seorang pemimpin yang lebur dan larut untuk kepentingan umum?

Saya belum sempat menanyakannya baik kepada Buya maupun Boediono. Berikut adalah beberapa ide yang saya pikir tak ada salahnya untuk diperhatikan dan dicoba demi tujuan tersebut.

Membiasakan Diri Bersikap Asketik

Asketik adalah sikap sederhana, bersahaja, atau zuhud. Seorang asketik bolehlah seorang yang kaya raya, namun kekayaannya itu tidak digunakannya semata-mata untuk membangun rumah bak istana, membeli mobil mewah, atau mengoleksi barang mahal misalnya. Dengan kata lain, dengan kekayaannya, ia tetap hidup sewajarnya, tak memperturutkan hasrat untuk berfoya-foya, bersenang-senang, dan berperilaku hedonis.

Dalam khasanah budaya Jawa, sikap asketik ini dapat dipupuk melalui upaya meper hawa nafsu(mengendalikan hawa nafsu) melalui pengendalian mata, mulut, tangan, kaki, perut, hati, dan pikiran kita.

Kita hanya melakukan sesuatu yang benar, diperlukan, seadanya dan secara proporsional, tidak berlebih-lebihan. Misalnya, ketika kita punya uang untuk beli gadget terbaru, tetapi karena gadget yang lama masih layak dan berfungsi baik sehingga kita tidak membeli, itu namanya asketik.

"Dengan terbiasa bersahaja, kita akan jauh dari ambisi untuk mengkayakan diri sendiri dan keluarga dengan segala cara demi mengejar life style konsumtif yang kita dambakan"

Ketika kita diberi jatah makan siang dari kantor Rp 150 ribu yang akan hangus apabila tak terpakai, tetapi kita malah berpuasa, itu namanya asketik. Ketika kita punya uang sisa yang bisa kita gunakan untuk beli tiket nonton konser atau nonton film di bioskop, namun malah kita pakai untuk membiayai anak asuh, itu namanya asketik.

Ketika kita punya uang tabungan yang lebih dari cukup untuk liburan, tetapi kita sumbangkan ke organisasi sosial, itu namanya asketik.

Dengan membiasakan diri bersikap asketik, kita akan terhindar dari sikap mencintai harta benda secara berlebihan. Kecintaan terhadap harta benda ini yang sering mengantarkan para pemimpin ke jurang kenistaan, merampok uang rakyat.

Dengan terbiasa bersahaja, kita akan jauh dari ambisi untuk mengkayakan diri sendiri dan keluarga dengan segala cara demi mengejar life style konsumtif yang kita dambakan. Sikap seperti ini insyaAllah akan mengantarkan kita memiliki kualitas ambeg adil paramarta—mengutamakan kesejahteraan rakyat dan kepentingan umum.

Memiliki Pergaulan Yang Luas

Untuk memperkaya kebijaksanaan, kita perlu berkenalan dan bersahabat dengan orang-orang yang berbeda keyakinan, suku, dan budaya. Hal itu akan membantu kita untuk mendalami ilmu hikmah dengan belajar dan meneladani kebajikan-kebajikan yang diperbuat oleh orang lain tak pandang apa latar belakang mereka.

Apabila kita perhatikan, saat ini muncul tren tumbuhnya “perumahan muslim” atau “perkampungan muslim” di sekitar kita. Ini buruk karena akan membuat segregasi, membatasi pergaulan, serta tidak mengizinkan terciptanya kohesivitas dengan anggota masyarakat lain yang berbeda. Ini perlu kita prihatinkan!

"Terbatasnya pergaulan akan membuat seseorang berperilaku picik, seakan ia dan golongannya yang paling benar sendiri"

Terbatasnya pergaulan akan membuat seseorang berperilaku picik, seakan ia dan golongannya yang paling benar sendiri. Lebih jauh ia bahkan akan mengkapling-kapling surga dan neraka: surga untuknya dan kelompoknya, neraka untuk siapa saja yang berbeda.

Alih-alih menjadi sosok negarawan, ketika ia memimpin, dapat dipastikan ia akan menjadi pemimpin tiran dan dzalim—baik ketika ia dan kelompoknya termasuk mayoritas ataupun minoritas.

Untuk menghindar dari sikap demikian, mulai saat ini kita perlu memperluas jaringan pertemanan dan persahabatan kita dengan mereka yang memiliki perbedaan. Niscaya kita akan menemukan banyak sekali pelajaran: kita bisa lebih mencintai Tuhan kita karena melihat cara penganut agama mencintai tuhannya atau kita bisa lebih berbuat santun kepada mereka yang membutuhkan karena belajar dari filosofi kebudayaan suku lain, misalnya.

Belajar Sejarah, Filsafat, dan Budaya

Melalui sejarah, seseorang dapat menggali kearifan negarawan-negarawan masa lalu serta mengetahui asal mula suatu peristiwa. Apabila membaca sejarah, bagaimana kita tidak tertegun kagum dan terharu dengan sikap keteladanan kenegarawanan Bung Karno dan Bung Hatta ketika keduanya berbeda tentang konsepsi demorasi yang perselisihan mereka tercermin dalam Dekrit Presiden 1959 dan tulisan “Demokrasi Kita” (1960).

"...tak terlalu membaca sejarah sehingga beraspirasi membuat Indonesia ini negeri khilafah Islamiyah atau negeri sekuler tanpa referensi nilai agama. Itu ide yang tak masalah asalkan dibangun dengan argumen yang pantas"

Atau Maria Ulfa dan Soepomo ketika keduanya memiliki perbedaan pandangan yang tajam tentang hak asasi manusia pada Sidang BPUPKI 1945. Atau Mohammad Natsir dan D.N. Aidit tentang Islam sebagai dasar negara pada Sidang Konstituante 1959.

Ada beberapa kelompok di sekitar kita saat ini yang mungkin tak terlalu membaca sejarah sehingga beraspirasi membuat Indonesia ini negeri khilafah Islamiyah atau negeri sekuler tanpa referensi nilai agama. Itu ide yang tak masalah asalkan dibangun dengan argumen yang pantas. Tapi itu yang biasa tidak terjadi.

Kemudian melalui filsafat, seseorang akan belajar tentang nilai dan etika. Ia akan belajar untuk berfikir dan bersikap kritis, tidak mempercayai begitu saja sebuah asumsi umum. Melalui filsafat ia akan lebih mengerti tentang keadilan, tentang hak dan kewajiban.

Kedalaman ilmu dalam filsafat akan membantu orang itu menjadi seorang terdidik yang adil sejak dalam pikiran. Tidak mudah memberikan stigma, label baik kontra buruk, dan halal kontra haram terhadap suatu objek.

Melalui budaya, dengan mempelajari local wisdom, produk-produk budaya (hikayat, wayang, tari, gaya arsitektur dan sebagainya) seseorang akan mampu mengenal dirinya sendiri, lingkungan sekitarnya, dan lingkungan yang lebih luas.

Hal ini penting agar ketika seorang menjadi pemimpin, ia mampu relevan dengan konteks budaya di lingkungan yang ia pimpin dan efektif dalam menggerakkan perubahan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki strategi kebudayaan dalam kepemimpinannya.

Demikianlah ketiga ide saya tentang apa saja yang perlu kita lakukan sejak dini agar kualitas diri kita tertempa dan suatu saat mampu menjadi sosok negarawan. Dengan semakin banyak generasi muda membiasakan diri bersikap asketik, memiliki pergaulan yang luas, serta belajar sejarah, filsafat, dan budaya, suatu hari nanti Indonesia insya Allah akan memiliki stok negarawan yang cukup.

Dengan izin Tuhan, melalui tangan-tangan negarawan itu, Indonesia akan menjadi negari ingkang kaeka adi dasa purwa, panjang punjung, pasir wukir, loh jinawi, gemah ripah, tata tentrem, kerta raharja atau baldatun thayyibatun wa robbun ghafur.

 

 

 

763 Views

Author Overview


Ghufron Mustaqim
Co-Founder Forum for Indonesia